Like Fanpage Bang Syaiha

Tiga Hal Hebat di Film KMGP

By Bang Syaiha | Tuesday, 9 February 2016 | Kategori:

nonton film KMGP, Bang Syaiha, Penderita polio, http://bang-syaiha.blogspot.com/
Penonton Film KMGP Membludak
Kemarin, hari Senin, tanggal 8 Februari 2016, hari libur. Awalnya, saya nggak punya rencana apapun, kecuali ingin istirahat, memeluk guling lebih lama, bermalas-malasan di kasur saja. Hingga sebuah pesan singkat masuk, mengajak saya nonton film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP).

Mendapatkan ajakan itu, tanpa pikir dua kali saya langsung mengiyakan, berkata kepada teman yang menawarkan, “Kalau begitu, saya ambil tiket gratisnya dua ya, buat saya dan istri. Boleh?”

“Boleh, mas. Silakan.”

Jadilah kemarin, saya dan istri (juga bersama Alif) menyaksikan film KMGP. Saya berangkat ke tempat yang telah dijanjikan sekitar jam setengah sepuluh pagi menggunakan jasa Gojek. Pertama karena lebih simpel, dijemput dari rumah dan diantarkan sampai tujuan. Nggak repot. Kedua, menggunakan Gojek, saya bisa terhindar dari kemacetan. Ketiga, karena tidak macet, maka saya sampai tepat waktu dan tidak terlambat.

Ini bukan promosiin Gojek loh ya. Tapi memang begitu yang saya alami sampai sekarang. Sejak mengenal Gojek, saya jarang naik kendaraan umum lain (semoga pemilik Gojek membaca catatan ringan ini dan saya dapat diskon kalau pakai jasa drivernya..).

Kami menonton di Bogor Trade Mal. Ada 8 orang yang bersama saya seharusnya. Hanya saja, karena satu orang tiba-tiba saja membatalkan, maka satu tiket gratis yang kami pegang terpaksa nggak dipakai. Sayang banget, kan?

Padahal saya sudah bilang ke teman, “Itu bapak cleaning service ajakin nonton aja. Kasih tiket yang satu tadi ke dia gih!”

“Itu bapak kan lagi kerja, Bang Syaiha!”

“Ya nggak apa-apa, coba aja. Siapa tahu mau.”

Teman saya tidak berkenan memberikan tiket itu dan bapak-bapak yang saya tunjuk barusan hilir mudik mengangkut sampah dari ruangan teater, melewati kami, menunduk-nundukkan kepala, tersenyum. Kami balas senyumannya tulus.

Ketika kami akan menonton, gedung bioskop ramai. Padat merayap seperti tumpukan kendaraan di jalanan ibu kota. Maju sedikit, rem. Berhenti. Antri. Maju lagi, tak berapa lama sudah ngerem lagi.

“Sudah seperti orang bagi sembako aja ya!” seru salah satu penonton, saya nggak tahu siapa. Ada di arah kanan saya, arah pukul tiga (kemampuan kepramukaan saya muncul seketika).

Mendengar itu, saya lalu semakin pelan berjalan. Takut jatuh dan terinjak-injak. Soalnya, setiap kali bagi sembako, kan selalu ada korban. Entah pingsan atau malah meregang nyawa. Kan nggak lucu aja, kalau sampai ada berita, “Salah Satu Penonton KMGP Meninggal Karena Terinjak-Injak Saat Antri Hendak Mengambil Tiket!”

Tapi beruntungnya, itu hanya khayalan saya saja. Kemarin semuanya berjalan lancar. Kami menonton film KMGP beramai-ramai, penuh.

Nah, sebelum menonton itu, ada sambutan dulu dari panitia penyelenggara nonton bareng ini. Ada Komunitas Pecinta Film Islami (KOPFI) Bogor (ini komunitas kerjaannya nonton film terus kayaknya. Jadi pengen ikutan), Bank BJB Syariah, dan ACT.

Jadilah acara nonton itu seperti kegiatan formal. Seperti rapat-rapat organisasi atau malah seperti hajatan-hajatan besar. Apalagi disana ada Bima Arya dan keluarganya, sengaja diundang dan diminta juga memberikan sambutan.

Setelah sambutan selesai, barulah film diputar dan kami semua khidmat menyaksikan.

Di awal-awal adegan, saya masih belum mendapatkan gregetnya film ini. Berasa semuanya berjalan datang dan biasa saja. Hingga pada sepertiga film sampai ending, barulah saya merasakan betapa film ini luar biasa.

Ini nggak main-main. Sungguh. Saya tidak membesar-besarkan atau melebih-lebihkan. Ini adalah film yang seharusnya diproduksi lebih banyak dan disebarkan. Film ini hebat! Mengapa?

Pertama, film ini didanai oleh masyarakat dari hasil patungan. Mengapa didanai oleh masyarakat? Karena Bunda Helvy, sebagai penulis cerpennya, tidak ingin ada nilai kebaikan yang hilang di dalamnya. Kalau bisa malah ditambahkan. Bunda Helvy ingin film ini murni, sesuai kaidah Islam dan tidak melenceng.

Karena hal inilah maka Bunda Helvy tidak ingin mengambil dana dari Production House (PH). Agar lebih bisa dominan mengawasi jalannya produksi dan bebas menentukan mana yang boleh dan tidak.

Kedua, mengapa film ini hebat? Karena ia menyatukan dua hal yang selama ini, katanya, agak sulit sekali digabungkan: nilai-nilai islam yang murni dan tayangan yang menghibur. Selama menonton, saya tak sekalipun melihat adanya sentuhan tangan (kulit) antara lelaki dan perempuan, tidak ada peluk-pelukan, atau hal lain yang tidak benar.

Bahkan antara Mas Gagah dan Gita pun, yang notabenenya adalah adik kakak dalam film ini, tak sekalipun mereka sampai bersentuhan kulitnya. Tapi jangan salah, walau begitu, chemistry antara mereka tetap terjalin sepanjang tayangan. Hal yang sama juga terjadi antara Gagah dan Mamanya. Tidak saling merangkul, berpelukan, atau sebagainya.

Ketiga, mengapa film ini hebat? Karena ia bisa menyampaikan kebaikan dengan cara yang indah, elegan, dan sesuai dengan jamannya. Bahwa dakwah dan kebaikan tidak melulu harus disampaikan melalui mimbar-mimbar, tidak melulu di masjid atau mushalla. Tapi juga bisa diberikan lewat tontonan yang tidak keluar dari tuntunan.

Tiga hal inilah yang menjadi poin penting bagi saya kemarin. Terlepas dari itu semua, tentu film ini juga memiliki kekurangan. Hanya saja, kekurangan itu tertutupi dengan beragam kelebihan yang saya dapatkan. Semuanya terbayar lunas.


Demikian. 

2 komentar


EmoticonEmoticon