Like Fanpage Bang Syaiha

Inilah 3 Hal yang Harus Dilakukan Agar Bisa Menjadi Penulis!

By Bang Syaiha | Wednesday, 9 December 2015 | Kategori: |

Inilah 3 Hal yang Harus Dilakukan Agar Bisa Menjadi Penulis, Bang Syaiha, bang-syaiha.blogspot.com
Inilah 3 Hal yang Harus Dilakukan Agar Bisa Menjadi Penulis
Jika melihat pertumbuhan dan perkembangan seorang bayi, maka kita akan banyak belajar darinya. Lihat bagaimana dia mulai belajar tidur miring lalu tengkurap. Saksikan bagaimana ia mulai belajar duduk, merangkak, lalu kemudian berdiri dan berjalan pelan-pelan. Nanti, ketika lidahnya mulai menggumamkan sebuah kata, kita pun akan mengalami kekaguman. Mereka benar-benar menggemaskan. 

Bayi memberikan banyak kebahagiaan. Dan secara bersamaan, banyak ilmu yang bisa kita dapatkan dari mereka: terutama tentang bagaimana seharusnya setiap orang mencapai sesuatu. 

Pernah nggak berpikir nyeleneh? Begini: melihat begitu besarnya angka kelahiran di Indonesia, juga banyaknya balita yang tinggal di sekitar rumah, lalu kalian coba-coba mendirikan sebuah lembaga bimbingan belajar untuk mereka? Seperti bimbingan belajar untuk anak-anak bayi agar bisa segera bisa berbicara atau bimbingan belajar untuk anak-anak bayi agar segera bisa jalan dan berlari. Pernah? 

Telah Dibuka! Celoteh: Tempatnya Anak-anak Belajar Bicara! Dijamin akan lancar berbahasa hanya dalam satu bulan! Ruangan belajar berpendingin dan harga murah. Segera daftarkan balita anda sekarang, karena tempat terbatas. 

Telah Dibuka! Jejak Pertama: Sebuah Tempat yang Tepat untuk Balita Belajar Berjalan. Proses dilakukan dengan sangat baik dan instruktur tersertifikasi! Promo bulan ini, bayar setengah harga jika anda mendaftarkan balita anda sebelum tanggal 1 Januari! 

Saya yakin, tidak ada orang waras yang berani terjun ke bisnis ini! Terlepas dari banyaknya jumlah balita, tingginya angka kelahiran dan sebagainya, bimbingan belajar model begini pasti tidak akan laku!

Mengapa? 

Karena bayi, untuk bisa berbicara dan berjalan tidak butuh itu semua! Mereka tidak perlu bimbel, tidak perlu ini dan itu. Cukup dengan menyaksikan bagaimana orangtuanya bicara, maka ia akan mencoba. Cukup lihat bagaimana orangtuanya berjalan, maka ia akan mencoba menirunya. Ya, cara belajar mereka adalah dengan melihat, mengamati, dan lalu mempraktikkannya. Mereka tak perlu banyak teori! 

Apa yang bisa kita ambil fakta sederhana ini? 

Pertama, untuk siapa saja yang ingin menjadi penulis (atau ingin jadi apapun juga), mulailah terjun langsung. Jangan terlalu banyak teori tanpa pernah mempraktikkannya segera. Kalian ingin menjadi penulis, tapi tak pernah menulis dan hanya sibuk membaca buku tips dan trik kepenulisan saja, sibuk mengikuti seminar dan pelatihan saja, maka omong kosong semua. 

Jika ingin menjadi penulis itu, kuncinya yang segera menulis. Barengi dengan banyak membaca dan berdiskusi. Bukan hanya ikut pelatihan sana-sini! Sisihkan waktu satu jam sehari untuk menulis. Jangan malas. 

Kedua, untuk siapa saja yang ingin menjadi penulis (atau ingin jadi apapun juga), selain langsung mempraktikkan, jangan lupa amati orang-orang yang sudah berhasil di dunia kepenulisan. Perhatikan bagaimana dia bisa demikian? Beli buku-bukunya dan baca. Pelajari bagaimana pemilihan diksi yang digunakannya, bagaimana alur yang disampaikannya, dan lain-lain. 

Untuk menjadi penulis itu, selain langsung menulis segera, juga harus punya idola yang akan menjadi contoh kalian. Pilih idola yang baik, yang karya dan buku-bukunya memang sudah banyak beredar dan diminati oleh banyak orang. 

Ketiga, sama seperti bayi, ketika sedang belajar berjalan, dia akan jatuh berkali-kali. Mereka tidak bisa langsung berjalan di usaha pertama. Tapi mereka tak putus asa dan terus mencoba, bukan? Maka kita, orang-orang yang ingin menjadi penulis seharusnya juga demikian. Jangan mudah putus asa dan menyerah. Jangan berhenti menulis hanya karena baru ditolak oleh penerbit. 

Penolakan bukan akhir dari segalanya. Karena bahkan penulis terkenal sekalipun, dulunya adalah orang-orang seperti kita yang pernah tak dianggap. Tulisan-tulisan mereka boleh jadi tak dihargai dan ditolak juga. Bedanya dengan penulis yang gagal, mereka tetap mencoba dan terus menulis. 

Dan kita, orang-orang yang punya mimpi menjadi penulis semoga bisa mencontoh mereka. Lakukan tiga hal ini: (1) terus menulis, (2) cari idola yang layak, dan (3) jangan menyerah jika naskah ditolak. Jika semuanya diterapkan, maka hanya tinggal menunggu waktu saja hingga tulisan kita juga akan dinikmati oleh banyak orang. 

Semoga!

13 komentar

avatar

Bener banget..
Lakukan saja tuh tiga2nya, insya Allah akan jadi penulis nanti..

Nice share, Bang..

avatar

Terimakasih sudah berkunjung..

avatar

Semoga berhasil, mbak..

avatar

Semoga berhasil, mbak..

avatar

setuju bang.banyak-banyak pelatihan tapi tidak dipraktekkan kan nggak ada hasilnya juga.

avatar

Harusnya, aku langsung menulis. Tidak perlu membaca tulisan atau teori tentang kepenulisan seperti ini. ((Bercanda, Bang))

Keren! Suka sekali postingan ini. Pas buat aku yang kebingungan mencari guru atau tempat belajar buat menjadi penulis. Padahal untuk menjadi penulis tinggal belajar dan praktik secara langsung.

Terima kasih pencerahannya, Bang Syaiha.

avatar

Banyak nih penulis yang diidolakan...pilih yang mana, ya?

Penulis blog ini aja ya?

Maaf, bercanda, kunjungi balik blog saya di ketikajadiblogger.blogspot.com

avatar

Hahaha...
Iya, seharusnya nggak usah baca, mbak. Sono langsung nulis..

avatar

Yang pasti jangan pilih saya.. Hahaha

Salam

avatar

Maka segeralah menulis..

avatar

belajar menulis lagi. makasih analogi dan semangatnya

avatar

sangat mencerahkan sekali bang. hehe...

tapi, maaf bang. saya mau sedikit curhat.
jadi, ketika saya menulis, semua terhenti, kebingungan ketika menuangkan ide kedalam tulisan.

jujur...Didalam ruangan hati, terdapat sebuah semangat yang besar untuk menulis.

demi menciptakan tulisan yang bermanfaat maka, saya harus banyak mengkonsumsi buku-buku yang serat gizinya, itu prinsip saya. setelah saya mengkonsumsi buku-buku yg serat gizinya itu, terus saya ingin menuangkannya dengan sedikit bumbu opini yang saya ajukan kedalam tulisan. namun, ketika didepan notebook atau sudah dibantu bulpoint dan kertas didepan. saya merasa kebingungan dalam pembentukan tulisan. sehingga, kata-katapun mandek. akhirnya, tulisan ngawur, tidak jelas.

saya minta pencerahannya, bang. bagaimana ide-ide hasil rekayasa setelah membaca itu, tertuang kedalam tulisan yang baik, jelas dan enak untuk dibacanya? agar tujuan penulis berhasil masuk kedalam hati pembaca.

hehe...


EmoticonEmoticon