Like Fanpage Bang Syaiha

Suami Istri Jangan Saling Menyalahkan!

By Bang Syaiha | Wednesday, 10 February 2016 | Kategori:

Suami Istri Jangan Saling Menyalahkan, masalah dalam berumah tangga, istri tidak bisa diandalkan, suami tidak bekerja, bang Syaiha, penderita polio, http://bang-syaiha.blogspot.com/
Suami Istri Jangan Saling Menyalahkan
Berumah tangga itu seperti permen nano-nano, ramai rasanya! (ngomong-ngomong, permen ini masih ada nggak ya?) Mulai dari yang manis-manis, sampai yang pahit getir sekalipun, semuanya ada. Dari yang baik-baik dan lancar saja, hingga yang menyesakkan, membuat kita menangis, dan kesal.

Banyak contonya, semisal, bisa saja nanti, ketika telah berumah tangga bisnis suami tidak berjalan mulus, bangkrut dan susah untuk mencari uang. Atau suami di PHK dan susah lagi mencari kerja. Dua contoh ini adalah cobaan bagi istri, bisakah ia bersikap sabar dan terus membersamai, atau malah sebaliknya? Balik kanan dan meninggalkan suaminya pergi?

Bisa juga, barangkali istri tidak bisa diandalkan. Manjanya setengah mati. Kerjaan di rumah tidak ada yang beres tapi suka sekali pergi-pergi. Uang bulanan selalu habis sebelum tanggal gajian datang lagi, dan sebagainya. Atau paling simpel, ia tidak hati-hati dan uang yang sudah lama disimpan malah disikat orang yang tak punya hati.

Ini pernah terjadi pada Mamak saya, dulu. Entah mengapa, hari itu mamak tergerak hatinya untuk membawa semua uang tabungan ke pasar (padahal biasanya tidak).

Bagi sebagian besar orang di jaman sekarang, uang segitu, yang jumlahnya sekitar 3 jutaan mungkin tak seberapa banyak. Hanya saja, pada masa dulu (kejadian ini terjadi ketika saya masih SD, tahun 90-an), uang sejumlah itu tentu mengagumkan. Bisa untuk makan berbulan-bulan. Pasalnya, harga barang-barang belum semahal sekarang.

Jadi, mamak pergi ke pasar seorang diri. Hendak belanja keperluan dapur dan beberapa keperluan lain. Saya pun tak lupa melepas kepergian mamak sambil berkata penuh harap, “Mak, nanti belikan martabak sama sate padang yaa..” dua makanan kesukaan saya ini memang menjadi oleh-oleh terbaik setiap kali mamak pergi ke pasar.

Siangnya, mamak pulang membawa pesanan saya. Saya senang bukan alang kepalang. Tapi saya heran ketika mamak justru menangis, terisak, dan langsung ke kamar. Pergi meninggalkan saya seorang diri.

Dan ketika bapak pulang dari tempat kerjanya, mamak langsung menghambur dan bersujur di kakinya.

“Maafkan mamak, pak. Maafkan..”

Mendapatkan perlakuan demikian, tentu saja bapak heran. Begitu juga saya, berhenti sejenak menikmati tusuk demi tusuk sate yang daging ayamnya semakin kecil saja.

“Mamak udah ngilangin semua uang tabungan kita, pak. Maafkan..”

Sambil manggut-manggut dan tidak ikut sedih (apalagi menangis), saya tetap saja lahap menikmati makanan yang ada di hadapan, berujar dalam hati, “Oh, uang hilang toh..”, tidak ikut sedih sama sekali. Saat kejadian terjadi, saya masih belum mengerti banyak hal.

Bapak meminta mamak berdiri dan berkata singkat, “Yaudah, nggak apa-apa. Uang masih bisa dicari lagi, kok.”

Sesimpel itulah. Bapak tidak marah ke mamak, tidak ngambek, apalagi sampai memukul. Dan saya belajar banyak hal dari kejadian tersebut, bahwa dalam kehidupan berumah tangga, yang rasanya memang seperti nano-nano, kita tidak boleh saling menyalahkan.

Sekarang, ketika saya semakin mengerti tentang kehidupan, saya baru menyadari betapa keputusan yang diambil bapak adalah keputusan terbaik. Tidak menyalahkan mamak.

Tak bisa dibayangkan bukan, seandainya bapak justru marah-marah dan kalap? Apalagi sampai berkata kasar dan bilang, “Makanya, lain kali hati-hati! Lagian, cuma ke pasar saja, ngapain sampai harus bawa uang semuanya? Kalau udah begini kan kita akan kesusahan mau makan apa? Perempuan sial! Kamu tuh dari dulu benar-benar tidak bisa diandalkan!”

Itu ucapan dan tindakan sia-sia. Karena toh tidak akan serta merta mengembalikan uang yang hilang bukan? Pun begitu ketika suami mengalami hal yang tidak mengenakkan. Bangkrut dari usaha yang dijalankan, dipecat dari pekerjaan, mendapatkan penghasilan yang kecil setiap bulan, dan sebagainya.

Jika mengalami hal itu, suami jangan disalahkan. Mereka butuh dukungan dan penghargaan.

Pendapatan suami kecil misalnya, katakan saja, “Terimakasih ya, Mas. Alhamdulillah bulan ini masih ada pemasukan. Insya Allah segini juga cukup. Semoga bulan depan rejeki kita bertambah dan menjadi lebih baik.”

Kan enak tuh. Daripada mencak-mencak dan membentak suami, “Mas ini bisa kerja lebih baik nggak sih. Uang segini mana cukup untuk makan sebulan! Jadi lelaki kok kerjanya malas-malasan terus!”

Suami memutuskan berhenti bekerja dan berusaha lalu bangkrut. Jangan salahkan, bilang baik-baik dan halus, “Nggak apa-apa, mas. Ini semua kan proses. Nikmati saja, anggap sebagai pembelajaran untuk lebih baik ke depan. Aku yakin kok, kalau mas fokus dan belajar dari kegagalan ini, pasti usaha yang mas jalankan bisa sukses ke depan.”

Cakep kan!

Jangan justru kalap dan marah nggak ketulungan, “Lagian, mas ini udah kerja enak, gaji besar, malah keluar dari pekerjaan. Mas itu nggak cocok jadi wirausahawan. Mas itu nggak tahan banting, nggak kreatif, dan nggak bisa cari peluang. Udah, cari kerja lagi aja. Dapur kita harus tetap ngebul, mas!”

Ini nggak bener. Istri (atau juga suami) seharusnya bisa saling mendukung, saling menopang, dan jangan mudah saling menyalahkan. Kalaupun ada yang ingin disampaikan, maka gunakanlah bahasa yang bijak dan pilihlah waktu yang tepat.

Begitu..

5 komentar

avatar

Bang syaiha.. Saya suka sekali dengan postingan ini. Beberapa hal yang bang syaiha ilustrasikan di atas pernah menimpa saya..Dan ya, kuncinya memang cuma sabar dan tidak boleh saling menyalahkan..hehhe

avatar

Semoga kita tetap bisa selalu dalam kesabaran tidak mudah menyalahkan ya, mbak..

Terimakasih sudah berkunjung..

avatar

Allah bersama orang-orang yang sabar...


EmoticonEmoticon