Like Fanpage Bang Syaiha

Jangan Jadi Blogger yang Sok Pintar

By Bang Syaiha | Thursday, 4 February 2016 | Kategori:

Jangan Jadi Blogger yang Sok Pintar, Bang Syaiha, Penderita polio, http://bang-syaiha.blogspot.com/
Jangan Jadi Blogger yang Sok Pintar
“Aku agak males euy kalau ngobrol sama dia!” kata seorang kawan. Wajahnya terlipat dan jelek sekali. Bibirnya manyun dan benar-benar tak menyenangkan dipandang mata.

“Emang kenapa? Bukannya kalian sering jalan berdua? Dalam pandangan saya, kalian pastilah teman baik.”

Sambil mengangkat bahunya, teman saya ini berkata lagi, “Teman biasa saja, Bang. Bukan teman baik.”

“Oh.” Saya berkata singkat, “Lalu, apa yang membuatmu tak menyukainya?”

Setelah merapikan duduknya, teman saya ini menjelaskan, “Begini Bang, entah kenapa, setiap kali mengobrol dengannya, saya menangkap (dari raut wajah dan nada bicaranya), bahwa ia sepertinya merasa sok pintar. Semua-semua dikomentari. Seakan-akan mengerti segala hal, merasa terbaik sejagad dan menganggap pendapat orang lain salah. Tidak ada yang benar kecuali pendapatnya sendiri.”

Saya lalu menelan ludah. Diam dan tak bisa berkata apa-apa, merenung dalam-dalam.

Apa yang saya renungkan? Tentu saja kalimat teman saya barusan, tentang ketidaksukaannya pada orang yang bicaranya sok pintar. Tentang temannya yang selalu berkomentar pada semua kejadian dan seolah-olah ia adalah yang paling benar.

Saya tercenung. Pertama, karena takut kalau-kalau penyakit itu juga ada pada diri saya. Takut kalau apa yang saya sampaikan boleh jadi tidak disukai banyak orang. Siapa sih saya, kok berani-beraninya menerima curhatan orang banyak dan kemudian menjawabnya dalam bentuk tulisan?

Berani-beraninya saya memberikan ‘solusi’ masalah keluarga dan rumah tangga, padahal keluarga sendiri saja baru berusia seumur jagung. Belum lama dan pengalaman menjalaninya belum seberapa.

Siapa sih saya? Nekat sekali mengajak orang melakukan gerakan One Day One Post, memberikan kuliah online tentang kepenulisan dan blogging, sedangkan semua itu juga baru saya jalankan beberapa tahun lalu, belum lama dan ilmu saya juga tak seberapa.

Ya Tuhan, takut sekali rasanya kalau ada orang (apalagi teman) yang tersinggung karena tulisan yang saya buat dan saya sebarkan. Mohon dimaafkan jika memang ada yang demikian.

Kedua, mengapa saya tercenung? Jawabannya adalah karena penuturan teman saya di atas tulisan ini, menyadarkan kepada saya tentang pentingnya menulis hal-hal yang kita ketahui saja, yang dekat dengan kita, dan kita menguasainya.

Mungkin karena itu juga, mengapa selama ini, tanpa saya sadari, saya kurang suka (tidak tertarik) membaca tulisan-tulisan di website atau blog yang isinya tentang suatu hal, tapi penulisnya tidak menguasai. Kelihatan sekali kok kalau penulis itu meraba-raba, mengarang-ngarang cerita sehingga bahasanya tidak nyambung.

Apalagi jika kemudian ia sengaja mencari-cari bahasa yang njelimet, beranggapan bahwa semakin tinggi diksi yang dipakai, akan mengundang orang untuk betah membacanya. Beranggapan bahwa semakin susah dimengerti kalimatnya, maka orang-orang akan menganggapnya intelektual yang hebat.  

Tidak.

Tulisan seperti ini, yang diksinya ribet dan penulisnya tidak menguasai materi yang dituliskan, membuat saya (juga sebagian besar pembaca lain) tidak betah berlama-lama.

Tulisan adalah bentuk komunikasi non verbal yang tujuan utamanya adalah menyampaikan pesan. Maka untuk mencapai tujuan itu, gunakanlah hal-hal yang mudah, yang tidak membingungkan sesiapa saja yang membacanya.

Seilmiah apapun tulisan yang disampaikan, jika ia diposting di website atau blog, maka gunakan padanan kata yang sederhana saja. Bersahaja dan mudah diterima oleh siapapun.

Sama seperti dalam kehidupan sehari-hari, pembaca-pembaca blog kita juga pasti tidak suka dengan orang-orang yang sok pintar. Tidak mengerti tentang kasus Mirna secara mendalam, lalu menuliskannya bak detektif Conan. Tidak mengerti banyak tentang pangan, tapi ngoceh panjang lebar seperti profesor kenamaan.

Jangan begitu.

Menulislah apa-apa saja yang kita ketahui dan gunakan bahasa sehari-hari. Pakai bahasa seperti saat kita sedang mengobrol dengan orang lain. Itu jauh lebih menyenangkan dibandingkan menuliskannya dengan pemilihan kata yang membingungkan.

Demikian. 

7 komentar

avatar

Ah bener bang. Tugas minggu pertama dari ODOP ini kesempatan untuk menuliskan hal yang kita kuasai dengan baik

avatar

Orang sok pintar dan selalu komen seakan dia paling benar? Spesies manusia ini 80% hidup di keluarga saya hahaha

avatar

Waah, bener juga. Saya jdi inget tulisan saya yg judulnya antara diet dan ferrari.

avatar

Waah, bener juga. Saya jdi inget tulisan saya yg judulnya antara diet dan ferrari.

avatar

Semoga bisa dijalani dengan baik, mbak..
Semoga menjadi pembelajaran buat kita semua..

avatar

Itu nggak masuk kategori sok pinter kok, mbak..
Itu catatan pribadi saja, tentang kejadian yang sedang dibicarakan orang-orang..


EmoticonEmoticon