Like Fanpage Bang Syaiha

Ketika Tulisan Kita Dikritik oleh Orang Lain

By Bang Syaiha | Thursday, 3 March 2016 | Kategori:

Ketika Tulisan Kita Dikritik oleh Orang Lain, Bang Syaiha, Kisah Inspiratif, One Day One Post, Menulis Setiap Hari, Blogger Aktif, Penderita Polio, Trainer, Guru Blogger, bangsyaiha.com
Ketika Tulisan Kita Dikritik oleh Orang Lain
Ketika sedang latihan fisik –fitness, kemarin sore, ada salah satu anggota One Day One Post yang menghubungi saya secara pribadi. Katanya, “Bang Syaiha, maaf ya belakangan jarang nulis dan posting di blog. Mohon jangan dikeluarkan dari grup.”

“Beberapa hari ini,” katanya kemudian, masih melalui pesan singkat, “saya memang sedang mengalami kebimbangan, Bang. Bingung mau melanjutkan tantangan di One Day One Post atau mundur saja.”

Karena penasaran, akhirnya saya membalas pesan itu singkat, “Emang bingung kenapa, mbak?”

“Begini, Bang,” katanya menjelaskan, “sejak saya mengikuti gerakan yang Abang buat ini, secara otomatis saya jadi sering menulis dong? Nah, tulisan-tulisan itu saya sebarkan juga di media sosial, tujuannya biar teman-teman membaca dan memberi masukan.”

“Lalu?” saya bertanya tidak sabaran.

“Letak masalahnya disitu, Bang. Dari tulisan yang saya sebarkan itu, ada satu teman dekat saya yang mengkritik begini, ‘Apa hebatnya menulis setiap hari kalau yang dihasilkan adalah hanya catatan harian? Buat dong tulisan yang lebih berkelas dan berbobot! Jangan tulisan kacangan begitu!

“Karena kritikan dari teman itulah makanya beberapa hari ini saya tidak menulis. Memikirkan kalimatnya yang menohok itu. Ngerasa bahwa memang tulisan saya nggak ada apa-apanya, Bang.”

Sampai titik ini saya tertegun. Teringat bahwa saya pun pernah dijatuhkan demikian. Ada seorang teman yang membaca salah satu tulisan saya dan mengatakan bahwa karya saya itu nggak berkelas dan ecek-ecek. Waktu itu, karena saya tidak ingin memperpanjang urusan, saya diam. Bodo amat!

Suatu kali, pernah juga ada orang yang berkata bahwa saya liberal hanya karena di setiap tulisan yang saya buat tidak pernah mencantumkan ayat Al Quran dan Hadist nabi. Padahal, silakan saja baca semua tulisan saya, jika pikiran kalian sedang jernih dan tajam, seharusnya paham bahwa yang saya sampaikan toh tidak ada yang melenceng dari ajaran Islam.

Saya memang sengaja tidak mencantumkan dalil-dalil di setiap tulisan, karena ingin membuat tulisan sesederhana mungkin. Agar mudah di mengerti, bisa diterima siapa saja, dan enak dibaca. Toh, tulisan yang bermanfaat itu tidak harus membuat setiap pembacanya mengerutkan kening, bukan?

Di kesempatan yang lain, ada juga penulis senior yang menghubungi saya dan ‘marah-marah’ karena merasa bahwa tulisan saya jelek. Tidak sesuai kaidah bahasa dan EYD-nya nggak nggenah!

Semua kritikan itu saya telan bulat-bulat. Nggak enak memang. Tapi anggap saja itu jamu. Rasanya pahit, tapi menyehatkan kalau kita mau menerimanya.

Jadi, sebenarnya, setiap orang yang ingin menjadi penulis –bahkan yang sudah jadi penulis sekalipun– pasti akan mengalami hal ini: direndahkan oleh orang lain. Dianggap bahwa karya kita –baik berupa buku atau hanya sebuah artikel bebas di internet– adalah karya yang tak layak terbit. Karya abal-abal yang tidak bisa dibanggakan sama sekali.

Bagaimana jika kita dibegitukan?

Itulah yang akan saya bahas pada tulisan ini. Semoga saja berguna untuk kita semua, terutama yang sedang belajar menulis.

Pertama, adalah hak setiap orang untuk berkata A, B, atau C terhadap tulisan kita. Terserah mereka. Dan kita tidak punya kemampuan mengendalikan mereka, bukan? Maka langkah terbaiknya adalah mengendalikan diri sendiri, menerima setiap ucapan itu dengan lapang dada. Jangan didebat.

Kecuali, jika kita sudah diam dan dia masih saja mengganggu kita dengan ucapan tidak berharganya itu, barulah bilang, “Jika memang tulisan gue jelek dan abal-abal, ya nggak usah elo baca. Repot amat!

Tapi itu adalah pilihan terakhir. Jika memang sudah keterlaluan. Kalau kita masih bisa meredam emosi dan amarah kita, maka lebih baik diamkan saja.

Komentar yang tidak baik –destruktif dan tidak membangun– biasanya keluar dari pribadi yang tidak bersahabat. Maka jangan dilayani. Jauhi juga orang-orang seperti ini, karena nggak baik buat kesehatan.

Kedua, sadarilah bahwa kita selalu punya dua pilihan atas setiap kejadian –juga ucapan– yang datang: menganggapnya sebagai musibah dan bencana yang mematikan, atau melihatnya sebagai anugerah dan kesempatan untuk belajar dan terus berkembang.

Jika yang pertama, maka kita akan berhenti belajar dan selesai. Mimpi kita untuk menjadi penulis musnah. Tapi jika yang kedua yang kita pilih, maka selamat, kita sedang bergerak ke arah yang benar.

Jadi, silakan pilih, kalian akan menggunakan sudut pandang yang mana?

Ketiga, jika sudah bisa diam dan memandang setiap kritikan sebagai sarana pembelajaran, maka lakukan yang ketiga ini: teruslah menulis. Luruskan niat kembali bahwa kita menulis untuk diri kita, untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan.

Kita menulis bukan –belum– untuk memuaskan semua orang, bukan untuk membuat setiap orang senang. Karena jika itu yang kalian lakukan, maka kalian akan lelah sendiri. Adalah sebuah hal yang mustahil melakukan sebuah kegiatan –menulis– dan berharap semua orang di dunia mendukung: memberi kita pujian dan apresiasi tinggi.

Tidak mungkin.  

Satu dua orang pasti ada yang tidak suka dan menganggap kita melakukan hal sia-sia. Berkata bahwa menulis setiap hari nggak ada gunanya. Orang-orang seperti ini jumlahnya sedikit. Jauh lebih banyak yang mendukung, memberi support, dan mendoakan.

Lalu silakan pilih, mau mengikuti yang sedikit itu –berhenti menulis dan mengubur mimpi– atau terus menulis dan belajar lebih baik lagi?


Ah, saya rasa kalian sudah tahu jawabannya!

17 komentar

avatar

He..bang Syaiha, aku pilih yg kedua ya ...
Semangat :)

avatar

mantap bang,kalo saya menulis apa yang orang lain butuhkan, bukan apa yang mereka inginkan hehe.

avatar

Buat saya pribadi sih, lebih senang kalo ada yg memberi kritikan, biar tahu di mana kekurangan kita. Dari pada memeberi pujian hanya untuk menghibur.
Masalahnya, cara memberi kritikan. Kalau caranya gak sopan dan terkesan mau menjatuhkan, itu sih salah juga.
Tp seperti yg bang Syaiha katakan, 'kita tdk punya kemampuan mengendalikan mereka', betul bingits bang.. so, jadikan aja kritikan itu sebagai bagian dari resiko krn memilih jalan menjadi penulis..
harus tabah dn lapang dada, kata bang Syaiha..^_^

avatar
This comment has been removed by the author.
avatar

hihi..betul bang,, peduli amat apa kata orang,, kita baik di omongin, kita jelek apalagi...hhe..#koq sewot? #pengalaman

ahh..main ya bang.. ke gubuk,, sakifah88.blogspot.co.id
#promo

avatar

wowo..sama nih mas... kemaren di tolak naskah sama penerbit, malah di bakar naskahnya gak di balikin...katanya menghindari satu hal yg tidak inginkan..saya sedih bang, sedih karena karya saya di musnahkan..tapi membaca artikel ini saya semangat untuk tetap memperbaiki cara menulis supaya lebih baik lagi..

avatar

anway boleh mampir kawan.. ke http://intuisimelisadawson.blogspot.co.id/ di sini ada tulisan saya.. :D

avatar

Hidup memang pilihan, pilih dengarkan dan sakit hati atau abaikan! :)

avatar

Sip.. Semoga semangat..

avatar

Nah..
Itu lebih bagus, memberikan apa yang orang lain butuhkan..

avatar

Iya.. Kritik dan saran bagus asal disampaikan dalam bahasa yang baik. Masalahnya kadang orang nggak demikian..

Maka kuncinya ada di kita, mau sakit hati dan berhenti atau woles saja dan menulis setiap hari..

avatar

Di mata orang tertentu, kita nggak pernah bener yaa..

avatar

Sabaar.. Semoga jadi ajang pembelajaran..

avatar

Mungkin saya belum merasakannya sekarang (atau mungkin saya melupakannya). Yang penting, tulisan ini telah memberikan semacam warning jika saya menghadapi orang2 seperti itu.


EmoticonEmoticon