Like Fanpage Bang Syaiha

Politisi Bersih? Mungkin Ada, Tapi Tidak Banyak!

By Bang Syaiha | Thursday, 19 November 2015 | Kategori:

politik itu kotor
Politik
Di Indonesia, rasanya jarang banget, atau malah nggak ada politisi yang jujur memperjuangkan kepentingan rakyat. Iya nggak sih? Mereka itu kan anggota parpol, jadi anggota dewan juga nggak murah. Banyak uang yang harus dikeluarkan. Belum lagi iuran ke parpolnya yang jumlahnya boleh jadi tidak sedikit. Lalu, kalau sudah duduk di parlemen, Elo pikir mereka akan memperjuangkan kita rakyat kecil?

Itu kayaknya mimpi deh!

Simply, lihat saja bagaimana sidang dan rapat-rapat mereka. Jika memang memperjuangkan rakyat, seharusnya rapat mereka di tempat sederhana saja dong. Konsumsi yang digunakan juga sebaiknya makanan lokal, buatan rumahan, dan tidak perlu mahal-mahal. Tapi apa iya mereka begitu?

Nggak!

Mereka rapat di tempat mewah nan megah. Makanan yang dihidangkan juga istimewa dan pasti maha-mahal. Citarasa eropa, biar lebih gengsi. Mereka seakan lupa, bahwa rakyat yang katanya mereka perjuangkan itu banyak yang kelaparan dan membutuhkan bantuan. Eh, mereka malah enak-enakan.

Habis berapa mereka buat rapat? Bisa miliaran, bahkan mungkin malah mendekati 1 triliunan. Uang sebanyak itu, dapatnya darimana? Apakah murni uang kas? Pasti ada kepentingan lain yang mendompleng, ada sumber lain yang entah darimana asal-usulnya.

Okelah, jika pun uang yang mereka dapatkan memang halal dan tidak menyimpang, bukankah lebih baik uang itu disisihkan untuk kegiatan sosial saja? Rapat di tempat mewah atau tidak, makan hidangan eropa atau lokal, bagi gue sih bukan esensi dari sebuah rapat yang mereka lakukan. Jadi, menghabiskan uang hanya untuk itu adalah perbuatan sia-sia dan nggak penting.

Banyak politisi yang sering kali terganjal kasus korupsi. Maling uang rakyat. Perampok kelas kakap yang dianak-emaskan. Mereka memang tertangkap, tapi di penjara, mereka mendapat fasilitas kelas satu, bisa keluar masuk, bebas melakukan apa saja. Mereka seperti tidak dihukum, hanya pindah ranjang saja.

Entah sudah berapa orang pejabat yang terjerat. Bahkan yang baru-baru ini ramai dibicarakan, ketua DPR kita, Setya Novanto lagi hangat-hangatnya diberitakan. Kabarnya, entah ini benar atau tidak, ia melakukan pertemuan dengan freeport dan membicarakan kontrak jangka panjang.

Jika itu goal, sudah pasti ia juga kecipratan. Tidak ada makan siang yang gratis, bukan?

Si Setya Novanto ini memang sering sekali melakukan tindakan-tindakan kontroversial. Belum habis masalahnya ketika melakukan tour ke Amerika dan bertemu langsung dengan Trump, calon presiden Amerika, sekarang sudah muncul berita baru lagi.

Bahkan, dari beberapa sumber yang gue baca, Setya Novanto ini sudah sejak lama dihubung-hubungkan dengan berbagai kasus korupsi yang ada di Indonesia. Sebut saja kasus suap PON Riau, kasus bank Cassie Bank Bali di tahun 1999, penyelundupan 60 ton beras ke Vietnam, disebut namanya pada proyek e-KTP, dan pernah diduga melakukan ancaman pembunuhan kepada M. Nazarruddin (selengkapnya, lihat DISINI).

Seperti yang gue tulis di awal, banyak –atau malah semua, politisi tidak pernah tulus membela kepentingan rakyat. Banyak kepentingan lain yang mereka kedepankan: mengembalikan modal awal yang telah dikeluarkan untuk maju di pencalonan, memperkaya diri, dan sebagainya.

Jadi, jangan banyak berharap deh sama mereka. Yang ada, setiap kali ngeliat berita, kita malah ngelus-ngelus dada nyaksiin anggota dewan yang terhormat bertingkah tidak layak. Rapat banyak yang tidur. Absen kosong. Kalau berdebat, gontok-gontokan, beberapa kali malah saling mencaci dan adu jotos.

Tapi, memang benar, gue juga yakin sih, ada satu dua orang pejabat yang tulus memperjuangkan kita. Tapi jumlahnya tak seberapa, kan? Suara mereka kalah jauh dibandingkan bajingan-bajingan berdasi yang rakus. Malah bisa-bisa, jika mereka tak mau ikut arus, pelan-pelan akan disingkirkan.

Untuk kasus seperti ini juga banyak yang sudah terjadi. Asal kita jeli, kita pun tahu ada beberapa orang tak bersalah yang terpaksa dijebloskan ke penjara karena kasus sepele yang temeh-temeh.


Ngomongin politik di negeri kita, memang nggak akan ada habisnya. Terlalu busuk dan kotor. Makanya gue pun males ngelanjutin. Mending tidur lagi. 

Yuk!


EmoticonEmoticon