Like Fanpage Bang Syaiha

Melempari Bak Mobil Truk Pengangkut Kelapa Sawit di Jalanan

By Bang Syaiha | Thursday, 21 January 2016 | Kategori:

Mobil truk bak terbuka, Bang Syaiha, http://bang-syaiha.blogspot.co.id/
Mobil truk bak terbuka
Jarak SD dan rumah saya dulu adalah sekitar 6 – 7 km. Dan walau kaki saya begini, pincang, saya melewatinya sering dengan berjalan kaki. Hanya saja, tentu, saya selalu menjadi orang yang paling belakang sampai rumah. Bisa selisih setengah sampai satu jam dibandingkan yang lain. Wajar dong, saya kan jalannya pelan dan tidak bisa lebih cepat dibandingkan mereka. 

Beruntungnya, walau tak bisa berjalan cepat dan selalu menjadi orang paling terakhir sampai di perumahan, selalu saja ada dua orang yang menemani. Saya tidak pernah berjalan sendirian. Mereka, yang menemani saya, adalah sahabat karib, sebut saja nama mereka Hendra dan Makmun (ini nama sebenarnya dan kisah ini nyata!). Ketika itu, di tahun 90-an, di kampung kami tidak ada angkutan umum, tidak ada bus, apalagi taksi seperti yang berkeliaran di kota-kota. 

Tidak ada!

Jalanan dari sekolah hingga rumah kami masing-masing hanyalah jalan aspal yang lengang. Kalaupun ada kendaraan, paling-paling hanya truk pengangkut kelapa sawit atau mobil colt bak terbuka yang sering digunakan untuk mengangkut sayuran ke pasar tradisional. 

Di masa itu, gadget juga belum berkembang seperti sekarang. Tidak ada pemutar musik seperti mp3, tidak ada permainan canggih yang beredar di desa kami. Hiburan kami sepanjang jalan itu hanya bercerita. Mengulangi kisah ketika di jewer oleh pak Subur, guru olah raga kami. Menjelaskan betapa menyenangkannya pelajaran IPA bersama pak Jabir, atau saling menjelaskan pelajaran Matematika, mengulangi materi yang sudah dijabarkan pak Zahari. 

Sepanjang jalan, secara tidak langsung kami belajar. Maka jangan heran, jika formasi bintang kelas memang hanya kami bertiga. Saya juara satu, Hendra juara dua, dan Makmun juara tiga. Tidak ada satupun siswa yang mampu menggeser kami bertiga.

Hingga ketika kami semua sudah bercerita dan kehabisan bahan, Hendra berinisiatif mengambil sebiji batu kecil. Paling hanya sebesar jempol kakinya. Digenggamnya batu itu, di lemparkan pelan-pelan ke atas dan ditangkap kembali. Hingga ketika ada sebuah truk melintas, ia iseng melemparkan batu yang dipegang ke baknya. 

Pletak!! 

Bergelotakan suara benturan antara batu yang Hendra lempar dengan papan bak truk. Mobil tidak berhenti, tetap melaju kencang dan tak mempedulikan apa yang kami lakukan. Menyaksikan itu, kami semua tertawa. Entahlah apa yang lucu. Pokoknya, kami tertawa saja, lepas dan ringan sekali. Seringan kapas yang tertiup angin, kami senang bukan main. 

"Sekarang gantian aku!" ujar saya waktu itu, langsung mencari batu kecil dan menunggu sebuah truk melintas. 

"Itu Syaiha, ada truk!" Hendra dan Makmun berseru. Saya mengacungkan jempol, bilang dengan bahasa tubuh itu, "Siap!

Ketika truk itu mendekat, saya mengambil posisi dan melemparkan batu kecil yang saya genggam. Pletak! Bergelotakan lagi suaranya. Memecah keheningan yang tercipta sejenak dan kami kemudian terbahak-bahak sambil memegangi perut masing-masing. 

"Sekarang giliranku!" ujar Makmun tak mau kalah, "Kita lihat saja, pasti suara lemparanku akan lebih kencang." 

Ia mengambil sebongkah batu kecil dan bersiap-siap melempar jika ada truk yang melintas lagi. Dan benar saja, tak sampai lima menit, sebuah truk terlihat dari kejauhan. Mobil itu berwarna kuning, berjalan pelan, dan bak belakangnya kosong. Makmun melakukan ancang-ancang dan siap melempar. 

Pletak!! 

Suara lemparannya memang jauh lebih keras dibandingkan lemparan kami berdua tadi. Tapi kali ini saya dan teman-teman tak jadi tertawa karena bersamaan dengan lemparan Makmun barusan, mobil yang kami candai itu mendecit keras, menghentikan lajunya dan sang sopir keluar, berjalan menghampiri kami. Menyadari hal itu, Hendra langsung lari kalang kabut, sedangkan saya dan Makmun diam tak bergerak. 

"Mati aku!" pekik saya dalam hati. 

Makmun menyeret-nyeret tangan saya, “Ayo Syaiha, kita lari!”

“Aku nggak bisa lari, Mun. Kau saja yang kabur, sebelum semuanya terlambat. Sana pergi!” jawab saya, heroik sekali. Seperti seorang teman yang rela berkorban untuk teman lainnya.

Tapi nyatanya, Makmun juga tak mau meninggalkan saya. Kami berdua diam. Menundukkan kepala seperti pesakitan yang siap di eksekusi mati.

Saya tidak mungkin lari. Lah wong kaki kanan saya aja pincang. Saya tidak bisa kabur dan kemudian hanya bisa pasrah saja. Terbayanglah kalau-kalau saya bakal dibawanya pergi dan dibuang begitu saja di sungai atau di pantai dengan kepala yang terpenggal.

Waktu itu, di kampung saya memang sedang heboh cerita-cerita penculikan. Kata orang-orang, ada begal yang berkeliaran dan menangkapi anak-anak. Tujuannya, anak-anak akan dijadikan tumbal, digorok lehernya dan kepala korban akan di tanam di bangunan-bangunan besar yang akan dibangun.  

Benar-benar mistis! Melebihi film-film horor sekalipun!

Sopir truk itu berperawakan besar. Ia mengenakan kaos oblong yang lusuh, berkumis tebal dan bercelana jeans yang di bagian dengkulnya sobek. Perutnya agak sedikit buncit dan bergoyang-goyang ketika berjalan mendekat. 

Berjarak 10 meter di samping kiriku, Hendra bersembunyi. Dia memanggil-manggil nama saya dan Makmun, mengajak lari dan kabur saja. Saya tidak bisa. Kedua kaki saya seperti disemen di aspal dan tak bisa digerakkan. 

Saat itulah, ketika sopir yang terlihat sangar itu semakin dekat, ketika bibir hitam yang ada kumis tebal di atasnya terlihat cemberut dan tak ramah, saya menangis. Air mata saya keluar seperti bendungan yang pecah. Mengalir sejadi-jadinya. 

"Ampun, pak. Ampun.." ujar saya, "Jangan bawa saya, pak. Ampun.." 

Pak sopir yang waktu itu sudah berdiri di depan saya, boleh jadi heran melihat sikap saya barusan. Ia diam sejenak lalu berkata, "Jangan melempar batu sembarangan ya, Nak. Nanti kalau kena kaca mobil bagaimana? Menggantinya kan mahal. Kamu punya uang buat menggantinya?" 

Saya menggeleng sambil sesenggukan. Bahu saya masih berguncang, menangis. 

"Sudah, sekarang jangan ulangi lagi ya." 

"Iya, pak. Maaf." 

Setelah itu, pak Sopir yang saya kira penculik tadi meninggalkan kami begitu saja. Tidak melakukan apapun kecuali hanya menjewer kami pelan sambil menasihati dengan baik.

Begitulah, sebuah kejadian yang tidak mungkin saya lupa. Dan hingga sekarang, ketika saya melihat sebuah truk melintas di depan saya, potongan kisah kecil di atas selalu hadir dalam bentuk yang menyenangkan (tidak menakutkan lagi). Saya akan tersenyum simpul, atau sesekali tertawa kecil dalam hati sambil mengingat Hendra dan Makmun. 

Semoga kalian juga mengingat kisah itu ya!

4 komentar

avatar

Masa kecil tanpa gadjet sangat menyenangkan.

avatar

Iya, mbak..
Seru aja kayaknya..
Kadang-kadang malah pengen ngulang lagi ke masa itu..

avatar

Si Makmun setia kawan ye bang

avatar

Iya, mbak.. Kedua-duanya emang setia kawan..


EmoticonEmoticon