Like Fanpage Bang Syaiha

Batasilah Bertanya Kapan!

By Bang Syaiha | Wednesday, 9 March 2016 | Kategori:

berhentilah bertanya kapan, kapan nikah, kapan lulus, kapan kawin, Bang Syaiha, Kisah Inspiratif, One Day One Post, Menulis Setiap Hari, Blogger Aktif, Penderita Polio, Trainer, Guru Blogger, bangsyaiha.com
berhentilah bertanya kapan
Ini sungguhan, batasi lah bertanya kapan. Karena bagi sebagian orang, pertanyaan jenis ini –kapan, membuatnya sakit dan malas mendengarkan. Jauh lebih baik jika pertanyaan itu diubah kalimatnya, jangan menggunakan kata kapan, tapi pakailah kata yang lain.

Well, kalian masih belum percaya? Hendak membantah dan ingin berujar, “Mengapa Bang Syaiha sampai memberi larangan bertanya menggunakan kata kapan?

Sebenarnya, saya tidak melarang. Hanya menganjurkan untuk dibatasi saja, kurangi menggunakan kata kapan dalam mengajukan pertanyaan pada seseorang. Karena dalam banyak kasus, pertanyaan jenis ini, sekali lagi, terkadang tidak enak didengar.

Untuk orang-orang yang belum menemukan jodohnya saat usia kian matang, maka jangan tanya, “Kapan nikah? Jangan pilih-pilih loh, ingat umur.”

Juga untuk mahasiswa tingkat akhir yang belum juga selesai menulis skripsinya, jangan usil ngomong, “Kapan lulus? Kan udah semester sepuluh? Yang lain udah pada wisuda loh. Jangan malas-malasan.”

Lalu, untuk anak remaja yang belum pulang ketika sudah larut, jangan bertanya, “Kapan kamu akan pulang? Sudah malam dan jangan keluyuran!”

Untuk karyawan yang belum menyelesaikan tugas bulanan ke atasannya, jangan buru-buru bilang, “Jadi, kapan kau akan menyelesaikan tugas itu? Ini sudah lewat seminggu dari tenggat waktu yang saya berikan!”

Bahkan, ketika anak susah makan sekalipun, jangan menghardiknya begini, “Jadi, kapan kamu akan makan, Nak? Ibu sudah susah-susah memasak, kamu tetap saja tidak mau makan!”

Percayalah, jenis pertanyaan yang saya contohkan di atas tidak efektif dan kadang malah kontraproduktif dari tujuan yang kita harapkan. Contoh simpelnya, ketika ada karyawan yang belum selesai dengan tugasnya, bukankah lebih baik gunakan kalimat tanya, “Mengapa belum selesai? Apakah ada kendala? Jika ada, coba jelaskan ke saya dan siapa tahu saya bisa memberikan sedikit jalan keluar.”

See, elok nian, bukan?

Pun sama dengan contoh yang lain. Ketika teman kita belum juga menikah, bertanyalah dengan lembut di waktu yang tepat –ingat ya! di waktu yang tepat!, “Mengapa sampai saat ini belum menikah? Cerita lah ke saya, siapa tahu saya bisa membantu.”

Kepada mahasiswa yang belum juga lulus, ucapkan, “Mengapa belum selesai tugas akhirmu, bro? Butuh bantuan?”

Untuk anak kita yang belum juga pulang ketika sudah larut, bertanyalah, “Nak, kamu dimana? Mengapa belum pulang-pulang juga? Ada masalah? Perlu ayah jemput?”

Juga untuk anak yang susah makan, berkatalah lembut, “Mengapa kamu tidak mau makan, Nak? Kurang enak ya? Oke, kamu maunya apa?”

Sekilas, dua jenis pertanyaan itu –kapan dan mengapa, adalah sama. Hanya saja, kalau mau merenungi sedikit lebih dalam, saya yakin kalian akan mengerti dimana letak perbedaannya.

Pertanyaan yang menggunakan kata kapan, menurut saya, lebih kepada pelabelan dan tidak ingin tahu apa masalah di balik yang ditanyakannya. Sedangkan pertanyaan yang menggunakan kata mengapa, jauh lebih halus dan seperti menyediakan tangan-tangan tulus untuk membantu jika memang membutuhkan.

Perhatikan lagi:

“Jadi, kapan tugas itu selesai? Ini sudah lewat seminggu dari tenggat yang kita sepakati, loh!”

Jawaban pertanyaan ini hanya tentang waktu. Bisa dijawab nanti, besok, minggu depan, atau kapan saja. Selesai. Tidak ada celah untuk menjelaskan masalah yang membuat tugas itu belum selesai. Dan percayalah, pertanyaan jenis ini malah akan mempersulit orang yang ditanya. Ia akan semakin tertekan dan berat mengerjakan.

Bandingkan dengan yang ini:

“Mengapa tugas itu belum selesai?”

Yang ini, jawabannya bisa panjang. Isinya adalah alasan mengapa setelah lewat tenggat waktu yang disepakati, kok masih juga belum kelar? Bisa jadi karena ada kendala yang memberatkan, kurang keahlian, dan sebagainya.

Pertanyaan jenis kedua ini, juga akan menjadikan kita memandang masalah jauh lebih menyeluruh dan jika diperlukan, cobalah tawarkan bantuan.

Begitulah, dua jenis pertanyaan yang bertujuan sama akan memberikan dampak yang berbeda jika diletakkan pada tempat dan waktu yang benar.

Kata kapan bukan harus dibuang. Tidak. Ia harus tetap ada, tapi untuk pertanyaan yang lain.

Untuk lelaki yang coba mendekat-dekat, maka gunakan itu, “Jika kamu memang serius denganku, datanglah ke rumah. Kapan? Aku tidak mau berlama-lama menunggu!”

Nah!

23 komentar

avatar

Setujuuuuu bang. "Kapan nikah?". Ini pertanyaan paling horor *eh baper.

avatar

Bener banget Bang, aku setuju.

avatar

Bener banget Bang, aku setuju.

avatar

Bener banget Bang, sakitnya tuh di sini kalau ada yang tanya "Kapan ........ " hehe... ^__^

avatar

Penggunaan Kapan dan mengapa...

Mksih bang syaiha dapat ilmu komunikasi baru...

****
Abdur-rahiem.blogspot.com

avatar

Penggunaan Kapan dan mengapa...

Mksih bang syaiha dapat ilmu komunikasi baru...

****
Abdur-rahiem.blogspot.com

avatar

Nah ! setuju, paling setuju sama kalimat yg terakhir hehe

avatar

Dapat ilmu lagi. Terima kasih Bang.

avatar
This comment has been removed by the author.
avatar

lugas,..

manfaat banget bang, InsyaAllah...

avatar

beruntung sekali bisa mempelajari makna kedua kata itu secara mendalam. terimakasih bang Syaiha

avatar

Saya baru sadar soal bertanya dengan 'kapan" dan 'mengapa'. Baru sadar efek yang ditimbulkan bisa berbeda jauh. Wooowww!

avatar

Hahaha...
Jawab aja, kapan-kapan..

Semangat..

avatar

Saya juga setuju sama komentar ini.. hehe

avatar

Iya, makanya kita perlu belajar mengelola kalimat dengan baik dan benar..

avatar

Terimakasih sudah mampir..

avatar

Terimakasih kembali sudah berkunjung..

avatar

Iya, mbak.. Berbeda loh hasilnya..


EmoticonEmoticon