Like Fanpage Bang Syaiha

Ketika Anak-Anak Takut pada Hal Tertentu

By Bang Syaiha | Friday, 18 December 2015 | Kategori: | |

Alif Fathul Hadi, Ketika Anak-Anak Takut pada Hal Tertentu , bang-syaiha.blogspot.com
Alif Fathul Hadi, Ketika Anak-Anak Takut pada Hal Tertentu
Sebenarnya, setiap anak tidak membawa rasa takut dari dalam kandungan. Mereka terlahir pemberani layaknya seorang pemenang. Ya, karena memang begitulah kejadiannya. Mereka adalah satu-satunya sperma yang berhasil menang bersaing dari jutaan lainnya, berhasil mencapai sel telur duluan dan membuahinya sehingga menjadi sesosok manusia sempurna ketika dilahirkan. 

Seorang anak tidak membawa rasa takut dari dalam kandungan. Jika tidak percaya, coba saja dekatkan seorang anak bayi yang belum terkontaminasi lingkungan ke dekat kandang singa. Mau singa itu mengaum kencang, bayi tidak akan gentar. Paling hanya menangis dan itupun bukan karena takut. Boleh jadi karena kaget mendengar auman singa saja. 

Lalu bagaimana seseorang kemudian memiliki rasa takut tertentu? Misalnya takut cicak, takut boneka, takut balon, dan takut-takut yang lainnya? 

Usut punya usut, rasa takut pada anak biasanya muncul karena dia pernah melihat orang-orang di sekitarnya ketakutan pada hal tertentu. Atau bisa juga, ketakutan diciptakan oleh orang-orang. 

Alif misalnya, saya merasa berdosa sekali ketika beberapa minggu lalu memberinya sebuah rambutan sambil menampakkan ekspresi ketakutan. Melihat saya, Alif sontak saja kemudian tertular. Rambutan yang saya beri tak mau dipegangnya. Dibuang begitu saja sambil wajahnya berubah hendak menangis karena takut. 

Cuma beruntungnya, sekarang, karena hampir setiap hari saya perbaiki apa yang pernah saya buat, Alif sudah mulai berani memegang rambutan. Setiap ada rambutan, saya beri ke Alif sambil berkata, "Ini namanya rambutan, Bang. Nggak apa-apa, ini bisa dimakan loh, enak." semua saya lakukan sambil memeluk Alif erat, agar ia merasa nyaman dan terlindungi. 

Cara berikutnya, untuk menghindari ketakutan pada anak, bisa juga dengan memberinya sugesti pada dua waktu: sebelum tidur dan ketika bangun. Dua waktu ini, adalah saat yang tepat menanamkan kalimat-kalimat positif dan biasanya akan tertanam kuat pada anak. 

Selain rambutan, Alif juga takut pada satu boneka anjing berwarna kuning. Dulunya, ketika boneka ini diberi oleh kakeknya, beliau juga memberinya dengan menakut-nakuti. Jadilah Alif seperti sekarang, takut pada boneka ini dan tidak berani memegang. 

Dari sini, saya belajar bahwa sebagai orang tua, kita tidak boleh asal-asalan bersikap di depan anak-anak kita. Mereka itu seperti batu polos yang siap dipahat menjadi bentuk apapun sesuai yang kita tampakkan kepada mereka. 

Demikian

2 komentar

avatar

Iya sepakat banget, anak jangan ditakut-takuti.

avatar

Terimakasih sudah berkunjung..


EmoticonEmoticon