Like Fanpage Bang Syaiha

Ricuhnya Kasus Go-Jek: Ngurus Negara Kok Coba-Coba!

By Bang Syaiha | Saturday, 19 December 2015 | Kategori:

ricuhnya kasus Go-Jek, larangan ojek online, bang syaiha, bang-syaiha.blogspot.com
Go-Jek Indonesia
Kemarin saya sempat kaget membaca sebuah berita yang mengatakan bahwa Go-Jek dianggap ilegal dan dilarang beroperasi lagi. Rasa kaget itu bercampur sedih dan menyayangkan sikap pemerintah yang seakan tergesa-gesa mengambil kebijakan. Karena hal itulah maka saya kemudian mengeluarkan uneg-uneg saya di twitter

Bagi penyandang disabilitas seperti saya, keberadaan Go-Jek selama ini benar-benar membantu. Bayangkan saja, jika sebelum mengenal mereka saya mesti naik turun angkot ketika hendak bepergian jauh, sekarang, sejak ada Go-Jek, saya tinggal duduk diam di rumah, buka aplikasi, dan pesan. Tak sampai lima belas menit driver mereka datang dan saya berangkat. 

Jangan tanyakan harganya, karena menurut saya masih murah, terjangkau sekali. Hitung-hitungan sederhananya: saya pernah ke masjid raya Bogor menggunakan jasa mereka dan hanya membayar 15rebu! Padahal itu jauh sekali dari tempat saya tinggal, hampir 20 km! Benar, jika menggunakan angkot ongkosnya memang hanya 12rebu, lebih murah tiga ribu. 

Tapi semua itu tak berarti apa-apa karena dengan Go-Jek saya mendapatkan beragam kemudahan. Pertama, saya dijemput dari depan rumah dan diantarkan sampai tujuan. Kedua, dengan menggunakan Go-Jek saya terhindar dari kemacetan dan bisa sampai tujuan tepat waktu, tidak terlambat. Ketiga, keselamatan saya terjamin, karena semua driver mereka terdaftar di pusat dan terdata, si A sedang mengantarkan siapa dan kemana. Keempat, jikapun terjadi apa-apa, Go-Jek memberikan asuransi kepada semua pelanggannya. 

Bayangkan, di jaman serba sembrawut begini, ada nggak sih yang bisa memberikan beragam kemudahan itu seperti Go-Jek? Tidak ada! 

Metromini yang katanya sudah mendapatkan ijin saya beberapa bulan belakangan kecelakaan dan buat ulah terus, trans jakarta yang seharusnya memberikan kenyamanan lebih juga satu dua kali terjadi hal yang tidak diinginkan semisal kecelakaan dan sebagainya. 

Go-Jek benar-benar membantu banyak orang, terutama orang-orang seperti saya yang memiliki kekurangan fisik (disabilitas). 

Selanjutnya, selain beragam kemudahan yang saya sebutkan di atas, kita seharusnya berbangga, karena Go-Jek adalah buatan generasi muda Indonesia. Asli produk dalam negeri. Keberadaannya sudah memberikan lapangan pekerjaan bagi sekitar 200ribu driver mereka. Bahkan, banyak loh, orang-orang yang berhenti bekerja dan memilih menjadi driver Go-Jek. 

Alasannya? Jelas sekali, Go-Jek lebih bisa memberikan penghasilan lebih dibandingkan pekerjaan lama. Lah wong saya pernah nanya ke salah satu driver, berapa penghasilan mereka sebulan. Jawabannya mengejutkan, katanya, "Paling kecil, sehari 250ribu!" 

Berarti sebulan, jika kita asumsikan ia bekerja tiga puluh hari tanpa libur, maka paling kecil adalah 7.5 juta. Itu kan banyak sekali bagi mereka. 

Kesimpulannya, saya bisa pastikan bahwa keberadaan Go-Jek sangat menguntungkan, baik bagi drivernya atau bagi penggunannya. Go-Jek dibutuhkan masyarakat. 

Saya tahu, pemerintah pasti mengerti bahwa Go-Jek memberikan manfaat besar buat masyarakat, hanya saja, entah karena apa mereka kemudian mengeluarkan kebijakan pelarangan kepada semua moda transportasi berbasis aplikasi. Alasannya, keberadaan mereka tidak sesuai dengan Undang-undang. Sebagai masyarakat awam yang tidak begitu tahu masalah beginian, saya miris saja. 

Pertama, sudah jelas Go-Jek dkk memberikan banyak kemudahan yang tidak bisa diberikan pemerintah, sudah jelas keberadaannya dibutuhkan oleh orang banyak, kok malah dilarang? Bukannya pemerintah itu membela rakyat? Bukannya pemerintah itu seharusnya membuat rakyat senang? Lalu mengapa mereka malah melarang? 

Kedua, jika memang keberadaan Go-Jek dkk tidak sesuai dengan Undang-undang, maka seharusnya peraturanlah yang ditata, dibuat sedemikian rupa agar Go-Jek dkk menjadi legal dan bisa berjalan sesuai peraturan. Bukan dilarang. 

Benar saja, pasca keluarnya kebijakan larangan beroperasi bagi Go-Jek dkk, netizen berang. Tagar #SaveGojek jadi trending di twitter. Sampai kemudian, bapak presiden kita yang terhormat mengeluarkan twit juga. Beliau akan menghubungi menteri perhubungan dan menanyakan perihal kebijakan yang terkesan terburu-buru itu. Dan kita semua tahu ujungnya, larangan pada Go-Jek dkk itu kemudian dicabut hanya setelah sekitar satu jam dikeluarkan. 

Hal ini kemudian membuat saya senang dan miris (lagi) sekaligus. 

Pertama, saya benar-benar mempertanyakan, emang peraturan yang dikeluarkan pemerintah itu nggak dikoordinasikan ke presiden dulu ya? Masa presiden kita yang terhormat itu sampai nggak tahu bahwa ada kebijakan yang akan dikeluarkan oleh Jonan? Masa beliau baru berkomentar ketika kebijakan sudah dikeluarkan? 

Yang ada di dalam kepala saya nih ya, seharusnya semua kebijakan yang akan dikeluarkan diberikan ke presiden, biarkan ia membaca dan menyetujui lalu tanda tangan. Jika sudah baru diberikan ke publik. Jika kasusnya seperti Go-Jek kemarin, maka saya mempertanyakan kerja pemerintahan kita, berarti kebijakan itu nggak lewat ke presiden dulu dong? Monggo jika ada yang bisa jawab. 

Kedua, pencabutan kembali kebijakan yang baru keluar bahkan tak sampai satu jam adalah sebuah hal paling menggelikan yang pernah saya dengar. Mereka ini ngurus negara tapi kok kayak main-main. Coba-coba keluarkan peraturan, lihat reaksi masyarakat. Jika tenang-tenang saja, lanjutkan. Jika masyarakat bereaksi negatif terhadap peraturan, Jokowi datang seperti pahlawan kesiangan. Aneh! 

Akhirnya, saya mendoakan semua pejabat kita agar lebih bijak lagi ke depan. Negara ini besar dan untuk mengurusnya nggak boleh coba-coba, semua hal harus dipikirkan matang-matang. Jika ada kasus serupa yang membenturkan kebutuhan rakyat dan undang-undang, maka yang sebaiknya ditinjau ulang adalah undang-undangnya. Bukan rakyat yang dikorbankan. 

Demikian. 

4 komentar

avatar

AKu juga bakalan jadi orang yang dirugikan. Kalau ke mana-mana pergi sama Bang Alif rempong kalu harus naik turun angkot. Semenjak ada Go-Jek enak banget.

avatar

Padahal, pulang ke Indonesia, berminat jadi driver Go-Jek. Ya ampun belum apa-apa udah kisruh aja. :(

BTW! Seperti biasa, ulasan Bang Syaiha KEREN. lANJUTKAN, BANG. ^_^

avatar

Eh ada orang cantik komen dimari... :-D

avatar

Emang sekarang lagi dimana mbak? Lagi di luar negeri ya?

Jangan lupa bawa oleh-oleh kalau pulang ke Indonesia..


EmoticonEmoticon