Like Fanpage Bang Syaiha

Belajar dari Pakaian Kotor

By Bang Syaiha | Monday, 18 January 2016 | Kategori:

Belajar dari pakaian kotor, genggam erat-erat mimpimu, Bang Syaiha, http://bang-syaiha.blogspot.co.id/
Belajar dari pakaian kotor
Kemarin saya mencuci dua ember besar pakaian kotor. Maklum, saya memang biasanya mencuci satu minggu sekali. Setelah menghabiskan semua baju yang biasa dipakai selama sepekan, barulah saya mencucinya. Mengapa saya yang mencuci? Mengapa bukan istri? Karena bagi saya, berumah tangga itu harus bagi-bagi tugas. Istri saya sudah ada tugasnya sendiri, dan saya kebagian yang ini.

Pagi-pagi sekali, saya sudah mengisi air di mesin cuci dan mulai memasukkan satu demi satu pakaian ke dalamnya. Setelah menambahkan detergen sekucupnya, saya lalu memutar mesin hingga pakaian yang ada di dalam sana bersih: hilang nodanya dan wangi. Kegiatan mencuci pakaian ini selesai sekitar jam delapan tiga puluh pagi.

Setelah itu, pekerjaan berpindah ke istri saya. Ia kebagian menjemur pakaian. Disusunnya pakaian yang sudah saya cuci pada jemuran yang tak seberapa. Istri saya memang memiliki keahlian mengatur semuanya hingga jemuran yang minim itu cukup, mampu menampung semua baju.

Setelah dijemur seharian, disengat panas yang tak mengenakkan, perjalanan baju-baju saya tak berhenti. Mereka akan disetrika dengan suhu yang tinggi. Dilipat rapi dan barulah dimasukkan ke dalam lemari sederhana yang saya miliki.

Perhatikanlah, bahwa untuk sampai ke dalam lemari dan bersemayam nyaman saja, pakaian mengalami beberapa peristiwa yang pasti tak mengenakkan. Mereka dicuci (dalam kasus saya menggunakan mesin cuci), diputar berkali-kali dengan detergen. Dalam kasus yang lain, yang masih mencuci manual, pakaian harus disikat dengan kekuatan yang tidak pelan. Pasti sakit, tidak enak dan tak nyaman. Jika pakaian itu makhluk hidup, pasti ia akan berteriak-teriak minta berhenti. Berontak dan melawan ketika hendak dicuci.

Beruntung mereka hanya selembar kain yang tak ada nyawanya sehingga pasrah saja diapa-apakan.

Selesai dengan putaran mesin cuci yang tak sekali dua kali, pakaian akan dibilas dan diperas di mesin pengering. Sekali lagi, kali ini ia diputar dengan putaran yang tinggi dan pasti tak mengenakkan.

Penderitaan belum selesai, karena setelah itu, pakaian harus disengat panas matahari hingga kering. Akhir dari penjemuran, mereka memang sudah bersih dan wangi. Hanya saja, apakah kita akan menyimpan pakaian itu di lemari langsung?

Tidak! Mereka belum rapi dan harus disetrika dengan suhu yang tinggi. Ini adalah penderitaan kesekian yang harus mereka hadapi seharian. Barulah ketika mereka sudah terlipat dengan baik, kita akan memasukkannya ke dalam lemari. Mereka tenang dan beristirahat disana.

Teman-teman, sadar atau tidak, begitulah hidup kita. Bahwa untuk mencapai tujuan tertentu, harus ada proses yang mesti kita lalui. Entah kita ingin menjadi penulis, pengusaha, penyair, pilot, dokter, atau apa saja, kita harus rela menjalani segala macam penderitaan.

Ambil satu contoh, jika kita ingin menjadi penulis, maka kita harus rela menyisihkan waktu setengah sampai satu jam untuk latihan. Kita harus konsisten menghasilkan sebuah tulisan setiap harinya. Tidak boleh mangkir, apalagi sampai bermalas-malasan.

Setelah berhasil menyelesaikan sebuah naskah, apakah penderitaan kita selesai? Tidak!

Karena boleh jadi, naskah kita akan ditolak penerbit, tidak disukai orang banyak, hingga ada yang melecehkan. Ini adalah proses yang boleh jadi akan kita alami (terutama yang ingin menjadi penulis). Dan ketika proses ini datang, maka keputusan ada di tangan kita, akan terus lanjut dan menggigit kuat-kuat mimpi kita atau berhenti dan menyerah saja?

Menjadi penulis (atau menjadi apa saja) bukan pekerjaan mudah. Butuh ketekunan, kedisiplinan, dan semangat yang pantang menyerah. Di tengah perjalanan menuju kesana, ada banyak hambatan dan rintangan yang boleh jadi akan ditemui. Disini, dibutuhkan komitmen dan kegigihan.

Bayangkan saja pakaian rapi yang ada di lemari kita. Untuk sampai di titik itu, mereka sudah mengalami banyak hal. Dan mereka melewatinya dengan penuh kesabaran (karena mereka bukan makhluk hidup dan tidak mungkin melawan).

Karena itulah teman-teman, tetaplah fokus pada mimpi yang sudah kita tetapkan dan jangan berhenti di tengah jalan. Saya yakin sekali, jika kita tetap mengikuti semua prosesnya dengan benar, lambat tapi pasti, kita akan sampai juga pada tujuan.


Demikian 

12 komentar

avatar

Pagi-pagi sarapannya beginian, mantap!

avatar

Keren pakaian kotor, semoga sampai terlipat rapih... (y)

Begitulah makna proses,sebagaimana proses juga berlaku bagi sejarah Pura Langgar

FENOMENA SEJARAH PURA LANGGAR DI BALI - http://irfanazizi.blogspot.co.id/2016/01/fenomena-sejarah-pura-langgar-di-bali.html?m=0

avatar

Semoga bermanfaat buat sesiapa saja yang membaca..

avatar

terimakasih atas kunjungannya, Mas..

avatar

Keren Bang!
Hal-hal kecil dalam keseharian bisa jadi inspirasi ...
Dulu pun saya bisa dengan gampang ndapetin inspirasi dari hal-hal kecil gtu, tapi semenjak vakum nulis 2 bulan, jadi susah buat dapet inspirasi dan nulis lagi ...

#malah curcol :v hhe

avatar

Keren Bang!
Hal-hal kecil dalam keseharian bisa jadi inspirasi ...
Dulu pun saya bisa dengan gampang ndapetin inspirasi dari hal-hal kecil gtu, tapi semenjak vakum nulis 2 bulan, jadi susah buat dapet inspirasi dan nulis lagi ...

#malah curcol :v hhe

avatar

Hal sederhana bisa menjadi inspirasi, keren bang...

Semoga jadi pakaian yg gampang dicuci, biar penderitaanya nggak lama. Muehehe

avatar

Hal sederhana bisa menjadi inspirasi, keren bang...

Semoga jadi pakaian yg gampang dicuci, biar penderitaanya nggak lama. Muehehe

avatar

Terimakasih sudah berkunjung, Mbak..

avatar

Sekecil apapun kejadian, kita harus bisa mengambil pelajaran dan hikmahnya memang.. hehe

avatar

Semoga betah di ODOP dan bisa terbiasa menulis lagi tanpa berhenti..


EmoticonEmoticon