Like Fanpage Bang Syaiha

Tiga Metode dalam Menghafalkan Al Quran

Tiga Metode dalam Menghafalkan Al Quran


Kemarin pagi saya menyaksikan videonya Wirda Mansur, putri sulung dari Ust Yusuf Mansur yang terkenal dengan ajakan bersedekahnya itu. Di video yang tidak sengaja saya temukan di YouTube itu, Wirda Mansur menjelaskan bagaimana ia bisa menghafal Al Quran hingga selesai. Lebih khusus lagi, ia menjelaskan bahwa ada tiga metode yang biasa digunakan oleh para penghafal Quran sehingga mereka mudah menghafalkannya. 

Apa saja metode yang dijabarkan Wirda di video itu? Mari kita bahas bersama... 

Pertama, metode mengulang bacaan sebanyak 20 - 60 kali. Ini adalah metode paling mudah, juga yang paling enak menerapkannya. Hanya cukup membaca satu ayat dan kemudian mengulang-ngulangnya hingga 60 kali. Kelak, pelan tapi pasti, ayat yang kita baca berulang-ulang itu pasti akan nempel dengan sendirinya di ingatan kita. 

Wirda juga menjelaskan bahwa ketika kita sedang mengulang ayat itu hingga puluhan kali, maka sebaiknya mata tetap memandang ke Al Quran. Jangan memejamkannya. Tujuannya adalah agar mata kita ikut menghafal dimana letak titik komanya, apa saja huruf yang digunakan, dan sebagainya. 

Ia juga bilang, kalau hal ini dilakukan, maka kelak, ketika kita mengulang hafalan sambil memejamkan mata, ayat itu akan tergambar jelas dan kita seakan membacanya di kepala. 

Kedua, metode yang bisa digunakan untuk menghafalkan Al Quran yang dijelaskan oleh Wirda adalah mengulang ayat hingga puluhan kali dan menyebutkan ayatnya. Baca ayatnya berulang-ulang, ketika selesai, sebutkan nomor ayatnya. 

Misal... 

Alif laam mim, satu. 

Ulangi hingga 60 kali. 

Dza likal kitaabu laa roiba fiih. Hudal lil muttaqiin, dua. 

Ulangi juga hingga 60 kali. 

...dan seterusnya. 

Keuntungann dari metode yang kedua ini adalah kita akan hafal bacaannya dan juga nomor ayat. Sehingga ketika kita menyampaikan nasihat misalnya, kita bisa dengan jelas mengatakan kepada jamaah, nama surat dan nomor ayat sehingga mereka bisa mengeceknya kelak di rumah. 

Ketiga, metode yang dijabarkan Wirda di video itu adalah metode mendengarkan. Katanya, penting sekali bagi penghafal Quran untuk memiliki mp3 murottal Quran dari berbagai imam besar, dan memutarnya di rumah, di jalan, di tempat kerja, atau dimana saja, selagi tempat itu tidak dilarang ada nama Allah disebut disana. Pakai headset agar orang lain tidak terganggu. 

Keuntungan dari metode ini adalah, jika kita sering mendengarkan bacaan dari salah satu imam, maka pelan tapi pasti maka bacaan kita juga akan mirip seperti si imam itu, terutama lagam nya. Jika demikian, maka pasti enak sekali didengarkan, bukan? 

Apa yang bisa kita ambil dari ketiga metode di atas? 

Tentu saja adalah kedisiplinan dalam melakukan pengulangan. Ini nggak mudah loh. Coba saja kalau tidak percaya. Sehari dua hari mungkin bisa, tapi kan menghafal Quran itu pekerjaan jangka panjang. Dibutuhkan juga guru dan teman, sehingga bisa saling mengingatkan jika ada yang semangatnya melemah di tengah jalan. 

Guru saya yang lain, berkata begini, "Untuk bisa menghafal Quran, maka jangan menentukan target setiap hari harus hafal berapa? Tapi sediakan saja waktunya, kamu bisa menyediakan berapa jam? Konsisten disana. Misalnya kamu bisa menyediakan waktu satu jam sehari, maka selama satu jam itu, lepaskan semua urusan dunia dan berdua sajalah dengan Al Quran. Hafalkan seberapa kamu sanggupnya." 

"Jadi, jangan menargetkan berapa ayat sehari, tapi targetkan, berapa jam waktu yang bisa kamu korbankan untuk menghafal? Kalau konsisten dan disiplin, maka pasti kelak kamu akan hafal juga. Semoga." 

Akhirnya, mari kita sisihkan waktu beberapa jam sehari untuk berdua saja dengan Al Quran. Lalu ketika menghafalnya, pilih metode satu atau kedua yang sudah disampaikan oleh Wirda Mansur. 

Demikian. 
Semoga saya dan teman-teman yang muslim, yang kebetulan membaca catatan ringan ini, tergerak hatinya untuk menghafalkan Al Quran dan mengamalkannya. 
Cinta itu Butuh Pengorbanan

Cinta itu Butuh Pengorbanan


Pertama kali saya membaca kisah Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang ini adalah ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Sudah puluhan tahun yang lalu. Tapi karena ketika itu guru yang menyampaikannya menggunakan metode yang menarik, maka hingga saat ini, kisah ini masih saya ingat. 

Seingat saya begini... 

Kala itu, Pangeran Bandung Bondowoso membawa bala tentaranya ke kerajaan yang dikuasai oleh orangtua Roro Jonggrang. Pertempuran terjadi demi perebutan kekuasaan    sebab musabab perang ini tidak saya ingat betul, maka ada baiknya pembaca mencari dari situs lain saja. 

Pada pertempuran itu, kerajaan yang dikuasai oleh orangtua Roro Jonggrang kalah telak dan wilayah kekuasaan kerajaan itu menjadi milik kerajaan Pangeran Bandung Bondowoso. Orangtua Roro Jonggrang tewas dan ini membuat Roro Jonggrang marah. Ia menjadi tidak suka ke Pangeran Bandung Bondowoso. 

Tapi yang terjadi pada Pangeran Bandung Bondowoso adalah sebaliknya. Ketika ia melihat putri kerajaan, Roro Jonggrang, ia malah langsung jatuh hati dan mengatakan bahwa ia berniat menikahinya. 

Roro Jonggrang langsung jual mahal, "Enak saja, dia habis memerangi kerajaanku, eh malah ngajak nikah. Jangan mentang-mentang kerajaan kami kalah lalu kamu bisa seenaknya ya!" begitu barangkali yang ada di hatinya. Ehtahlah... 

"Bagaimana, kau mau menikah denganku?" 

Roro Jonggrang berpikir cerdik, lalu berkata, "Ya, aku mau. Tapi ada syaratnya."

"Apa?" 

"Syaratnya adalah, kamu harus membuatkan 1000 candi untukku dalam semalam. Kalau kau bisa membuatnya, maka aku akan menikah denganmu. Bagaimana? Kau sanggup?" 

"Baik. Aku menyanggupinya. Bukan masalah besar." 

Singkat cerita, ketika Pangeran Bandung Bondowoso hampir selesai membuat 1000 candi, Roro Jonggrang menjalankan tipu muslihatnya. Ia membangunkan warga-warga, membakar tumpukan jerami di sebelah timur sehingga terlihat seperti matahari terbit, dan memukul-mukul lumbung padi sehingga seakan-akan benar-benar sudah pagi. 

Jin dan makhluk halus yang membantu Pangeran Bandung Bondowoso langsung kabur ke dalam perut bumi dan 1000 candi yang sedang dikerjakan berhenti di angka 999 buah. Satu lagi. Nyaris saja. 

Ujung kisah ini, Pangeran Bandung Bondowoso marah dan mengutuk Roro Jonggrang menjadi candi yang keseribu. 

Hingga sekarang, 1000 candi yang diceritakan dalam legenda itu ada di Jawa Tengah dan dikenal dengan Candi Sewu     Candi Seribu. [Kisah lengkap cerita di atas, bisa dilihat DISINI]

***** 
Apa yang menarik? 

Pertama, Roro Jonggrang adalah perempuan yang menjaga kehormatannya. Ia bukan perempuan murahan yang asal mau saja. Ia justru meminta bukti keseriusan dari Pangeran Bandung Bondowoso jika memang ia benar-benar ingin menikah dengannya. Yah, walau sebenarnya, dibalik permintaan itu ada tipu muslihat yang sudah direncanakan sebelumnya. 

Kedua, sebagai seorang lelaki, Pangeran Bandung Bondowoso menyanggupi apapun yang diminta orang yang ia kasihi. Diminta membuat 1000 candi, ia iyakan. Gampang! Ia barangkali sadar, bahwa cinta itu memang butuh pengorbanan. Butuh kerja keras dan pembuktian. 

Ketiga, jangan berbuat curang dalam hal apapun. Karena ini akan membuat orang tidak suka dan marah. Lalu, ujung-ujungnya, kejelekan yang kita lakukan, pasti akan kembali ke kita juga. Maka jujurlah dalam segala hal. Jangan culas. 

Demikian. 

Tiga Kebohongan yang Dibolehkan Islam

Tiga Kebohongan yang Dibolehkan Islam


Selepas berbuka puasa tadi, sambil duduk santai menikmati secangkir kopi buatan istri, saya mendengarkan ceramah agama dari YouTube. Nggak apa-apalah mengambil ilmu darisana. Jaman sudah modern dan kita bisa belajar darimana saja, asal benar dan lurus gurunya. Nah, petang tadi, ceramah yang saya dengarkan adalah dari seorang Ust bernama Abdul Somad Lc. 

Ceramah itu, isinya adalah tentang beliau yang menjawab pertanyaan jamaah. Jadi, beliau berdiri di atas mimbar, lalu panitia masjid, silih berganti datang membawa sepucuk kertas yang di dalamnya ada pertanyaan yang sudah ditulis. 

Maka ceramah itu, isinya adalah jawaban dari puluhan jamaah yang bertanya melalui secarik kertas. Akibatnya, tema-tema yang disampaikan kesana-kemari. Kadang membahas tentang akhlak, lalu ke aqidah, kemudian ke fikih dan hukum, lalu ke yang lain-lainnya. 

Tapi tidak mengapa... Menurut saya, itu malah bagus karena isinya adalah solusi yang memang benar-benar dibutuhkan jamaah yang bertanya tersebut. 

Dari sekian banyak pertanyaan, yang paling saya ingat adalah tentang dibolehkannya berbohong untuk tiga hal. 

Pertama, boleh berbohong kalau dilakukan untuk menghindari perkelahian dan perselisihan antara dua orang. Misalnya begini, ada ibu A dan ibu B yang saling tidak suka satu sama lain. Musuh bebuyutan. Suatu hari si ibu A mendatangi saya dan kemudian menceritakan kejelekan-kejelekan si ibu B. Di mata si Ibu A ini, Ibu B memang nggak ada baiknya sama sekali. Jelek semua. Dan saya mendengarkan saja apa yang ia katakan tentang si Ibu B. 

Kebetulan, si Ibu B mengetahui kalai si Ibu A banyak mengobrol ke saya. Si Ibu B penasaran dan datang juga ke saya, lalu bertanya, "Bang Syaiha, ibu A cerita apa saja ke Abang? Dia jelek-jelekin saya ya?" 

Kalau dihadapkan pada kondisi begini, maka kita, kalau bisa jangan jujur. Karena bisa berkelahi nanti tuh si Ibu A dan Ibu B. Pada kondisi demikian, kita dibolehkan berbohong. 

Kedua, bohong yang dibolehkan adalah bohongnya seorang suami ke istri, atau sebaliknya demi kemaslahatan rumah tangga mereka. 

Misalnya, ada seorang suami pulang dari dinas di luar kota dan membawakan oleh-oleh untuk istrinya di rumah. Oleh-oleh itu adalah kain batik standar, yang nggak perlu jauh-jauh, di pasar tradisional dekat tinggal mereka juga banyak. Malah kualitasnya lebih tinggi dibandingkan oleh-oleh yang dibawa. 

Si suami, ketika sampai rumah bilang, "Mama, sini deh. Ini tadi papa beli oleh-oleh buat mama. Bagus nggak? Papa sengaja loh beliin ini khusus buat mama." 

Walau kainnya nggak ada bagus-bagusnya sama sekali, si istri lebih baik bilang, "Wah, ini bagus sekali, Pa. Mama seneng deh. Terimakasih ya." 

Jangan malah jujur, "Apaan ini Pa? Kain begini mah banyak di pasar sebelah. Ngapai jauh-jauh ke luar kota buat beli beginian?" 

Bisa berabe jadinya kalau mengatakan yang sesungguhnya demikian. 

Ketiga, bohong yang dibolehkan terakhir kali adalah bohong untuk melindungi kaum muslimin dalam peperangan. Bohong untuk menghindari peperangan. 

Misalnya, tiba-tiba ada beberapa orang lari ke dalam rumah dan bersembunyi. Mereka ketakutan karena dikeroyok oleh preman-preman pasar. Kita tahu bahwa orang yang masuk ke rumah ini adalah orang baik, nggak neko-neko. Selang nggak lama mereka bersembunyi, preman-preman pasar yang berwajah beringas datang dan bertanya, "Mana mereka? Bersembunyi di rumah ini ya?" 

Mendapatkan hal demikian, maka sebaiknya kita berbohong, "Cari siapa mas? Disini nggak ada siapapun. Cuma ada saya dan anak istri saja. Sejak tadi, saya di ruang tamu ini, nggak melihat ada satu orang pun yang kemari. Kayaknya sih tadi ada suara lari ke arah sana." 

Lalu preman-preman itu pergi. Perang tidak jadi. 

Sebenarnya, ilmu tentang ini sudah saya dapatkan sejak saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Waktu itu, almarhum bapak saya yang mengajarkan tentang ini. Sampai sekarang masih tertanam kuat di kepala saya. 

...dan petang tadi, ia terefresh kembali. Alhamdulillah.
.
.
.
Semoga tulisan ini ada gunanya... 
Doa dan Takdir

Doa dan Takdir


Ada orang-orang yang keblinger bilang begini, "Buat apa kita harus berdoa? Kan semua yang terjadi di dunia ini adalah takdir dari Allah. Jadi, berdoa atau tidak berdoa kita, maka apapun yang sudah ditakdirkan Allah, pasti akan terjadi."

"Allah menakdirkan kita punya rumah beberapa tahun lagi, maka nggak perlu berdoa lah, ntar juga pasti Allah kasih kok. Allah nakdirkan kita demikian."

"Buat apa kita berdoa ingin naik haji? Kalau Allah takdirkan kita naik haji, maka kita pasti berangkat kok. Nggak usah repot-repot berdoa lah." 

"Buat apa kita berdoa ingin punya anak sholih? Kalau Allah memang menakdirkan kita punya anak yang sholih dan membanggakan, pasti juga kelak akan ada masanya ia datang kok."

"Untuk apa kita berdoa ingin punya ini dan itu? Tinggal nunggu aja. Dia takdir kita bukan? Kalau takdir kita, maka pasti akan ada masanya, semua itu menghampiri kita dengan sendiri. Sudah takdir Allah demikian." 

...dan masih banyak lagi. 

Pemikiran seperti di atas, seakan-akan benar   padahal keliru. Mungkin ada sebagian orang yang terbersit di kepalanya, membenarkan pernyataan di atas, "Benar juga ya! Kalau Allah udah menakdirkan kita demikian, buat apa kita berdoa? Toh nanti juga akan kesampaian    kalau memang sudah takdirnya begitu."

Sebenarnya, mudah saja menangkal pernyataan di atas, cukup katakan kepada mereka begini, "Kamu percaya sekali ya dengan takdir Allah?" 

Mereka kemungkinan akan menjawab "Iya. Semua yang terjadi pada hidup kita sudah tertulis di lauhul mahfudz. Jadi nggak usah repot-repot berdoa dan berusaha."

Lalu kemudian, katakan kepada mereka, "Oke, mulai besok, kamu nggak usah makan dan minum ya! Nanti, kalau Allah menakdirkan kamu kenyang, kamu pasti akan kenyang kok. Tunggu saja, Allah menakdirkan kamu demikian atau tidak."

"Kamu juga nggak perlu menikah, nggak perlu melakukan hubungan badan. Karena kalau Allah menakdirkan istrimu hamil, maka tanpa berhubungan badan pun, istrimu pasti akan hamil nanti. Tinggal nunggu saja, ada nggak takdir Allah yang menakdirkan istrimu hamil dan melahirkan."

"Kamu pun cukup di rumah saja, tidur sepanjang hari dan tidak usah bekerja. Nggak perlu cari uang untuk kebutuhan rumah tangga dan sebagainya. Mengapa? Karena, jika memang Allah menakdirkan ada rejekimu setiap bulan, maka tanpa bekerja pun pasti kamu akan punya uang kok."

...dan paparkan beberapa contoh lain yang semisal. 

Kalau hati mereka masih keras juga, kemungkinan akan membantah bahwa apa yang kita sampaikan nggak sama analoginya dengan doa dan takdir. Maka berhentilah, tidak usah berdebat dengan mereka. Karena mereka sudah bebal dan tidak mau menerima kebenaran. 

Doa dan takdir itu sebab akibat. 

Doa adalah salah satu dari sekian banyak sebab yang menjadikan segala sesuatu menjadi takdir dan terjadi kepada kita. 

Kita ingin Allah menakdirkan kita menjadi orang kaya di masa depan, maka lakukan sebab-sebab yang bisa menjadikan kita demikian. Bekerja keras dan berdoa. Mendekatkan diri kepada Allah, meminta dengan permintaan yang baik kepada-NYA. 

Kita ingin Allah menakdirkan kita menjadi orang yang hafal Al Quran, maka lakukan sebab-sebabnya juga. Cari guru yang bisa membimbing, disiplin menghafal dan mengulang hafalan, juga berdoa kepada Allah agar dimudahkan. 

Kita ingin Allah menakdirkan kita sehat dan panjang umur, sehingga bisa melihat anak cucu menjadi orang sukses di masa depan, maka lakukan sebab-sebab yang bisa menjadikan kita demikian. Jaga makanan, rajin olahraga, dan berdoa kepada Allah. 

Mungkin akan ada yang bilang, "Kalau begitu, kayaknya kita nggak perlu berdoa deh Bang. Ingin sehat tinggal jaga makanan dan olahraga saja. Ingin kaya, tinggal bekerja keras saja. Ingin bisa menghafal Quran tinggal menghafal dan disiplin saja. Cukup. Buat apa berdoa?" 

Untuk orang-orang yang nggak percaya ada kekuatan lain di balik kekuatan manusia, memang demikian. Akan berpikiran bahwa apa yang terjadi di dunia ini adalah murni karena usahanya dan nggak ada campur tangan Allah sama sekali. 

Padahal tidak demikian. Ada Allah yang maha hebat dan dia mudah saja memberikan apapun yang kita minta. 

Maka berdoa lah.... 
Rahasia Terkabulnya Sebuah Doa

Rahasia Terkabulnya Sebuah Doa


Kita barangkali pernah menjumpai orang yang berdoa dengan teks-teks tertentu, ia memanjatkan doanya ketika masalah menghampiri, ia terjepit. Ia lafadzkan tuh doa dengan ketundukan hati yang dalam, bertepatan juga dengan waktu-waktu yang mustajab, juga disertai dengan kebaikan-kebaikan yang senantiasa ia lakukan. 

Karena kesemuanya itu, Allah kemudian mengabulkan doanya. Mudah sekali. 

Melihat hal demikian, kadang ada orang yang keliru melihat keadaan. Dikiranya doa orang di atas terkabul karena teks yang ia gunakan mujarab. Maka dimintalah teks doa itu dan dipanjatkan juga kepada Allah. Pagi, siang, sore, dan malam, tidak henti-hentinya orang kedua ini memohon kepada Allah. 

Tapi apa yang terjadi? Allah tidak juga mengabulkan doanya. Mengapa? Yah, boleh jadi karena, ketika ia memanjatkan doa itu, kondisi pikiran dan hatinya tidak seperti orang pertama. Orang yang pertama, ketika meminta kepada Allah, ia benar-benar bahwa hanya Allah lah yang mampu menyelesaikan masalahnya, Allah lah satu-satunya jalan keluar yang bisa mengangkat beban hidupnya. Dan lagi, si orang pertama juga melantunkan doanya dengan ketundukan hati, bertepatan dengan waktu yang baik, juga senantiasa mengiringi doa itu dengan amal shalih. 

Maka tidak ada alasan toh Allah tidak mengabulkan doa yang demikian?

Sedangkan orang kedua, ia hanya berpedoman pada teks doanya saja. Di dalam hatinya mungkin berujar, "Tuh orang pertama berdoa dengan doa ini, dikabulkan. Aku pasti juga bakal dimudahkan Allah karena teks doa yang dia pakai."

Padahal tidak sesimpel itu. Rahasia terpenting terkabulnya sebuah doa bukan pada teks yang digunakan. Tapi justru pada kondisi orang yang memanjatkannya. 

Kasus yang lain....

Barangkali dulu ada orang yang benar-benar berada dalam kesulitan, mendapatkan masalah besar sehingga hidupnya menjadi tidak tentram. Ia sudah mencari solusi kesana-kemari, tapi tak kunjung mendapatkan jalan keluar juga. Orang ini, kemudian berdoa di kuburan. Benar-benar mengharap kepada Allah agar masalah yang dihadapinya bisa terangkat. Atau paling banter, berkurang sedikit saja deh. 

Doa itu kemudian dikabulkan Allah. 

Nah, orang-orang yang bodoh, kemudian menyangka bahwa terkabulnya sebuah doa adalah terletak pada kuburan. Maka berbondong-bondonglah orang berdoa ke kuburan. Lebih parah lagi jika sambil membawa sesajen-sesajen yang entah dimaksudkan untuk siapa? 

Orang-orang yang bodoh itu tidak menyadari, bahwa rahasia terkabulnya sebuah doa adalah terletak pada kondisi pemohonnya yang benar-benar terjepit dan hanya mengharapkan bantuan Allah saja.

Jika mereka tahu bahwa rahasianya disitu, pasti jauh lebih baik jika doanya dilalntunkan di dalam masjid, di atas sajadah masing-masing, ketika selesai melaksanakan Shalat. 

Demikian.
Jika Doa Laksana Senjata

Jika Doa Laksana Senjata


Ada kalimat yang menarik, yang pernah saya dengar dari salah satu guru ngaji saya. Beliau bilang, "Doa itu adalah senjatanya orang-orang beriman. Senjata paling keren, paling hebat, dan tentu saja paling powerful. Makanya, kalau menginginkan sesuatu, mintalah   berdoa   kepada Allah. Pasti dikabulkan   asal syarat dan rukunnya bener." 

Ketika mendengarkan kalimat itu, di bayangan saya, yang terbayang adalah sebuah senjata super canggih. Buatan terbaru. Memiliki daya ledak yang tinggi atau malah tidak sama sekali, tapi mematikan. Mungkin karena saya suka nonton film action kali ya, makanya yang muncul adalah gambaran demikian. 

Tapi eh tapi, muncul juga di kepala saya begini, "Kalau doa adalah senjata orang-orang Islam yang beriman, tentu saja ada cara pakainya dong ya? Ada manual book nya!"

Maksudnya begini, kita bayangkan sebuah senjata yang maha hebat. Apakah dia, senjata itu, akan melulu bermanfaat dan bisa memberikan kemenangan bagi orang atau golongan yang memakainya? Tentu saja tidak.. 

Kita harus ingat sebuah pepatah yang mengatakan bahwa, "Bukan senjatanya yang penting, tapi siapa yang ada di belakangnnya. Siapa orang yang mengoperasikannya." 

Jadi berguna atau tidaknya sebuah senjata super canggih itu dipengaruhi oleh beberapa hal: senjata itu sendiri dan keterampilan orang yang menggunakannya. 

Kembali ke doa ya...

Jika doa adalah sebuah senjata orang-orang Islam yang beriman, maka bekerja atau tidaknya senjata itu, dikabulkan atau tidaknya ia, bergantung pada dua hal juga. Doa itu sendiri dan orang yang memanjatkannya. 

Untuk doa yang dianjurkan, sudah jelas sekali, pakailah doa para nabi yang pernah dilantunkan dan diabadikan dalam Al Quran. Ada doa nabi adam, doa nabi Yunus, doa nabi Ayyub, hingga doa nabi kita, Muhammad SAW. Baca Al Quran dan Hadist, maka kita akan menemukan, banyak sekali doa yang pernah diajarkan. 

Guru-guru ngaji saya bilang, "Doa-doa inilah yang disunnahkan untuk dipakai. Bukan berarti berdoa dengan redaksi yang lain tidak boleh ya, boleh-boleh saja. Bahkan berdoa dengan bahasa kita sekalipun, Allah juga pasti tahu kok. Tapi, agar lebih cepet sampainya, barangkali, lebih baik menggunakan doa-doa para nabi." 

Di atas adalah yang berkaitan dengan doa. Lalu bagaimana yang berkaitan dengan unsur manusianya? Bagaimana dengan kondisi yang dianjurkan dari sisi yang memanjatkan doanya? 

Nah, dari buku yang sedang saya baca, ada beberapa hal yang membuat doa mudah dikabulkan, diantaranya: 

Pertama, doa-doa orang yang sedang terjepit masalah. Kenapa orang-orang yang sedang terjepit masalah doanya mudah dikabulkan? Karena mereka benar-benar meminta kepada Allah. Mereka sedang ada musibah, tertimpa kesedihan yang dalam, atau apa saja, sehingga mereka akan lebih serius meminta kepada Allah. Mengharapkan jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapi. 

Karena hal itulah maka doa mereka mudah sekali bergerak ke langit dan diijabah. 

Kedua, doa-doa orang yang dipanjatkan dengan ketundukan hati kepada Allah. Ini jelas, ketika doa dilantunkan dengan kondisi hati yang tunduk dan taat, maka Allah akan malu jika tidak mengabulkannya. 

Ketiga, doa-doa orang yang dipanjatkan bertepatan dengan waktu mustajab. Selain dua hal di atas, kita juga harus mengetahui kapan-kapan waktu terbaik untuk berdoa. Misalnya doa selepas shalat wajib lima waktu, di antara adzan dan iqamah, di penghujung waktu ashar, di kala hujan, dan masih banyak lagi. Jika menemui waktu-waktu itu, maka berdoa lah. 

Keempat, doa-doa orang yang senantiasa yang berbuat baik. Nah, ini... Jangan lupa senantiasa berbuat kebaikan kepada orang lain, jangan lupa untuk segera memudahkan urusan orang lain, agar Allah memudahkan urusan kita. 

Kedua faktor di atas, lafadz doa dan kondisi orang yang memanjatkannya, harus menjadi perhatian kita dalam berdoa. Seperti senjata, ia baru akan benar-benar hebat ketika orang yang mengoperasikannya adalah orang terlatih dan ahli. 

Semoga berguna. 
Doa adalah Obat

Doa adalah Obat


Ada sebuah buku yang saya beli di tahun 2010 pada pameran buku bertajuk Islamic Book Fair Jakarta. Buku ini sangat tebal dan berat, judul aslinya adalah Ad Daa' wa Ad Dawaa' karangan Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Ketika itu, saya membeli buku ini dengan harga yang tidak begitu mahal, hanya 96ribu saja. 

Oiya, dalam bahasa Indonesia, buku ini berjudul Macam-Macam Penyakit Hati yang Membahayakan dan Resep Pengobatannya. 

Sudah 6 tahun lebih saya memiliki buku ini, tapi malangnya, hingga saat ini, saya belum khatam juga. Dulu, ketika membelinya, saya hanya teringat sebuah pesan dari almarhum bapak saya di kampung, ia bilang, "Pokoknya, kalau bisa, setiap bulan beli lah buku. Simpan di rumah. Kalau nanti kamu tidak sempat membacanya, maka barangkali anak cucumu yang akan melahapnya." 

Saya diam ketika itu, mendengarkan penuh ketakziman. 

"Atau..." bapak saya melanjutkan, "nanti, akan ada masanya kamu malu dengan tumpukan yang semakin banyak tapi tidak kamu baca juga." 

...dan malam ini, ketika selesai berjamaah di masjid, kalimat bapak yang kedua benar adanya. 

Ceritanya, saya sedang duduk di samping rak buku saya, melihat betapa ternyata, buku saya sudah lumayan banyak. Tapi ketika saya lihat satu demi satu, ternyata, saya baru sedikit sekali melahap mereka. Hanya satu dua saja yang khatam. Sisanya, lebih banyak menjadi pajangan saja. Jarang disentuh sehingga berdebu. 

Malam ini, ketika saya tertegun menyaksikan buku-buku di rak, Allah menggerakkan saya mengambil buku ini dan membacanya. Dalam hati saya, ada niat yang terhujam, "Saya akan menyelesaikan satu demi satu koleksi saya ini. Bismillah..." 

Entah bagaimana ke depannya, Wallahu a'lam. Tapi semoga saya bisa. 

Nah, pada bab awal buku ini, poin yang dibahas adalah tentang doa. Judul sub babnya adalah Doa adalah Obat. 

Buku ini bilang, doa adalah obat yang sangat bermanfaat bagi kaum muslimin. Terutama orang yang beriman. Yang percaya adanya Allah dan hari akhir, yang yakin bahwa Allah adalah Rabb yang maha segala-galanya. Yang akan mengabulkan setiap permintaan dan doa yang dilantunkan hambanya di dunia, manusia. 

Doa adalah obatnya musibah. 

Artinya apa? Artinya adalah, ketika seseorang mendapatkan musibah di dunia   entah itu kemiskinan, kematian, kecelakaan, sakit yang menahun, atau apapun, maka doa adalah obat yang bisa menjadi menentram bagi orang-orang yang percaya. 

Kita ditimpa kemiskinan dan kemelaratan, maka berdoa lah kepada Allah. Berdoa diberikan kesabaran, berdoa minta diberikan kemudahan, dan ketenangan dalam segala kekurangan yang ada. Berdoa juga, agar dikuatkan iman dan takwa, sehingga kemiskinan yang ada di diri kita, tidak membawa kita kepada jurang kekafiran dan kekufuran. 

Kita ditimpa penyakit yang menahun, maka berdoa lah kepada Allah. Doanya apa? Minta agar Allah menjadikan sakit itu sebagai penebus dosa-dosa kita, sehingga kelak di akhirat, kita menjadi lebih mudah dalam proses hisab yang dilakukan. Minta juga kepada Allah agar segera diangkat penyakit itu, minta kesembuhan. Juga jangan lupa mintalah kepada Allah kesabaran. 

Ditimpa apapun kita, maka berdoa lah. Karena doa adalah obat yang paling mujarab. 

Buku ini juga menjelaskan di bagian awal, bahwa ketika doa bersanding dengan sebuah musibah, maka doa mempunyai tiga kondisi, yaitu: 

1. Doa yang lebih kuat dibandingkan musibah yang menimpa, sehingga doa itu kemudian mampu menjadi penyembuh yang baik. Doa kita menang, dan musibah menjadi hilang dari kehidupan kita. 

2. Doa yang lebih lemah dibandingkan musibah yang menimpa, sehingga doa tidak mampu menghilangkan musibah. Akan tetapi, doa tetap bermanfaat karena dengan doa, musibah yang dialami menjadi lebih ringan dibandingkan jika ia tidak berdoa kepada Allah. 

3. Doa yang kekuatannya sama dengan musibah yang menimpa. Sehingga karenanya, doa ini akan pas ukurannya dalam mengangkat musibah yang menimpa kita. 

Dari ketiga kondisi doa ketika bersandingan dengan musibah, maka diketahuilah bahwa dalam kondisi apapun doa sangat bermanfaat dalam kehidupan kita. 

Maka semoga, saya dan pembaca sekalian, bisa diberikan kemudahan dalam berdoa kepada Allah. 

Demikian. 
Tangan Itu Tidak Akan Disentuh Api Neraka Selamanya

Tangan Itu Tidak Akan Disentuh Api Neraka Selamanya


Tadi malam, sebelum tidur, saya membaca buku dan mendapati sebuah sejarah tentang nabi Muhammad SAW. Jadi, dari buku itu saya ketahui bahwa Rasulullah pernah mencium tangan seorang tukang batu yang ia temui di jalan menuju Madinah. Luar biasanya lagi, ternyata, sepanjang hidup Muhammad, beliau hanya menciup tangan orang lain sebanyak dua kali saja. Siapa saja mereka? Tangan putrinya, Fatimah, dan tangan si tukang batu yang ia temua di jalan ketika hendak pulang dari peperangan. 

Hari itu, Rasulullah dan sahabatnya hendak kembali ke Madinah dari perang Tabuk yang baru saja selesai. Secara kebetulan, di jalan ke Madinah, Rasulullah melihat seorang tukang batu yang tangannya hitam legam   terbakar sinar matahari, dan melepuh. Orang itu dihampiri Rasulullah, dan ditanyakan begini, "Ada apa dengan tanganmu?" 

“Wahai Rasulullah, saya bekerja membelah batu setiap harinya. Batu-batu itu kemudian saya jual ke pasar, uangnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya. Karena itulah tangan saya kasar dan melepuh seperti ini.”

Mendengar jawaban demikian, sekonyong-konyong, Rasulullah meraih tangan itu dan menciumnya. Lalu bilang, "Ini adalah tangan, yang kelak tidak akan pernah disentuh api neraka selama-lamanya." 

Allahu akbar!!

Apa yang bisa kita ambil dari kejadian super langka ini? Jarang-jarang kan, manusia yang paling agung, mencium tangan orang lain? Lalu ketika itu dilakukan, maka pasti ada hikmah yang besar di dalamnya. Hal ini bertujuan untuk memberi pengajaran kepada umat Islam. Buat saya, buat anda, buat kita semua.

Nah, mari kita bahas apa hikmahnya... Mengapa Rasulullah sampai mencium tangan si tukang batu itu? Apa yang ingin diajarkannya? 

Pertama, bekerja demi menafkahi keluarga adalah ibadah yang pahalanya besar sekali asal dilakukan dengan ikhlas dan tidak curang. Berkeluarga itu butuh uang banyak loh. Kita harus mengusahakan agar dapur tetap ngebul, butuh uang buat sekolah anak-anak, buat beli rumah, buat jalan-jalan, buat berobat kalau sakit, dan masih banyak lagi. 

Uang tentu saja tidak mungkin datang sendiri. Harus diikhtiarkan, diusahakan dengan segenap tenaga dan upaya. Sehingga siapa saja yang melakukannya karena landasan iman dan takwa di dadanya, maka para pekerja yang demikian itu diganjar pahala. Rasul malah bilang, ada surga di depan sana. 

Kedua, dari peristiwa di atas, Rasulullah, mungkin, juga ingin mengajarkan bahwa umat Islam seharusnya bekerja keras. Kejar dunia untuk kepentingan akhirat. Jangan malas-malasan dan hanya berpangku tangan. Si tukang batu tadi adalah pekerja keras, buktinya tangannya hitam legam dan melepuh, bukti bahwa ia melakukannya dengan sungguh-sungguh dan tidak malas. 

Artinya apa? Kita umat Islam harus demikian. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Kejar karir yang baik. Kumpulkan harta dan kekayaan. Tapi tidak berhenti sampai disitu saja, setelah mendapatkannya, karir dan kekayaan itu, lalu jadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jadikan ia sebagai sarana juga untuk senantiasa menebar manfaat kepada orang banyak. 

Hal demikian kan nggak mungkn bisa dilakukan oleh orang yang malas. Lah wong menghidupi dirinya saja kelabakan, bagaimana mungkin ia menjadi manfaat buat banyak orang toh

Dua hal ini adalah pelajaran penting yang bisa saya ambil dari kejadian yang sangat langka di atas. Semoga bermanfaat dan silakan tambahkan jika ada yang kurang. 

Demikian.