Like Fanpage Bang Syaiha

Padahal Semuanya Sama

Padahal Semuanya Sama


Barangkali ini cukup aneh, nggak masuk di nalar kita sebagai manusia. Terutama bagi yang suka beriklan di Facebook. 

Ceritanya, suatu kali saya pernah bertanya ke teman, "Kau jualan apa sih? Kok sepertinya ramai terus. Banyak yang beli dan laris manis. Kasih tahu napa rahasianya." 

"Jualan kita sama, kok." dia bilang demikian. Memang kami selalu menjual barang yang sama selama ini. Dan kami tidak takut bersaing karena rejeki sudah ada yang mengatur. Rejeki dia nggak mungkin nyasar ke saya, pun sebaliknya. Yang seharusnya menjadi punya saya, nggak mungkin singgah ke kantung dia. 

"Terus, kok bisa punyamu laku banget ya? Lihat dong iklannya. Sama targettingnya sekalian." saya memohon. 

Dia, yang memang sejak awal tidak menganggap saya sebagai pesaing, maka memberikan begitu saja. Dibukanya dapur akun iklannya dan saya bisa melihat dengan jelas iklan dia bagaimana. Ditargetin untuk siapa saja, usia berapa, daerah mana, dan sebagainya. 

"Begini doang yang membuat iklanmu selalu mampu menjaring banyak konsumen?" saya bertanya lagi. 

Dia mengangguk. "Benar, begini saja, kok. Bang Syaiha juga pasti kan sudah paham akan semua ini. Silakan aja Bang kalau mau mengikuti mentah-mentah punya saya. Samain aja, barangkali dengan begini, jualan Bang Syaiha juga laku." 

"Beneran boleh?" 

Dia mengangguk lagi. 

...dan hari itu, dia memberikan semua amunisi iklannya. Diberikan cuma-cuma ke saya. Walau dalam hati ada keraguan, bertanya-tanya begini, "Masa sih iklan dia yang begitu doang bisa bekerja dengan baik? Padahal sederhana sekali. Tapi ya sudah lah, tak coba aja... Kali aja working di jualan yang sedang saya tawarkan di internet..." 

Singkatnya, tidak berselang lama, saya kemudian meniru plek iklan teman saya. Tapi, ketika menjalankan ini, di dada saya ada keraguan yang besar. Tidak yakin. Tetap saya jalankan karena teman saya sudah membuktikan iklannya berhasil. Jadi ya, apa salahnya dicoba. 

Masalahnya... ternyata, setelah iklan saya jalan beberapa hari, saya tetap tidak mampu menjual barang saya dalam jumlah banyak. Berbeda dengan teman saya yang setiap hari bisa puluhan kiriman. Lah, ini saya salah dimananya ya? Perasaan sudah sama semua saya ikuti apa yang teman saya lakukan.

Ketika saya curhat lagi masalah ini ke kawan saya itu, dia bilang, "Salahnya adalah, Bang Syaiha menjalankannya tanpa keyakinan." 

"Emang ngaruh?" 

"Iya lah. Kalau kita sendiri aja nggak yakin sama iklan kita, gimana orang lain akan yakin. Bang Syaiha pasti pernah baca Law of Attraction (LoA), kan? Entah kebetulan atau tidak, sepertinya teori itu benar. Alam akan menuntun kita kepada apa yang kita yakini." 

"Atau...." teman saya kembali menasihati, "kalau dalam Islam, kita pernah mendengar bahwa Allah adalah sesuai dengan persangkaan hamba-Nya, kan?"

Saya mengangguk. 

"Begitu lah, kalau kita menyangka iklan kita nggak akan laku, yang nggak laku memang kenyataannya. Tapi jika sebaliknya, pas membuat iklan kita yakin sekali bahwa apa yang kita lakukan sudah benar dan percaya pasti laris manis, maka begitulah jadinya." 

Dan saya kemudian membenarkan saja. Memang begitulah yang selama ini saya alami. 

Karena hal inilah, maka saya selalu percaya bahwa, teknik beriklan boleh sama, produk yang dijual juga, tapi sekali lagi, rejeki kita pasti berbeda. 

Demikian. 
Cinta dan Pernikahan adalah Tema yang Nggak Ada Matinya

Cinta dan Pernikahan adalah Tema yang Nggak Ada Matinya


Ini adalah hari ketiga saya mulai aktif lagi memposting tulisan tentang hubungan lelaki dan perempuan   kita biasa menyebutnya cinta, juga tentang pernikahan, tentang suami istri. Tema ini adalah tema yang nggak ada matinya, selalu ramai diperbincangkan. Ramai didiskusikan. 

Sehingga tidak salah, ketika suatu malam member grup One Day One Post, berkata, "Dimana-mana, tema jomblo, cinta, dan pernikahan selalu ramai dibicarakan. Termasuk di grup kepenulisan One Day One Post." 

Dia berkomentar demikian karena beberapa menit sebelumnya, grup One Day One Post menyentuh ranah ini. Ada yang menyentil tentang pernikahan. Jadilah grup itu ramai, bukan lagi seperti grup kepenulisan. Lebih kepada grup pemuda-pemuda yang butuh cinta dan sayang. Duh...

Saya ulangi sekali lagi, masalah cinta dan pernikahan adalah masalah yang tidak pernah mati. Sejak manusia diciptakan, cinta adalah masalah pelik yang menjadi sebab dikeluarkannya Adam dari Surga Allah yang segalanya maha. Lalu berlanjut ke anak-anaknya bersama Hawa, cinta menjadi masalah yang kemudian menyebabkan terjadinya pembunuhan pertama. 

Terus-menerus hingga sekarang.... Cinta adalah tema yang senantiasa menarik untuk dituliskan, dibuatkan cerita, dibukukan, dan sebagainya. 

Silakan tengok ke toko buku ternama, barangkali, 90 persen buku yang ada, terutama buku novel dan dongeng-dongengnya, berisikan tentang cinta dan kawan-kawannya. 

Nah, karena gurihnya tema ini dibicarakan, maka sejak tiga hari belakangan, saya kembali menulis tentang hal ini. Kebetulan juga, ada beberapa orang mencurahkan keluh kesahnya ke saya, maka saya tuliskan saja. Sekalian biar dibaca banyak orang. 

Yah...

Barangkali kan, semoga saja ada yang terinspirasi, lalu berubah menjadi lebih baik, toh? Sehingga dengan demikian, saya bisa mendapatkan pahala juga kelak di alam sana   ternyata mudah ya mendapatkan banyak pahala. 

Yang suka menulis, tinggal nulis aja yang baik-baik, yang berguna. Kalau dibaca banyak orang dan diantara ada yang berubah, maka kita mendapatkan tabungan pahala untuk bekal disana. 

...dan selama tiga hari terakhir saya menulis tentang tema ini, tulisan saya memang dibaca banyak orang, disebarkan kemana-mana. Yang awalnya tidak kenal saya, mungkin akan bertanya-tanya, "Bang Syaiha ini siapa? Kok tulisannya disebarkan banyak orang?" 

Lalu mereka kepo dan membuka media sosial saya. Yang merasa nyaman akan memfollow akun saya. Yang tidak nyaman, akan membiarkan saya begitu saja. 

Tidak masalah. 

Saya mah cuma ingin menulis saja, tentang cinta dan kerabat-kerabatnya. Ada yang suka Alhamdulillah, nggak suka yang nggak apa-apa. 

Demikian. 
Menilai Sebuah Tulisan

Menilai Sebuah Tulisan


Dulu, ketika saya hendak mengikutkan naskah novel Sepotong Diam pada sebuah lomba, terlebih dahulu saya berikan naskah tersebut ke seorang teman dan berkata seperti ini, "Bro, tolong Elu baca ya. Setelah itu, Elu kasih penilaian deh ke naskah gue ini." 

Teman saya itu, yang karir literasinya bahkan barangkali nggak lulus TK, kemudian cengo'. Mungkin dalam hatinya berujar begini, "Mimpi ape gue semalem dikasih naskah setebel ini? Apa Syaiha nggak tahu kalau membaca adalah kegiatan yang nggak ade di dalam list yang harus gue kerjain?" 

Melihat raut wajahnya yang entah seperti apa itu, saya paham, makanya saya kemudian bilang, "Elu tinggal baca aja sebagian. Nggak perlu semua, kok. Setelah Elu baca, kasih tau gue dan kasih saran. Apa yang harus gue perbaiki." 

"Gue kan nggak suka baca, bro!" 

"Justru karena Elu nggak suka baca itulah, maka kalau gue bisa ngebuat Elu suka sama ini tulisan, berarti tulisan gue bagus. Tapi kalau Elu nggak suka, ya kemungkinan besar orang lain juga nggak akan suka." 

"Tapi apa yang harus gue nilai, bro? Gue buta banget sama masalah tulis-menulis! Gimane gue mau menilai kalau gue aje nggak paham same yang beginian!" dia masih bertanya bingung. 

"Gini deh, gue jelasin pakai analogi aje ye..." saya berkata demikian sambil menepuk bahunya, "Anggap aja tulisan ini adalah masakan, hidangan, makanan di restoran. Nah, kalau Elu ke restoran, Elu makan disana, Elu boleh nggak bilang itu makanan enak atau nggak enak? Elu bisa nggak ngebedain oh makanan ini enak atau oh makanan ini nggak enak?" 

"Kalau itu gue bisa." 

"Padahal Elu kan nggak paham ilmu tentang makanan. Elu bukan chef yang tahu seluk-beluk masak-memasak. Tapi Elu bisa kan ngasih penilaian itu makanan enak atau nggak?" 

"Ya bisa lah, namanya juga makanan." 

"Sama aja. Tulisan gue juga. Elu cukup baca aja sambil dihayati sebisanya, nikmati semampunya. Kalau udah Elu baca dengan baik, Elu juga pasti bakal bisa bilang tulisan gue gimana. Jujur aja. Kalau tulisan gue nggak bagus, ya bilang aja nggak bagus. Kurangnya dimana. Lebihnya dimana. Apa yang harus gue tambah. Apa yang harus gue kurang." 

"Gitu ya?" dia berkata demikian, entah mengerti atau tidak. 

"Iya, gitu aja kok..." saya menjelaskan, "untuk bisa berkata tulisan ini bagus atau tidak, nggak perlu orang yang ahli literasi kok bro. Siapapun boleh nilai tulisan gue." 

"Ntar nggak objektif dong hasilnya?" 

"Penilaian seseorang pada sebuah karya seni, termasuk tulisan, memang nggak akan objektif. Nilainya subjektif. Karena hal inilah, maka sering gue bilang, bagusnya sebuah tulisan itu relatif. Si A bilang tulisan gue bagus, tapi si B paling nganggap tulisan gue biasa aja. Nggak masalah. Toh, kita nggak bisa menyenangkan semua orang, toh?" 

"Iya deh..." 

"Iya apaan?" 

"Ya ini, gue bakal baca tulisan Elu dan nanti gue kasih penilaian ya! Tapi awas, jangan marah kalau gue bakalan jujur." 

"Siap, nggak masalah." 
Ketika Biaya Iklan Besar

Ketika Biaya Iklan Besar


"Bang boleh nanya nggak?" kata seorang peserta pelatihan bisnis online yang saya bina, "Kalau boleh tahu, biaya iklan Bang Syaiha dalam sehari, ketika dulu baru memulai berapa?" 

Saya kemudian menjawab singkat, "Hanya 60ribu saja, mbak." 

"Enam puluh ribu kok hanya, Bang? Itu banyak loh!" dia menjawab demikian, lalu melanjutkan, "Nah, kalau sekarang, berapa Bang biaya iklan hariannya?" 

"Berkisar 300ribu - 700ribuan, mbak."

"Sehari segitu, Bang? Beneran? Emang selalu untung ya? Nggak rugi, Bang?" 

"Iya, mbak. Segitu lah biaya iklan saya dalam sehari." saya tersenyum    dan dia jelas saja tidak bisa melihat senyuman saya karena kami melakukan komunikasi ini hanya via WhatsApp. "Kalau masalah untung dan rugi, Alhamdulillah sih sampai saat ini saya tidak pernah merugi. Selalu ada profit yang bisa dikantongi, ditabung untuk kepentingan nanti."

Apa yang ingin saya jelaskan dari percakapan singkat di atas? Simak ya, dibaca pelan-pelan, lalu resapi. Ambil pelajaran yang bisa diambil, buang yang jelek dan sia-sia. 

Yang ingin saya sampaikan adalah: 

Pertama, sebaiknya setiap kita mengingat pepatah lama ini, "Jika ingin mendapatkan ikan yang besar, maka gunakan umpan yang besar." 

Tidak salah. 

Sekarang bayangkan saja, misalkan kalian sedang memancing dan menginginkan ikan sebesar paha orang dewasa, maka umpan yang harus dilemparkan ke air juga pasti besar, kan? 

Satu, karena dengan umpan yang besar itu, maka mulut ikan kecil tidak muat dan tidak mungkin ia menelannya. Sehingga kita tidak akan mendapatkan ikan-ikan tersebut. Dua, umpan besar, hanya akan masuk ke mulut ikan besar. Jadi, walau pun barangkali agak lama dimakan, tetap saja, sekali dimakan, bisa dipastikan itu adalah ikan yang besar. 

Pun sama dengan iklan di Facebook yang saya lakukan. Semakin besar uang yang saya keluarkan, maka semakin besar juga jangkauan orang yang akan saya dapatkan. 

Misalnya, jika dengan uang 100 ribu saya bisa menjangkau 10 ribu orang, maka dengan orang 300 ribu, saya bisa mendapatkan setidaknya 3 kali lipat keterjangkauan. Nah, dalam jual beli, prinsip kan, semakin banyak yang melihat jualan kita, apalagi yang melihat itu adalah orang yang sesuai dengan produk yang kita jual, maka peluang terjualnya dagangan kita akan semakin tinggi. 

Paham? 

Begini, misalkan kalian jualan mainan anak usia 1 - 5 tahun. Lalu, jualan itu dilihat oleh 30 ribu perempuan, ibu-ibu yang sudah punya anak seusia itu, maka pasti peluang terbelinya dagangan kalian semakin tinggi, bukan? Karena yang melihat ada 30 ribu orang dan mereka punya anak seusia target pasar kalian. 

Berbeda sekali misalkan, kalian jual mainan anak, eh yang melihat anak-anak ABG yang masih SMP dan SMA. 

Mungkin laku, tapi tidak sebanyak di kasus yang pertama. 

Begitulah keterjangkauan. Semakin banyak orang yang terjangkau pada iklan kita, maka semakin tinggi peluang terbelinya barang yang kita jual. 

Kedua, selain mengingat pepatah lama tadi, ingat juga kalimat bijak ini, "No Risk, No Rizky!" 

Artinya adalah, saya percaya bahwa sesuatu yang mengandung resiko di dalamnya, maka disana juga ada hadiah besar yang disediakan. Sama seperti tantangan yang ada di tipi-tipi kan? Semakin ekstrem tantangan yang dicoba, maka hadiah yang disedikan juga pasti semakin besar. 

Beriklan juga demikian, semakin tinggi iklan yang dikeluarkan, semakin besar juga resiko kebangkrutan. Tapi, kalau semua dilakukan dengan penuh perhitungan, dengan sadar dan yakin, dengan ilmu, maka insya Allah, rejeki yang akan didapatkan dari pengorbanan iklan itu juga sebanding. 

Demikian. 
Saya Bukan Penulis Sukses

Saya Bukan Penulis Sukses


"Wah, ternyata Bang Syaiha nih penulis sukses ya!" kata seorang kawan ketika pertama kali bertemu. Dia membaca blog saya dan kemudian menyimpulkan demikian. Padahal, apanya yang penulis sukses? Lah wong menerbitkan buku aja cuma beberapa kali! Udah gitu, buku yang diterbitkan juga nggak begitu laku. Lalu, darimana dia bisa menyimpulkan saya sebagai penulis sukses?

Jauh sekali lah... 

Dulu sekali, saya memang berkeinginan menjadi penulis   sekarang masih sih, cuma nggak sesemangat dulu. Cuma ketika mendapati bahwa menjadi penulis itu tidak seenak yang dibayangkan, maka saya kemudian banting setir, ingin jualan aja deh. 

Menulis tetap, di blog ini. Nanti, barangkali juga saya akan menerbitkan buku lagi. Tentang bisnis, novel, atau apalah. Tapi entah kapan. Nunggu momen yang tepat. 

"Menjadi penulis tidak seenak yang dibayangkan, maksudnya gimana Bang?" 

Begini...

Pertama, mungkin sebagian penulis pemula beranggapan bahwa menjadi penulis itu menyenangkan sekali. Bisa menerbitkan buku, menjualnya, laku, dapat uang banyak, diundang kemana-mana, dan sebagainya. Itu benar sih, tapi nanti, ketika kita memang sudah punya nama dan karya banyak sekali. Kalau belum, ya perjuangan yang harus dilakukan masih panjang dan berdarah-darah. 

Menerbitkan buku itu tidak seenak yang dibayangkan. Tapi, oke lah... Sekarang ada penerbitan indie. Menghasilkan karya menjadi jauh lebih mudah. Punya uang, lalu terbitkan. Beres. Apakah masalah selesai? Belum... Karena setelah buku jadi, kita akan   mohon maaf   kebingungan menjualnya. 

Barangkali bukan karena buku yang kita hasilkan jelek. Tapi lebih kepada bahwa masyarakat kita ini, menjadikan membaca entah ada di urutan keberapa dalam list hobi mereka. 

Jika mereka punya uang 100ribu, mereka pasti akan memilih menggunakannya untuk, makan, jalan-jalan, beli baju, nonton film, atau kesenangan lainnya. Sedikit sekali yang menggunakannya untuk membeli buku di urutan pertama. 

Kedua, saya sudah berkeluarga dan saya harus realistik. Sehingga ketika mengetahui bahwa menjadi penulis, bagi saya sekarang tidak begitu bisa membuat anak istri saya makan enak, maka saya banting setir dulu, menjadi pebisnis online. Dari bidang ini, saya bisa mendapatkan banyak uang. Setidaknya jauh sekali bedanya jika dibandingkan dengan menjual buku-buku saya kemarin. 

Tersebab inilah, maka saya beberapa bulan ini belum menulis lagi untuk buku-buku saya. Ada beberapa ide yang berkeliaran, tapi belum saya susun menjadi sebuah buku. Barangkali nanti. Ketika saya sudah beres dengan urusan duniawi, sudah mapan dalam hal ekonomi, barulah saya akan menerbitkan buku lagi. 

Intinya, kelak, ketika saya menerbitkan buku, maka tujuan utamanya bukan karena uang lagi. Lebih kepada hobi saja. Seperti hobinya saya menulis di blog ini. 

Nah, karena kondisi inilah, maka beberapa minggu lalu, ketika ada beberapa orang yang menghubungi saya untuk mengajak saya mengisi seminar di tempat mereka, tentang kepenulisan, maka saya menolaknya. Nanti lah. Sekarang saya belum siap karena saya toh sudah tidak menulis dan menghasilkan buku lagi dalam kurun waktu beberapa bulan ini. 

Mereka memaksa...

Saya jawab, "Saya sudah tidak menjadi kan menulis sebagai prioritas pertama dalam hidup saya, setidaknya untuk saat ini, maka saya tidak berani mengisi seminar atau pelatihan tentang hal ini. Kuatir tidak maksimal jadi nya, kan? Kecuali jika anda mengundang saya dalam sebuah seminar bisnis online, maka saya pasti datang dan berbagi." 

"Jadi, Bang Syaiha sudah tidak akan menulis dan menghasilkan buku lagi?" dia berkata demikian, kemudian melanjutkan, "Sayang sekali ya, padahal tulisan Bang Syaiha di dua novel pertama kemarin bagus."

"Saya akan tetap menulis dan menghasilkan buku, tapi nanti. Ketika momennya sudah tepat. Tidak sekarang." 

"Oke, baiklah..." 

....dan mereka kemudian pasrah. Tidak memaksa saya hadir di kegiatan mereka lagi. 

Demikian. 
Push Up Minimal 100 Kali Sehari

Push Up Minimal 100 Kali Sehari


Sepertinya sudah hampir seminggu saya menantang diri saya sendiri untuk bisa minimal melakukan push up 100 kali sehari. Minimal ya! Bukan maksimal. Minimal adalah batas bawah dan tidak boleh kurang. Lebih sangat dianjurkan. Seperti kemarin, saya malah melakukannya hampir 200 kali sehari. Push up. Angkat badan, turunkan lagi. Naik turun lah pokoknya. 

Apa yang terjadi kemudian? 

Ya! Tentu saja lengan saya pegal-pegal. Otot dada saya sakit kalau dipegang. Dan ini dijadikan bahan usilan oleh istri saya. 

Ketika sedang duduk diam, dia datang dan secara tiba-tiba menekan dada saya dengan jari telunjuk. Duh, rasanya... Nyeri... Bukan karena sakit sih, lebih kepada karena otot dada yang barangkali lelah. Maklum, sejak beberapa tahun lalu saya tidak lagi push up setiap hari, jadilah sekalinya push up lagi, beberapa otot kaget. 

Ini sama saja dengan kalian ketika sudah lama tidak menulis. Misal kan awalnya kalian terbiasa menulis setiap hari, lalu karena sibuk atau karena malas, kalian berhenti dan tidak menulis lagi, maka bisa dipastikan ketika memulainya lagi, kalian akan kaget bukan main. Merasa bahwa menulis adalah pekerjaan berat dan membutuhkan banyak tenaga. 

Jemari kalian mungkin bakal kaku dan bingung hendak dilarikan ke huruf yang mana pada keyboard laptop. Kepala puyeng karena merasa tidak menemukan kalimat terbaik untuk diletakkan di awal tulisan, dan sebagainya. 

Menulis menjadi berat karena kalian sudah lama tidak melakukannya. 

Tidak hanya pada kegiatan menulis saja sih, banyak hal lain yang kalau tidak dibiasakan (atau sudah pernah dibiasakan dan kemudian berhenti) maka akan susah lagi memulainya. Berat. 

Membaca kitab Al Quran misalnya. Jangan dikira tilawah itu mudah! Nggak! Cobain aja sekarang, ambil wudhu dan kemudian baca deh. Dijamin, baru sebentar aja kayaknya pengen segera berhenti. Baru beberapa menit, udah ngerasa beberapa jam    itu saya aja kali ya!

Intinya, melakukan perbuatan baik itu, entah menulis, membaca Quran, dan lain sebagainya, adalah hal yang berat jika tidak dibiasakan. 

Lanjut tentang target saya minimal 100 kali push setiap hari ya....

Jadi, melakukan push up 100 kali sehari itu berat. Apalagi jika dilakukan sekaligus. Bisa patah tuh tangan. Terutama yang badannya berat. Maka yang saya lakukan adalah, membaginya dalam beberapa tahapan. Misalnya, pagi saya push up 40 - 50 kali. Itu pun nggak sekaligus. Setiap 20 kali saya berhenti dan beristirahat. 

Nanti sisanya saya cicil di siang hari ketika selesai shalat Zhuhur, lalu dilanjutkan ketika sore hari sebelum mandi sore. 

Alhamdulillah, dengan menerapkan hal demikian, target minimal 100 kali push up bisa selalu tercapai. Malah kadang bisa lebih. 

Dari sini saya belajar, bahwa untuk membiasakan diri pada pekerjaan yang baik harus dimulai pelan-pelan. Ingin bisa menulis setiap hari, maka kita harus melakukannya setiap hari. Pelan-pelan. 

Hari ini mungkin baru bisa menulis tentang curhatan-curhatan saja, tapi ya jalankan saja lah. Pelan tapi pasti, nanti tulisan kamu juga akan baik dengan sendirinya kok. Nggak ada yang salah dengan tulisan curhat.  Bahkan kalau dilakukan dengan konsisten dan terus-menerus, siapa tahu malah nanti bisa jadi buku, toh? 

Orang-orang yang kita kenal sebagai penulis besar itu juga dulunya pasti memulainya dengan tulisan curhatan. Apa yang dia lihat, dia dengar, dan dia rasa, kemudian dia tulis. Lama kelamaannya, karena dia konsisten menulisnya, ia bertransformasi menjadi seorang penulis handal yang banyak dikenal orang. 

Sama seperti push up tadi lah....

Sekarang mungkin nggak bisa langsung 100 kali. Tapi kalau dilakukan terus-menerus, saya yakin nanti saya bisa 100 kali sekaligus tanpa berhenti. Lah wong sekarang aja sudah bisa 30 kali sekaligus tanpa berhenti. Padahal menjalankan kebiasaan ini baru semingguan. 

Selain dua pelajaran di atas, pembiasaan dan bertahap, ada satu pelajaran lagi yang bisa saya ambil. Apa itu? 

Ya!

Hidup harus punya target. Mau nikah umur berapa? Mau punya penghasilan berapa? Mau tinggal dimana? Mau punya anak bagaimana? Mau berperan apa di masyarakat kelak? Dan sebagainya... Sekali lagi, hidup harus punya target. Harus jelas mau kemana dan seperti apa. 

Bukan untuk gaya-gayaan sih... Cuma biar lebih terarah dan jelas saja, apa yang sedang kita kejar... 

Demikian. 
One Day One Post ini Punya Kalian

One Day One Post ini Punya Kalian


Kemarin, ketua umum One Day One Post nanya ke saya, "Bang, dulu pas mendirikan One Day One Post awalnya gimana?" 

Saya jawab saja ringan, "Dulu iseng aja sih mas. Kan saya suka nulis setiap hari tuh, merasakan juga bahwa menulis setiap hari itu ada manfaatnya. Banyak. Maka saya buat status deh di Facebook, mengajak orang-orang untuk menulis setiap hari. Eh, ternyata banyak yang mendaftar dan kemudian kami sepakati lah untuk membuat grup WhatsApp nya." 

"Jadi sejak awal namanya One Day One Post, Bang?" 

"Iya, sejak awal memang namanya One Day One Post. Tujuannya ya itu, mengumpulkan orang-orang yang berniat menulis setiap hari. Agar bisa saling menyemangati, saling mengingatkan, saling berbagi. Bukan kah berjamaah jauh lebih kuat dibandingkan sendiri-sendiri?" 

"Iya juga sih. Kalau bersama-sama kan enak, ada yang bisa mengingatkan kita kalau lagi ada rasa malas yang tiba-tiba hadir." 

"Nah..." saya melanjutkan, hendak menjelaskan sesuatu, "Dulu semuanya saya yang handle mas, ketika saya masih tidak sesibuk sekarang. Saya yang menyiapkan tantangan selama 3 bulan. Saya yang mengisi materi tentang kepenulisan dan blogging, juga hal-hal lain yang dirasa perlu untuk dibagikan ke semua anggota yang ada." 

"Cuma semakin kesini, ketika saya kemudian banyak kegiatan, saya tidak bisa menghandle semuanya. Saya sering nggak nongol di grup dan jarang aktif. Makanya, saya sangat beruntung ketika ada beberapa member One Day One Post yang punya rasa kepemilikan cukup tinggi akan komunitas maya ini, lalu berembug dan memutuskan untuk ada kepengurusan setiap beberapa bulan sekali. Karena mereka semua lah komunitas One Day One Post masih ada hingga sekarang. Semoga menjadi komunitas yang besar suatu saat."

"Aammiin..." 

"Semoga member yang angkatan ke-4 ini benar-benar merasa bahwa One Day One Post adalah milik mereka, sehingga mereka akan mencurahkan segenap tenaga dan pikirannya sehingga komunitas ini tetap ada." 

Demikian. 
Member One Day One Post Harus Ngeblog!

Member One Day One Post Harus Ngeblog!


Ketika mengetahui bahwa yang mendaftar ke One Day One Post cukup banyak, saya kemudian bergumam, "Wuih, banyak juga ya yang punya cita-cita ingin menjadi penulis? Nggak nyangka. Padahal informasi pendaftaran baru dibuka setengah hari, data yang masuk langsung menyentuh angka seratusan orang. Hebat!" 

Yah, walaupun, tentu saja motivasi mereka yang bergabung itu, tidak melulu tentang ingin menjadi penulis, tapi setidaknya, mereka bergabung di One Day One Post adalah ingin bisa menulis setiap hari. Iya kan?

Karena namanya jelas, One Day One Post! 

Sehari satu tulisan yang diposting di blog. Jelas ya! Di blog, bukan di media sosial semisal Facebook, Twitter, dan IG, sebagainya. 

Mengapa harus di blog? 

Ya suka-suka panitianya lah! Kalau mereka mintanya di blog, ya harus dikerjakan di blog. Tulis semua tantangan yang diberikan, lalu posting di blog dan sebarkan ke media sosial yang mereka miliki. 

Setidaknya, kalau menulis di blog itu, ada beberapa keuntungan: 

Satu, tulisan kamu bakalan rapi arsipnya. Mudah mencarinya. Mudah mengukurnya juga. Bulan ini berapa tulisan, bulan lalu berapa? Lalu kamu bakalan tahu, oh ternyata bulan ini aku lebih produktif dibandingkan bulan lalu atau sebaliknya. Kamu juga bakalan tahu mana tulisan yang ramai dibaca orang dan mana yang tidak ada pembacanya sama sekali. 

Dua, mudah dibagikan. Tinggal copy URL nya dan pastekan ke mana pun yang kamu mau. URL yang kamu bagikan itu pun kan nggak berantakan semisal URL Facebook. 

Tiga, kamu akan dengan mudah menemukan tulisan-tulisan lama kamu sehingga akan menjadi hiburan tersendiri ketika membacanya. Beneran, loh! Kalau kita rajin menulis setiap hari, maka kita akan mengalami kemajuan dalam hal menulis. Lalu nanti, ada masanya kamu ingin membaca tulisan lawasmu dan kemudian menyadari bahwa tulisan itu jauh sekali dari kata bagus dan kemudian kamu akan menertawakannya. 

Itu lucu! 

Atau barangkali kamu akan bergumam, "Oh well! Tulisan sejelek ini kok aku publish di blog ya?" 

Tapi tidak mengapa, sesederhana apapun tulisan yang kamu hasilkan, maka posting saja dan biarkan ia dibaca banyak orang. Pelan tapi pasti, jika kamu menulis setiap hari, maka tulisan kamu akan menjadi baik dengan sendirinya. 

Nggak percaya? Silakan dicoba!
Tulisan Amburadul

Tulisan Amburadul


Saya baru sadar kalau hari ini ternyata saya belum posting, hampir saja kelewat. Kan nggak seru kalau sampai lupa posting tulisan di blog. Masa saya yang ngompor-ngomporin nulis setiap hari ke teman-teman di Komunitas One Day One Post, eh saya nya sendiri lupa menulis dan posting. Bisa dijitak mereka nanti saya, kan? 

Nyuruh aja bisanya!

Tapi saya yakin sih, kalau member One Day One Post nggak sekejam itu. Mereka mah orangnya baik-baik semua. Keren-keren semua juga lagi. Semuanya, dengan segala aktivitas dan kesibukan masing-masing, mau-maunya bergabung ke grup One Day One Post dan dipaksa menulis setiap hari. Padahal di dalamnya ada loh yang kerjaannya udah bejibun, ngurus anak, melayani suami, memasak, membersihkan rumah, mengajar, bekerja di perusahaan, dan sebagainya. 

Masa saya kalah sama mereka sih? Ya jangan sampai, lah!

Jika mereka saja bisa menulis setiap hari, maka saya yang mengompori seharusnya juga bisa. Sesimpel apapun tulisan yang dihasilkan, maka menulis lah. 

Kalau nggak punya ide gimana? Apa yang mau ditulis?

Ya nulis aja asal-asalan. Kayak tulisan yang sedang kalian baca ini. Ide nya apa coba? Nggak ada ide. Makanya saya menulis kan apapun yang ada di kepala saya. 

Misalnya, hari ini, saya dan kawan-kawan pengelola Pesantren Rumah Muda Indonesia mengadakan rapat dan memutuskan beberapa hal tentang pembukaan pendaftaran untuk angkatan kedua. Angkatan pertama sudah hampir usai. Mereka sudah kami bekali ilmu agama, tahfidz Quran, keterampilan melakukan kegiatan sosial, keterampilan berbisnis online, dan sebagainya. 

Sebentar lagi mereka akan lulus dan kami harus segera membuka pendaftaran untuk angkatan kedua. Ada beberapa hal yang kami putuskan tadi, misalnya, Pesantren Rumah Muda Indonesia diperuntukkan hanya untuk anak-anak yang sudah lulus SMA dan tidak bisa melanjutkan kuliah karena masalah biaya. 

Harapan kami simpel sebenarnya.

...agar mereka, kelak, walau hanya memiliki ijazah SMA, tetap bisa menghasilkan uang dalam jumlah banyak setiap bulan, sehingga dengan demikian, kemiskinan di keluarganya akan terputus. Kami juga berharap, nanti, ketika mereka sudah mampu dan menjadi lebih baik, mereka bisa juga membantu orang lain yang membutuhkan. 

Jadi efeknya akan simultan dan membesar. Semoga. 

Doakan saja apa yang saya dan kawan-kawan rencanakan bisa berjalan dengan baik dan lancar ya. 
.
.
.
Nah, kan... Nggak sadar udah banyak aja tulisannya. Udah layak satu postingan lah ya... 

Jadi sebenarnya kita bisa kok menulis setiap hari. Asal diprioritaskan. Dilakukan dengan tekun dan penuh komitmen. Apapun yang dihasilkan, itu urusan belakang. Yang penting baik, tidak menyinggung orang atau lembaga tertentu. 

Begitu.... 
Selamat malam
Ruang Kerja Pribadi

Ruang Kerja Pribadi


Kemarin siang saya mengunjungi blos seorang kawan. Dia pebisnis online juga. Sama dengan saya. Yang membedakan adalah, dia sudah mulai duluan dan sudah jauh di depan. Sedangkan saya, baru memulai kemarin dan tertinggal jauh di belakang. Tapi nggak masalah lah, yang penting saya nggak berhenti dan terus berjalan. Jika bisa malah harusnya berlari dan mengejar dia yang telah duluan. Semoga. 

Teman saya yang pebisnis online itu, yang saya baca blognya kemarin, adalah orang yang ternyata juga membiasakan diri menulis setiap hari. Pasalnya, memang, dia mengelola banyak blog dan website dan menjaganya agar traffic yang dihasilkan selalu tinggi. Sehingga tidak salah kemudian dia menerapkan apa yang juga saya terapkan, yaitu, menulis setiap hari di blog. 

Dan tulisan yang dia buat juga ternyata sederhana. Seperti yang saya baca kemarin misalnya. 

Dia hanya memposting tulisan tentang meja kerja. Bahwa dia baru saja membuat meja kerja baru dan puas. Isi tulisan itu singkat saja, dia menceritakan kronologis pembuatan meja kerjanya. Mulai dari membeli bahan-bahannya sendiri, membuatnya sendiri, mengatur ruangan kecil sedemikian rupa menjadi lebih asik dan nyaman, dan yang tentu saja tidak ketinggalan adalah dia memposting juga poto-poto proses pembuatannya. 

Saya cukup takjub dengan hasilnya memang. Sebab, ruangan tempat dia kerja itu ternyata tidak lebih dari 1,5 x 3 meter kalau tidak salah. Tidak begitu luas. 

Tapi dia bilang, "Darisinilah semua ide-ide saya bermunculan dan saya jalankan." 

Dan kemudian, karena membaca tulisan singkat dia kemarin, saya jadi mupeng. Ingin sekali punya ruangan kerja sendiri di rumah. Sebuah kamar khusus tempat saya duduk, menulis, mengerjakan bisnis online, dan sebagainya. 

Saya kemudian menghubungi istri saya kemarin, lalu berkata, "Tahun depan kita punya rumah sendiri dan Abi pengen satu kamar untuk kerja Abi ya..."

Diaminkan saja oleh istri saya. Semoga terkabul. 

Benar! Salah satu sebab mengapa saya masih belum menyediakan satu ruangan khusus untuk tempat kerja saya adalah karena tempat tinggal saya masih ngontrak. Tidak leluasa mengubahnya sedemikian rupa. Karena sebentar-sebentar pindah, jadi males kalau mesti bongkar pasang - bongkar pasanga. mendingan nanti saja ketika sudah mampu membeli rumah sendiri. Jadi bebas mengaturnya hendak bagaimana-bagaimana. 

Dan mimpi itu kemarin bermunculan seketika ketika membaca tulisan sederhana teman saya. 

Insya Allah tahun depan, saya punya rumah dan ruang kerja sediri. Di dalamnya ada meja dan kursi, laptop, papan tulis dan spidolnya, serta beberapa peralatan lainnya. 

Demikian
Insya Allah, Allah dengar dan mengabulkannya kelak.