Like Fanpage Bang Syaiha

Pelajari Ilmunya Dulu atau Langsung Segera Menulis?

By Bang Syaiha | Thursday, 11 February 2016 | Kategori:

Pelajari Ilmunya Dulu atau Langsung Segera Menulis, bagaimana menghasilkan tulisan yang baik, berlatih menulis sesering mungkin, Bang Syaiha, Penderita polio, http://bang-syaiha.blogspot.co.id/
Pelajari Ilmunya Dulu atau Langsung Segera Menulis?
Buat yang ingin menjadi penulis, baca dua skenario di bawah ini sampai tuntas. Jangan setengah-setengah. Saya berani jamin, setelah membacanya hingga selesai, kalian akan mendapatkan ilmu yang (semoga saja) bermanfaat.

Skenario 1

Sekarang mari kita bayangkan, ada seorang perempuan yang minat sekali dengan dunia masak-memasak. Dia punya keinginan keras hendak menjadi koki paling hebat di negaranya, kalau bisa bahkan sampai level dunia. Dia bermimpi bisa menghasilkan sebuah hidangan yang jauh berbeda dari yang sudah ada, nikmat, dan tiada bandingan.

Untuk memenuhi semua ambisinya itu, dia lalu mengikuti banyak kelas memasak. Menghadiri beragam seminar dan pelatihan. Setiap ada pameran tentang alat-alat memasak, tak lupa ia datang berkunjung.

Tidak sampai disana, ia bahkan telah selesai membaca ribuan buku tentang resep masakan. Mulai dari negara bagian timur hingga yang paling barat, mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks. Seharusnya, dengan ilmu yang sudah dimilikinya, ia bisa menghasilkan masakan yang nikmat.

Bertahun-tahun sudah ia habiskan untuk memenuhi kepalanya dengan beragam ilmu tentang dunia masak-memasak. Usianya juga semakin bertambah tua. Tapi sampai pada titik ini, ia bahkan belum pernah memasak. Mengapa? Karena ia berpikir bahwa lebih baik menimba ilmunya dulu, baru dipraktikkan.

Baginya, memasak bukanlah hal yang bisa dikerjakan dengan mudah. Maka ilmu dan pengetahuan tentangnya harus digenapi terlebih dahulu. Harus diselesaikan terlebih dahulu. Ia harus mengerti kegunaan masing-masing bumbu masak, efek samping dan manfaat, atau apa saja.

Sekarang, ilmu yang sudah ada di kepalanya banyak sekali. Jika diibaratkan sebuah bak penampung air, ia bahkan sudah penuh dan luber kemana-mana. hanya saja, malangnya, ketika ia mencoba mempraktikkan ilmu yang telah didapatkan, ia gagap.

Bahkan untuk menghasilkan sebuah hidangan sederhana saja, ia membutuhkan waktu yang lama. Itu terjadi karena ia benar-benar presisi, menimbang setiap bumbu yang akan dimasukkan, mengukur setiap rempah-rempah yang akan ditambah. Sesuai ilmu yang sudah didapatkan, bahwa memasak itu tidak boleh asal-asalan, harus pas komposisinya agar rasa menjadi tak terkalahkan.

Skenario 2

Di lain tempat, ada juga seorang perempuan yang ingin sekali menjadi koki handal. Ia ingin bisa memasak dan menghasilkan hidangan yang nikmat. Malangnya, ia tak mempunyai cukup biaya dan kesempatan sehingga tidak bisa mengikuti pelatihan dan seminar tentang bagaimana caranya memasak.

Yang bisa dilakukan hanya membaca buku-buku resep masakan yang ia dapat dari kios buku-buku loak. Ia pelajari dan kemudian langsung mempraktikkannya langsung. Ia mencoba tanpa menunggu lama. Karena ia juga tak punya uang untuk membeli timbangan digital, maka ia tak bisa menimbang setiap bumbu yang harus ditambahkan.

Ia mengambil setiap bumbu sekenanya dengan ujung jemari. Mengira-ngira dan memasukkannya ke alat masak. Ia mengaduk-aduk sejenak, mencicipi, lalu menambahkan lagi jika masih ada yang kurang enak di lidah.

Hal ini, mencoba pelan-pelan, ia lakukan sepanjang tahun. Di saat perempuan lain yang punya mimpi sama dengannya getol sekali mengikuti pelatihan dan seminar, ia justru kumal di dapur. Mencoba-coba beragam resep yang ia kreasikan sendiri.

Nah, dari dua skenario ini, menurut kalian, mana yang akan punya peluang lebih besar menjadi koki paling handal? Apakah perempuan yang pertama? Atau apakah yang kedua?

Coba sebutkan jawaban kalian di kolom komentar dan berikan alasannya.

Jika sudah, sekarang coba ganti setiap skenarionya dengan orang yang ingin menjadi penulis (bukan koki lagi). Kasus pertama, ada orang yang ingin menjadi penulis dan sibuk kesana-kemari menuntut ilmu tapi tidak mempraktikkannya segera.

Kasus kedua, ada orang yang ingin jadi penulis juga tapi nggak punya uang. Akibatnya, ia tak bisa ikut pelatihan kesana-sini, hanya bisa banyak membaca dan segera mencoba.

Nah, kira-kira, mana yang akan sampai pada tujuan duluan?


Selamat berpikir. 

14 komentar

avatar

Yang kedua deh bang kayanya. Soalnya pengalaman praktikum di lab, saat langsung praktek itu juga bisa dgn belajat teori

avatar

I like learning by doing.. Lebih faham kalau langsung praktek

avatar

I like learning by doing.. Lebih faham kalau langsung praktek

avatar

Yang kedua bang. Bang mohon bantuannya, saya ini pingin bisa menulissss. Tp ani g tau harus dari mana bang.mohon bimbingannya bang.salam kenal

avatar

sederhana tapi sangat realistis. haqqul yakin. :)

avatar

Setuju...lebih realitsis yg kedua. Hehehe trial and error

avatar

Benar, saya juga setuju dengan yang kedua..

avatar

Harus darimana agar bisa menulis? Dari segera menulis dan tidak menunda-nunda..

avatar

Terimakasih sudah berkunjung..

avatar

Trial and eror sampai bisa.. jangan menyerah dan berhenti di tengah jalan..

avatar

Bang seriusan ini ya. Ini ni motivasi super yg universal yg paling keren yg pernah saya baca. Bamg boleh nggak saya idolakan anda sekarang. Saya baru baca dua artikel di blog ini dan langsung jadi jatuh hati dg kesederhanaan dan tajam langsung menusuk jati. Tank U.

avatar

no 2 bang. smbil praktek... sambil banyak belajar, banyak pengalaman. hehe

avatar

Penulis itu yah menulis,, yg kedua bang.. :)


EmoticonEmoticon