Like Fanpage Bang Syaiha

Jika Kang Emil Mencalonkan Diri Menjadi Presiden!

By Bang Syaiha | Tuesday, 1 March 2016 | Kategori:

Jika Kang Emil Mencalonkan Diri Menjadi Presiden, Bang Syaiha, Kisah Inspiratif, One Day One Post, Menulis Setiap Hari, Blogger Aktif, Penderita Polio, Trainer, Guru Blogger, bang-syaiha.blogspot.co.id
Jika Kang Emil Mencalonkan Diri Menjadi Presiden
Saya sedang menyeruput kopi hitam yang agak pahit ketika istri saya bilang, “Flashdisknya mana, Bi? Katanya mau minta poto Bang Alif. Jadi nggak?”

Saya tidak bisa menjawab, karena rongga mulut sedang penuh dengan cairan –kopi. Maka saya hanya mengangguk sambil mengangkat tangan. Berkata dengan isyarat, “Jadi, bentar ya.

Selesai mendorong habis genangan kopi ke arah lambung, saya sibuk mencari benda kecil yang sering sekali terselip di lipatan tas atau tertimbun kertas-kertas, “Perasaan kemarin falshdisknya disini deh.” Ujar saya, lebih pada diri sendiri. Istri saya hanya mendengarkan, sibuk dengan ponselnya, membaca sebuah tulisan, mungkin.

Ia memang sangat rajin mempelajari banyak hal. Gadget pemberian saya adalah sumber ilmunya. Jika boleh mengibaratkan, maka gadget itu sudah seperti perpustakaan raksasa. Semuanya ada. Suatu hari, ketika ia bingung hendak memasak apa, ia belajar disana, mencari ide masakan dengan bahan baku di kulkas yang apa adanya.

Di hari yang lain, ketika Bang Alif demam dan suhu tubuhnya tinggi, istri saya berobat kesana, membaca beberapa literatur dan pengalaman orang-orang. Hasilnya? Ia menjadi tidak begitu panik dan telaten sekali melakukan ini dan itu demi kesembuhan Bang Alif. Tidak berobat ke dokter dan hanya menerapkan beberapa anjuran yang ada di gadgetnya.

Bang Alif sehat kembali dan saya senang bukan main. Memuji istri saya yang berkorban banyak hal. Ia juga bisa memanfaatkan gadget yang saya berikan untuk kegiatan yang positif, belajar dan menjalankan usahanya.

Saya masih belum menemukan flashdisk yang saya butuhkan dan berujar, “Kok nggak ada di tas ya?” berhenti mencari sejenak dan berpikir. Setelah tak menemukan apapun di dalam ingatan, saya menoleh ke arah istri, “Ummi bener-bener nggak ngeliat dimana flashdisk biru Abi?”

Mungkin karena sedang asik dengan bacaannya yang penting dan menarik, istri saya pun terkejut, “Eh, apa, Bi? Flashdisk? Ummi nggak ngeliat juga..”

“Ummi lagi baca apa sih? Serius amat?”

Sebelum menjawab, istri saya nyengir. Maksudnya, mungkin ia ingin meminta maaf karena telah mengabaikan saya barusan. Tapi sungguh, itu bukan masalah buat saya. Tidak perlu meminta maaf dan merasa bersalah.

Istri saya menjawab, “Ini, lagi baca statusnya Kang Emil,” katanya jujur.

“Tentang apa?”

“Itu loh,” istri saya berkata lagi dan membenarkan posisi duduknya. Ia meletakkan gadegetnya di meja dan menjelaskan isi tulisan yang baru saja selesai dibacanya,  “Kang Emil nggak jadi maju di pilkada Jakarta. Mau fokus di Bandung dulu katanya.”

“Keren, dong!” saya menimpali spontan.

Istri saya mengangguk-angguk, –persis seperti burung pematuk.

Saya melanjutkan, “Secara nggak sadar, menurut Abi, Kang Emil sedang mengambil simpati banyak warga negara Indonesia. Ia bersahaja, amanah, dan menghasilkan banyak karya. Dengan menolak tawaran maju di pilkada Jakarta, secara tidak langsung akan menaikkan pamornya di mata para warga.”

“Iya, benar.” istri saya setuju dan berkata kemudian, “Jaman sekarang, jarang banget kan orang yang melakukan banyak pertimbangan ketika disodorin tawaran jabatan?”

Saya tersenyum, “Ibaratnya, Kang Emil nih sedang mundur selangkah demi ancang-ancang yang lebih besar kelak.”

“Maksudnya, Bi?”

“Gini loh,” sekarang saya yang membenarkan posisi duduk, hendak menjelaskan beberapa hal, “penolakan Kang Emil maju di pilkada Jakarta ini akan membuat namanya mencuat dan dikenal sebagai orang yang kalem, baik, dan berprestasi. Memang begitu lah sebenarnya. Nggak ada yang salah toh. Hanya saja, ini menjadi penegasan kembali, bahwa Kang Emil memang generasi yang patut dibanggakan.”

Istri saya duduk mendengarkan, khidmat sekali.

“Kang Emil akan semakin dikenal orang, semakin dielu-elukan. Dan ketika nanti masanya tiba, saat amanah di Bandung selesai dan ia maju pada amanah yang lain, Gubernur DKI misalnya, atau malah presiden RI, bukan mustahil toh ia akan menang dengan mudah?”

“Iya juga, ya!” istri saya menaikkan bola matanya ke atas, sebelah tangannya memegang dagu, dan kepalanya manggut-manggut. “Kalau suatu saat kelak Kang Emil maju dalam pencalonan sebagai Presiden RI, Ummi juga pasti bakal milih beliau. Bisa berprestasi tanpa harus mencaci maki. Pemimpin itu harus santun.”

“Tapi juga harus tegas,” saya memotong.

“Iya, tapi nggak harus ngotot dan keras juga kan? Tegas itu sikap. Bukan caci maki dan merasa diri paling jagoan.”

“Yah, setiap pemimpin punya caranya masing-masing, Ummi,” saya diam sejenak, merasa tidak perlu diperpanjang, dan berujar, “Ah sudah lah, kita doakan saja yang terbaik buat Kang Emil. Juga buat pemimpin yang lain. Semoga bisa menjalankan amanahnya dengan benar dan bertanggung jawab.”

“Aamiin..”

Istri saya mengambil kembali gadgetnya dan hendak membaca beberapa artikel lagi ketika saya berkata, “Eh, jadi flashdisk Abi kemana nih?”

“Eh, iya..” seperti orang yang ketahuan sedang maling rambutan, istri saya nyengir lebar. “Bentar ya, Ummi cariin dulu,” ia mulai bangkit dari duduknya dan kembali berkata, “Kayaknya beberapa hari lalu dimainin sama Bang Alif deh. Mungkin keselip di bawah rak buku.”

Ah, Bang Alif...

I Love You Ummi..
____________________________
*Tulisan ini adalah tantangan dari gerakan One Day One Post, menghasilkan sebuah tulisan yang mengandung empat kata ini: kopi, flashdisk, burung, dan Presiden. 

48 komentar

avatar

Setujuuuuuuuuu. Let him show off in Bandung first!

avatar

Setujuuuuuuuuu. Let him show off in Bandung first!

avatar

Aamiin. Semoga para pemimpin bisa menjalankan amanah dengan baik.

avatar

Hehehe, Kang Emil harus belajar jurus seribu bayangan supaya bisa dibagi ke seluruh sudut Indonesia.

avatar

Kalau bang syaiha mencalonkan diri jdi kepala desa, sy yg milih... He..
Salam Odop

Abdur-rahiem.blogspot.com

avatar

bahaha, aku jadi ga fokus sama kang emil..
semoga samawa terus bang! *nah! *Aamiin

avatar

Ini mah bikin baper para jomblo...#gagalfokus..😂😂😂

avatar

Beberapa kali bertemu kang emil. Sosoknya tegas, lucu dan puitis. Iya juga penulis beberapa buku lucu semacam tetot judulnya. Hehe

avatar

keren bang, bisa jadi ada semua kata-katanya padahal dari cerita nyata hehe...

avatar

Bisa buat pembelajaran untuk para ODOJ 2, hehe...

avatar

Weeeh, romantisnyaaaa

*nahloh, PLAK

Saya kayanya setuju deh kalo kang emil jadi presiden, hehehe

avatar

Salut dan bangga dengan Kang Emil. Semoga bisa menjalankan amanahnya sbg pemimpin dengan baik.

Keren Bang Syaiha, jdi bgtu ya tantangan ODOP yg semakin berat. Wew...

avatar

Salut dan bangga dengan Kang Emil. Semoga bisa menjalankan amanahnya sbg pemimpin dengan baik.

Keren Bang Syaiha, jdi bgtu ya tantangan ODOP yg semakin berat. Wew...

avatar

loh kok ODOJ mb khikmah??
ODOP kan yaa??hehe

avatar

Seperti biasa, tulisan yang seru dibaca.
Mantap bang

avatar

Seperti biasa, tulisan yang seru dibaca.
Mantap bang

avatar

kemaren aku juga sempet mbaca tulisan kang emil..salut banget sama keputusan yang diambil..

avatar

Udah baca statusnya kang emil itu

avatar

Udah baca statusnya kang emil itu

avatar

kang emil oh kang emil :D (Y)

avatar

Terimakasih sudah berkunjung..

Selamat pagi..

avatar

Aamiin..
Terimakasih sudah berkunjung..

Selamat pagi..

avatar

Hahaha...
Bisajadi.. bisajadi..

avatar

Terimakasih sudah berkunjung..

Selamat pagi..

avatar

Hahaha.. ada2 aja..
Nggak kepikiran, mas...

avatar

Aamiin.. Makasih, mbak..

avatar

Baper yang berujung laper... hahaha

avatar

Wah.. berarti beliau penulis juga dong yaa?

avatar

Kisah nyata yang difiksi2kan kok, nggak nyata semuanya.. hehe

avatar

Malah ngeliat di romantisnya.. hehe

avatar

Nggak berat-berat banget sih.. hehe

avatar

Malah ketawa.. hahaha

avatar

Malah ketawa.. hahaha

avatar

Terimakasih ya mbak Maya..
Semoga bisa terus menulis..

avatar

Terimakasih sudah berkunjung..

Selamat pagi..

avatar

Saya juga baca dan menarik..

avatar

Sama, sudah baca juga...

avatar

mirip skenarionya Bu Rhisma, menolak diusung PDIP untuk maju di Pilgub DKI, ingin konsen menjadi Walikota Surabaya dulu katanya bang .. atau jangan-jangan bertahan demi langkah panjang ke kursi Presiden RI? hehe

avatar

Bisajadi demikian.. Kita lihat saja nanti..

avatar

Kalau baca tulisan Bang Syaiha jadi mikir, kapan ya saya bisa nulis sebagus itu?

avatar

Insya Allah nanti tulisan mbak Nindyah jauh lebih bagus.. Aamiin..

avatar

Mantap x tulisannya bang syaiha, rasanya perlu bljr byk lg ni dri bang

avatar

Kita sama2 belajar lah mbak..


EmoticonEmoticon