Like Fanpage Bang Syaiha

[Hari Kedua] Jalan-Jalan ke Kampung Halaman di Lampung

By Bang Syaiha | Wednesday, 6 January 2016 | Kategori: |

Liburan ke Lampung, Bang Syaiha, http://bang-syaiha.blogspot.co.id/
Liburan ke Lampung
Apa yang menarik di hari kedua? Banyak! Saya, istri saya, dan Alif pergi mengunjungi rumah paman. Namanya Lek Jamil. Lek adalah kependekan dari Paklek, sapaan untuk adik orang tua kita dalam bahasa Jawa. Lek Jamil adalah adik almarhum bapak saya. Dan dari keenam adik bapak yang lain, beliau adalah adik yang paling mirip dengan almarhum. Karenanya, setiap kali melihatnya, saya selalu terkenang bapak. Orang paling hebat dalam hidup saya. 

Dari Lek Jamil saya selalu menagih cerita tentang Bapak. Mulai dari bapak kecil hingga dewasa. Dan di hari kedua ini, Lek Jamil menceritakan kembali kisah yang sudah sering ia sampaikan. Bak sebuah dongeng, walau sudah sering saya dengarkan, tetap saja menarik minat dan perhatian. 

"Bapakmu itu memang suka merantau sejak dulu," Lek Jamil memulai kisahnya. "Kaken dan nenek, serta keluarga yang lainnya masih di Jawa, bapakmu malah berangkat ke Lampung sendirian." 

"Jadi bukan program transmigrasi bapak ke Lampung ya, Lek?" tanya saja pura-pura penasaran.

Lek Jamil menggeleng, "Bukan." 

"Kira-kira setahun bapak di Lampung, kakek dan nenek dibawa kesini. Katanya di Lampung tanah masih murah dan luas. Di Lampung lebih menjanjikan masa depan dibandingkan di Jawa." 

"Begitulah, bapakmu lalu memboyong satu demi satu keluarganya dari Jawa ke Lampung. Bapakmu memang pekerja keras, cerdas, dan selalu memberikan pengaruh baik buat banyak orang. Makanya, ketika di Lampung, bapak dipercaya membantu pengurus desa hingga terpilih menjadi lurah." 

Aku mengangguk. Sudah hafal benar sejarah bapak sejak dulu. 

"Merasa di Lampung mulai tak menjanjikan (bapak gagal di pemilihan lurah berikutnya), beliau lalu melanglang buana lagi ke Bengkulu. Sama seperti sebelumnya, beliau berangkat sendirian. Dan setahun berikutnya, bapak kembali ke Lampung dan mengajak serta orang-orang untuk tinggal disana. Katanya, di Bengkulu tanah masih luas dan murah. Di Bengkulu banyak pekerjaan yang bisa dilakukan." 

"Mulailah tiga empat orang mengikuti jejak bapak ke Bengkulu. Dan rejeki bapak memang disana ternyata. Hingga sekarang, keluarga kalian bisa hidup tentram, tidak kurang sesuatu apapun. Sedangkan kami yang di Lampung, ya begini-begini saja sekarang." 

Saya tahu semua kisah bapak. Itu adalah pelajaran sejarah nomor satu yang tidak boleh dilupakan. Dan karena dirinya pulalah maka saya gemar sekali pergi kesana-kemari. Mengabdi di pedalaman Kalimantan, mengisi pelatihan di Malang, menjadi narasumber di Surabaya, dan sebagainya. 

Bagi saya, mendatangi tempat baru adalah sebuah pembelajaran yang baik dan menyenangkan. Akan banyak hal-hal berguna dan pengalaman yang kelak pasti bermanfaat bagi kehidupan. Begitulah setidaknya yang sudah orang tua saya ajarkan. 

Terimakasih, Pak. Semoga kelak, kita bisa kembali berkumpul di Jannahnya. 

Aamiin. 


EmoticonEmoticon