Like Fanpage Bang Syaiha

Apa Amal Unggulan Kita?

By Bang Syaiha | Thursday, 24 March 2016 | Kategori:

Amal unggulan, sedekah, Bang Syaiha, Kisah Inspiratif, One Day One Post, Menulis Setiap Hari, Blogger Aktif, Penderita Polio, Trainer, Guru Blogger, bangsyaiha.com
Jadikan sedekah sebagai amal unggulan kita
Lumrah, setiap selesai melaksanakan ibadah shubuh berjama’ah bersama para sahabatnya, Rasulullah memberikan sedikit nasihat. Sebuah kebiasaan yang baik. Sebuah teladan bagaimana menciptakan manusia-manusia terbaik sepanjang sejarah. Seperti pagi itu, ketika baru saja menyelesaikan ibadah shubuh mereka, Rasulullah dan para sahabatnya duduk melingkar.

Rasulullah kemudian bertanya, “Siapakah diantara kalian yang pagi ini berpuasa?”

Sejenak, semua diam, beberapa sahabat bahkan saling berpandangan. Lalu, Abu Bakar menjawab, “Saya wahai Rasulullah.”

Setelah Rasulullah tersenyum, kemudian beliau melanjutkan pertanyaan berikutnya, “Siapakah hari ini yang mengantarkan jenazah orang yang meninggal?”

Sahabat kembali diam. Mereka tidak pernah menduga bahwa sepagi ini akan diberi pertanyaan tentang amalan apa saja yang sudah dilakukan. Setelah beberapa sahabat saling pandang tidak bersuara, kemudian Abu Bakar yang berkata lagi, kali ini agak pelan, Abu Bakar malu, “Saya, wahai Rasulullah.”

Belum selesai. Rasulullah bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini memberikan makan kepada orang miskin?”

Tetap tidak ada yang menjawab kecuali Abu Bakar, “Saya, wahai Rasulullah.”

Terakhir, Rasulullah bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini telah menengok orang sakit?”

Mendapati tidak ada sahabat yang menjawab, hanya tertunduk malu karena merasa kecolongan dan kalah, Abu Bakar lalu menjawab lirih, “Saya, wahai Rasulullah.”

“Wahai sahabatku,” kata Rasulullah memberi kesimpulan, “Tidaklah semua amal di atas terkumpul dalam diri seseorang melainkan ia akan masuk surga”[1]. Dan seketika itu, Abu Bakar menangis. Senang dan juga haru bercampur dalam dadanya.

Pembaca yang budiman, sekarang coba bayangkan sebuah pompa air yang ada di rumah. Pompa air itu terhubung dengan sebuah pipa panjang yang mengalirkan air ke beberapa tempat di dalam rumah kita, kamar mandi, taman dan halaman depan, dapur, dan halaman belakang. Andai saja, ketika pompa air itu dinyalakan, lalu semua keran yang ada dibuka, kira-kira apa yang akan terjadi?

Benar, air yang mengalir melalui masing-masing pipa pasti kecil. Tidak memancar deras. Tidak maksimal. Bandingkan jika ketika pompa air dinyalakan, keran yang dibuka hanya satu saja. Maka aliran airnya akan memancar deras.

Begitulah kita. Kita bukan manusia sekaliber Abu Bakar, yang sejak pagi buta sudah melakukan banyak amal kebaikan. Kita punya keterbatasan, punya kapasitas, juga punya level keimanan yang teramat jauh di bawah dibandingkan para sahabat. Maka adalah sebuah kebijaksanaan ketika kita mampu memilih amal kebaikan yang harus didawamkan setiap hari sepanjang hayat.

Itulah sebabnya, khatib setiap jumat selalu mengingatkan bahwa takwa adalah melaksanakan perintah Allah semampunya dan meninggalkan semua larangan Allah, baik yang kecil, maupun yang besar. Perhatikan, bahwa ketika melaksanakan perintah Allah, maka kita diminta melaksanakan semampunya saja, sesuai kepasitas yang ada pada diri kita.

Sejarah juga mencatat, bahwa banyak sahabat yang masuk surga dan mendapatkan banyak keutamaan karena melakukan amalan kebaikan yang rutin sepanjang hidupnya. Bilal misalnya, dialah sahabat yang mendawamkan shalat sunnah dua rekaat setelah wudhu sepanjang hidupnya, hingga kemudian Rasulullah berkata, “Sungguh, aku mendengar suara terompah Bilal di surga.”

Abdullah bin Mas’ud lain lagi, karena keterbatasan fisiknya, ia lalu mendawamkan untuk giat menuntut ilmu, hingga kemudian, saat para sahabat menertawakan kaki Abdullah bin Mas’ud yang kecil, Rasulullah berkata, “Sungguh, kaki itu jauh lebih berat dibandingkan dengan gunung uhud sekalipun!”

Abu Hurairah, karena ‘keterlambatannya’ memeluk Islam, lalu memaksimalkan kemampuan ingatannya, ia selalu menjadi ‘ekornya’ Rasulullah untuk belajar dan menghapalkan hadist. Hasilnya, Abu Hurairah menjadi ahli hadist yang hingga sekarang namanya sering kita dengar.

Kita seharusnya demikian, sadar bahwa kita tidak sehebat Abu Bakar dan para sahabat yang lain, maka selayaknyalah kita, di tahun 2014 (tuisan ini dibuat tahun 2014 dan pernah dimuat dalam salah satu majalan lembaga zakat) ini mulai menentukan amalan unggulan kita sekarang. Menentukan amalan yang kita yakin mampu kita lakukan dari sekarang hingga ajal menjelang.

Mengapa kita perlu memiliki amalan unggulan? Sebuah hadist Rasulullah menjawab pertanyaan ini, “Bagi setiap orang yang beramal terdapat sebuah pintu khusus di surga yang dia akan dipanggil melalui pintu tersebut karena amal yang telah dilakukannya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad sahih, demikian kata Al-Hafizh dalam Fath Al-Bari, 7/30).

Dan salah satu amalan unggulan yang bisa kita lakukan sekarang adalah bersedekah, berinfak. Semoga, dengan rutinitas kita melakukan sedekah setiap hari atau setiap bulan, mengantarkan kita ke surga-Nya kelak. Masuk ke dalamnya melalui pintu khusus yang telah disediakan.

“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah kebaikan.’ Maka orang yang termasuk golongan ahli shalat maka ia akan dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa akan dipanggil dari pintu Ar-Royyan. Dan orang yang termasuk golongan ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR Bukhari)

Wallahu a’lam.


[1] Dari Abu Hurairah r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Siapakah di antara kalian yang pagi ini berpuasa?” Abu Bakar menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.” Rasulullah saw. bersabda, “Siapakah hari ini yang mengantarkan jenazah orang yang meninggal?” Abu Bakar menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.” Rasulullah saw. bertanya, “Siapakah di antara kalian yang hari ini memberikan makan pada orang miskin?” Abu Bakar menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.” Rasulullah saw. bertanya kembali, “Siapakah di antara kalian yang hari ini telah menengok orang sakit?” Abu Bakar menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah semua amal di atas terkumpul dalam diri seseorang melainkan ia akan masuk surga.” (HR. Bukhari)

8 komentar

avatar

Makasih, Bang, ilmu barunya

avatar

Makasih, Bang, ilmu barunya

avatar

Masyaallah, semoga bisa mendawamkan amal, aamiin.

avatar

Makasih Bang ini sangat bermanfaat.

avatar

Makasih Bang ini sangat bermanfaat.


EmoticonEmoticon