Like Fanpage Bang Syaiha

Ketika Saya Hampir Menyerah, Allah Akhirnya Mengirimkan Jodoh Saya!

By Admin | Wednesday, 2 March 2016 | Kategori: | | |

Ketika Saya Hampir Menyerah Allah Akhirnya Mengirimkan Jodoh Saya, Bang Syaiha, Kisah Inspiratif, One Day One Post, Menulis Setiap Hari, Blogger Aktif, Penderita Polio, Trainer, Guru Blogger, bangsyaiha.com
Ketika Saya Hampir Menyerah Allah Akhirnya Mengirimkan Jodoh Saya
Kesalahan fatal saya pada kisah ini adalah tidak mengingat dan tidak mencatat kapan kejadian ini berlangsung. Saya benar-benar lupa kapan pastinya. Tapi jelas, ini terjadi sekitar dua tahun lalu, tahun 2014.

Siang itu, ketika matahari sedang petantang-petenteng di langit biru nan luas, saya justru sedang duduk santai di dalam ruangan berpendingin, asik berselancar di dunia maya. Membaca beberapa artikel, menulis, dan bersosial media. Saya bertegur sapa dengan beberapa kawan lama, dan tiba-tiba, seorang sahabat yang sudah lama tak bersua, juga jarang menyapa, mengirimiku pesan di jendela facebook. Katanya: “Bang Syaiha, lagi dimana? Lama nggak ada kabarnya nih?”

Sebenarnya, dalam hati saya menggerutu, “Lama nggak ada kabar darimana? Padahal, hampir setiap hari saya selalu mengupdate kegiatan dan kabar saya di blog ini. Dia saja yang jelas sekali tidak pernah memperhatikan setiap tulisan saya yang berlalu lalang. Ngakunya sahabat kok nggak pernah baca tulisan kawan. Huh!

Tapi, walau agak ngedumel, tetap saja dengan senang hati saya membalas chat darinya, “Alhamdulillah kabar saya baik. Kamu bagaimana?”

Beberapa detik kemudian, dia membalas lagi, “Alhamdulillah saya juga baik”

Saya manggut-manggut membaca pesan darinya, lalu menunda membalasnya. Siang itu, saya memang sedang memperbaiki tulisan dan hendak mempostingnya. “Nanti deh balas chatnya, setelah posting tulisan ini kelar” batinku.

Setelahnya, saya sibuk dengan beberapa fitur untuk memposting tulisan di blog. Memasukkan gambar, mengedit beberapa kata yang tidak sesuai, memperbaiki tanda baca yang tidak tepat, dan membaca ulang, khawatir ada kalimat yang tidak enak dinikmati. Hingga beberapa menit kemudian, postingan saya selesai dan saya kembali ke laman facebook saya. Sudah ada beberapa pesan darinya yang masuk dan belum saya baca.

“Maaf..” katanya dalam chat itu, “Bang Syaiha udah menikah belum ya?”

Glek!!

Saya menelan ludah membaca pesan itu. Waktu itu saya memang belum menikah. Dan pertanyaan sudah menikah atau belum, adalah pertanyaan menyesakkan untuk orang yang sudah cukup umurnya namun masih menyendiri saja.

Sama hal nya dengan pertanyaan: “Sudah lulus belum?” atau “Kapan mau lulus kuliah?”. Pertanyaan sejenis ini, jika ditujukan kepada mahasiswa tingkat empat dan belum juga ada tanda-tanda kapan akan selesai studinya, maka sama saja meletakkan batu besar di kepalanya. Itu sakit men!

Pesan dari sahabat saya berlanjut, “Atau, maaf, sebenarnya Bang Syaiha ada keinginan menikah nggak ya?”

Lagi, saya menelan ludah sendiri membaca pesan dari sahabat saya ini. Andai ia ada di samping saya kala itu, mungkin sudah saya jitak tuh kepalanya! Sayang, ia jauh dan entah ada dimana.

Saya menyaksikan jendela chatnya di facebook, masih hijau, pertanda ia masih online. Saatnya membalas pesan itu.

Setelah menghela napas sejenak, saya mengetikkan beberapa kalimat kepadanya, “Tentu ada dong keinginan menikah! Masa nggak ada..” kata saya, “Cuma, memang, jodoh itu benar-benar rahasia Allah.” Setelah menekan enter, saya diam sejenak.

Lalu melanjutkan, “Di luar sana, ada orang-orang yang sudah ingin sekali menikah, segala daya ia kerjakan untuk menjemput jodohnya, tapi jika Allah bilang belum, ya belum lah yang akan terjadi. Entah kapan ia akan menikah.”

“Sebaliknya, ada juga sebagian orang yang enggan menikah. Ingin menunda hingga beberapa lama, tapi jika Allah bilang ia akan menikah segera, maka tunggu saja beberapa saat lagi. Jodohnya akan datang dan mereka menikah.”

“Dan saya, adalah orang yang pertama. Sudah berkeinginan menikah sejak usia 25 tahun. Tapi hingga sekarang, saat usia saya menginjak 27 tahun, jodoh itu masih saja tidak jelas siapa. Setidak jelas matahari ketika tertutup awan hitam yang bergulung-gulung tebal.”

Ia lalu membalas pesan saya, “Oh.. Syukurlah kalau memang ada keinginan menikah. Saya doakan semoga jodohnya Bang Syaiha segera datang”

Dan percakapan itupun selesai.

*****

Kejadian yang sama pernah terjadi beberapa bulan sebelum kejadian diatas. Dan lagi, saya lupa mencatat kapan ia berlangsung. Hari apa dan tanggal berapa, saya tidak ingat.

Waktu itu saya sedang liburan di Bengkulu, di kampung saya. Setelah sekian lama berada di pedalaman Kalimantan, rasanya mengasikkan menghabiskan waktu bersama ibu dan kakak-kakak saya. Belum lagi, beberapa keponakan yang masih menggemaskan selalu bertanya ini dan itu tentang pengalaman saya disana. Mereka antusias setiap kali saya bercerita bahwa di pedalaman Kalimantan itu sekolahnya selalu banjir setiap hari, tapi anak-anaknya semangat berangkat ke sekolah.

Salwa, salah satu keponakan saya yang masih duduk di kelas dua Sekolah Dasar malah berkali-kali menyela, “Paman, emang nggak ngeri ya kalau banjir? Kalau nanti ada ular gimana?”

“Kalau mereka hanyut gimana?”

“Emang kulitnya nggak gatel-gatel ya, Paman?”

Saya tersenyum menyaksikan polahnya yang selalu ingin tahu ini. Pertanda ia adalah anak cerdas dan membanggakan. Dan sebagai pamannya, saya mengerti harus menjawab apa dan bagaimana. Momen itu saya gunakan untuk menanamkan karakter-karakter baik kepada semua keponakan saya. Betapapun tidak mengenakkannya kondisi kita, kita harus senantiasa bersemangat menuntut ilmu dan berbuat kebaikan.

Saya paham, mereka mungkin belum mengerti maksud kalimat saya itu. Tapi, lima atau sepuluh tahun lagi, ketika pemahaman yang baik sudah mulai bertunas dalam diri mereka, mereka akan mengerti setiap kalimat yang pernah saya ucapkan ini. Dan semoga karakter-karakter baik yang saya harapkan itu bisa tumbuh di sanubari mereka. Subur dan menghiasi setiap tindak tanduknya.

Siang itu, saat saya sedang bersantai di rumah, ponsel saya berdering. Sebuah panggilan masuk dari sebuah nomor yang tidak saya kenali. Saya menempelkan ponsel saya ke pipi kiri, menekan gambar telpon berwarna hijau. Menanti sebuah suara menyapa.

Terdengar suara lelaki di seberang sana, “Assalamu’alaikum, Syaiha,” katanya.

Setelah mengernyitkan dahi karena tidak tahu siapa yang menelpon, saya menjawab, “Wa’alaikumsalam..”

“Hei.. Ini Ucok..” ujarnya lagi, dan saya mengernyitkan kening untuk kedua kalinya, ekspresi masih belum mengenali “Ucok yang mana?” Di Bogor saya punya sahabat yang bernama Ucok. Di Kalimantan juga ada beberapa teman yang dipanggil dengan nama itu. Dan ini, Ucok yang mana?

“Ah, kau pasti lupa ya?” katanya, “Ucok, kawan kau waktu SMP dulu. Ayo lah, masa orang sepintar kau mudah sekali lupanya?”

Sambil menepok jidat, saya menjawab, “Aih, kau rupanya, Ucok yang suka bolos sekolah itu kan? Yang selalu kena hukuman karena lupa mengerjakan PR?” kataku bersemangat setelah ingat sahabat lama saya ini. “Harusnya kau mengaku saja, kau tentu saja tidak lupa mengerjakan PR, kau hanya malas dan tidak bisa kan?” kataku terbahak.

“Ah, payah kali kau. Masa cuma yang jelek-jelek aja yang kau ingat? Awak kan juga atlet volley sekolah bro. Kalau nggak ada aku, nggak mungkin sekolah kita dulu bisa juara satu lomba volley sekecamatan!” kini gantian Ucok yang tertawa tergelak.

Dan percakapan dua sahabat yang sudah lama tak berjumpa pun mengalir deras. Seperti aliran air dari atas genting ketika hujan lebat melanda. Banyak dan tumpah seketika. Hingga pada titik tertentu ia berkata, “Awak udah punya anak dua bro. Kau kapan nikahnya? Jangan belajar terus lah yang dipikirin! Inget usia loh..”

Gleek... ludah itu pun tertelan dengan sendirinya.

“Doakan saja lah ya, Cok” kataku pelan.

“Pasti.. Aku pasti doakan kau”

*****

Orang-orang mungkin tidak pernah tahu, atau memang tidak mau tahu, bahwa orang seperti saya, urusan menikah itu tidak pernah mudah. Yap, orang dengan kekurangan fisik seperti saya, yang kaki kanannya lebih kecil dari kaki kirinya, menemukan jodoh itu seperti mencari jarum di tumbukan jerami yang menggunung. Ketika ada sedikit kilauan yang dikira jarum, saya pasti dekati, tapi ternyata bukan. Berkali-kali begitu.

Sebelumnya, saya pernah beberapa kali mencoba hendak menikah dengan jalan yang saya yakini, tidak dengan pacaran. Saya mendatangi seorang ulama dan meminta kepadanya untuk dicarikan seorang perempuan yang sekiranya sudah siap menikah dan mau menerima saya. Tapi, hingga nyaris setahun, ulama itu tidak juga menemukan. Ia menyerah dan memutuskan tidak bisa membantu.

Hingga ada beberapa sahabat yang mengenalkan saya kepada beberapa perempuan yang sudah siap menikah dan memang sedang mencari pendamping juga. Tapi, seperti yang saya bilang, pernikahan itu tidak pernah terwujud karena satu hal, mereka tidak siap memiliki suami yang cacat.

“Maaf Syaiha, teman saya itu belum bisa menerima kamu”

“Orang tuanya nggak mau nerima kamu, Syaiha”

“Keluarganya, kakak-kakaknya, paman dan bibinya, tidak bisa menerima kamu, Syaiha”

Dan masih banyak lagi kalimat penolakan yang berdatangan. Saya telan saja semuanya mentah-mentah. Hingga pada titik ketika saya hampir menyerah, bantuan Tuhan itu datang. Sungguh, Tuhan mungkin hanya ingin saya berikhtiar semaksimal mungkin untuk menjemput jodoh saya.

Hingga ketika saya berada pada titik paling jenuh dan hendak menyerah, jodoh saya itu Tuhan kirimkan, agar saya menjadi sadar sesadar-sadarnya bahwa ia tidak boleh disia-siakan, ia harus dijaga hingga akhir hayat.


Ah, terimakasih Tuhan. Jodoh yang kau kirimkan ini adalah seorang bidadari yang hebat.

46 Responses to " Ketika Saya Hampir Menyerah, Allah Akhirnya Mengirimkan Jodoh Saya! "

  1. Dan sebenarnya ini berlaku untuk banyak hal, ya Bang. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, bener..
      Berlaku untuk semuanya..

      Delete
  2. Semoga tulisannya bisa menguatkan kami yang sedang menanti jodoh bang :D
    Aamiin :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin..
      Semoga bisa tetap istiqomah dalam kebaikan dan memeluk erat keberkahan..

      Delete
  3. Salam untuk bidadarinya ya Bang Syaiha.. dia pasti perempuan yang istimewa, karena disiapkan Allah untuk mendampingi lelaki penuh inspirasi macam abang.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah mbak, terimakasih sudah mampir..

      Delete
  4. Bang syaiha, ceritanya sedih bagian akhir. Nasib menjadi jolmblo selalu ditanyakan kapan nikah #elusdada. Inspirasi sekali ceritanya bang ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜‚

    ReplyDelete
  5. Oke, tambah semangat jadi Jomblo syar'i aku bang Syaiha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jomblo syar'i sampai halal.. Asik..

      Delete
  6. Nah ... baca itu Mblo, semangat Mblo :) =d

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha..
      Semoga jomblo2 bersemangat..

      Delete
  7. Salam buat bidadarinya Bang, sempat mampir ke blog istrinya kemarin2. Penuh inspirasi juga spt Bang Syaiha, semoga selalu samawa Bang.

    ReplyDelete
  8. Salam buat bidadarinya Bang, sempat mampir ke blog istrinya kemarin2. Penuh inspirasi juga spt Bang Syaiha, semoga selalu samawa Bang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, terimakasih mbak Maria...

      Delete
  9. Sebenarnya dari tulisan ini lah sy mengenal bang Syaiha.
    Tulisan ini kali pertama sy baca di KBM (Komunitas Bisa Menulis).
    Sejak itu sy langsung like page fb, & follow blog abang.

    Terima kasih tulisannya bang, semakin menguatkan jalan yang saya pilih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sudah membaca dan mampir disini.. hehehe

      Delete
  10. Tulisannya menginspirasi bang khususnya saya yang masih setia menunggu kapan jodoh itu datang...hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga jodohnya segera datang yaaa....

      Delete
  11. Wahhh... Bidadari itu bernama mbak Ella..
    So sweet dah :)
    Jempol 5
    *Ehh

    ReplyDelete
  12. Mengharukan. :') Perjuangan yang berbuah manis. Allah lebih tahu mana yang terbaik. Ya, halang rintang semacam inilah yang justru menginspirasi dan manis untuk disimak, direnungkan. Terima kasih, Bang Syaiha. :)

    ReplyDelete
  13. Jadi pengin baca cerita pertemuan dengan bidadarinya Bang Syaiha.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga nanti sempat saya tuliskan...

      Delete
  14. Mencari dan Menanti,, keduanya merangkul saling mengimani dan mengamini... kisah ini mengajarkan tentang janji Allah SWT yang pasti, jeli tak terbantah? semua mengindah pada akhirnya.. terimakasih sudah berbagi inspirasi bang :)

    #PenaAdzka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kembali karena sudah berkunjung dan berkomentar...

      Delete
  15. Tulisan yang keren. Bolehkah kuadaptasi jadi cerpen, Bang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Monggo, asal disebutkan saja inspirasinya darimana.. hehehe

      Delete
    2. Pasti saya cantumkan. Ini cerpen buat lomba kisah inspiratif menanti jodoh.
      Jika berkenan, bisakah saya menghubungi via inbox Fb?

      Delete
  16. Huhu baru baca..semoga tetap Istiqomah teruntuk hati kecil yang menanti jodoh (saya )aamiin

    ReplyDelete
  17. inspiratif sekali, barangkali Allah menuntun kita membuka blog ini sebagai penyemangat saudara yg lain

    ReplyDelete
  18. emang sakit bgt klu ditanya kpn nikah? Apalg utk seorang wanita. Baru berusia 21 thn saja dn blm nikah sdh bnyak d tanya ini itu.. Nyeseeek

    ReplyDelete
  19. Setelah baca tulisannya jadi semangat untuk terus memperbaiki diri, semoga segera dipertemukan dengan jodoh (saya)

    ReplyDelete
  20. Jodohhh๐Ÿ˜๐Ÿ˜kapan datang๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

    ReplyDelete
  21. telat aku baca tulisanmu bang... mantap !!!
    semoga kita bisa jumpa bang.....

    ReplyDelete
  22. Inspiring.. semoga kita yg sedang menanti segera dipertemukan sembari terus memperbaiki diri ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete
  23. Keren bang tulisannya.. Inspiratif.. Smoga kita2 yg sedang menanti bisa lebih bersabar n berikhtiar deg memperbaiki diri.. #amin

    ReplyDelete