Like Fanpage Bang Syaiha

Mengapa Namanya Polisi Tidur?

By Bang Syaiha | Monday, 22 February 2016 | Kategori:

Mengapa namanya polisi tidur, Bang Syaiha, penderita polio, http://bang-syaiha.blogspot.co.id/
Mengapa namanya polisi tidur
Kemarin, Ahad 21 Februari 2016 saya mengikuti pelatihan Neuro Linguistik Programming (NLP) seharian. Dari pagi hingga petang. Sudah selama itu pun, kata pengisinya masih kurang. Materi tentang NLP ini panjang dan seharusnya dibutuhkan waktu hingga berhari-hari untuk bisa menyampaikannya secara lengkap dan menyeluruh. 

Maka kemarin, walau sudah seharian duduk manis mendengarkan ilmu yang didiskusikan, rasanya masih dangkal sekali pemahaman yang saya dapatkan. Masih kulit-kulitnya saja dan harus diperdalam kembali nanti. 

Yang saya tangkap dari pelatihan kemarin adalah tentang melakukan komunikasi yang efektif dan efisien. Bahwa untuk bisa menyampaikan pesan dengan baik (juga mengharapkan respon yang sesuai dari lawan bicara), kita harus memperhatikan banyak hal. Mulai dari pemilihan kata yang tepat, mampu mendengarkan, sabar, dan sebagainya. 

Bagi saya pribadi, pelatihan kemarin benar-benar bermanfaat dan semoga bisa saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari kelak. 

Pelatihan kemarin dilakukan di Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa. Letaknya di jalan Parung. Itu adalah lokasi yang jauh dari rumah kontrakan saya. Jika menggunakan motor, perjalanan yang ditempuh nyaris satu jam dan melelahkan. 

Nah, disitulah poin yang akan saya tulis di postingan kali ini. Bukan tentang materi NLP-nya, tapi tentang pengalaman unik dan keisengan saya ketika menuju lokasi pelatihan. Kalau di bagian atas tadi saya bahas tentang NLP, itu hanya prolog, nggak penting buat dibaca sebenarnya. Hehe..

Ketika kami menempuh perjalanan menggunakan motor (dalam hal ini, saya nebeng sama temen yang juga ikut pelatihan), kami menemukan banyak sekali polisi tidur. Itu loh, gundungan di jalan aspal yang fungsinya agar kendaraan tidak terlalu ngebut. Isenglah saya bertanya: 

"Mas, tau nggak sih, mengapa gundukan begitu disebut polisi tidur?"

Teman saya sempat diam sejenak lalu menjawab sekenanya, "Nggak, mas. Nggak pernah kepikiran sampai kesana." 

Saya sendiri heran, kok saya sampai mikir kesana ya? Apa untungnya coba? Tentu saja tidak ada. Tapi, pemikiran itu kan datang dari apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Nah, karena kemarin ngeliat polisi tidur sampai puluhan, maka iseng saja saya bertanya demikian. 

Kata tidur itu, konotasinya adalah negatif. Bener nggak? Udah percaya aja. Nggak usah ngeyel deh. Nih saya kasih beberapa contoh. 
Anggota dewan tidur
Kalau denger kata itu, apa yang kalian bayangkan? Pasti gambaran tentang beberapa wakil rakyat yang mendengkur di gedung kehormatan saat rapat, bukan? Enak saja mereka tidur disana! Mereka kan dipilih dan digaji oleh uang negara untuk memikirkan rakyat. 

Jengkel bukan main kalau ada kamera yang menangkap beberapa orang disana tidur terlelap sambil duduk. Rasa-rasanya pengen jitak saja. Biar bangun dan segera bekerja. 
Guru tidur
Jika mendengar kata ini, hati kita boleh jadi akan marah-marah, "Guru itu kerjaannya adalah mengajar dan mendidik siswa menjadi lebih baik. Bukannya tidur! Jika tidur melulu dan tidak masuk kelas, bagaimana siswa bisa menjadi pintar?" 
Siswa tidur
Ini juga nggak baik. Guru pasti akan marah jika ketika ia mengajar eh malah ada siswanya yang mendengkur. Apalagi kalau sampai ngiler. Alamat bakal mendapatkan teguran nih peserta didik. Panggil ia ke ruang BK dan nanti akan diinterogasi mengapa sampai tidur mendengkur di kelas ketika ada pak Pur mengajar tentang alat ukur. 

Sama seperti guru, siswa pun tidak boleh tidur. Keduanya harus aktif di kelas melakukan proses belajar mengajar demi masa depan yang gemilang. 
Menantu tidur
Ini bahaya! Apalagi jika ia tidur pagi-pagi ketika sedang di rumah mertuanya. Misal, anak menantu perempuan sedang liburan di rumah mertua. Nah, pas pagi-pagi, selepas shalat shubuh nih menantu malah tidur lagi hingga siang hari. 

Kalau begini kelakuannya, mertua pasti akan jengkel dan bilang, "Perempuan kok jam segini masih tidur! Tak patut.. Tak patut.."

Pun sama dengan menantu lelaki kalau sedang berkunjung ke rumah orang tua istrinya. Jagalah sikap dan jangan tidur terus seharian. Ngapain kek. Nyiram bunga, bantu nyangkul di kebun, atau apa saja deh. Yang penting jangan tidur aja kerjaannya. 

Dari empat contoh di atas, terbukti bahwa kata tidur memiliki konotasi negatif. Artinya adalah malas (atau tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya). Guru tidur, bisa kita katakan ia guru yang malas. Juga ketiga contoh yang lain, kata tidur identik dengan kemalasan. 

Pertanyaan berikutnya adalah, lalu mengapa gundukan di jalan aspal yang membuat laju kendaraan melambat itu dinamakan polisi tidur? 

Jika kata tidur pada empat contoh di atas identik dengan kemalasan, apakah kita kemudian akan bilang bahwa maksud nama itu, polisi tidur, adalah demikian. Polisi tidur, polisi kita malas-malas.  

Jadi, polisi-polisi dulu malas mengantur lalu lintas yang padat di jalanan. Hingga kemudian mereka mengusulkan sebuah ide brilian: "Buat saja gundukan di jalanan yang bentuknya melintang. Dengan demikian, setiap pengendara tidak akan berani lagi kebut-kebutan dan balapan liar." 

Melihat hal ini, masyarakat lalu nyeletuk, "Mengatur lalu lintas seharusnya tugas mereka. Lah ini malah buat gundukan. Mereka pasti bisanya cuma tidur saja di pos. Dasar polisi tidur!" 

Celetukan itulah yang sampai sekarang menjadi nama gundukan di jalan aspal itu. Apakah demikian? Aih, tentu saja tidak. Karena sampai sekarang, saya juga tidak tahu asal mula penamaan polisi tidur. Saya tidak tahu mengapa dinamakan demikian. 

Padahal, akan lebih tepat jika dinamakan guspal, gundukan aspal. Guspal lebih elegan dan tidak diskriminatif kepada polisi. Guspal lebih netral. 

Tapi ya sudahlah, tidak usah dipikirkan. Toh, catatan ringan ini hanya sebagai penggugur kewajiban saya saja dalam mengikuti program One Day One Post. Sempat bingung mau menulis tentang apa, hingga kemudian terlintas bahwa seharian ini saya melewati polisi tidur nyaris seratusan. 

Maka saya tulislah demikian.. 

25 komentar

avatar

Seratusan polisi tidur? Wah, pasti perjalanan yang panjang banget...

avatar

Polisi tidurnya banyak banget, Drey.. Perjalanannya sih cuma 1 jam.. Cuma polisi tidurnya itu loh..

avatar

Haha.. asal mula polisi tidur ala bang syaiha 😁😁

avatar

yang harusnya mengurusi lalu lintas kan polisi, mungkin karena kemalasan jdi dibuatlah ide brilian....

hm,
tulisan penggugur kewajibannya bagus bang...

avatar

Haha.. asal mula polisi tidur ala bang syaiha 😁😁

avatar

Iseng doang yaa.. Jangan percaya..

avatar

Hahaha poka yoke! Klo dedek bilang jadi polisi bobok :p

avatar

Hahaha poka yoke! Klo dedek bilang jadi polisi bobok :p

avatar

Polisi bobok terdengar imut banget.. Hahaha

avatar

seharusnya dikasih bantal sekalian polisi tidurnya ... gak nyambung hahaha

avatar

Bang syaiha.. Saya ngakak di bagian menantu tidur nya. Hahhahaha.. Bang syaiha ini kepikiran sampai ke situ juga sih... Hahhaha

avatar

hahah,,, membaca nya sambil senyum

avatar

Alhamdulillah kalau begitu, bisa buat orang senyum-senyum..

avatar

Soalnya saya sering tidur di rumah mertua. Tapi untungnya nggak dimarahin.. hehe

avatar

Makin nyenyak deh tuh polisi..

Makin nggak nyambung..

avatar

Haha..spt nya tentang "menantu tidur" bang syaiha menjiwai banget...xixixi...

avatar

Haha..spt nya tentang "menantu tidur" bang syaiha menjiwai banget...xixixi...

avatar

tapi emang pas sih bang kayaknya nama polisi tidur dengan konotasi yg disebutkan di atas. hehe

avatar

Sudah dipraktikkan mbak, makanya bisa menjiwai.. Hehe

avatar

Hahaha.. Bisajadi.. Bisajadi..

avatar

Ha ha... Mantap. Kalau gundukannya dari beton seperti di kampung aku, apa dong namanya?
Oh ya, Odop udah mulai hari ini ya Bang?

avatar

Ha ha... Mantap. Kalau gundukannya dari beton seperti di kampung aku, apa dong namanya?
Oh ya, Odop udah mulai hari ini ya Bang?

avatar

Mulai tanggal 1 Maret 2016..

avatar

Padahal aku sudah penasaran dengan NLP-nya. Ilmu bagus tuh. Kalau nggak salah, kaitan antara bahasa dengan pikiran bawah sadar. Kalau nggak salah lagi, ada semacam "keyword" khusus yang dapat mengontrol perilaku orang lain hanya dengan pemilihan bahasa yang tepat. #SotoyModeOn #Wkwkwk. Request bang, kapan-kapan nulis tentang NLP lah. Hehehe ...


EmoticonEmoticon