Like Fanpage Bang Syaiha

Belajar Dulu, Belajar Lagi, Belajar Terus!

By Bang Syaiha | Saturday, 12 March 2016 | Kategori:

guru harus selalu belajar, belajar tiada henti, Bang Syaiha, Kisah Inspiratif, One Day One Post, Menulis Setiap Hari, Blogger Aktif, Penderita Polio, Trainer, Guru Blogger, bangsyaiha.com
Belajar Dulu, Belajar Lagi, Belajar Terus!
Baling-baling kipas angin yang terpasang tepat di atas jendela berputar pelan, mendesing ringan. Letaknya tidak jauh dari jalan masuk ruangan ini yang sekarang sedang terbuka, beberapa centi meter di sebelah kanannya.

“Pintunya mau ditutup atau tidak?” ujar teman saya yang kini duduk di depan, ia sedang menghidupkan LCD dan menyiapkan berbagai hal. Beberapa menit lagi, materi yang sudah ia siapkan sejak tadi akan mulai dijabarkan.

“Bagaimana? Dibuka atau ditutup?” ia mengulangi pertanyaannya.

“Dibuka saja, mbak,” saya berujar lembut dan melanjutkan, “biar pemandangannya terlihat lebih luas.”

Ia tersenyum, berkata kemudian, “Tidak akan mengganggu kegiatan kita, kan?”

Sambil menggeleng pelan, saya kembali menjawab, “Insya Allah tidak. Kegiatan kita akan berjalan lancar dan baik. Benar kan, teman-teman?”

Maka seperti sekelompok paduan suara yang kompak, teman-teman saya yang lain mengiyakan. Merdu sekali.

Kami berenam duduk di lantai, beralaskan karpet biru yang tebal, menghadap ke sebuah papan tulis putih yang besar. Papan itu dipaku pada diding dengan ketinggian hanya sedada orang dewasa. Sengaja dibuat demikian karena semua siswa biasanya belajar disini juga lesehan.

Benar!Ini adalah ruang kelas.

Ralat. Maksud saya, ini adalah ruang tamu sebuah rumah sederhana yang sudah kami sulap menjadi kelas. Ruangan ini tidak besar, hanya sekitar tiga kali lima meter saja.

Di sebelah utara ada pintu yang terbuka dan sebuah jendela; Di ujung Barat ada dua pintu kamar yang sudah kami modifikasi menjadi ruang guru dan perpustakaan;  Papan tulis putih yang besar ada di Timur ruangan, dan yang terakhir, di dekat saya duduk sekarang, di sebelah selatan, ada kamar kecil yang selalu ditutup rapat.

Tentu tidak nyaman, bukan, jika sedang belajar lalu pemandangan rusak karena toilet yang menganga.

Oh, tidak! Jangan berpikiran yang macam-macam. Kamar kecil sekolah saya, walau sederhana, tapi harum. Sungguh! Kami tidak pernah bermasalah dengan aroma dan kebersihannya.

“Baiklah,” ujar teman saya yang pagi ini kebetulan bertugas menjadi pemateri. Ia memukul-mukulkan spidol hitam ke papan tulis tadi, membuat kami semua mengarahkan pandangan kepadanya, “Seperti biasa, hari ini kita akan kembali mengadakan pembelajaran bahasa Inggris.”

Semua diam mendengarkan.

“Besok-besok, kita akan gantian duduk disini,” katanya melanjutkan, “Mas Pri –guru komputer sekolah saya, mungkin akan mengisi tentang desain grafis. Atau, Bang Syaiha,” pandangannya kini mengarah ke saya, “kapan-kapan boleh lah memberi pelajaran tentang kepenulisan dan blogging.”

Saya tersenyum, mengangguk.

“Pokoknya semua bakal mendapatkan giliran menjadi pembicara dan berbagi keahlian masing-masing disini.”

“Siap!” saya dan teman-teman yang lain berujar kompak.

“Nah, kali ini, kita akan membahas tentang speaking, ya!”

Dan beberapa menit kemudian, kami semua sudah memegang sebuah kertas berisi percakapan antara dua orang. Tugas kami adalah membacanya, menghafal beberapa kosa kata yang baru, lalu memeragakannya di depan kelas.

Oh well, pagi ini, saya dan teman-teman seperti kembali ke masa sekolah dulu. Belajar di depan kelas dan memainkan drama sesuai dengan permintaan. Kami juga, walau sudah menjadi guru, tetap dag dig dug ketika menampilkan percakapan di depan teman-teman.

Beruntungnya, yang lain menyemangati dan membesarkan, jika ada kata-kata yang tidak tepat diucapkan. Singkatnya, pagi ini kami semua belajar dengan riang dan gembira. Saya mendapatkan banyak ilmu dan pengetahuan.

Saya selalu menganggap ruang tamu yang sudah kami modifikasi menjadi kelas ini seperti rahim yang hangat. Di dalamnya, ada pembelajaran, ada penanaman akhlak dan karakter, juga ada beragam kebaikan yang dilakukan. Semuanya berpilin menjadi sebuah proses yang indah.

Dan pada masanya nanti, saya selalu berharap akan lahir orang-orang hebat dari sini.

“Orang-orang besar selalu lahir dari didikan guru-guru yang hebat!” kata orang tua saya dulu, “Maka kelak, ketika kau menjadi seorang pendidik, guru, jangan pernah berhenti belajar. Jangan pernah berhenti menuntut ilmu.”  

“Jaman akan senantiasa berubah, ilmu pengetahuan berkembang. Maka ketika seorang guru tidak meningkatkan kemampuannya, lebih baik berhenti saja! Guru yang cepat puas dan tidak mau lagi belajar, lebih baik jangan mengajar.”


Begitulah.. 

16 komentar

avatar

oh,..

cara mendeskripsikan ruangan yang baik itu seperti ini..

bang syaiha postnya telat sih pas sy uda post tugas duluan,
padahal niatnya mau ATM...

avatar

Betuuuuulll, Bang...kita harus selalu beljar

avatar

Betuuuuulll, Bang...kita harus selalu beljar

avatar

Bener banget bang...terima kasih sudah mengingatkan saya dengan tulisan ini

avatar

Siip bang syaiha 😃 belajar lagi,belajar lagi,belajar lagi👊

avatar

Keren Bang salut deh. Banyak juga orang-orang yg beranggapan jika mereka sudah selesai mengenyam pendidikan mereka seketika berhenti belajar. Padahal tanpa belajar kita tidak akan mampu untuk maju.. kita akan tertinggal jauh.

avatar

Keren Bang salut deh. Banyak juga orang-orang yg beranggapan jika mereka sudah selesai mengenyam pendidikan mereka seketika berhenti belajar. Padahal tanpa belajar kita tidak akan mampu untuk maju.. kita akan tertinggal jauh.

avatar

Betul, terima kasih telah mengingatkan bang.. , belajar, belajar, dan belajar

avatar

Belajar sampai bila bila, sampai ajal menjemput harus ttp mnjd pmbljar. Aamiin

avatar

Bermanfaat nih utk calon pendidik

avatar

Berjuang, Belajar, Bertaqwa.... hihi
mantap bang...

avatar

Mantaaap bang. Belajar dari buian hingga liang lahat

avatar

Long life education, ya? (Eh, betul gak nih? Tanya sama guru Bahasa Inggrisnya aja deh).

avatar

luar biasa...

teguran buat para guru...


EmoticonEmoticon