Like Fanpage Bang Syaiha

Ngoceh yang Benar

Ngoceh yang Benar

Ngocehlah sana....
Dari dulu, ketika menjelaskan sesuatu kepada orang lain, saya memang lebih suka berbicara dibandingkan dengan metode yang lain. Dengan menyampaikan penjelasan secara lisan, maka pesan yang seharusnya disampaikan akan tersampaikan dengan baik. Juga, dengan berbicara, maka titik-titik penting pada pembicaraan kita, bisa diintonasikan lebih. Dibuat tegaskan. Diulang-ulang. Dan sebagainya. 

Berbeda dengan tulisan. 

Tulisan tidak jelek. Tapi jika pembaca tidak memahami EYD, kurang bisa mengerti dimana tanda baca dan lain-lain, maka sebuah tulisan bisa menimbulkan arti yang banyak. 

Nah, karena hal inilah, dalam dua hari belakangan saya suka ngoceh di Youtube. Sudah 3 video saya buat dan ketiganya bertema tentang bisnis. 

Video pertama, isinya menjelaskan tentang pentingnya membangun aset. Apa itu aset? Sudah saya jelaskan di tulisan sebelumnya. (KLIK DISINI

Di tulisan tentang aset itu, saya jelaskan sekilas saja, tidak panjang lebar. Berbeda dengan ocehan saya di Youtube. 

Video kedua, isinya menjelaskan tentang sistem bisnis reseller yang potensinya luar biasa. Bagi pebisnis, pasti sudah paham bahwa membangun pasukan reseller adalah keharusan agar bisnis bisa berjalan dengan baik, penjualan meningkat, dan sebagainya. 

Dengan membangun pasukan reseller, maka bisnis kita bisa menjadi punya sistem yang baik dan punya agen pemasaran yang jumlahnya banyak. Jika mereka bekerja dengan baik, maka kitalah yang juga diuntungkan. 

Video ketiga, baru saya buat tadi sore, isinya menjelaskan tentang sistem pemasaran Multi Level Marketing. 

Sistem MLM, menurut saya adalah salah satu sistem terbaik   jika tidak ingin bilang sistem yang paling baik   untuk memasarkan produk. Cuma memang, sayangnya ada beberapa oknum yang menyalahkan sistem pemasaran ini. Ngaku-ngakunya MLM, tahu-tahunya skema piramida dan atau skema ponzi yang hanya mengutamakan perekrutan saja tanpa ada penjualan yang baik di dalamnya. 

...lebih jelasnya ada di video. 

Ada kesenangan dan kelegaan ketika bisa mengeluarkan uneg-uneg yang bersemayam di kepala menjadi sebuah ocehan. Apalagi di jaman seperti sekarang, banyak fasilitas yang mendukung agar ocehan kita bisa tersimpan rapi dan mudah membagikannya kepada orang lain yang memang mungkin butuh. 

Itulah sebabnya, kemudian saya simpan ocehan saya di Youtube. Cuma saya setting tidak publik memang, karena hanya akan saya bagikan ke orang-orang yang butuh saja. 

Belum siap publik. 

Nanti-nanti saja mungkin. Ketika sudah bisa lebih baik lagi. 

Semoga. 
Gerobak Gorengan

Gerobak Gorengan

Bangun Asetmu Sesegera Mungkin
Beberapa hari ini saya sedang kepikiran tentang aset, pentingnya membangun aset. 

Kenapa sampai kepikiran kesana? Ya itu... Beberapa hari lalu saya menonton sebuah video dari seorang kawan yang ia share ke grup WhatsApp yang sama-sama kami ada di dalamnya. Di video itu, dijelaskan tentang pentingnya seseorang agar memiliki aset dalam hidupnya. 

Apa itu aset?

Dari beberapa sumber yang saya baca, aset adalah sesuatu yang kita miliki dan dia menghasilkan uang atau pendapatan kepada kita. Contohnya: pengusaha rental mobil, asetnya adalah mobil. Pemilik kontrakan, maka asetnya adalah rumah atau petakan yang bisa disewakan ke orang lain untuk dijadikan tempat tinggal. 

Semakin banyak aset yang dimiliki seseorang, maka bisa dipastikan penghasilannya bisa terus meningkat karena aset memang selalu menghasilkan uang untuk dompetnya. 

Malangnya, banyak orang yang tidak berpikir untuk membangun aset sejak awal. Entahlah, barangkali, di benak orang-orang banyak, aset itu pasti harganya mahal. 

"Gimana mau punya aset, lah wong buat makan aja susah!" 

Padahal, aset itu nggak melulu mahal. Ada yang murah meriah pasti. Cuma nggak dilirik saja sama orang-orang. Sudah terjebak dengan definisi bahwa aset itu adalah tanah, property, perkebunan, dan sebagainya yang memang harganya tidak murah. 

Padahal, ada loh aset yang murah meriah. 

Sebut saja gerobak gorengan. Dibuatnya paling satu dua jutaan. Buat saja 1 gerobak gorengan dan kemudian cari orang buat berjualan. Bagi hasil dengan dia, lalu kembangkan bisnis ini dengan baik. Bulan demi bulan dilewati, ketika keuntungan sudah semakin banyak, maka tambah asetnya. 

Apa itu? Ya apalagi kalau bukan buat gerobak gorengan yang baru! Tambah terus gerobak gorengannya dan letakkan di tempat-tempat yang ramai. Bina lagi karyawannya agar bisa menghasilkan gorengan dengan rasa yang enak, sehat, dan terjangkau. 

Selain gerobak gorengan, ada lagi aset yang lebih murah. Apa itu? 

Sepeda! Iya, sepeda. 

Silakan pergi ke tempat wisata yang ada penyewaan sepeda disana. Tanyakan bagaimana caranya agar bisa ikutan meletakkan sepeda juga. 

Beli sepeda paling 500-1 jutaan. Kemudian titipkan di tempat wisata. Sekali sewa misalkan 100ribu untuk 24 jam atau 12 jam. Maka dalam seminggu, setidaknya sudah terkumpul 700 ribuan. Belikan lagi aset yang baru, sepeda kedua. Terus begitu maka lama-lama aset kita ada. 

Aset itulah yang menghasilkan uang terus-menerus kepada kita sampai ia rusak atau minta diganti yang baru. 

Nah, jika sudah terkumpul uang banyak, baru deh, berpikir lagi untuk mengumpulkan aset yang jauh lebih mahal. Bisa tanah, perkebunan, rumah, apartemen, dan sebagainya. 

Sip ya...

Semoga tulisan singkat dan alakadarnya ini bermanfaat...
Periksa Dulu, Itu Keinginan atau Kebutuhan?

Periksa Dulu, Itu Keinginan atau Kebutuhan?

Keinginan atau Kebutuhan?
"Ummi, lihat deh..." kata saya kepada istri ketika sedang melewati salah satu perumahan di bilangan Bogor. 

"Ada apa, Bi?"

"Itu loh," saya menunjuk sebuah rumah yang di garasinya terparkir 3 buah mobil sekaligus, "orang kok punya mobil sampai dua tiga begitu ya? Nggak sayang apa ya sama uangnya?"

"Mereka kan mampu. Uangnya ada." istri saya cuek sambil memberi ASI anak kedua kami. "Satu mobil untuk suaminya. Satu untuk istrinya. Satu lagi paling untuk anak atau mobil kantor." istri saya ngasal. Berkata tanpa melihat rumah yang barusan saya tunjuk. 

Perjalanan kami berlanjut dan obrolan tadi tidak dibahas lagi. Tidak penting. 

Tapi... 

Bagi saya sekarang, yang sedang menjalani sebuah usaha, kok rasanya sayang ya kalau harus menghabiskan ratusan juta uang hanya untuk sebuah mobil? Apalagi jaman sekarang banyak taksi online. Mudah dipesan. Dijemput di depan pintu rumah dan diantarkan sampai depan pintu rumah tujuan. 

Naik taksi online nyaman. Setiap hari bisa gonta-ganti mobil tanpa harus pusing ganti oli. Ganti spare part. Pajak. Dan pembiayaan lainnya. Belum lagi kalau mobil minta jajan. Udah pasti kan jumlahnya nggak sedikit. Bisa jutaan. 

Nah, bagi saya yang saat ini fokusnya hanya pada usaha yang sedang dijalankan, maka uang ratusan juta untuk beli mobil itu, apa nggak sebaiknya digunakan untuk menambah aset usaha saja? Atau, kalau pun ingin punya mobil, beli yang second aja deh. Sisa uangnya bisa dialokasikan untuk tambah modal usaha. Agar usaha yang dijalankan menjadi lebih besar, lebih kokoh, dan bertahan lebih lama. 

"Bang Syaiha lagi pengen punya mobil ya?" 

Iya. Siapa juga yang tidak ingin punya kendaraan pribadi, toh?

Cuma sekali lagi, beberapa hari ini saya memikirkan ulang apa-apa yang menjadi keinginan belakangan ini. Apakah itu hanya keinginan semata, bukan kebutuhan? 

Atau, jika itu adalah kebutuhan, sudah sampai pada skala prioritas yang mana? Penting, sangat penting, mendesak, atau urgent? 

Karena ini urusannya adalah mobil. Butuhnya uang ratusan juta. Dua ratus juta. Malah bisa lebih. 

Kan sayang, kalau sudah dibeli, eh malah nanti hanya teronggok saja di depan rumah tanpa pernah digunakan. Mangkrak. 

Kalau tahu begitu, bukankah lebih baik uang itu dibelikan sebidang tanah. Sebangun rumah. Perkebunan karet atau sawit. Kontrakan. Atau apalah. Jauh lebih produktif. Juga, kalau nanti dijual lagi, harganya sudah bisa dipastikan akan naik. Jarang ada ceritanya turun. 

Beda dengan mobil. Beli sekarang dan kemudian jarang dipakai pun, tahun depan pas dijual lagi pasti turun. Nggak ada ceritanya jual mobil bekas harganya jauh lebih mahal dibandingkan harga mobil baru. 

Begitu...

Jadi saya memang lagi banyak berpikir akhir-akhir ini... 

Makanya jadilah tulisan seperti ini...
Hidup yang Mengerikan

Hidup yang Mengerikan

Hidup yang Mengerikan
"Terjaga di tengah malam karena sering kepikiran tagihan di akhir bulan," ujar sopir grab yang hari ini saya tumpangi, "adalah hidup yang mengerikan, Mas." 

Ketika mendapatkan nasihat itu, saya memilih diam dan tidak menimpali apapun. Membayangkan betapa tidak mengasikkannya hidup orang-orang yang punya hutang. Harus bekerja siang malam, demi uang yang banyak. Demi hutang yang harus ia lunasi. Demi tagihan setiap akhir bulan menjelang. 

Telat sedikit saja, pasti dia dikejar. 

Entah ditelpon berkali-kali. Dikirimi surat tagihan. Hingga yang paling parah, di datangi orang-orang berbadan besar yang bertugas menagih uang yang sudah dipinjam. 

Jika tidak bisa bayar, maka siap-siap saja kehilangan jaminan yang sudah dijaminkan di awal. 

Nasihat yang sama, pernah juga terlontar dari driver ojek online. Dia bilang, "Tapi mas..." katanya. Menjawab menimpali perkataan saya sebelumnya. Ketika lewat di perumahan mewah yang ada di bilangan Bogor. 

Sebelumnya saya berkata begini: "Ini perumahan, besar-besar semua. Lalu di garasinya, selalu ada mobil yang mahal dan selalu lebih dari satu juga. Hebat bener orang-orang ini ya? Pada kerja apa sih kok bisa sekaya-kaya ini?"

Mendengar perkataan asal saya itulah, pengendara ojek online yang saya tumpangi berkata: "Tapi mas, biasanya orang-orang begini juga pasti hutangnya banyak loh. Hutang ke bank nya. Ini kendaraan dan rumah pasti kan sebagian besar kredit. Nggak kebayang setiap bulan mereka harus bayar berapa ya cicilannya." 

Saya diam.

"Ada benarnya juga perkataan orang ini." gumam saya. 

Memang benar, itu urusan orang sih. Terserahlah dia mau kredit, pinjam uang di bank, atau apalah. Urusan mereka. 

Cuma dari dua percakapan di atas, saya mendapatkan banyak pelajaran hidup. Pertama, nggak semua yang kita lihat baik-baik saja itu baik-baik saja. Ada orang yang mungkin keliatannya hidup enak. Punya rumah, kendaraan, dan sebagainya. Tapi di balik itu semua, siapa yang tahu, ternyata ia mengalami tekanan luar biasa setiap akhir bulan karena harus membayar tagihan yang menggunung dan banyak. 

Kedua, saya belajar bahwa hidup itu tidak melulu tentang memenuhi apa yang kita inginkan saja. Lebih penting daripada itu, hidup seharusnya adalah memikirkan apa yang kita butuhkan. Yang benar-benar harus ada. Itulah yang kita kejar. 

Coba... Kalau hidup hanya digunakan untuk mengejar apa yang kita inginkan, sudah pasti nggak pernah selesai. Keingin selalu ada dan terus bertambah. 

Padahal, apa yang kita inginkan itu belum tentu kita butuhkan.

Nah, dua pelajaran penting itu saya resapi dalam-dalam hari ini. Semoga menjadi bekal yang baik untuk saya hingga masa depan. Aamiin. 
Semoga Kamu Mengerti

Semoga Kamu Mengerti

Jangan Bilang Tidak Bisa Kalau Belum Mencoba
Setiap kita sebenarnya punya pilihan untuk berkata: "Ah sudahlah! Sepertinya saya tidak bisa melakukan ini. Terlalu berat dan sepertinya saya tidak punya bakat disini. Saya menyerah!" 

Iya, benar sekali. Setiap kita punya pilihan untuk mengatakan itu untuk semua usaha dan jerih payah yang kita lakukan. Kita tinggal angkat bendera putih, menyerah kalah, dan kemudian balik kanan untuk pulang. 

Pilihan itu terlihat mudah. Tidak perlu bersusah payah. Tidak perlu berkeringat lebih. Tidak perlu berdarah-darah. 

Cukup bilang, "Saya sepertinya tidak bisa melakukan ini." maka selesai semua. 

Tapi setelah itu, apa yang akan kamu dapatkan? Tidak ada! Kamu pecundang! Pengecut yang mengerjakan sesuatu saja takut dan memilih mundur. Apa bedanya kamu dengan mereka yang sebentar-sebentar mengeluh? 

Padahal, barangkali kamu baru melakukan sedikit. Belum apa-apa. Belum banyak. Baru saumprit!

Dan ketika kamu baru mengerjakan yang secuil itu lalu bertemu masalah, eh kamu malah cuma bisa bilang nggak bisa. Nggak punya bakat. Nggak punya kemampuan. Duh! 

Padahal, masalah itu ada justru untuk menjadikan kita naik kelas. Masalah ada untuk melatih kemampuan kita berpikir, mencari solusi. Bukan malah mundur. 

Harusnya kamu ingat, bahwa masalah didatangkan pasti sepaket dengan solusinya. Jangan kuatir. 

Lagian, Allah pun bilang toh, bahwa masalah yang didatangkan kepada kita sudah pasti terukur dan tidak mungkin melebihi batas kemampuan hamba-NYA. 

Maka seharusnya kamu, jangan mudah menyerah. 

Masalah datang, hadapi. Berpikir dan cari solusi. Lakukan beragam cara. Sampai mentok. Sampai semua pilihan jalan keluar tidak bersisa. Jika sudah dan masih tidak selesai juga, baru deh, berhenti di jalan itu dan berbelok sebentar. Tapi ingat, tujuan awal kamu harus tetap di jaga. Caranya boleh beda, tujuan tetap sama. 

Jalan ini mentok!

Pindah jalan. Berbelok ke jalan yang baru, lalu lurus lagi ke arah awal yang sudah ditetapkan. 

Semoga kamu mengerti!
Nulis Lagi?

Nulis Lagi?

Menulis Setiap Hari itu Mungkin

Wow, udah lama nggak nulis di blog ini ya. 

Kayaknya, terakhir nulis disini adalah bulan April. Dan sejak itu, udah nggak pernah nulis lagi. Sibuknya nggak ketulungan. Ngurusin bisnis yang Alhamdulillah Allah kasih kemudahan, berkembang pesat. Sudah 70 karyawan dan omsetnya mantap   nggak enak nyebutin nominal

Sejak menjalankan bisnis, saya memang lebih sering menulis di tempat lain: di website jualan, di iklan, dan di whatsapp   membalas beberapa pertanyaan dari mitra dan konsumen

Akibatnya apa? Ya ini, blog yang telah lama ada terbengkalai. Nggak diisi berhari-hari, hingga berbulan-bulan. Belum pernah setahun sih. 

Tapi melompong berbulan-bulan tanpa tulisan baru itu juga adalah sebuah prestasi jelek yang seharusnya jangan ditiru. Apalagi darisinilah dulunya saya membangun bisnis. So, melupakan blog ini kemudian tidak mengisinya lagi adalah seperti peribahasa lama, kacang lupa kulitnya. 

Duh.... 

Lalu kenapa saya hari ini menulis?

Pertama sih karena kangen aja, udah lama nggak kesini. Barusan ngecek aja, blog ini masih hidup atau nggak? Hahaha... Rupanya masih ada dan setiap hari tetap ada ratusan yang mampir. Terimakasih. 

Kedua karena, beberapa hari lalu, ada yang menghubungi dan mengatakan bahwa ia baru saja membaca beberapa tulisan disini. Dia bilang, "Padahal saya nggak suka membaca loh, Bang. Tapi kok ketika menemukan blog ini dan membaca satu tulisannya membuat saya nagih dan membaca hampir 10 tulisan sekali duduk. Hebat!" 

Dari perkataan singkatnya itulah kemudian, saya teringat bahwa saya sudah lama tidak menulis. Sudah lama blog ini terlupakan karena kesibukan yang begitu menyita. Makanya, hari ini, saya ingin mencoba menulis lagi. Menghasilkan satu tulisan dulu. 

Syukur-syukur bisa menulis setiap hari lagi. Mengasah kemampuan menulis lagi. Aamiin... 

Selain dari pesan singkat itu, beberapa minggu sebelumnya malah ada yang langsung telpon. Teman lama. Dia menanyakan novel kedua saya. Ingin beli katanya. Malangnya, novel kedua saya habis dan tidak ada lagi di rumah. 

Dia menanyakan juga perihal kenapa tidak menulis lagi: "Padahal kan menulis itu bisa dilakukan juga loh, Bang. Bisnis jalan, nulis pun nggak berhenti. Banyak loh yang suka sama tulisan Abang. Enak dibaca, tidak menggurui, dan mengalir." 

Ya kalau dipikir-pikir sih, benar juga. Harusnya saya tetap bisa menulis setiap hari jika mau meluangkan waktu barang setengah jam hingga satu jam. Cuma karena malas saja, makanya mangkir menulis berbulan-bulan   jangan ditiru ya!

Nah, sebagai awalan ini dulu. 

Masih mencoba melenturkan jemari lagi agar bisa menulis setiap hari. Juga, masih melatih otak lagi, biar bisa mikir dalam waktu singkat hendak mengetikkan apa di dasbor blog yang telah lama dibiarkan ini. 

Maafin ya... 
Diam Saja atau Balaslah Sesekali

Diam Saja atau Balaslah Sesekali

Jangan Urusi Hidup Orang Lain
"Bang..." kata seorang anggota tim online saya, "tetangga saya pada rese' nih. Masa saya dikatain begini: sayang bener, udah kuliah 4 tahun, biayanya mahal, eh malah kerjanya di rumah aja. Apa nggak sayang sama ijazahnya?"

Saya iseng, lalu nyeletuk   bahkan saya jadikan status di Facebook ding, "Nggak apa-apa, kalau mau ketus, jawab aja begini: sayang ya, udah kuliah 4 tahun, biaya mahal, eh malah kerjanya masih sama orang aja. Ikut bos. Masih jadi anak buat terus! Mandiri napa!" 

...dan saya tahu, itu jawaban yang ketus memang. Jarang-jarang juga saya update status demikian. Karena, saya ini, orangnya nggak enakan. Kuatir sekali kalau ada kalimat atau sikap saya yang menyinggung perasaan orang lain. Makanya, ketika status Facebook saya di atas dipublis dan ada yang berkomentar, saya selalu menjawab dengan kalimat yang mencairkan. 

Oke, balik ke topik ya...

Jadi, dalam hidup memang begini, ada saja orang yang tidak sepakat dengan apa yang kita lakukan. Saya menyebut mereka dengan orang-orang usil. Orang-orang yang merasa paling benar, lalu menganggap semua yang dilakukan orang lain salah. Orang-orang yang mengukur standar hidup orang lain, dengan standar hidup dia. 

Padahal, kita semua, ketika melakukan ini dan itu, pasti punya pertimbangan sendiri yang orang lain tentu tidak paham. Jadi, berhentilah mengurusi orang lain. Jangan paksakan ukuran sepatu kita, ke kaki orang lain. Karena mungkin kekecilan, atau kebesaran. Istilahnya begitu. 

Orang lain melakukan A, itu pasti sudah dipikirkan matang-matang. Dan bagi dia, itu pasti yang terbaik dan dia enjoy saja menikmatinya, hingga ada orang-orang usil yang berkomentar macam-macam. Ketika dibeginiin   diusilin orang lain dengan komentarnya, kita memang punya pilihan dua hal. Diam saja dan pura-pura nggak dengar, atau sesekali balas dengan kalimat yang bisa membuatnya mikir. 

"Idih, masa nih ya, kuliah udah S2, tapi kerja di rumah aja! Sayang banget sama ijazahnya!"

Bisa diam, atau balas: "Biarin, setidaknya saya mandiri dan tidak kelaparan. Saya malah punya karyawan yang jumlahnya puluhan. Daripada kamu, udah kuliah mahal, eh cuma jadi bawahan!" 

"Perempuan kok kerjanya jauh-jauh sih! Kenapa nggak di kampung aja? Jauh-jauh juga gaji nggak seberapa!"

Sama, bisa diam, atau balas: "Biarin. Setidaknya saya mandiri. Nggak berpangku tangan saja di rumah. Nggak malas-malasan. Karena dunia ini luas, banyak tempat yang harus kita kunjungi dan bisa dijadikan pelajaran." 

...dan masih banyak lagi.

Silakan, jika ada yang mengusili, diamkan atau balas saja sesekali. 
Duh, di NASA Mesti Mengajak Orang Ya?

Duh, di NASA Mesti Mengajak Orang Ya?

Bisnis Jaringan
"Kalau bisnisnya nyari-nyari orang buat daftar, aku males ah..." kata seorang kawan ketika saya menjelaskan tentang bisnis NASA kepadanya. "Aku pengennya bisnis itu yang beneran bisnis, jualan produk gitu loh..."

"Loh, memang iya kok. Bisnis NASA itu ya jualan. Keuntungannya gede lagi! Bisa 30-100ribuan sekali bisa menjual sekali saja. Udah gitu, produk di NASA itu ada ratusan, loh. Lengkap!"

"Tapi katanya harus cari orang juga buat jadi member ya?" 

"Itu mah pilihan saja," saya menjawab singkat. "Gini deh.." saya membenarkan posisi duduk saya, lalu melanjutkan, "Pernah nggak belanja ke minimarket? Pasti pernah dong ya... Ketika hendak membayar ke kasir, sering toh dapat kalimat begini, 'Sudah ada kartu membernya mbak mas? Kalau sudah member, setiap kali belanja maka akan ada poin yang kalau sudah sampai sekian, bisa ditukarkan dengan produk lain. Keuntungan lain jadi member adalah, ada harga spesial yang tentu saja lebih murah.'?" 

Teman saya diam. Pasti dia pernah ditawari menjadi member sebuah minimarket atau swalayan. 
"Nah, di NASA pun demikian. Kita mengajak orang itu adalah agar ia mendapatkan harga lebih murah. Lalu, dia bisa menjual produk NASA dengan harga konsumen dan darisanalah dia mendapatkan keuntungan." 

"Ngerekrut orang nggak ada?" dia bertanya.

"Ada. Malah dianjurkan. Di NASA kita mengerjakan dua hal: jualan dan menginformasikan tentang NASA ke orang lain dengan tujuan dia mau bergabung dan menjadi member baru."

"Tapi..." dia masih hendak melanjutkan, "aku malu kalau harus ngajak orang..."

"Makanya, ketika mengajak orang itu niatinnya buat bantu orang dan ibadah ke Allah. Biar enak aja ngomongnya." saya diam sejenak, "Gini misalnya, ketika ada teman, saudara, atau siapa saja, yang kelihatan susah dalam hal ekonomi, maka sampaikan saja begini: Saya punya tawaran nih, bisnis NASA namanya. Daftar saja jadi member, cuma 200ribu, lalu nanti kamu bisa jualan di FB, WA, dan media sosial lainnya. Sekali kejual keuntungannya lumayan, loh..."

Gitu aja... Kalau dia mau gabung, ya Alhamdulillah... Nanti diajarin dan dibina biar bisa jualan. Dan kalau dia berhasil, maka insya Allah, kita bisa mendapatkan amal jariyah dari segala kebaikan yang dia terima. 

Makanya, niatin semuanya buat bantu orang dan ibadah. 

"Duh, mesti ngajak orang ya?" sekali lagi, teman saya masih ragu. 

Saya jawab aja spontan, "Iya lah, bisnis itu ya mengajak orang. Masa mengajak monyet. Hahaha..." Dia diam saja, kemudian saya menambahkan, "Gini deh, elu bisnis apapun, entah itu jualan baju, jualan pisang goreng, jualan es teh, dan lain-lain, elu kan nyari orang buat beli. Bukan nyari binatang."

"Ah, malah dijawab nggak serius." dia sewot. 

"Oke, deh..." saya paham dia pasti nggak suka sama MLM sebenarnya, "Gue tau kok kalau elu nggak suka sama MLM. Karena memang, selama ini MLM kesannya jelek semua. Cuma diminta ngerekrut orang, lalu udah, ditinggalkan. MLM yang elu kenal selama ini cuma menjual janji palsu dan angan-angan."

"Nah, itu dia..."

"Kalau di NASA nggak!" saya mencoba menjabarkan sepengetahuan saya, "di NASA itu, sama aja kayak bisnis Afrakids yang jualan baju anak itu. Kita mah intinya jualan produk dan mengajak orang bergabung untuk ikut berjualan juga. Kita nggak dapat bonus dari masuknya orang ke bisnis ini. Dalam jangka pendek nggak ada untungnya. Cuma dalam jangka panjang ada. Apalagi kalau jaringan kita besar."

"Nah, itu gimana tuh?"

"Gini aja deh... Datang aja ke rumah ya, nanti tak jelasin semuanya. Biar enak, sambil ngopi dan makan pisang goreng kita. Gimana?"

"Oke deh, kalau begini, saya demen nih..."

Percakapan pun selesai!
Kemarin Saya Mangkir Nulis

Kemarin Saya Mangkir Nulis

Rencana dan kenyataan kadang nggak sejalan
Kemarin saya mangkir menulis. Sudah saya niatkan sebenarnya, untuk menulis sebuah tulisan ringan di blog setiap hari, setiap pagi atau malam menjelang tidur. Nah, masalahnya, pagi kemarin, kepala saya sakit bukan main. Cenat-cenut! Benar-benar menyiksa sehingga saya tidak nyaman untuk menulis. 

Saya memutuskan untuk menunda, dalam hati berkata, "Ya udah lah, nulisnya nanti malam saja menjelang tidur. Ini kepala nggak bisa diajak kompromi soale."

Setelah memutuskan demikian, saya lalu tiduran hingga siang di kamar. Sambil sesekali memijat-mijat kepala bagian belakang yang sakitnya nggak ketulungan. 

Istri saya sampai berkata, "Minum obat aja kalau memang benar-benar sakit." 

Saya menjawab, "Nanti lah, masih bisa ditahan sih. Semoga agak siangan sudah baikan."

Tak lama setelah percakapan ringan dan singkat itu, saya terlelap. Karena memang, barangkali sakitnya kepala saya itu disebabkan kurang istirahat saja. 

Cuma, anggapan saya salah. Karena siangnya, ketika menjelang Zhuhur, saya terbangun dan mendapati kepala saya masih terasa berat. Duh Gusti! Saya paksakan berdiri dan kemudian minta dimasakkan air panas untuk mandi. Bagaimana pun saya harus Shalat dan saya ingin bersih-bersih. 

Di guyur air hangat, benar-benar menyenangkan. Kepala yang agak berat sebelumnya, menjadi lebih enteng. Masih sakit, tapi levelnya turun sedikit. Belum lagi ketika keramas menggunakan shampoo yang ada efek dinginnya. Nyes banget. 

Selesai mandi saya shalat dan kemudian bersantai hingga sore. Kepala masih sempoyongan. 

Malamnya, saya minta dibuatkan air jahe segelas besar. Dan dengan perantaran minuman itulah, kepala saya menjadi sangat ringan dan Alhamdulillah sembuh. Mungkin juga, penyembuhannya terjadi sejak pagi, mulai dari saya istirahat, lalu mandi air hangat, kemudian bersantai hingga sore, lalu puncaknya ketika meneguk air jahe. 

Saya senang, berkata dalam hati, "Bisa nih nulis. Pengennya nggak mangkir sehari pun. Biar bisa seperti dulu lagi, one day one post!" 

Tapi eh tapi, ketika jam 20.30-an, saat saya sudah membuka laptop untuk menulis, seorang tamu datang dan ada keperluan dengan saya. 

Mau bagaimana lagi? Waktu yang seharusnya saya sediakan buat menulis, saya tunda dan saya bercengkerama dengan tamu itu hingga larut. Kami memang sedang ada keperluan yang harus dibicarakan. Nggak bisa ditunda-tunda lagi. Karena obrolan itu bahkan sudah sejak beberapa bulan belakangan saya agendakan, cuma baru kesampaian tadi malam. 

Singkatnya, kemarin saya tidak menulis karena beberapa sebab. Sudah saya rencanakan sedemikian rupa, tetapi kenyataan berkata lain. 

Yah, begitulah... Kita kadang hanya bisa berencana. Keputusan akhir tetap ada di tangan Allah. 

...dan, selalu lah percaya bahwa keputusan Allah jauh lebih baik dibandingkan keputusan kita. 
Malas yang Membelenggu

Malas yang Membelenggu

Malas yang membelenggu

Sepertinya saya harus segera berolah raga lagi seperti dulu. Mengapa? Karena beberapa hari lalu, pas saya nimbang, berat badan saya sudah menyentuh angka 80 kg. Berat sekali! Apalagi, saya ini kan punya kelemahan, kaki kanan saya pincang. Kecil dibandingkan kaki yang satunya. Tidak punya tenaga. Lumpuh. 

Jadilah saya, selama ini hanya mengandalkan kaki satu saja. Dan dengan satu kaki itu, menopang beban 80 kg tentu berat dan melelahkan. Makanya saya harus segera memutuskan untuk melakukan olah raga. Angkat beban, rajin jalan kaki, dan sebagainya. 

Memiliki berat badan berlebih itu... Anu... Apa ya? 

Entahlah... Susah digambarkan dengan kata-kata. Yang pasti, pergerakan yang dulunya bisa dilakukan dengan lincah, sekarang menjadi sedikit terhambat. Udah gitu, beberapa bulan belakangan, celana yang dulunya nyaman dikenakan, sekarang menjadi sesak dan bikin tidak enak. Saya pikir karena celananya yang sudah lama, eh rupanya karena lingkar perut yang kian hari kian maju dan membesar. Duh!

Sebelum menikah, saya gemar ke gym. Olahraga, angkat beban, dan lain-lain. Ketika itu, berat badan saya stabil di angka 60 kg. 

Adik ipar saya, saat saya bilang demikian, bertanya penasaran, "Beneran 60 kg, Mas? Kurus banget atuh. Kan Mas tinggi, masa sih cuma 60 kg? Saya aja ini 65 kg loh..."

"Memang demikian," saya menjawab singkat, "Sebab, kaki Mas kan yang kanan kecil. Kalau normal, kaki satu aja kan bisa mencapai berat 5-10 kg kan? Nah, kaki kanan Mas kan nggak normal, jadi beratnya berkurang drastis dari kehilangan 1 kaki ini..."

Dia manggut-manggut, tanda mengerti.

Saya tidak kurus. Bahkan dulu, ketika masih rajin ke gym, saya termasuk member gym yang berbadan bagus   ehem!

Lah, pelatih aja sampai pernah hendak mendaftarkan saya ke body cantest! Cuma saya menolak, karena saya nggak mau pamer-pamer bentuk tubuh di depan orang banyak. Malu! Waktu itu saya masih kuliah dan di kampus ikut pada beberapa organisasi keagamaan. Lalu, apajadinya nanti kalau saya ketahuan ikut lomba begituan? 

Kalau ingat masa-masa itu, rasanya pengen punya perut kayak dulu. Cuma setiap kali hendak berolahraga, pasti dihadang oleh rasa malas yang besar. 

"Udah, enakan di rumah aja. Main sama anak, nonton TV, dan tidur. Ngapain olahraga sih!" 

...dan saya kemudian kalah. Memilih diam di rumah dan nggak ngapa-ngapain. Mimpi tinggallah sebuah mimpi. Bukannya makin kecil dan ringan, yang ada saya malah jadi makin bulat dan berat. 

Duh, Gusti!