Like Fanpage Bang Syaiha

Kemarin Saya Mangkir Nulis

Kemarin Saya Mangkir Nulis

Rencana dan kenyataan kadang nggak sejalan
Kemarin saya mangkir menulis. Sudah saya niatkan sebenarnya, untuk menulis sebuah tulisan ringan di blog setiap hari, setiap pagi atau malam menjelang tidur. Nah, masalahnya, pagi kemarin, kepala saya sakit bukan main. Cenat-cenut! Benar-benar menyiksa sehingga saya tidak nyaman untuk menulis. 

Saya memutuskan untuk menunda, dalam hati berkata, "Ya udah lah, nulisnya nanti malam saja menjelang tidur. Ini kepala nggak bisa diajak kompromi soale."

Setelah memutuskan demikian, saya lalu tiduran hingga siang di kamar. Sambil sesekali memijat-mijat kepala bagian belakang yang sakitnya nggak ketulungan. 

Istri saya sampai berkata, "Minum obat aja kalau memang benar-benar sakit." 

Saya menjawab, "Nanti lah, masih bisa ditahan sih. Semoga agak siangan sudah baikan."

Tak lama setelah percakapan ringan dan singkat itu, saya terlelap. Karena memang, barangkali sakitnya kepala saya itu disebabkan kurang istirahat saja. 

Cuma, anggapan saya salah. Karena siangnya, ketika menjelang Zhuhur, saya terbangun dan mendapati kepala saya masih terasa berat. Duh Gusti! Saya paksakan berdiri dan kemudian minta dimasakkan air panas untuk mandi. Bagaimana pun saya harus Shalat dan saya ingin bersih-bersih. 

Di guyur air hangat, benar-benar menyenangkan. Kepala yang agak berat sebelumnya, menjadi lebih enteng. Masih sakit, tapi levelnya turun sedikit. Belum lagi ketika keramas menggunakan shampoo yang ada efek dinginnya. Nyes banget. 

Selesai mandi saya shalat dan kemudian bersantai hingga sore. Kepala masih sempoyongan. 

Malamnya, saya minta dibuatkan air jahe segelas besar. Dan dengan perantaran minuman itulah, kepala saya menjadi sangat ringan dan Alhamdulillah sembuh. Mungkin juga, penyembuhannya terjadi sejak pagi, mulai dari saya istirahat, lalu mandi air hangat, kemudian bersantai hingga sore, lalu puncaknya ketika meneguk air jahe. 

Saya senang, berkata dalam hati, "Bisa nih nulis. Pengennya nggak mangkir sehari pun. Biar bisa seperti dulu lagi, one day one post!" 

Tapi eh tapi, ketika jam 20.30-an, saat saya sudah membuka laptop untuk menulis, seorang tamu datang dan ada keperluan dengan saya. 

Mau bagaimana lagi? Waktu yang seharusnya saya sediakan buat menulis, saya tunda dan saya bercengkerama dengan tamu itu hingga larut. Kami memang sedang ada keperluan yang harus dibicarakan. Nggak bisa ditunda-tunda lagi. Karena obrolan itu bahkan sudah sejak beberapa bulan belakangan saya agendakan, cuma baru kesampaian tadi malam. 

Singkatnya, kemarin saya tidak menulis karena beberapa sebab. Sudah saya rencanakan sedemikian rupa, tetapi kenyataan berkata lain. 

Yah, begitulah... Kita kadang hanya bisa berencana. Keputusan akhir tetap ada di tangan Allah. 

...dan, selalu lah percaya bahwa keputusan Allah jauh lebih baik dibandingkan keputusan kita. 
Malas yang Membelenggu

Malas yang Membelenggu

Malas yang membelenggu

Sepertinya saya harus segera berolah raga lagi seperti dulu. Mengapa? Karena beberapa hari lalu, pas saya nimbang, berat badan saya sudah menyentuh angka 80 kg. Berat sekali! Apalagi, saya ini kan punya kelemahan, kaki kanan saya pincang. Kecil dibandingkan kaki yang satunya. Tidak punya tenaga. Lumpuh. 

Jadilah saya, selama ini hanya mengandalkan kaki satu saja. Dan dengan satu kaki itu, menopang beban 80 kg tentu berat dan melelahkan. Makanya saya harus segera memutuskan untuk melakukan olah raga. Angkat beban, rajin jalan kaki, dan sebagainya. 

Memiliki berat badan berlebih itu... Anu... Apa ya? 

Entahlah... Susah digambarkan dengan kata-kata. Yang pasti, pergerakan yang dulunya bisa dilakukan dengan lincah, sekarang menjadi sedikit terhambat. Udah gitu, beberapa bulan belakangan, celana yang dulunya nyaman dikenakan, sekarang menjadi sesak dan bikin tidak enak. Saya pikir karena celananya yang sudah lama, eh rupanya karena lingkar perut yang kian hari kian maju dan membesar. Duh!

Sebelum menikah, saya gemar ke gym. Olahraga, angkat beban, dan lain-lain. Ketika itu, berat badan saya stabil di angka 60 kg. 

Adik ipar saya, saat saya bilang demikian, bertanya penasaran, "Beneran 60 kg, Mas? Kurus banget atuh. Kan Mas tinggi, masa sih cuma 60 kg? Saya aja ini 65 kg loh..."

"Memang demikian," saya menjawab singkat, "Sebab, kaki Mas kan yang kanan kecil. Kalau normal, kaki satu aja kan bisa mencapai berat 5-10 kg kan? Nah, kaki kanan Mas kan nggak normal, jadi beratnya berkurang drastis dari kehilangan 1 kaki ini..."

Dia manggut-manggut, tanda mengerti.

Saya tidak kurus. Bahkan dulu, ketika masih rajin ke gym, saya termasuk member gym yang berbadan bagus   ehem!

Lah, pelatih aja sampai pernah hendak mendaftarkan saya ke body cantest! Cuma saya menolak, karena saya nggak mau pamer-pamer bentuk tubuh di depan orang banyak. Malu! Waktu itu saya masih kuliah dan di kampus ikut pada beberapa organisasi keagamaan. Lalu, apajadinya nanti kalau saya ketahuan ikut lomba begituan? 

Kalau ingat masa-masa itu, rasanya pengen punya perut kayak dulu. Cuma setiap kali hendak berolahraga, pasti dihadang oleh rasa malas yang besar. 

"Udah, enakan di rumah aja. Main sama anak, nonton TV, dan tidur. Ngapain olahraga sih!" 

...dan saya kemudian kalah. Memilih diam di rumah dan nggak ngapa-ngapain. Mimpi tinggallah sebuah mimpi. Bukannya makin kecil dan ringan, yang ada saya malah jadi makin bulat dan berat. 

Duh, Gusti!
Bahagianya Membahagiakan Dia

Bahagianya Membahagiakan Dia

Bahagianya seorang ayah

Bang Alif, anak saya, punya mainan baru: sebuah miniatur mobil-mobilan yang ciamik. Elegan sekali dilihatnya. Jika sudah demikian, bukan hanya dia saja yang bakalan suka, tapi juga saya. Palingan, nanti kami rebutan pengen mainin tuh mobil yang bukan sungguhan. Rebutan, atau berganti-gantian. Salah kah? Nggak dong. Walau sudah bapak-bapak begini, saya juga demen sama mainan seperti yang Bang Alif pegang-pegang beberapa hari belakangan. 

Mobil-mobilan Bang Alif yang baru adalah miniatur Range Rover berwarna putih dengan kedua pintu depan yang bisa dibuka. Cuma, jika mobil sungguhan di Indonesia, letak pengemudi ada di kanan depan, yang ini adanya di kiri depan. Seperti mobil sungguhan di negara sana. Bukan masalah besar bagi anak saya yang belum paham akan hal itu. Dia nggak protes, kok. Nggak bertanya-tanya juga, "Abi kenapa kursi sopirnya ada di sebelah kiri ya?" 

Belum. 

Mainan yang baru datang ini adalah koleksi kesekiannya Bang Alif. Sebelum-sebelumnya, ia sudah memiliki Lamborghini, mobil Tanki, mobil Kodok berwarna kuning, Truk, dan sebagainya. Semuanya sama, dibuat dengan tangan-tangan terbaik sehingga hasilnya menakjubkan. Detailnya mantap. 

Dan setiap datang yang baru, Bang Alif selalu antusias sampai-sampai tuh mobilan barunya dibawa tidur, digenggam, tidak mau dilepas. Lalu kemudian, terkadang, di tengah pulasnya, dia tersenyum senang. 

Nyessss rasanya...

Adem, seperti bara api yang tersiram air es. Langsung padam dan dingin, sejuk. Beneran! Bagi yang sudah menikah dan punya anak, pasti tahu akan hal ini, bahwa, tidak ada kebahagian tertinggi bagi seorang ayah, kecuali kebahagiaan karena dia bisa menyenangkan buah hatinya, membuat anaknya tersenyum riang tanpa cela. 

Karena hal inilah, saya selalu bilang ke istri, "Selagi kita mampu dan tidak mengganggu stabilitas keuangan keluarga, maka belikan saja. Yang penting itu baik, mendukung perkembangan otak, fisik, dan kreativitas, maka nggak ada salahnya."

Karena apa? Karena saya nggak mau anak saya seperti saya. Yang ketika masa kecilnya tidak sebebas dia. Lah! Apa yang bisa diharapkan dari bapak mamak saya dulu? Keuangan keluarga begitu terbatas, jangankan buat beli mainan, buat beli makan sehari-hari saja harus ngirit bukan main. 

Akibatnya, saya sering gigit jari ketika teman-teman saya punya mainan baru dan memainkannya di depan saya. Tapi, saya sebenarnya juga masih beruntung, karena semua teman-teman saya tidak pelit. Mereka masih mau sekedar meminjamkan dan mengijinkan saya membawa mainan mereka ke rumah barang semalam dua malam. Karena hal inilah maka keinginan saya untuk punya mainan bisa sedikit terobati. 

Tapi tetap saja berbeda, meminjam dan memiliki. 

Sekarang, ketika sudah menjadi orangtua, saya selalu bertekad membahagiakan anak dan istri saya. Semampunya. Saya selalu mendukung mereka, selama itu baik, sejalan dengan tumbuh kembang otak dan fisik. Saya tak akan sayang-sayang uang. Ia bisa dicari lagi. 

Yang penting satu, ketika sudah sampai pada wilayah seperti hendak memanjakan, maka berhenti. Menyenangkan anak tetap ada batasannya. Sesuai kemampuan dan tidak membuatnya manja. 

Demikian. 
Tidak Ada Jaminan Keberhasilan

Tidak Ada Jaminan Keberhasilan

Bekerja Keras
Beberapa pekan lalu, saya pernah update status di Facebook, ingin membuka pelatihan bisnis online lagi dan kali ini berbayar 2 juta. Untuk diketahui, pelatihan bisnis online yang saya adakan sudah menginjak angkatan keempat dan Alhamdulillah, beberapa lulusannya ada yang sudah berpenghasilan puluhan juta dari sedikit keterampilan yang pernah saya bagikan. 

Tapi... orang yang bisa seperti itu tidak banyak, persentase nya kecil sekali. Dari empat angkatan, sekitar 40 orang, yang saya kategorikan berhasil hanya 4-5 orang saja. Artinya lagi, yang sukses hanya 10 persen sampai 12,5 persen saja. 

Sekian orang yang sedikit itu, beberapa kali mengirimi saya pesan singkat melalui aplikasi WhatsApp dan mengucapkan terimakasih, berkata bahwa ilmu yang saya bagikan ketika itu sangat berguna dan sedikit banyak mengubah kehidupan mereka dalam hal penghasilan per bulan. 

Satu diantaranya berkata, "Bang, adakan lagi saja pelatihannya, tapi berbayar jutaan. Karena ilmu yang Abang berikan sangat bermanfaat dan daging semua   istilah dalam dunia bisnis online, yang artinya sangat bermutu dan sangat-sangat berguna."

Kalimatnya ini mempengaruhi saya dan kemudian terpikirlah sekilas, "Benar juga ya. Kenapa nggak ngadain pelatihan lagi aja..."

Ada sedikit keinginan untuk dipuji sebagai orang yang mahir dalam dunia bisnis online. Bergelar mastah, berpenghasilan puluhan dan ratusan juta juga di dalam bersitan kepala saya. Manusiawi barangkali, bukan? Kecil saja memang, tapi tentu saja ini tidak baik. 

Tidak ada tempat bagi kesombongan sekecil apapun itu, kecuali neraka. 

Saya kemudian membuat status ingin mengadakan pelatihan bisnis online dengan mahar 2 jutaan. Di luar dugaan, peminatnya cukup banyak juga. Nyaris 30 orang orang. Dihitung-hitung kasar, kalau memang niatan saya hanya karena uang, maka 30 dikali 2 juta, maka hasilnya kan lumayan. Bisa buat makan di luar, jalan-jalan, nonton bioskop, dan sebagainya. 

Tapi eh tapi... Setelah grup pelatihan saya buat dalam beberapa pekan, pikiran saya berubah... 

Dan tepatnya kemarin, saya memutuskan untuk tidak melanjut. Saya buatlah pengumuman di grup itu bahwa pelatihan tidak jadi dilanjutkan karena beberapa hal: 

Pertama, ilmu bisnis online yang akan saya bagikan itu tidak mudah. Njelimet dan susah. Beneran, saya tidak bohong. Buktinya saja, dari 40 orang yang pernah belajar, hanya 4-5 ekor saja yang berhasil dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Nah, jika saya adakan lagi pelatihan yang sama, lalu mereka sudah bayar 2 jutaan dan mendapati bahwa apa yang saya ajarkan tidak gampang, saya kuatir mereka marah dan jengkel. 

"Apaan... Udah bayar mahal-mahal, ternyata nasib dan penghasilan saya tidak berubah, begini-begini saja. Cih..."

"Menyesal saya ikutan pelatihan ini... Nggak ada manfaatnya... padahal saya udah bayar mahal!" 

Nah, saya kan nggak mau mendapatkan makian begitu. Jadi, lebih baik tidak saya lanjutkan. 

Kedua, saya kuatir tidak amanah. Karena kesibukan saya yang lain cukup banyak di luar. Mengurusi ini dan itu. Yang kalau dijabarkan, mungkin akan panjang dan membosankan untuk dibaca. Jadi, daripada saya berdosa karena mengabaikan peserta pelatihan, maka lebih baik saya mundur dan fokus pada apa yang telah saya mulai saja. 

Ketiga, mengikuti pelatihan saya, tidak ada jaminan keberhasilan. Sebagian mungkin paham akan hal ini. Tapi sebagian yang lain kan belum tentu. Mereka maunya, karena telah membayar jutaan, maka harus berhasil dan uang yang mereka keluarkan nggak sia-sia. Sedangkan dalam hukum alam, keberhasilan itu bukan semata-mata karena pelatihan yang diberikan, toh? Ikut puluhan pelatihan juga, kalau ilmu tidak diterapkan ya zonk!

Kuliah S1, S2, dan S3 juga, yang biaya nya selangit, kalau kita nggak bekerja keras setelahnya, apakah ada jaminan keberhasilan? Nggak!

Tapi sekali lagi, yang mengerti akan hal ini kan tidak banyak. Maka, daripada ada yang kecewa karena ketidakpahamannya, saya lebih baik mundur. Karena masih banyak hal lain yang bisa saya kerjakan di luar. 

Tiga alasan inilah yang setidaknya mengubah saya dan memutuskan tidak melanjutkan rencana membuka pelatihan bisnis online lagi. Silakan belajar di tempat lain yang lebih kredibel dan amanah. Lalu, biarkan saja saya melakukan apa yang ingin saya lakukan. 

Semoga semua sukses!
Saling mendokan saja.
Berlindung di Balik Alasan

Berlindung di Balik Alasan

#KataBangSyaiha
Sebenarnya sudah sejak lama saya kepikiran hal ini, "Ya Allah, blog udah lama nggak diisi. Sayang loh, padahal kan pengunjungnya udah banyak. Domain juga sudah bukan yang gratisan, masa dibiarkan begitu saja. Isi napa, coba komitmen lagi untuk menulis setiap hari. Tulis yang ada di pikiran seperti dulu, sederhana nggak masalah. Yang penting nulis."

Tapi ya begitu... Apa yang dipikirkan hanya sekedar sebuah pemikiran tanpa realisasi yang nyata. Jadilah blog ini beberapa bulan kosong melompong. 

Kadang malu sama anggota One Day One Post yang konsisten, yang bisa menulis setiap hari. Padahal, kalau dibaca juga tulisan mereka sederhana, nggak begitu muluk-muluk. Sama seperti yang dulu saya terapkan, menulis setiap hari, menulis apa saja. 

Apa yang menjadi kendala sehingga saya tidak lagi menulis setiap hari beberapa bulan belakangan?

Kendalanya cuma satu, saya banyak alasan. Nggak lebih. Kalau dibilang sibuk, di luar sana juga banyak yang jauh lebih sibuk tapi bisa tetap menulis. Apalah kesibukan saya coba? Memang, akhir-akhir ini, usaha yang saya geluti sedang berkembang pesat, tapi seharusnya itu bukan alasan, toh?

Seharusnya, saya justru bisa menulis banyak hal tentang usaha itu. Bagaimana saya memulainya, bagaimana mengatur keuangan dan sumber daya manusianya, bagaimana bangkit dari kegagalan dan kebangkrutan, serta masih banyak lagi. 

Seperti yang dulu pernah saya bilang lah, menulis saja setiap hari, tulis dari yang paling dekat dengan kita. Tulis apa yang sedang kita kerjakan, apa yang kita rasakan, apa yang kita pikirkan. 

Jika hal ini yang dilakukan, maka saya pasti bisa menulis...

Tapi ya itu, seperti yang saya katakan di atas, saya berlindung di balik alasan yang saya buat-buat saja. Dan alasan adalah satu hal terbesar yang menghambat seseorang untuk meraih kesuksesannya. Alasan yang kita buat, kadang hanya sebuah hal yang sebenarnya tidak nyata. Hanya dibuat-buat saja, untuk tameng agar kita tidak melakukan sesuatu. 

Pagi ini saya mencoba menulis lagi, mencoba memungut sisa-sisa semangat yang entah sejak kapan berantakan. Semoga saya bisa bertahan. Hari ini, besok, lusa, dan seterusnya. 

Demikian. 
Padahal Semuanya Sama

Padahal Semuanya Sama


Barangkali ini cukup aneh, nggak masuk di nalar kita sebagai manusia. Terutama bagi yang suka beriklan di Facebook. 

Ceritanya, suatu kali saya pernah bertanya ke teman, "Kau jualan apa sih? Kok sepertinya ramai terus. Banyak yang beli dan laris manis. Kasih tahu napa rahasianya." 

"Jualan kita sama, kok." dia bilang demikian. Memang kami selalu menjual barang yang sama selama ini. Dan kami tidak takut bersaing karena rejeki sudah ada yang mengatur. Rejeki dia nggak mungkin nyasar ke saya, pun sebaliknya. Yang seharusnya menjadi punya saya, nggak mungkin singgah ke kantung dia. 

"Terus, kok bisa punyamu laku banget ya? Lihat dong iklannya. Sama targettingnya sekalian." saya memohon. 

Dia, yang memang sejak awal tidak menganggap saya sebagai pesaing, maka memberikan begitu saja. Dibukanya dapur akun iklannya dan saya bisa melihat dengan jelas iklan dia bagaimana. Ditargetin untuk siapa saja, usia berapa, daerah mana, dan sebagainya. 

"Begini doang yang membuat iklanmu selalu mampu menjaring banyak konsumen?" saya bertanya lagi. 

Dia mengangguk. "Benar, begini saja, kok. Bang Syaiha juga pasti kan sudah paham akan semua ini. Silakan aja Bang kalau mau mengikuti mentah-mentah punya saya. Samain aja, barangkali dengan begini, jualan Bang Syaiha juga laku." 

"Beneran boleh?" 

Dia mengangguk lagi. 

...dan hari itu, dia memberikan semua amunisi iklannya. Diberikan cuma-cuma ke saya. Walau dalam hati ada keraguan, bertanya-tanya begini, "Masa sih iklan dia yang begitu doang bisa bekerja dengan baik? Padahal sederhana sekali. Tapi ya sudah lah, tak coba aja... Kali aja working di jualan yang sedang saya tawarkan di internet..." 

Singkatnya, tidak berselang lama, saya kemudian meniru plek iklan teman saya. Tapi, ketika menjalankan ini, di dada saya ada keraguan yang besar. Tidak yakin. Tetap saya jalankan karena teman saya sudah membuktikan iklannya berhasil. Jadi ya, apa salahnya dicoba. 

Masalahnya... ternyata, setelah iklan saya jalan beberapa hari, saya tetap tidak mampu menjual barang saya dalam jumlah banyak. Berbeda dengan teman saya yang setiap hari bisa puluhan kiriman. Lah, ini saya salah dimananya ya? Perasaan sudah sama semua saya ikuti apa yang teman saya lakukan.

Ketika saya curhat lagi masalah ini ke kawan saya itu, dia bilang, "Salahnya adalah, Bang Syaiha menjalankannya tanpa keyakinan." 

"Emang ngaruh?" 

"Iya lah. Kalau kita sendiri aja nggak yakin sama iklan kita, gimana orang lain akan yakin. Bang Syaiha pasti pernah baca Law of Attraction (LoA), kan? Entah kebetulan atau tidak, sepertinya teori itu benar. Alam akan menuntun kita kepada apa yang kita yakini." 

"Atau...." teman saya kembali menasihati, "kalau dalam Islam, kita pernah mendengar bahwa Allah adalah sesuai dengan persangkaan hamba-Nya, kan?"

Saya mengangguk. 

"Begitu lah, kalau kita menyangka iklan kita nggak akan laku, yang nggak laku memang kenyataannya. Tapi jika sebaliknya, pas membuat iklan kita yakin sekali bahwa apa yang kita lakukan sudah benar dan percaya pasti laris manis, maka begitulah jadinya." 

Dan saya kemudian membenarkan saja. Memang begitulah yang selama ini saya alami. 

Karena hal inilah, maka saya selalu percaya bahwa, teknik beriklan boleh sama, produk yang dijual juga, tapi sekali lagi, rejeki kita pasti berbeda. 

Demikian. 
Cinta dan Pernikahan adalah Tema yang Nggak Ada Matinya

Cinta dan Pernikahan adalah Tema yang Nggak Ada Matinya


Ini adalah hari ketiga saya mulai aktif lagi memposting tulisan tentang hubungan lelaki dan perempuan   kita biasa menyebutnya cinta, juga tentang pernikahan, tentang suami istri. Tema ini adalah tema yang nggak ada matinya, selalu ramai diperbincangkan. Ramai didiskusikan. 

Sehingga tidak salah, ketika suatu malam member grup One Day One Post, berkata, "Dimana-mana, tema jomblo, cinta, dan pernikahan selalu ramai dibicarakan. Termasuk di grup kepenulisan One Day One Post." 

Dia berkomentar demikian karena beberapa menit sebelumnya, grup One Day One Post menyentuh ranah ini. Ada yang menyentil tentang pernikahan. Jadilah grup itu ramai, bukan lagi seperti grup kepenulisan. Lebih kepada grup pemuda-pemuda yang butuh cinta dan sayang. Duh...

Saya ulangi sekali lagi, masalah cinta dan pernikahan adalah masalah yang tidak pernah mati. Sejak manusia diciptakan, cinta adalah masalah pelik yang menjadi sebab dikeluarkannya Adam dari Surga Allah yang segalanya maha. Lalu berlanjut ke anak-anaknya bersama Hawa, cinta menjadi masalah yang kemudian menyebabkan terjadinya pembunuhan pertama. 

Terus-menerus hingga sekarang.... Cinta adalah tema yang senantiasa menarik untuk dituliskan, dibuatkan cerita, dibukukan, dan sebagainya. 

Silakan tengok ke toko buku ternama, barangkali, 90 persen buku yang ada, terutama buku novel dan dongeng-dongengnya, berisikan tentang cinta dan kawan-kawannya. 

Nah, karena gurihnya tema ini dibicarakan, maka sejak tiga hari belakangan, saya kembali menulis tentang hal ini. Kebetulan juga, ada beberapa orang mencurahkan keluh kesahnya ke saya, maka saya tuliskan saja. Sekalian biar dibaca banyak orang. 

Yah...

Barangkali kan, semoga saja ada yang terinspirasi, lalu berubah menjadi lebih baik, toh? Sehingga dengan demikian, saya bisa mendapatkan pahala juga kelak di alam sana   ternyata mudah ya mendapatkan banyak pahala. 

Yang suka menulis, tinggal nulis aja yang baik-baik, yang berguna. Kalau dibaca banyak orang dan diantara ada yang berubah, maka kita mendapatkan tabungan pahala untuk bekal disana. 

...dan selama tiga hari terakhir saya menulis tentang tema ini, tulisan saya memang dibaca banyak orang, disebarkan kemana-mana. Yang awalnya tidak kenal saya, mungkin akan bertanya-tanya, "Bang Syaiha ini siapa? Kok tulisannya disebarkan banyak orang?" 

Lalu mereka kepo dan membuka media sosial saya. Yang merasa nyaman akan memfollow akun saya. Yang tidak nyaman, akan membiarkan saya begitu saja. 

Tidak masalah. 

Saya mah cuma ingin menulis saja, tentang cinta dan kerabat-kerabatnya. Ada yang suka Alhamdulillah, nggak suka yang nggak apa-apa. 

Demikian. 
Menilai Sebuah Tulisan

Menilai Sebuah Tulisan


Dulu, ketika saya hendak mengikutkan naskah novel Sepotong Diam pada sebuah lomba, terlebih dahulu saya berikan naskah tersebut ke seorang teman dan berkata seperti ini, "Bro, tolong Elu baca ya. Setelah itu, Elu kasih penilaian deh ke naskah gue ini." 

Teman saya itu, yang karir literasinya bahkan barangkali nggak lulus TK, kemudian cengo'. Mungkin dalam hatinya berujar begini, "Mimpi ape gue semalem dikasih naskah setebel ini? Apa Syaiha nggak tahu kalau membaca adalah kegiatan yang nggak ade di dalam list yang harus gue kerjain?" 

Melihat raut wajahnya yang entah seperti apa itu, saya paham, makanya saya kemudian bilang, "Elu tinggal baca aja sebagian. Nggak perlu semua, kok. Setelah Elu baca, kasih tau gue dan kasih saran. Apa yang harus gue perbaiki." 

"Gue kan nggak suka baca, bro!" 

"Justru karena Elu nggak suka baca itulah, maka kalau gue bisa ngebuat Elu suka sama ini tulisan, berarti tulisan gue bagus. Tapi kalau Elu nggak suka, ya kemungkinan besar orang lain juga nggak akan suka." 

"Tapi apa yang harus gue nilai, bro? Gue buta banget sama masalah tulis-menulis! Gimane gue mau menilai kalau gue aje nggak paham same yang beginian!" dia masih bertanya bingung. 

"Gini deh, gue jelasin pakai analogi aje ye..." saya berkata demikian sambil menepuk bahunya, "Anggap aja tulisan ini adalah masakan, hidangan, makanan di restoran. Nah, kalau Elu ke restoran, Elu makan disana, Elu boleh nggak bilang itu makanan enak atau nggak enak? Elu bisa nggak ngebedain oh makanan ini enak atau oh makanan ini nggak enak?" 

"Kalau itu gue bisa." 

"Padahal Elu kan nggak paham ilmu tentang makanan. Elu bukan chef yang tahu seluk-beluk masak-memasak. Tapi Elu bisa kan ngasih penilaian itu makanan enak atau nggak?" 

"Ya bisa lah, namanya juga makanan." 

"Sama aja. Tulisan gue juga. Elu cukup baca aja sambil dihayati sebisanya, nikmati semampunya. Kalau udah Elu baca dengan baik, Elu juga pasti bakal bisa bilang tulisan gue gimana. Jujur aja. Kalau tulisan gue nggak bagus, ya bilang aja nggak bagus. Kurangnya dimana. Lebihnya dimana. Apa yang harus gue tambah. Apa yang harus gue kurang." 

"Gitu ya?" dia berkata demikian, entah mengerti atau tidak. 

"Iya, gitu aja kok..." saya menjelaskan, "untuk bisa berkata tulisan ini bagus atau tidak, nggak perlu orang yang ahli literasi kok bro. Siapapun boleh nilai tulisan gue." 

"Ntar nggak objektif dong hasilnya?" 

"Penilaian seseorang pada sebuah karya seni, termasuk tulisan, memang nggak akan objektif. Nilainya subjektif. Karena hal inilah, maka sering gue bilang, bagusnya sebuah tulisan itu relatif. Si A bilang tulisan gue bagus, tapi si B paling nganggap tulisan gue biasa aja. Nggak masalah. Toh, kita nggak bisa menyenangkan semua orang, toh?" 

"Iya deh..." 

"Iya apaan?" 

"Ya ini, gue bakal baca tulisan Elu dan nanti gue kasih penilaian ya! Tapi awas, jangan marah kalau gue bakalan jujur." 

"Siap, nggak masalah." 
Ketika Biaya Iklan Besar

Ketika Biaya Iklan Besar


"Bang boleh nanya nggak?" kata seorang peserta pelatihan bisnis online yang saya bina, "Kalau boleh tahu, biaya iklan Bang Syaiha dalam sehari, ketika dulu baru memulai berapa?" 

Saya kemudian menjawab singkat, "Hanya 60ribu saja, mbak." 

"Enam puluh ribu kok hanya, Bang? Itu banyak loh!" dia menjawab demikian, lalu melanjutkan, "Nah, kalau sekarang, berapa Bang biaya iklan hariannya?" 

"Berkisar 300ribu - 700ribuan, mbak."

"Sehari segitu, Bang? Beneran? Emang selalu untung ya? Nggak rugi, Bang?" 

"Iya, mbak. Segitu lah biaya iklan saya dalam sehari." saya tersenyum    dan dia jelas saja tidak bisa melihat senyuman saya karena kami melakukan komunikasi ini hanya via WhatsApp. "Kalau masalah untung dan rugi, Alhamdulillah sih sampai saat ini saya tidak pernah merugi. Selalu ada profit yang bisa dikantongi, ditabung untuk kepentingan nanti."

Apa yang ingin saya jelaskan dari percakapan singkat di atas? Simak ya, dibaca pelan-pelan, lalu resapi. Ambil pelajaran yang bisa diambil, buang yang jelek dan sia-sia. 

Yang ingin saya sampaikan adalah: 

Pertama, sebaiknya setiap kita mengingat pepatah lama ini, "Jika ingin mendapatkan ikan yang besar, maka gunakan umpan yang besar." 

Tidak salah. 

Sekarang bayangkan saja, misalkan kalian sedang memancing dan menginginkan ikan sebesar paha orang dewasa, maka umpan yang harus dilemparkan ke air juga pasti besar, kan? 

Satu, karena dengan umpan yang besar itu, maka mulut ikan kecil tidak muat dan tidak mungkin ia menelannya. Sehingga kita tidak akan mendapatkan ikan-ikan tersebut. Dua, umpan besar, hanya akan masuk ke mulut ikan besar. Jadi, walau pun barangkali agak lama dimakan, tetap saja, sekali dimakan, bisa dipastikan itu adalah ikan yang besar. 

Pun sama dengan iklan di Facebook yang saya lakukan. Semakin besar uang yang saya keluarkan, maka semakin besar juga jangkauan orang yang akan saya dapatkan. 

Misalnya, jika dengan uang 100 ribu saya bisa menjangkau 10 ribu orang, maka dengan orang 300 ribu, saya bisa mendapatkan setidaknya 3 kali lipat keterjangkauan. Nah, dalam jual beli, prinsip kan, semakin banyak yang melihat jualan kita, apalagi yang melihat itu adalah orang yang sesuai dengan produk yang kita jual, maka peluang terjualnya dagangan kita akan semakin tinggi. 

Paham? 

Begini, misalkan kalian jualan mainan anak usia 1 - 5 tahun. Lalu, jualan itu dilihat oleh 30 ribu perempuan, ibu-ibu yang sudah punya anak seusia itu, maka pasti peluang terbelinya dagangan kalian semakin tinggi, bukan? Karena yang melihat ada 30 ribu orang dan mereka punya anak seusia target pasar kalian. 

Berbeda sekali misalkan, kalian jual mainan anak, eh yang melihat anak-anak ABG yang masih SMP dan SMA. 

Mungkin laku, tapi tidak sebanyak di kasus yang pertama. 

Begitulah keterjangkauan. Semakin banyak orang yang terjangkau pada iklan kita, maka semakin tinggi peluang terbelinya barang yang kita jual. 

Kedua, selain mengingat pepatah lama tadi, ingat juga kalimat bijak ini, "No Risk, No Rizky!" 

Artinya adalah, saya percaya bahwa sesuatu yang mengandung resiko di dalamnya, maka disana juga ada hadiah besar yang disediakan. Sama seperti tantangan yang ada di tipi-tipi kan? Semakin ekstrem tantangan yang dicoba, maka hadiah yang disedikan juga pasti semakin besar. 

Beriklan juga demikian, semakin tinggi iklan yang dikeluarkan, semakin besar juga resiko kebangkrutan. Tapi, kalau semua dilakukan dengan penuh perhitungan, dengan sadar dan yakin, dengan ilmu, maka insya Allah, rejeki yang akan didapatkan dari pengorbanan iklan itu juga sebanding. 

Demikian. 
Saya Bukan Penulis Sukses

Saya Bukan Penulis Sukses


"Wah, ternyata Bang Syaiha nih penulis sukses ya!" kata seorang kawan ketika pertama kali bertemu. Dia membaca blog saya dan kemudian menyimpulkan demikian. Padahal, apanya yang penulis sukses? Lah wong menerbitkan buku aja cuma beberapa kali! Udah gitu, buku yang diterbitkan juga nggak begitu laku. Lalu, darimana dia bisa menyimpulkan saya sebagai penulis sukses?

Jauh sekali lah... 

Dulu sekali, saya memang berkeinginan menjadi penulis   sekarang masih sih, cuma nggak sesemangat dulu. Cuma ketika mendapati bahwa menjadi penulis itu tidak seenak yang dibayangkan, maka saya kemudian banting setir, ingin jualan aja deh. 

Menulis tetap, di blog ini. Nanti, barangkali juga saya akan menerbitkan buku lagi. Tentang bisnis, novel, atau apalah. Tapi entah kapan. Nunggu momen yang tepat. 

"Menjadi penulis tidak seenak yang dibayangkan, maksudnya gimana Bang?" 

Begini...

Pertama, mungkin sebagian penulis pemula beranggapan bahwa menjadi penulis itu menyenangkan sekali. Bisa menerbitkan buku, menjualnya, laku, dapat uang banyak, diundang kemana-mana, dan sebagainya. Itu benar sih, tapi nanti, ketika kita memang sudah punya nama dan karya banyak sekali. Kalau belum, ya perjuangan yang harus dilakukan masih panjang dan berdarah-darah. 

Menerbitkan buku itu tidak seenak yang dibayangkan. Tapi, oke lah... Sekarang ada penerbitan indie. Menghasilkan karya menjadi jauh lebih mudah. Punya uang, lalu terbitkan. Beres. Apakah masalah selesai? Belum... Karena setelah buku jadi, kita akan   mohon maaf   kebingungan menjualnya. 

Barangkali bukan karena buku yang kita hasilkan jelek. Tapi lebih kepada bahwa masyarakat kita ini, menjadikan membaca entah ada di urutan keberapa dalam list hobi mereka. 

Jika mereka punya uang 100ribu, mereka pasti akan memilih menggunakannya untuk, makan, jalan-jalan, beli baju, nonton film, atau kesenangan lainnya. Sedikit sekali yang menggunakannya untuk membeli buku di urutan pertama. 

Kedua, saya sudah berkeluarga dan saya harus realistik. Sehingga ketika mengetahui bahwa menjadi penulis, bagi saya sekarang tidak begitu bisa membuat anak istri saya makan enak, maka saya banting setir dulu, menjadi pebisnis online. Dari bidang ini, saya bisa mendapatkan banyak uang. Setidaknya jauh sekali bedanya jika dibandingkan dengan menjual buku-buku saya kemarin. 

Tersebab inilah, maka saya beberapa bulan ini belum menulis lagi untuk buku-buku saya. Ada beberapa ide yang berkeliaran, tapi belum saya susun menjadi sebuah buku. Barangkali nanti. Ketika saya sudah beres dengan urusan duniawi, sudah mapan dalam hal ekonomi, barulah saya akan menerbitkan buku lagi. 

Intinya, kelak, ketika saya menerbitkan buku, maka tujuan utamanya bukan karena uang lagi. Lebih kepada hobi saja. Seperti hobinya saya menulis di blog ini. 

Nah, karena kondisi inilah, maka beberapa minggu lalu, ketika ada beberapa orang yang menghubungi saya untuk mengajak saya mengisi seminar di tempat mereka, tentang kepenulisan, maka saya menolaknya. Nanti lah. Sekarang saya belum siap karena saya toh sudah tidak menulis dan menghasilkan buku lagi dalam kurun waktu beberapa bulan ini. 

Mereka memaksa...

Saya jawab, "Saya sudah tidak menjadi kan menulis sebagai prioritas pertama dalam hidup saya, setidaknya untuk saat ini, maka saya tidak berani mengisi seminar atau pelatihan tentang hal ini. Kuatir tidak maksimal jadi nya, kan? Kecuali jika anda mengundang saya dalam sebuah seminar bisnis online, maka saya pasti datang dan berbagi." 

"Jadi, Bang Syaiha sudah tidak akan menulis dan menghasilkan buku lagi?" dia berkata demikian, kemudian melanjutkan, "Sayang sekali ya, padahal tulisan Bang Syaiha di dua novel pertama kemarin bagus."

"Saya akan tetap menulis dan menghasilkan buku, tapi nanti. Ketika momennya sudah tepat. Tidak sekarang." 

"Oke, baiklah..." 

....dan mereka kemudian pasrah. Tidak memaksa saya hadir di kegiatan mereka lagi. 

Demikian.