Like Fanpage Bang Syaiha

Inilah Bahayanya Memarahi Anak yang Ribut di Masjid!

By Bang Syaiha | Thursday, 31 March 2016 | Kategori:

Inilah Bahayanya Memarahi Anak yang Ribut di Masjid, Bang Syaiha, Kisah Inspiratif, One Day One Post, Menulis Setiap Hari, Blogger Aktif, Penderita Polio, Trainer, Guru Blogger, bangsyaiha.com
Inilah Bahayanya Memarahi Anak yang Ribut di Masjid
“Anak-anak ini,” kata seorang bapak kepada saya beberapa malam yang lalu, “Kalau ke masjid kerjaannya ribut melulu. Nggak bisa diatur.” Ia mendengus, sebal sekali sepertinya. “Dijagain sebentar, rapi. Eh, ditinggal shalat ribut lagi.” ia menggeleng-geleng heran.

Di malam-malam berbeda, bapak yang menggerutu ini, juga kadang bapak-bapak yang lain, saya dapati menghardik anak-anak. Mereka membentak, memarahi anak kecil yang sedang berlarian. Saya lihat, anak-anak lalu mengkerut, seperti potongan kerupuk kecil yang tenggelem di mangkuk sop ayam (enak banget nih!).

Ada rasa kasihan, iba menyaksikan mereka. Tapi di sisi lain, hati saya juga berkata, anak-anak yang ramai dan membuat gaduh di masjid memang seharusnya diingatkan. Tidak bisa dibiarkan begitu saja. Mungkin caranya yang harus diperhalus, jangan mengerikan. Apalagi sangar.

Mengingat hal inilah, maka malam ini, saya kepikiran untuk membuat tulisan tentang fenomena anak-anak yang ribut dan membuat gaduh di masjid.

Dunia anak kecil: Bermain

Untuk memulai pembahasan, mari kita berkenalan dengan anak-anak. Kita semua pasti pernah mengalami masa ini. Saat-saat yang menyenangkan ketika hidup belum banyak beban dan tanggung jawab yang diemban. Hari-hari adalah permainan, bersenang-senang, dan melakukan banyak hal.

Anak-anak suka mencoba sesuatu yang baru. Datang ke masjid membawa sarung. Bukannya dipakai untuk shalat dengan baik, malah digunakan untuk yang lain: diikatkan di leher dan membiarkannya melayang-layang di belakang. Mungkin mereka ingin jadi superman (atau batman). 

Kadang-kadang, sarung diikat bagian ujungnya menjadi lebih bulat dan berat, lalu dijadikan pentungan. Diayunkan sekuat tenaga dan diarahkan ke temannya. Nanti, mereka akan saling kejar dan bergantian saling pukul. Jadilah mereka main perang-perangan dengan sarung sebagai senjata andalan (hayo, siapa yang pernah melakukan hal ini?)

Atau, sarung dibentangkan di lantai. Satu anak duduk di atasnya, berpegangan pada sarung itu ketika ujung yang lain ditarik oleh teman yang lainnya. Mereka gunakan sarung untuk kendaraan. Bergantian saling tarik-tarikan. 

Duh, anak-anak.

Saya yakin, juga percaya sekali, kita semua yang sudah tua sekarang, pasti dulu adalah pelaku keributan di masjid. Malah boleh jadi, kita semua pernah melakukan apa-apa yang saya sebutkan di atas, bukan? Atau justru lebih ekstrim? Ingat deh, masa-masa itu menyenangkan sekali, toh? 

Itu masih sarung, belum yang lainnya. Maka bisa dibayangkan potensi keributan yang akan ditimbulkan mereka.

Begitulah anak-anak, dunia mereka adalah bermain. Maka dimanapun tempatnya, mereka akan bermain. Ini nggak salah. Anak-anak bermain di masjid nggak salah (yang salah adalah kalau orang dewasa yang di masjid malah main-main. Udah nggak pantes)

Kalau ngeliat anak-anak berkejar-kejaran di masjid, ingat saja lagi, toh kita dulu, ketika kecil, boleh jadi malah lebih parah daripada itu, bukan?

Mengapa orang dewasa sering marah kepada anak-anak?

Ketika mendapati bahwa orang dewasa sering menghardik anak-anak di masjid, otak saya lalu memunculkan sebuah imajinasi. Ada anak-anak di kepala saya yang berwajah murung, mengadu, bilang, “Sepertinya, hidup orang dewasa tidak akan lengkap sebelum mereka memarahi kami ya, Bang Syaiha?”

Saya tertegun. Benarkah demikian? Entahlah.

Padahal, sepanjang saya membaca sirah nabawiyah, saya belum menemukan ada kisah nabi Muhammad yang sampai menghardik anak-anak. Rasulullah tidak pernah marah kepada mereka (koreksi saya jika saya salah). Rasulullah penyayang.

Lalu mengapa orang-orang dewasa memarahi anak-anak yang ribut di masjid?

Ini terjadi, tidak lain karena orang-orang dewasa, sebagian besarnya tidak paham dunia anak-anak. Di benak mereka, orang lain, termasuk anak-anak harus seperti mereka. Diam dan khusyuk ketika menjalankan ibadah.

Ini masalahnya! Ketika kita mengharapkan orang lain harus sama seperti kita, maka akan ada konflik. Nggak mungkin bisa. Orang lain punya sifat unik masing-masing. Maka bersikaplah adil, jangan memaksa orang lain harus mengikuti apa yang kita inginkan.

Apalagi jika hal ini dilakukan kepada anak-anak. Orang dewasa berpikir, bahwa anak-anak, ketika di masjid, harus diam. Nggak boleh ribut. Mereka harus seperti orang dewasa. Harus duduk, memegang tasbih, dan komat-kamit. Berdzikir khidmat sekali sambil mengingat Allah.

Walau barangkali ada yang bisa. Tapi kan jumlahnya tidak banyak. Dunia anak-anak tidak demikian. Anak-anak dan orang dewasa berbeda. Mengharapkan anak-anak seperti orang dewasa, agak berat. Juga sebaliknya, melihat orang dewasa bertingkah seperti anak-anak, kok rasa-rasanya nggak pantes. 

Karena perbedaan inilah, maka orang dewasa harus memahami mereka. Bukan sebaliknya, anak-anak yang harus memahami kita.

Lalu, bagaimana jika mengatasi anak-anak yang ribut di masjid?

Percepat shalatnya
Rasulullah melakukan demikian, ketika ada anak-anak yang menangis, maka beliau mempercepat bacaan shalatnya. Analogi saya, jika ada anak-anak yang ributnya nggak ketulungan, maka imam segera selesaikan shalat dan barulah nasihati baik-baik. Jangan menghardik, apalagi membentak.

Perlama shalatnya
Suatu ketika, ada cucu Rasulullah yang naik ke punggung Nabi Muhammad ketika sedang menjadi imam dan sedang sujud. Mendapati demikian, Rasulullah memperlama sujudnya, membiarkan cucunya puas bermain di punggung (barangkali main kuda-kudaan)

Orang tua si anak seharusnya ikut ke masjid
Benar, bagi saya, salah satu cara agar anak bisa sedikit lebih tertib di masjid adalah dengan diatur oleh orang tuanya sendiri. Jika anda orang tua, maka didik anak anda agar bisa lebih kalem. Buatlah perjanjian kepada mereka, jika bisa diam di masjid, maka anda akan memberikannya hadiah, reward.

Nasihati anak dengan baik
Benar bahwa dunia anak-anak adalah bermain, tapi ketika di masjid, nggak ada salahnya juga kok diberi nasihat. Asal cara menyampaikannya benar. Belai kepalanya, tersenyumlah dengan tulus, dan bilang, “Hayuk, sayang.. dirapiin ya barisan shalatnya. Ingat, nanti selama shalat jangan ribut ya. Bisa kan? Yang bisa diam dan tenang, nanti saya kasih permen nih..”

Kalau begini kan adem.

Akhirnya, secara pribadi, saya sebenarnya merasa senang jika di masjid ada anak-anak yang berlarian kesana kemari. Pertama, dengan adanya mereka, saya ingat masa-masa kecil saya dulu yang tidak jauh berbeda. Kedua, adanya mereka juga menandakan bahwa generasi kita masih ada harapan akan terpaut hatinya kepada masjid.

Asal tidak dimarahi, tidak dibentak-bentak, apalagi sampai dipukul. Jangan sampai.

Sekarang begini, jika sejak kecil ia sudah mendapatkan perlakuan buruk di masjid (dibentak, dimarah-marah, apalagi sampai dipukul), tidak menutup kemungkinan itu akan tertanam di alam bawah sadar mereka, bukan?

“Masjid adalah tempat yang tidak bersahabat. Tempatku bukan di masjid. Disana aku dimarah-marah, dibentak, dipelototi. Aku tidak betah di masjid!”

Nah, bahaya sekali ini. Apalagi jika perasaan itu tertanam terus hingga ia dewasa. Akhirnya, ia mencari tempat lain yang bisa menerima: rental PS, pinggir-pinggir jalan, klub malam, kafe, atau tempat-tempat lain yang tentu saja jauh dari kegiatan ibadah.

Jika sudah begini, jangan sampai orang-orang tua lalu bilang, menghakimi seenak hatinya, “Anak-anak muda jaman sekarang nggak ada lagi yang dekat ke masjid!”

Lah, padahal, boleh jadi justru mereka yang menciptakan keadaan demikian, bukan?

Begitulah..
Monggo disebarkan tulisan ini, semoga banyak yang tergugah dan menyadari. Mari senantiasa belajar


Demikian. 

2 komentar

avatar

Setuju bang....masjid ramah anak tugas kita bersama untuk mewujudkannya

avatar

setuju bang setuju.... :)


EmoticonEmoticon