Like Fanpage Bang Syaiha

Mendaki Puncak Pernikahan

By Bang Syaiha | Wednesday, 30 March 2016 | Kategori:

Mendaki Puncak Pernikahan, cobaan pernikahan, masalah ekonomi dalam keluarga, Bang Syaiha, Kisah Inspiratif, One Day One Post, Menulis Setiap Hari, Blogger Aktif, Penderita Polio, Trainer, Guru Blogger, bangsyaiha.com
Mendaki Puncak Pernikahan
Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya, datang tak diundang, pulang tak diantar. Pesan itu, pendek saja, berbunyi: 

“Lumrah, di awal pernikahan ekonomi pas-pasan, malah terkadang kurang. Tapi justeru disanalah indahnya. Kau dan dia akan teruji, berbagi, dan saling melengkapi. Suami berangkat pagi, istri mengantarkan senang hati. Hingga pada masanya nanti, kesusahan ini berubah gelimangan materi, salah satu dari kalian lalu berbunyi, ‘Sayang, kau ingat di awal pernikahan kita dulu? Hidup kita tak terperi, terkadang malah tidak makan nasi. Aku beruntung kau tetap setia menemani.’”

Aih, mesra sekali.

Baik, tentu saja kalimat itu benar adanya, dengan satu syarat, kedua suami istri itu –yang ekonominya belum mapan di awal pernikahan, harus memiliki kesabaran, ketabahan, dan kepercayaan yang tinggi.

Masalah ekonomi, adalah salah satu penyebab sebuah rumah tangga berantakan. Hidup pas-pasan itu cobaan yang berat. Jika tak bisa sabar, tak bisa ikhlas menjalaninya, maka ketenangan yang didambakan akan sukar sekali didapatkan. 

Nah, karena pesan singkat itu, saya lalu teringat sebuah buku yang pernah saya baca, tapi saya lupa judulnya. Buku itu memberikan analogi yang tepat tentang pesan singkat di atas.

Begini, misal ada seorang kawan datang padamu membawa sebuah poto pemandangan puncak gunung. Semangat sekali ia menghampiri. Buru-buru ia sodorkan poto itu kepadamu dan berkata, “Lihatlah, poto ini indah nian, bukan? Ini kuambil minggu kemarin loh waktu sedang naik gunung sama temen-temen! Gokil ya pemandangannya!” cerocosnya antusias sekali.

Melihat poto itu, kau mengernyitkan dahi. “Indah? Darimana indahnya? Tidak ada istimewanya sama sekali!” katamu dalam hati. Rasanya sama, seperti biasanya, saat kau menyaksikan jutaan poto yang bisa kau dapatkan dengan mudah di lemarinya om Google. 

Hanya tinggal menunggu sepersekian detik, bahkan poto yang lebih menakjubkan berjejer ada disana. Poto yang dibawa temanmu tidak ada apa-apanya. Tapi baginya? Tidak! Poto itu lebih dari sekedar biasa. Bernilai tinggi sekali

Lalu, apa hubungannya dengan pernikahan? Apa hubungannya dengan hidup pas-pasan dan kenangan?

Baik. Begini. Mengapa kau menilai poto itu biasa saja tapi sahabatmu menilai luar biasa?

Tepat! Karena kau tidak mengalami susahnya mendaki, kau tidak jatuh-bangun lalu bangkit lagi. Kau juga tidak merasakan betapa lelah tulang-tulangmu mengangkat beban yang berat dari bawah hingga puncak, kau tidak bertaruh nyawa hanya untuk mendapatkan poto pemandangan yang kau anggap biasa itu. Kau cukup duduk santai saja, menyesap kopi pagi berteman sepiring gorengan, poto itu datang sendiri. Disodorkan oleh sahabat terbaikmu. Kau lihat sejenak, lalu bergumam, “Apa indahnya?”

Sebaliknya, sahabatmu, hanya untuk sekedar mendapatkan poto yang kau anggap biasa itu, ia harus mendaki, jatuh kanan kiri lalu bangkit lagi. Tidak cukup sampai disitu, sebelum ia mendaki, tulang-tulangnya pasti sudah disiapkan jauh-jauh hari. Olah raga dan makan makanan bergizi. Saat mendaki, lengah sedikit saja, ngantuk sebentar saja, bisa-bisa ia jatuh ke kiri, ke jurang dalam yang terjal dan mati.

Demi sebuah poto yang kau anggap biasa itu, ia bertaruh nyawa dan berkorban banyak hal. Maka wajar jika ia menilai poto itu tinggi sekali. Ia benar-benar memberikan apresiasi tertingginya disana.

Sama seperti tadi, saat kalian menikah dan materi belum mencukupi, lalu kalian jalani dengan sabar tiada henti, maka saat kalian bergelimang materi nanti, semua kenangan itu bernilai tinggi.

Ujung-ujungnya, kalian berdua akan saling menghargai atas apa yang sudah dicapai bersama-sama. Kalian berdua mendapatkannya dengan perjuangan. Menahan lapar, bekerja keras siang dan malam, hingga kadang berhutang ke kanan dan ke kiri, demi sesuap nasi.

Analoginya, kalian seperti dua orang pendaki gunung yang telah bersusah payah dan belelah-lelah untuk sampai di puncak. Jatuh bangun, terpeleset, hingga berdebam ke tanah berkali-kali. Hingga pada masanya nanti, ketika sudah sampai pada titik tertinggi lalu mengabadikan diri disana, poto itu akan bernilai tinggi sekali. Sebabnya, kalian mengorbankan banyak hal untuknya.

Akan berbeda jika seorang perempuan, menikah dengan lelaki yang sudah kaya raya. Biasanya –tidak semua perempuan ya, mereka tak bisa menghargai harta suaminya, menghabiskan entah kemana-mana. Boros sekali. simpel saja, mereka memang tak merasakan bagaimana jerihnya mendapatkan harta sih, jadi mengeluarkannya pun enak saja.


Demikian 

5 komentar

avatar

Bener banget bang...menjadi indah karena kita menapaki terjalnya bersama-sama dan saling menguatkan

avatar

betul Bang, setuju. Pesan buat para jomblo jangan takut menikah ketika belum punya apa-apa. karena perjuangan akan terasa manis ketika kita sampai di puncak kesuksesan.


EmoticonEmoticon