Like Fanpage Bang Syaiha

Setia Mengabdi Meski Kelas Beratapkan Langit

By Bang Syaiha | Tuesday, 8 December 2015 | Kategori: |

Setia Mengabdi Meski Kelas Beratapkan Langit, Sekolah Guru Indonesia, Bang Syaiha, http://bang-syaiha.blogspot.co.id/
Setia Mengabdi Meski Kelas Beratapkan Langit
Jika buku diibaratkan seorang anak, maka Setia Mengabdi Meski Kelas Beratapkan Langit (SMMKBL) adalah anak pertama saya. Ini adalah buku antologi pertama. Sebelumnya, saya bahkan tak pernah berniat, atau nggak kepikiran bakal menulis sebuah buku bersama teman-teman. Hanya saja, ketika bergabung bersama Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa, saya dkk yang lain diminta menulis sebuah tema yang sama: Pendidikan. Maka mulailah kami menulis. 

Dalam buku ini, setidaknya ada 32 pemuda yang menuangkan tulisannya. Saya ingat sekali, buku ini berisi pengalaman kami ketika mengajar di sebuah kampung bernama Tambleg. Kampung ini berada di atas bukit, sehingga ketika pagi hari atau sedang hujan, kabut sempurna menutupinya dan dingin menusuk-nusuk kulit. Karena hal inilah maka banyak teman-teman yang kemudian menjuluki kampung ini sebagai Kampung Awan. 

Di Kampung Awan ini sarana dan prasarana sangat minim. Sangat terbatas. Waktu itu, tahun 2012, dan ketika saya dkk mengabdi, disana nggak ada listrik, nggak ada sinyal, dan MCK. Malam hari, saya hanya ditemani sebuah lampu templok. 

Tapi luar biasanya, selama disana, walau beragam kekurangan menyapa, saya merasa nyaman, betah dan mengasikkan. Makan setiap malam begitu lahap. Padahal hanya dengan lauk pauk sekedarnya. Paling mewah adalah ikan sarden yang paling saya jumpai seminggu sekali. Selebihnya, hampir setiap hari hanya dengan garam dan cabai saja. 

Pada buku ini, kisah yang dituliskan bermacam-macam. Mulai dari pengalaman mengajar dan menemukan anak-anak spesial. Bertemu guru-guru hebat yang ikhlas melakukan pengabdian hingga bertahun-tahun dengan gaji dan bayaran yang tak bisa dibilang banyak, dan sebagainya. Semua kisah itu diramu menjadi sedemikian indah menjadi sajian yang nikmat. Dan jika boleh mengibaratkan, itu sama saja seperti rajikan gado-gado spesial yang jarang ditemukan. 

Buku ini dicetak oleh Dompet Dhuafa dan tidak dijual bebas. Hanya dijadikan inventaris yayasan dan diberkan kepada siapa saja yang kebetulan berkunjung ke Dompet Dhuafa. Saya sendiri, sebagai salah satu penulisnya hanya menyimpan satu eksemplar saja dan sekarang entah kemana. Mungkin ada yang meminjam tapi kemudian lupa mengembalikan. 


EmoticonEmoticon