Like Fanpage Bang Syaiha

Jika Anak-Anak Merokok, Siapa yang Harus Disalahkan?

By Admin | Saturday, 23 January 2016 | Kategori:

Jika Anak-Anak Merokok, Siapa yang Harus Disalahkan, Bang Syaiha, Penderita Polio, http://bang-syaiha.blogspot.com/
Jika Anak-Anak Merokok, Siapa yang Harus Disalahkan?
Sepertinya baru dua hari yang lalu, ketika saya selesai shalat berjama’ah Ashar dan leyeh-leyeh di pelataran masjid, saya melihat tiga orang bocah meracuni dirinya sendiri dengan sebatang rokok di jepitan jemari masing-masing. Jarak saya dengan mereka sekitar lima meter, sehingga saya tentu saja bisa menyaksikan dengan jelas apa yang mereka lakukan.

Saya melihat semuanya, bagaimana mereka mulai menyulut rokok, bergantian menggunakan korek api yang hanya satu biji, lalu menghisap racun itu pelan-pelan. Tak menunggu lama, hingga kemudian, di depan mereka mulai bergulung-gulung asap putih, tersembur dari mulut masing-masing. Kelakuan mereka benar-benar seperti perokok profesional, bukan amatiran.

Mungkin karena merasa di perhatikan, salah seorang dari mereka lalu menoleh ke arah saya. Melihat saya sejenak, lalu memalingkan wajah lagi tanpa perlu tersenyum, merasa berdosa, atau apalah. Wajah mereka benar-benar (seharusnya) masih bocah. Tapi, dengan rokok berada di jepitan jemari, mereka tak bisa dianggap lagi sebagai bocah. 

Mungkin lebih dari dua menit saya perhatikan mereka yang asik sekali mengobrol. Hingga kemudian saya merasa jengah. Ada rasa kesal, iba, dan juga prihatin dengan keadaan mereka.

Sejurus kemudian, saya lalu bangkit dan berniat menghampiri mereka, memberikan beberapa nasihat dan pergi pulang. Tapi ketika satu dua langkah saya sudah mengarah ke arah mereka, saya malah memutuskan balik kanan dan tidak mempedulikan. Alasannya? Entahlah, ada rasa malas saja. Takut mereka tak mendengar apa yang saya katakan dan menggerutu.

Sambil berjalan pulang, saya pun mendoakan semoga mereka bisa sadar dan insaf, bahwa yang mereka lakukan tak baik bagi kesehatan. Selain itu, tindakan mereka juga tentu saja menyakiti perasaan orang tua yang sudah bersusah payah menyekolahkan dan memberi uang jajan.

Entah ini kebetulan atau tidak, sehari setelah itu, saya bercengkerama dengan salah satu siswa saya yang hobi sekali membaca berita-berita terkini dan mengumpulkan info-info dalam bentuk grafis. Di laptopnya ada banyak gambar-gambar dengan warna yang menarik dan menyajikan informasi-informasi penting. Saya kemudian memintanya membuka satu koleksinya itu. 

“Coba buka yang ini, San!” kata saya kepadanya, tertarik pada sebuah gambar yang judulnya 10 Orang Terkaya di Indonesia.

Dibukalah gambar yang saya tunjuk barusan dan terpampang, bahwa 3 dari 10 orang terkaya di Indonesia adalah pemilik perusahaan rokok: Gudang Garam, Sampoerna, serta Djarum. Ketiganya memiliki total kekayaan secara berturut-turut adalah 5.5 miliar US Dolar, 1.65 US Dolar, dan 15.4 US Dolar.


Itu adalah kekayaan yang luar biasa banyak. Nggak kebayangkan kalau uang sebanyak itu dibelikan kerupuk semua? Jangan-jangan bisa untuk menutupi satu propinsi, atau bahkan satu pulau? Entahlah.

Selesai menyaksikan gambar itu, saya kemudian teringat lagi pada tiga bocah yang sehari sebelumnya saya saksikan di pelataran masjid itu. Dalam hati berujar:

“Duh, adik-adik. Kalian ini masih muda kok sudah merokok? Padahal, dari pakaian, sepatu, dan tas yang kalian kenakan saja, saya sudah bisa memastikan bahwa kalian pasti bukan berasal dari keluarga berada. Orang tua kalian mencari uang kesana kemari, kesusahan. Dan setiap kali mendapatkan uang, pasti disediakan buat kalian sekolah, belajar lebih baik agar bisa menjadi panutan di masa depan.”

“Kalian itu generasi harapan keluarga, diberi pendidikan karena orang tua kalian pasti sadar, bahwa tidak berpendidikan itu, hidupnya bakalan susah. Apalagi di negeri kita yang semakin semrawut begini.”

“Demi pendidikan, orang tua senantiasa rela memberikan uang belanjanya kepada kalian. Untuk jajan di sekolah, takut sekali kalian kelaparan. Nah, sudah dipercaya begitu, mengapa kalian malah menyedekahkan uang yang tak seberapa itu kepada orang-orang yang memang sudah kaya?”

“Seharusnya, kalau memang mau bersedekah, bukankah lebih baik kepada pengamen-pengamen jalanan yang memang berjuang demi anak dan keluarga? Atau, bukankah lebih baik kepada ibu-ibu yang senantiasa berdiri di pinggir jalan sambil menengadahkan tangan? Mereka miskin dan memang membutuhkan uang.”

“Atau jika tidak, sisihkan saja uang itu, ditabung dan jangan dibelanjakan. Siapa tahu, di kemudian hari kalian butuh uang. Butuh untuk beli buku, peralatan sekolah, atau sepatu.”

Tentu saja, mereka tak mendengar semua yang saya katakan. Itu hanya jeritan hati, ungkapan kejengkelan atas sikap sebagian besar generasi muda kita yang bertindak pongah dan sulit diharapkan.

Jika ingin mencari siapa yang salah, tentu semua akan saling tunjuk. Rumah bilang sekolah yang salah, karena banyak guru yang seenaknya merokok di depan siswa dan tidak berpikir bahwa tindakan mereka tak baik.

Sekolah bilang yang salah adalah orang tua, juga lingkungan. Karena banyak toh, orang tua yang tak ingin anaknya merokok tapi mereka justru melakukannya tanpa beban di depan anak-anak? Lingkungan apalagi! Hampir bisa dipastikan, setiap beberapa meter kita berjalan, selalu akan dijumpai orang-orang yang gemar meracuni diri sendiri.

Jika sudah begini, anak-anak akan bagaimana lagi? Mereka peniru yang handal. Dan seperti tiga bocah yang saya temukan di pelataran masjid tadi, enak saja mereka memperagakan seperti yang sering mereka saksikan. Merokok seperti profesional. Bukan amatiran.


Akhirnya, saya selalu berdoa dan berharap anak saya tidak demikian kelak. Saya tentu harus berhati-hati mendidiknya, berhati-hati memilihkan pendidikan yang baik dan tepat guna. Karena sekali saja salah memberikan pendidikan dan lingkungan kepadanya, celaka lima belas jadinya. 

Demikian. 

1 Response to " Jika Anak-Anak Merokok, Siapa yang Harus Disalahkan? "

  1. Kalo ditanya siapa yg salah pasti susah jawabnya bang karena kita ga bisa menyalahkan satu pihak. Saat saya nanti jadi orang tua saya akan berusaha mendidik anak sebaik mungkin sebelum akhirnya anak mengenal dunia luar yang makin hari ga karuan

    ReplyDelete