Like Fanpage Bang Syaiha

Pecat Saja Semuanya!

By Bang Syaiha | Sunday, 7 February 2016 | Kategori:

Pecat saja semuanya, PHK, Bang Syaiha, Penderita polio, bang-syaiha.blogspot.co.id
Pecat saja semuanya
“Sebelum di Gojek, pernah kerja dimana aja mas?” itu pertanyaan saya kemarin kepada salah satu driver Gojek. Sudah menjadi kebiasaan saya memang, selalu mencoba berkenalan kepada siapa saja yang ada di dekat saya, menyapa ramah dan bertanya banyak hal.

Jika ia merespon baik, maka saya akan mencoba semakin dekat dan mengakrabi. Tapi jika tidak, maka saya berhenti dan tidak bertanya lagi.
  
“Saya pernah bekerja di beberapa tempat, Pak,” jawabnya masih sambil menatap ke depan, menghindari lubang jalanan dan melewati celah-celah kemacetan, “Tapi yang paling lama di perusahaan X. Sepuluh tahun saya disana.”

“Sepuluh tahun?” saya terbelalak, untung kedua mata saya tidak keluar. “Itu kan sudah lama sekali, mas. Kenapa kemudian keluar?”

“Ceritanya panjang, Pak.”

“Ceritakan saja, mas. Toh perjalanan kita masih panjang dan saya punya banyak waktu buat mendengarkan.” Ujar saya dalam hati saja.

“Saya memutuskan keluar karena manajemen perusahaan sepertinya sudah tidak nyaman.”

“Oh.”

“Sejak berganti kepemimpinan, perusahaan sepertinya sengaja mengeluarkan orang-orang lama. Ada-ada saja masalah yang dikeluarkan. Padahal, masalah serupa, sebelumnya tidak pernah diperpanjang. Dibiarkan saja dan bukan sebuah hal besar.”

“Maksudnya bagaimana, mas?” saya berlagak pilon.

“Misalnya nih ya, Pak. Pernah salah satu perusahaan supplier mengajak beberapa manager makan-makan di restoran. Maklumlah, bagaimanapun, supplier ingin barangnya tetap dipasok dan jangan sampai berpindah ke orang lain, bukan? Maka ketika makan-makan itu, mereka memberikan uang ke beberapa manager, setiap orang satu juta. Uang terimakasih katanya.”

“Hal seperti ini sudah biasa dan tidak pernah dipermasalahkan sebelumnya. Tapi kali ini tidak. Karena satu hari berikutnya, mereka langsung mendapatkan surat pemutusan kerja. Nggak ada nego-nego dan peringatan. Langsung dipecat.”

“Lalu, apa salahnya manajemen, mas? Bukannya itu memang tidak diperbolehkan? Kalau di benak saya, itu namanya praktik suap dan itu memang dilarang.” saya berujar dalam hati saja.

“Perusahaan kayaknya sengaja mengeluarkan pegawai-pegawai lama.”

“Untuk apa, mas?” saya bertanya lagi.

“Menghemat pengeluaran.”

“Loh?”

“Bagaimanapun perusahaan adalah lembaga profitable, mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan (kalau bisa) modal yang seminim-minimnya. Jadi, dengan segala cara, mereka berusaha memperkecil anggaran keluar. Dan yang paling mudah adalah memecat pegawai lama, yang gajinya sudah besar-besar, lalu menggantinya dengan pekerja baru yang bisa digaji lebih kecil.”

“Sejahat itukah?”

“Begitulah yang terlihat, Pak.”

*****

Nah, karena percakapan singkat kemarin, saya lalu berdiskusi kepada beberapa teman yang memang bekerja di sebuah perusahaan. Dan mereka, sebagian besar memang membenarkan. Praktik itu ada, perusahaan sengaja (tentu dengan mekanisme tertentu) mengeluarkan beberapa orang karena beberapa hal dan menggantinya dengan orang lain.

“Jangan salah Bang Syaiha,” kata salah satu teman saya di whatsapp, “ada loh satu perusahaan yang siklus keluar masuk pekerjanya cepat sekali. Mereka sengaja merekrut anak-anak muda yang baru lulus dan ‘mengeluarkan’ pekerja lama yang sudah berpengalaman.”

“Tujuannya apa? Agar anggaran pengeluaran mereka bisa lebih ditekan. Anak-anak muda yang baru lulus itu bisa digaji jauh lebih rendah dan semangat kerja mereka spartan. Jadi perusahaan akan untung dua kali lipat.”

“Kasihan pekerja lama dong?” saya memotong penjelasannya.

“Dalam dunia bisnis, mana ada perusahaan kasihan sama pekerjanya. Hubungan perusahaan dan karyawan adalah hubungan profesional, bukan hubungan kekeluargaan. Dan lagi, pemilik modal tentu tidak ingin aset yang telah dibangunnya kolaps dan ambruk. Dengan segala cara, mereka bisa melakukan apa saja.”

“Pekerja di perusahaan harus benar-benar pintar dan segera berpikir untuk bisa mandiri. Berdiri di atas kaki sendiri,” katanya lagi menjelaskan, “sehingga ketika nanti, pahit-pahitnya dia dikeluarkan, dia sudah siap dan ada tetap ada pemasukan.”


Saya kemudian hanya manggut-manggut, berlagak paham. 

5 komentar

avatar

Great Bang! Be the leader, siap dengan segala kemungkinan, memimpin diri sendiri, atau kalau bisa memimpin banyak orang. :D

avatar

Great Bang! Be the leader, siap dengan segala kemungkinan, memimpin diri sendiri, atau kalau bisa memimpin banyak orang. :D

avatar

tulisan yang mantap, saya begitu menyukai tema-tema yg seperti ini ( bahasan tentang perusahaan, bisnis, manajemen).

avatar

Iya.. jadi ingat perkataan seseorang, "Lebih baik menjadi kepala di kampung sendiri, daripada jadi ekor di negeri orang.."

Terimakasih sudah mampir..

avatar

Terimakasih sudah mampir, mas..


EmoticonEmoticon