Like Fanpage Bang Syaiha

Ketika Suami Berkata Cerai

By Bang Syaiha | Monday, 1 February 2016 | Kategori:

Suami Saya Bilang Cerai, Bang Syaiha, Penderita polio, http://bang-syaiha.blogspot.co.id/
Suami Saya Bilang Cerai
Kemarin sore, ketika sedang menikmati secangkir kopi ternikmat buatan istri, sebuah pesan singkat masuk melalui blackberry maasenger saya. Ada yang bertanya tentang talak. Ia bilang, “Bang Syaiha, kalau suami bilang ‘saya ceraikan, kamu!’ itu udah jatuh talak ya?

Saya mengernyitkan dahi sejenak, ingat apa yang pernah dikatakan guru ngaji dahulu, “Sudah, mbak. Itu sudah jatuh talak satu.”

Tak berselang lama, pesan saya berbalas, dari mbak yang sama. Bertanya lagi, “Tapi dia ngomongnya pas lagi marah, BangSyaiha. Nggak serius dan terbawa emosi. Itu sah juga? Masa sih jatuh talak?”  

Saya menggelengkan kepala pelan, ini orang kok ngeyel amat sih, “Memang begitu, mbak. Dalam Islam, ucapan talak, baik disampaikan serius atau bercanda, maka hukumnya sah. Makanya, seorang suami harus bisa menjaga lisan dan mengontrol emosinya. Suami nggak boleh bicara seenaknya.”

“Lalu, solusi yang harus saya lakukan apa, Bang?”

“Rujuk saja, mbak. Setelah itu sampaikan pada suami untuk hati-hati kalau ngomong. Emosi boleh, tapi perkataan tetap jangan asal-asalan.”

*****

Teman-teman sekalian, inilah mengapa suami harus bisa lebih sabar dibandingkan istrinya. Karena perkataan suami itu sakti sekali. Entah dia bercanda atau tidak, sekali dia bilang cerai, maka sah ucapannya.

Ucapan cerai ada dua macam: pertama, ucapan tegas, jelas, dan memang menggunakan kata cerai atau talak. Misalnya, “Saya ceraikan kamu!” atau, “Saya menjatuhkan talak kepadamu sekarang.” Jenis ucapan yang pertama ini, baik serius atau tidak, maka sudah jatuh talak kepada istrinya. Dan jika belum rujuk, maka dilarang berhubungan badan.

Ucapan talak yang kedua adalah: perkataan sindiran. Tidak jelas apakah maksud perkataan itu cerai atau bukan. Misalnya, suami berkata kepada istrinya, “Sekarang kamu pulang saja ke rumah orang tuamu,” atau “Mulai malam ini kita tidur terpisah dulu saja ya.”

Jika seorang suami mengucapkan kata jenis kedua ini, maka si istri berkewajiban menanyakan, “Mas, maksud ucapanmu barusan apa? Apakah kau menjatuhkan talak kepadaku?”

Jika iya, maka jatuhlah talak. Tapi jika tidak, maka tidak.

Bagaimana rujuk dari talak satu? Perlukan menikah ulang?

Untuk menjawab ini, maka ada dua kondisinya. Pertama, jika rujuk disampaikan sebelum masa iddah selesai (belum tiga kali suci dari sejak talak diucapkan), maka mereka tidak perlu melakukan nikah ulang. Suami cukup berkata, “Maafkan aku telah khilaf mengatakan cerai. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi dan ingin rujuk denganmu sekarang.”

Kondisi kedua, jika masa iddah sudah selesai baru suami meminta rujuk lagi, maka mereka perlu melakukan nikah ulang.

Demikian. Semoga bermanfaat buat mbak yang bertanya kemarin. Jika ada yang kurang sesuai, sudilah kiranya teman-teman memberkan masukan di kolom komentar. 

5 komentar

avatar

istri pun harus sama-sama bisa menjaga emosi, kalau marah-marah saja ya pasti suami juga kesal, akhirnya keceplosan sampai bilang ditalak.
tapi yaa kondisi tiap rumah tangga berbeda sih, yang paling penting kedua-duanya harus sama berpikiran dewasa dan sabar.

avatar

Sepakat bang! Suami harus lebih sabar dari istri, karena perempuan biasanya lebih bawel. hehehe

avatar

Aq jg sepakat. Tidak boleh sembarangan mengatakan cerai.

avatar

Ahahaha jd inget pelajaran munakahat pas semester 5:D


EmoticonEmoticon