Like Fanpage Bang Syaiha

Ketika Anak Lebih Dekat kepada Pembantu

By Bang Syaiha | Tuesday, 26 January 2016 | Kategori: |

Ketika Anak Lebih Dekat kepada Pembantu, Bang Syaiha, penderita polio, http://bang-syaiha.blogspot.co.id/
Ketika Anak Lebih Dekat kepada Pembantu
Bang Syaiha,” katanya pada sebuah pesan singkat, “perkenalkan, nama saya Indah –bukan nama sebenarnya. Saya adalah salah satu pembaca setia tulisan-tulisan Bang Syaiha. Alhamdulillah, darisana saya mendapatkan banyak ilmu dan pelajaran.”

“Begini, Bang,” ujarnya kemudian, “sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan, terkait kegundahan yang saya miliki sekarang.”

Lengang sejenak. Sekitar satu menit tidak ada pesan singkat lagi. Saya pikir Indah tak jadi meluapkan kegelisahannya saat itu juga. Tapi saya salah. Karena beberapa jenak kemudian,  cerita itu datang.

“Saya adalah seorang ibu, sudah punya anak satu dan tumbuh dengan sangat baik. Dan letak masalahnya itu disitu, Bang, tentang anak saya.”

Saya khidmat membaca pesan singkatnya pelan-pelan.

“Setelah menikah, saya langsung bekerja di sebuah perusahaan besar di Indonesia, Bang. Saya bingung hendak menolak atau menerima tawaran dari mereka karena iming-iming yang mereka sodorkan lumayan besar. Wajar saja, pasalnya, saya memang sudah bekerja disana sejak lama. Sempat berhenti sejenak ketika hendak menikah dan kemudian saya dihadiahi jabatan yang rasa-rasanya sulit sekali untuk ditolak.”

“Akhirnya saya mendiskusikan semuanya dengan suami dan memutuskan menerima pekerjaan itu.”

Sampai disini, saya masih berpikir, beruntung sekali Indah. Saat orang lain kesulitan mencari pekerjaan, dia malah ditawari dengan gampang. Tinggal melenggang saja.

“Bekerjalah saya disana dan beberapa bulan kemudian saya hamil. Semuanya berjalan normal, pekerjaan saya lancar dan saya bisa melahirkan dengan tenang. Uang dan segala kebutuhan ada. Gaji saya besar dan mampu memenuhi semuanya.”

“Setelah melahirkan, pekerjaan saya menumpuk dan mau tidak mau harus mempekerjakan seorang baby sitter di rumah. Agar anak saya tidak terbengkalai dan ada yang mengurusi.”

“Intensitas bertemunya saya dan anak saya memang jarang sekali. Pasalnya saya harus bangun pagi-pagi dan segera berangkat ke kantor –jarak kantor dan rumahnya jauh, belum lagi ditambah jalanan yang macet. Karena itulah Indah harus berangkat pagi-pagi. Selanjutnya, saya baru akan sampai di rumah ketika malam sudah larut. Anak saya tentu sudah tidur dan saya tak mungkin membangunkannya.”

“Perusahaan tempat saya bekerja itu perusahaan besar, Bang. Sehingga tekanan dan target yang harus dikejar juga tak tanggung-tanggung. Harus begini dan harus begitu. Karena itulah kemudian pikiran dan tenaga saya habis disana, pulang-pulang sudah lelah. Saya langsung mandi dan tidur juga. Bahkan mencium kening anak saya saja jarang saya sempatkan.”

“Begitulah rutinitas yang saya hadapi bertahun-tahun hingga kemudian, di sebuah akhir pekan, saat saya dan keluarga memutuskan jalan-jalan ke taman bunga. Anak saya manangis karena sesuatu hal. Sebagai seorang ibu, saya lalu berinisiatif hendak menggendongnya, Bang.”

“Saat itulah, ketika tangan saya terbuka dan siap memeluknya, anak saya malah menolak dan langsung berlari ke baby sitternya –kebetulan memang hari itu dia ikut bersama kami jalan-jalan. Pembantu saya itu sudah memberikan buah hati saya ke saya, tapi tetap saja ia tidak mau, menolak mentah-mentah uluran tangan saya.”

“Saya menangis dalam hati, Bang. Bagaimana bisa, anak saya sendiri, darah daging saya, justru lebih dekat ke baby sitter dan menolak saya sedemikian hebat? Saya yang mengandungnya sembilan bulan, melahirkannya ke dunia dengan taruhan nyawa dan rasa sakit yang teramat sangat. Sekarang, ketika ia menangis, yang dituju adalah pembantu saya. Pelukan saya ditolaknya.”

“Dari situ kemudian saya sadar, kedekatan saya dan dirinya yang memang jarang terciptalah yang membuat semuanya demikian. Saya merasa berdosa dan berkeinginan segera keluar dari pekerjaan, Bang. Saya ingin memperbaiki semuanya dan semoga saja belum terlambat.”

Begitulah cerita Indah. Sebuah kisah yang membuat saya terharu. Dan melalui pesan singkat itu, dia hanya ingin menumpahkan keluh kesahnya saja, tidak meminta saran apapun kepada saya. Indah sudah menemukan jalan keluarnya sendiri dan semoga saja semuanya mash bisa diperbaiki.

Nah, dari tulisan ini, saya ingin menyampaikan sebuah pelajaran penting, bahwa perempuan memang sering kali  demikian. Ketika ia bercerita, sebenarnya, mereka hanya ingin menumpahkan semua masalahnya saja. mereka tidak meminta solusi, mereka hanya ingin didengarkan. Dan ketika curhatan selesai diceritakan, biasanya mereka akan lega sekali. Merasa ada yang peduli, dan kemudian, beban di pundak mereka terkurang banyak sekali.

Begitu juga Indah. Ia panjang lebar menceritakan semuanya kepada saya dan saya jarang menimpali. Cuma berkata di ujung percakapan kami, “Keputusan yang akan ibu ambil saya rasa sudah benar. Setelah keluar kerja, cobalah untuk tetap berpenghasilan dengan melakukan kegiatan dari rumah saja, Bu. Pengalaman ibu bekerja di perusahaan besar yang sudah bertahun-tahun, pasti bisa dijadikan modal ilmu yang baik.”

“Iya, Bang Syaiha, terimakasih sudah bersedia mendengarkan keluh kesah saya.”


Demikian. 

10 komentar

avatar

Satu lagi dilema ibu bekerja ya, Bang. Seperti saya ....

avatar

Saya yakin....hatinya hancur....

avatar

Jadi ingat ibu yang memutuskan berhenti bekerja ketika saya lahir. Terkadang saya iri pada teman2 yang ibunya bekerja, mereka bebas main kemana saja tanpa terbelit ijin. Lha saya, harus ijin dan mencuri-curi waktu agar nggak ketahuan sama ibu. Tapi sekarang saya benar2 bersyukur punya ibu yang full time untuk anak-anaknya.
Numpang curhat bang, hehehe

avatar

Majikan saya juga begitu. Berharap anak akan lebih dekat ke ibunya, namun tidak. Ia justru lebih akrab ke pembantu rumahnya karena pembantu rumah selalu ada bersama anaknya. Kami sedikit demi sedikit membantu, agar anak dekat dengan ibunya. Setiap mereka sudah pulang, kami tinggalkan anaknya bersama oranga tuanya. Tapi, masalah lain timbul, karena orang tua juatru asyik berselancar di media sosial, selain itu masih membawa pekerjaan kantor ke rumah. Saya fikir, orang tua sendiri yabg harus mempunyai inisiatif untuk berubah, bukan malah sakit hati jika anaknya dekat dengan pembantu rumah yang menjaganya.

avatar

Iya, bener.. Selalu ada kelemahan dan kelebihan masing-masing..

avatar

Hancur berkeping-keping..

avatar

Nah, tuliskan tuh curhatannya mbak.. Keren pasti..

avatar

Sebenarnya, sesibuk apapun tetap bisa dekat dengan anak jika bisa mengatur pertemuan dengan baik dan berkualitas.. Bener begitu, kan mbak?

avatar

Bang syaiha ini menulis kegundahan hati saya juga. T-T syukurlah anak saya ini diasuh sama orang tua saya sendiri. Jadi ya ga cemburu-cenburu amat kalau dia lebih senang digendong kakeknya daripada saya. Tapi tetap saja ada yang kurang sreg di dasar hati Yang paling Dalam. Hehehe

avatar

Syukurlah kalau masih diasuh oleh kakek dan neneknya..
Setidaknya masih keluarga sendiri, orang tua sendiri..


EmoticonEmoticon