Like Fanpage Bang Syaiha

Ketika Cinta Tidak Direstui Orang Tua

By Bang Syaiha | Tuesday, 22 March 2016 | Kategori:

Ketika Cinta Tidak Direstui Orang Tua, Bang Syaiha, Kisah Inspiratif, One Day One Post, Menulis Setiap Hari, Blogger Aktif, Penderita Polio, Trainer, Guru Blogger, bangsyaiha.com
Ketika Cinta Tidak Direstui Orang Tua
Ada seorang pembaca tulisan-tulisan saya di fanpage dan blog, seorang perempuan, mengirimi sebuah pesan. Saya berasumsi, Ia mengirim pesan ke saya, boleh jadi karena membaca tulisan yang sering saya buat, tentang pernikahan. Sebuah tulisan yang juga hadir karena pertanyaan dari seseorang. Isi pesan yang masuk kemarin, yang saya identifikasi sebagai akibat tulisan saya, berbunyi:

“Assalamu’alaikum, Bang Syaiha.. Saya juga merupakan salah satu pembaca setia fanpage abang. Saya sering kali membaca tulisan-tulisan abang disana. Menurut saya, itu tulisan yang bagus, menginspirasi, dan cerdas.”

Sampai disini, kepala saya seperti mengembang besar. Senang. Aih, dasar manusia, selalu saja berbunga-bunga karena sebuah pujian. Sudah fitrahnya memang, manusia gemar sekali dipuji, dibilang cerdas, dibilang hebat. Tapi doakan saya agar bisa lebih baik dalam hal ini. Lebih baik niatnya.

Saya melanjutkan membaca pesan itu, “Bang Syaiha, afwan, ada yang juga ingin saya tanyakan. Siapa tahu, nasihat dan petuah dari abang bisa memberi sedikit pencerahan.”

Karena kata itu, petuah, maka seketika, saya berasa tua. Seperti sesepuh berjubah putih dengan jenggot panjang yang juga sudah beruban.

“Begini, Bang. Saya sudah lama sekali dekat dengan seorang ikhwan, sekitar 5 tahun. Dan hubungan kami, bisa dibilang adalah pacaran. Beberapa kali, kami sebenarnya sudah ingin mengubah hubungan nggak jelas ini dengan akad yang lebih berkah."

"Malangnya, keluarga saya tak merestui. Alasannya (1) Pacar saya ini duda tanpa anak. Apakah salah jika saya mencintai seorang duda? Tentu tidak kan, Bang? –Ya, tentu tidak salah mencintai seorang duda atau janda. Tidak ada yang melarang dan tidak berdosa.

Lalu, (2) Status pendidikannya di bawah saya. Ia hanya lulusan SMA sedangkan saya sarjana. (3) Jika ingin menikah, keluarga saya menuntut agar dilakukan pesta besar-besaran, dan ini tentu saja memberatkan dia.

Keningku berkerut. Sungguh, ini adalah masalah yang pelik.

“Nah, Bang Syaiha. Kira-kira, apa yang harus kami lakukan agar keluarga saya luluh dan mau menerima lelaki yang saya pilih. Saya sudah sreg sekali dengannya. Saya ingin memulai hubungan ini dalam balutan keberkahan.”

Selesai membaca pesan singkat itu, saya sempat diam beberapa jenak. Berpikir. Memposisikan diri sebagai lelaki yang tak disetujui cintanya –ah, itu pasti berat sekali, juga memposisikan diri sebagai orang tua si perempuan –mereka pasti menginginkan kebaikan buat anak perempuannya

Beberapa menit kemudian, saya bertanya tentang hal ini dengan istri saya. Ia berkata ini dan itu. Saya mendengarkan.

Baiklah. Bagaimana pun, saya harus menjawab pertanyaan itu, bukan? Dan kalau ada yang salah, maka sekali lagi, sudilah kiranya ada salah satu pembaca yang bisa menambahkan.

Pertama, dengan sangat berat, saya ingin bilang bahwa Ia, si penanya, sudah menempuh jalan yang keliru, pacaran. Bagi saya –dan terserah jika ada yang beranggapan lain, pacaran adalah sebuah hubungan yang paling rapuh, paling nggak jelas, dan yang sering merugi di dalamnya adalah perempuan. Kenapa? Karena yang paling dominan dalam kehidupan seorang perempuan adalah perasaannya. Maka ketika sebelum menikah saja ia sudah melibatkan rasa yang begitu dalam, bisa dipastikan ia akan sulit sekali melepaskan.

Jadilah ia lupa, bahwa hakikat mencintai adalah melepaskan. Semakin sejati cintanya, maka semakin mudah ia melepaskan. Dan percayalah, jika Tuhan sudah menakdirkan kalian berjodoh, maka tak peduli sepelik apa masalah kalian, tak peduli sejauh apa jarak kalian, cinta kalian itu pasti akan menemukan jalannya sendiri untuk bersatu.

Tapi, saya juga bersyukur karena si penanya sudah memikirkan untuk mengakhiri hubungan pacaran itu dan memilih untuk melaksanakan akad segera. Semoga dipermudah. Aamiin.

Kedua, sebelum saya menjelaskan tentang bagaimana caranya meyakinkan orang tua agar mau menerima pasangan yang sudah kita pilih, saya ingin mengingatkan kembali, bahwa di dunia ini, tidak ada satu pun orang tua yang akan menjerumuskan anaknya sendiri. Catet! Jika binatang yang tak berakal saja tak ingin mencelakai anak-anaknya, apalagi manusia yang sempurna penciptaannya, bukan? Maka, apapun yang diputuskan orang tua, pasti itu yang terbaik –menurut mereka.

Tapi, karena si penanya bilang bahwa Ia sudah sangat yakin, sangat sreg, dan sebagainya, tidak ada salahnya memperjuangkan hubungan kalian. Lakukan dengan cara yang baik. Lakukan dengan tidak menyinggung perasaan orang tua.

Caranya?

Satu-satunya cara terbaik meyakinkan mereka tentu saja dengan memberikan bukti. Buktikan bahwa lelaki itu adalah yang terbaik. Buktikan bahwa kalian tidak salah pilih. Buktikan bahwa kalian sudah dewasa, sudah bisa memilih dengan bijak, dan mampu menimbang mana baik dan buruknya.

Perjuangan ini –meyakinkan orang tua, adalah hal yang berat dan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Harus kalian lakukan bersama. Pihak perempuan harus gigih menjelaskan kebaikan-kebaikan si lelaki pujaan, pihak lelaki juga tak boleh tinggal diam. 

Buktikan bahwa kau adalah lelaki baik, bertanggung jawab, dan pantang menyerah. Kau, harus berani datang ke orang tuanya. Bilang bahwa kau serius dengan anak perempuannya, katakan bahwa kau berjanji akan membahagiakan ia.

Sungguh, boleh jadi, orang tua hanya ingin melihat seberapa serius kalian memperjuangkan. Boleh jadi pula, restu itu tak juga ada karena kalian belum mampu meyakinkan keduanya.

Ketiga, jika kalian sudah berusaha meyakinkan orang tua, sudah berjuang hingga titik darah penghabisan tanpa sisa, sudah mati-matian bekerja, tapi restu tak kunjung ada, maka berhentilah. Demi langit dan bumi, berhentilah. Mengapa? Karena hakikat mencintai adalah melepaskan. Semakin sejati ia, maka semakin mudah melepaskannya. Ikhlaskan saja.

Lalu, ingat pula tentang orang tua kita. Bagaimana pun, mereka adalah dua orang yang hebat. Ibu sudah mengandung kita, melahirkan bertaruh nyawa, lalu membesarkan dan mendidik kita penuh cinta. Demi Tuhan, tidak ada orang lain yang bisa menggantikan dirinya, tidak ada orang lain yang mampu berbuat sedemikian hebat sepertinya. Lalu, apakah hanya karena seorang lelaki –atau perempuan, yang hadir baru beberapa tahun saja, kita menjadi anak durhaka? Jangan sampai.

Ingat juga ayah. Ia lelaki luar biasa yang sudah rela bekerja siang dan malam demi kita. Membanting tulang, memeras keringat, hanya untuk memastikan kita mendapatkan nutrisi yang baik. Lalu apakah hanya karena seorang lelaki –atau perempuan, yang hadir baru beberapa tahun saja, kita menjadi anak yang durhaka, melawan petuahnya? Jangan sampai.

Intinya, ketika kau mencintai seseorang, dan orang tuamu tak merestui, maka hanya dua saja yang perlu kau lakukan. Yakinkan orang tuamu dengan cara yang bijak, jangan menyakiti perasaannya. Dan jika itu sudah kau lakukan tapi restu tak juga ada, maka berhentilah. Percayalah, jika kalian memang berjodoh, nanti pun kalian pasti akan bertemu.


Demikian. 

8 komentar

avatar

Hakikat cinta adalah melepaskan... Bener bang... Super sekali

avatar

perlu di-bookmark nih.. :)

avatar

mantap bang, maju teruss...

avatar

keren bang, sama seperti kisah cinta smp saya dulu *ehh

avatar

Menurut saya, org tua juga tidak boleh egois,.
Didunia ini bukan hanya anak yg durhaka kepada org tua namun juga sebaliknya.
Kecuali beda keyakinan itu boleh keras melarang .
Ortu dan org terdekat boleh berpendapat dan memberi masukan .itu ada disalah satu hadits.

avatar

{فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ} [البقرة: 232]

Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya apabila telah ada saling ridha di antara mereka dengan cara yang ma’ruf (Al-Baqoroh; 232)

Sejatinya jika wali melarang memilih calon suami atau istri maka hilang hak parawali.akan diganti wali yg lain


EmoticonEmoticon