Like Fanpage Bang Syaiha

Yang Saya Tulis adalah Apa yang Saya Alami

By Bang Syaiha | Monday, 25 January 2016 | Kategori: |

Yang Saya Tulis adalah Apa yang Saya Alami, Bang Syaiha, Penderita polio, http://bang-syaiha.blogspot.co.id/
Yang Saya Tulis adalah Apa yang Saya Alami
Saya melihat jam di pojok kiri bawah layar laptop saya, sudah menunjukkan pukul 13.10 WIB dan saya belum menulis apapun. Ada beberapa ide yang berkeliaran, tapi tidak jadi saya tuliskan karena merasa belum matang dan belum saatnya dikeluarkan. Nanti-nanti saja, ketika saya sudah siap dan tepat, maka baru saya tuliskan.

Menghasilkan tulisan itu, bagi saya, sama seperti orang hamil dan melahirkan. Harus didiamkan dulu di rahim benak kita hingga utuh, sehat, dan lengkap. Harus dijaga dan diberi nutrisi yang tepat dan tidak boleh asal-asalan. Makanya, ketika ada ide yang menarik, saya akan renungkan dulu, akan dituliskan kapan, dituangkan dari sudut pandang yang bagaimana, atau sebagainya. 

Biasanya, yang saya tuliskan adalah apa yang saya alami sehari-hari. Termasuk ide yang sedang liar di kepala saya ini, semuanya berdasarkan kisah sendiri yang saya alami. Saya selalu percaya, bahwa sekecil apapun yang terjadi di kehidupan kita, pasti ada hikmah dan pelajaran yang bisa diceritakan.

Seperti waktu itu, saya lupa entah kapan. Saya pernah menghasilkan sebuah tulisan hanya karena melihat air tergenang di halaman sekolah saya di Kalimantan.

Air itu, rumus kimianya adalah H2O. Unsur-unsur pembentuknya adalah hidrogen dan oksigen. Kedua unsur ini, baik hidrogen atau oksigen, adalah zat yang mudah terbakar dan mudah meledak. Matahari buktinya, ia bisa tetap hidup dan membara sampai saat ini adalah karena gas hidrogen di dalamnya masih melimpah dan banyak.

Kelak, jika gas hidrogen disana habis, maka matahari akan padam dan boleh jadi kiamat akan datang.

Selanjutnya, oksigen. Gas ini adalah gas yang juga dibutuhkan pada pembakaran. Jika ia tidak ada, maka mustahil pembakaran bisa dilangsungkan. Contohnya, hidupkan saja sebuah lilin kecil dan taruh di atas piring, lalu tutup dengan gelas. Nanti, ketika gas oksigen di dalamnya habis maka api akan mati dengan sendirinya.

Kemudian, kedua zat yang mudah terbakar ini, ketika disatukan menjadi air, H2O, dengan mekanisme tertentu, justru menjadi senyawa yang tidak bisa dibakar. Bagaimana bisa? Tentu saja ini adalah rahasia Allah dan kemaha-hebatan-Nya.

Saya tidak akan menjelaskan tentang mengapa air tidak bisa dibakar. Akan tetapi, dari air ini saya mengambil sebuah kesimpulan penting, bahwa ketika ada dua orang disatukan dalam hubungan pertemanan, pernikahan, atau persaudaraan, maka seharusnya mereka bisa bersikap seperti air: menghilangkan ego dan kepentingan pribadi demi kemaslahatan bersama.

Begitulah, saya pernah menulis tentang itu semua hanya dengan melihat air sedang tergenang di halaman sekolah.

Selanjutnya, saya juga pernah menulis tentang kematian yang bisa datang kapan saja. Idenya berasal dari anak saya, Alif, yang gemar sekali mengganggu ketentraman semut yang sedang lewat di hadapannya. Semut itu tak bersalah, Alif juga. Dia tidak tahu.

Nah, Alif ini sebenarnya ingin mengambil dan memegang semut yang lewat. Ia penasaran dan ingin tahu. Tapi karena motorik halusnya belum bekerja maksimal, gerakan tangannya yang ingin mengambil dengan lembut malah menjadi sebuah pukulan dan membuat semut mati mengenaskan.

Saya senyum-senyum saja menyaksikan semua ini dan kemudian berpikir tentang ide tulisan, bahwa kematian bisa datang kapan saja. Bisa sekarang, nanti sore, besok malam, bulan depan, setahun lagi, atau kapanpun.

Dan tentu saja masih banyak lagi tulisan-tulisan saya yang idenya dari hal-hal sepele. Saya tidak pernah memikirkan tulisan saya itu akan kemana dan jadi apa kelak. Saya tidak peduli.

Bagi saya, menulis ya menulis saja. Seperti postingan sederhana ini misalnya. Apa coba ide pokoknya? Saya sendiri nggak tahu, gagal paham dan tidak mengerti. Awalnya saya hanya ingin menulis bahwa saya tidak bisa menulis, eh tahunya jadi sepanjang ini.

Begitulah, tulisan adalah anak-anak kita. Maka percaya saja, ia pasti akan tumbuh dan berkembang. Jika itu sudah terjadi, maka mereka akan menemukan nasibnya sendiri. Tidak usah dipusingin, tulis saja apa yang ada di kepala dan biarkan banyak orang membaca.


Demikian 

9 komentar

avatar

Lagi ga ada ide nulis eh nulisnya sepanjang ini. Gimana kalo ada ide ya

avatar

Anak2 yg lahir dr impian, ngga punya ayah. *eh, terkejut sendiri, haha

avatar

Anak2 yg lahir dr impian, ngga punya ayah. *eh, terkejut sendiri, haha

avatar

Ketika tidak tahu, kita jadi berfikir lebih banyak. Menulis lebih banyak.

avatar

Ah, saya masih belajar kok, mbak.. Jangan berlebihan..

avatar

Ayahnya adalah inspirasi, ibunya adalah wawasan yang ada di kepala.. hehehe

avatar

Iya, mbak.. bener banget..
Rajin nulis itu secara nggak langsung kita juga rajin belajar..

avatar

Jam terbang memang tidak pernah bohong..

Inspirasi dan wawasan bersatu lalu dituangkan dalam bentuk nyata (rajin menulis).

Hasilnya?
*baca tulisannya bang syaiha*

avatar

Terimakasih sudah berkunjung, Intan.. hehe


EmoticonEmoticon