Like Fanpage Bang Syaiha

El Clasico: Antara Messi dan Ronaldo, Spanyol dan Catalan, Juga Teror Bom

By Bang Syaiha | Saturday, 21 November 2015 | Kategori:

El Clasico
El Clasico
Akhir pekan ini, penggemar sepak bola akan disuguhi duel sengit antara dua klub raksasa Spanyol, Barcelona dan Real Madrid. Keduanya adalah musuh bebuyutan sejak lama, sehingga pertemuan mereka di juluki el Clasico!

Keduanya adalah klub hebat dan menakjubkan, maka hampir bisa dipastikan mereka akan ngotot satu sama lain. Barcelona yang berada satu strip di atas el Real, berjarak tiga poin, akan berusaha sekuat tenaga mempertahankan keunggulan. Sedangkan Madrid, akan mati-matian mencari kemenangan.

Duel kedua tim ini semoga saja menyajikan jual beli serangan. Semoga tercipta banyak gol. Yah, walau sepertinya akan jarang terjadi. Di pertemuan-pertemuan mereka, pemenang biasanya hanya berjarak satu atau dua gol saja.

Pernah sih, beberapa kali pemenang di duel ini memiliki margin gol yang besar, tapi itu jarang. Pasalnya, keduanya memang sama-sama kuat baik dalam bertahan maupun menyerang.

Mengapa nama pertarungan ini disebut el Clasico?

Pertarungan ini adalah pertarungan gengsi, ajang pembuktian bagi keduanya untuk menjadi yang terhebat di Spanyol. El Clasico pertama kali di gelar di Hippodroma, 13 Mei 1902 dan dimenangkan oleh Barcelona dengan skor 3-1.

Permusuhan keduanya sudah terjadi sejak lama, terutama ketika ada seorang Jenderal yang menganak-emaskan Real Madrid dibandingkan klub manapun. Jenderal ini bernama Franco. Ia adalah keturunan Spanyol. Dan ketika ia berkuasa memimpin militer, ia melarang penggunaan bahasa Catalan di tanah Spanyol. Akibatnya, orang-orang asli Catalan memilih tempat di rumah sendiri untuk berkumpul dan bercengkerama.

Permusuhan keduanya semakin memanas ketika Josep Suol, Presiden Barcelona waktu itu, dibunuh oleh pihak militer pada tahun 1936, dan sebuah bom dijatuhkan di FC Barcelona Social Club pada tahun 1938. Di lapangan sepakbola.

Titik puncak permusuhan ini terjadi pada tahun 1941 ketika para pemain Barcelona diinstruksikan (dibawah ancaman militer) untuk kalah dari Real Madrid. Benar saja, pertandingan itu dimenangkan Madrid dengan skor telak, 11-1.

Pertandingan keduanya adalah lambang perang antara bangsa Spanyol dan Catalan. Real Madrid adalah simbol kekuatan Spanyol, sedangkan Barcelona adalah simbol Catalan. Jadi, pertemuan keduanya, boleh jadi, tidak hanya ajang pertandingan bola belaka, tapi ada unsur-unsur politis yang melatarinya, sehingga masing-masing fans, selalu tersulut emosinya jika ada sedikit saja friksi yang terjadi.

Permusuhan itu sudah terjadi sejak 1930 dan berlangsung hingga sekarang. Permusuhan dua kekuatan lama, dan karena itulah ia disebut dengan El Clasico. Pertandingan klasik.

Yang Diragukan Tampil

Pada pertemuan kali ini, ada beberapa nama yang diragukan tampil. Dari Real Madrid, ada empat nama yang belum tentu bisa bertanding: Marcelo, Navas, Carvajal, dan Karim Benzema. Sedangkan dari kubu Barcelona, ada Messi yang kecil kemungkinannya bisa tampil penuh. Tapi, walau begini, ia tetap dibawa ke pertandingan dan sebisa mungkin akan dimainkan.

El Clasico adalah ajang pembuktian Messi dan Ronaldo

El Clasico
El Clasico
Setidaknya, dalam enam tahun terakhir, setiap kali terjadi pertandingan antara Barcelona dan Real Madrid, maka semua mata akan tertuju pada dua nama ini, Messi dan Ronaldo. Keduanya adalah ujung tombak, juga pemain andalan di lini depan.

Mereka adalah pemain nomor wahid di jagad raya ini. Saling bersaing menjadi yang terbaik. Maka jika tim mereka kalah, fans dan media biasanya akan memberkan raport merah pada keduanya.

Pemerintah Spanyol jamin laga El Clasico akan berjalan aman

Terkait dengan aksi teror yang terjadi di Paris beberapa hari lalu, pemerintah Spanyol meresponnya dengan memberkan pengawalan ketat pada pertandingan ini. Mereka tentu saja tak ingin kecolongan dengan aksi yang sama, bukan?

Itulah sebabnya, Iniesta, pada sebuah wawancaranya yang gue denger tadi malam bilang, “Tentang aksi teror yang terjadi di Paris. Pemerintah Spanyol sudah menyiapkan tentara dan kepolisian untuk menyiapkan laga ini agar berjalan aman dan tidak terjadi apa-apa.”

Dan lagi, menurut gue, setelah aksi pengemoman dan teror di Paris, tentu saja teroris itu nggak bodoh dan mengulang aksi sama dalam waktu dekat, bukan?

Sama seperti sebuah pencurian di sebuah daerah. Misalnya ia terjadi tadi malam, maka dalam lima sampai enam bulan berikutnya, daerah itu pasti akan aman? Mengapa? Karena pertama orang-orang akan semakin waspada. Mereka melakukan penjagaan lebih ketat dan lebih lama. Kedua, karena penjahat juga nggak mau bunuh diri dengan melakukan aksi yang sama di sebuah daerah. Mereka bisa ditangkap dan dihakimi warga.

Akhirnya, gue berharap pertandingan nanti akan menarik dan tidak membosankan. Semoga berjalan aman dan lancar sehingga semua senang. 


EmoticonEmoticon