Like Fanpage Bang Syaiha

Mirisnya Pergaulan Remaja Jaman Sekarang!

By Bang Syaiha | Monday, 21 March 2016 | Kategori: |

Mirisnya Pergaulan Remaja Jaman Sekarang, Bang Syaiha, Kisah Inspiratif, One Day One Post, Menulis Setiap Hari, Blogger Aktif, Penderita Polio, Trainer, Guru Blogger, bangsyaiha.com
Mirisnya Pergaulan Remaja Jaman Sekarang
Saya sedang duduk di angkot, hendak pulang ke rumah kontrakan setelah seharian mengisi pelatihan. Udara di luar panas. Tapi disini, di angkot yang terus melaju perlahan, panas itu seperti pergi entah kemana. Raib seperti api yang disiram air.

Saya sempat membaca novel yang kebetulan saya bawa. Hingga kemudian, sebuah obrolan dari dua penumpang yang ada di belakang, mampir ke telinga.

Gimana hubungan Elu sama Bunga?” Tanya salah satu dari mereka. Saya sempat melirik melalui spion, mereka berdua masih anak sekolah, mungkin SMA. Seragam mereka mengabarkan demikian.

“Baik-baik aja.”

“Semakin hangat ya? Ngomong-ngomong, udah ngapain aja?”

Nah, pertanyaan inilah yang membuat saya memutuskan menutup buku yang saya baca, menyimpannya kembali ke dalam tas. Pertanyaan tadi, membuat daun telinga saya mengembang lebar, berharap bisa mendengar percakapan mereka lebih jelas.

“Ya kayak orang pacaran aja lah. Nggak ngapa-ngapain, kok.”

“Masa, sih?”

“Iya, gue sama Bunga nggak ngapa-ngapain. Yah, paling banter hanya ciuman dan pegang-pegang dikit lah.”

Mereka berdua tertawa dan saya diam. Sedangkan sopir angkot tak memperhatikan sama sekali percakapan saru di belakang, sibuk mengamati jalanan yang tak karuan, berlubang, banyak kendaraan, kebut-kebutan seperti tak tahu aturan.

“Tanggung banget Lu! Kenapa nggak sekalian aja Elu embat si Bunga? Ajak ke hotel kek, atau kemana gitu.”

“Nggak berani, Bro!” orang kedua yang jadi sasaran pertanyaan menjawab sambil mengibaskan tangannya, “Entar kalau sampai hamil kan berabe.”

Alamak, jaman sekarang udah aman, cuy! Elu tinggal ke apotek, beli kondom dan pakai deh. Selesai. Si Bunga nggak bakalan hamil!”

Seperti mendapat angin segar, orang kedua itu kemudian bertanya balik, “Elu udah pernah nyoba?”

“Udah lah!” katanya bangga. “Jaman sekarang, kalau pacaran cuma jalan berdua, ciuman, dan makan doang, mah, mending jadiin temen aja. Nggak keren!”

Temannya diam, tidak berkata apa-apa.

“Udah, nggak usah takut. Kalau pakai kondom, Bunga nggak bakalan hamil!”

Dan percakapan itu berlanjut hingga beberapa meter di depan. Mereka turun dan membayar ongkos. Pergi menghilang entah kemana.

*****

“Itu si Ujang, tokcer pisan euy!” celoteh seorang Bapak di warung kopi. Sebut saja namanya Deden. Ia sedang bercakap-cakap dengan pemilik warung yang bernama Cecep.

Kunaon kitu, mang?” tanya Cecep dengan logat Sundanya yang masih kental.

“Itu, baru tiga bulan menikah, istrinya sudah melahirkan aja.”

“Biasalah, mang. Anak-anak jaman sekarang, pacarannya kelewatan.”

Ujang dan Indah memang menikah beberapa bulan lalu. Mereka masih remaja. Saya mengenal Indah karena tempat tinggalnya tidak jauh, berselang beberapa rumah saja. Pernah, ketika malam hari sepulang beraktivitas di kampus, saya melihat dia dan pacarnya di pinggir jalan, di bawah pohon yang remang-remang, di atas motor berduaan.

Saya kaget, ketika tetangga sekitar kontrakan berdengung, menyebarkan berita bahwa Indah akan menikah dan tak menyelesaikan sekolahnya.

“Indah sudah hamil!”

“Lagian, pacarannya nggak ngerti aturan sih!”

“Kalau sudah begini, yang malu kan orang tuanya.”

Begitu celotehan mereka, menanggapi kabar pernikahan Indah yang mendadak. Mereka menyayangkan, masa depan yang seharusnya bisa lebih baik, malah dirusak oleh kesenangan sesaat.

*****

Dua potong kenangan di atas adalah sedikit kejadian tentang betapa karakter generasi kita semakin memprihatinkan. Tentu saja, masih banyak kejadian yang lebih mengenaskan, semisal tawuran yang telah merenggut belasan nyawa, hamil di luar nikah lalu berhenti sekolah, melakukan aborsi sembarangan, pencurian dan pembunuhan, hingga pemakaian narkoba dan obat-obatan terlarang.

Jika mengingat lagi setiap kejadian, juga mengenang beberapa potongan curhatan beberapa remaja pada saya, ada rasa miris. Ngeri sekaligus prihatin.

Ngeri karena nanti, anak saya pasti akan menghadapi jaman yang jauh lebih berantakan daripada sekarang. Jika saat ini saja sudah sedemikian parah, apatah lagi sepuluh dua puluh tahun nanti? Pasti mengerikan. Prihatin karena yang menjadi korban adalah, sebagian besarnya, remaja. Mereka adalah generasi harapan bangsa. Dan jika mereka seperti ini, bagaimana nanti ketika mereka mengambil tongkat kepimpinan?

Saya teringat akan sebuah ceramah yang pernah disampaikan almarhum KH Zainuddin MZ, katanya, “Jika kalian ingin menghancurkan sebuah bangsa (atau agama), maka rusak saja anak muda mereka. Setelah itu, tunggu sampai anak muda itu menjadi pemimpin. Mereka pasti lemah dan gampang dijajah!”

Saya membayangkan, sepuluh dua puluh tahun lagi, di Indonesia boleh jadi LGBT sudah bukan hal tabu, diterima dan dibiarkan saja. Yang penting suka sama suka. Hubungan bebas dan kumpul kebo, mungkin saja sudah menjadi hal lumrah. Yang penting kehidupan mereka tidak mengganggu siapapun, tidak membuat ricuh dimana-mana.

Pada masa itu, sepuluh dua puluh tahun lagi dari sekarang, orang-orang yang menggunakan simbol islam juga mungkin menjadi hal aneh dan diburu, dianggap kuno dan biang keributan. Gejalanya sudah terlihat sekarang, orang yang rajin beribadah ditangkap, dianggap gejala kekacauan. Perburuan itu disiarkan secara besar-besaran, menanamkan ketakutan banyak orang.

“Tuh, Nak, kalau kuliah nggak usah ikut pengajian macem-macem, nggak usah ikut pengajian macem-macem, belajar aja yang bener.”

Atau, ngeliat anaknya memakai jilbab dan menutup aurat, malah dimarah, “Kamu ini ikut aliran apa? Kok pakai jilbabnya lebar-lebar?”

Untuk menghadapi tantangan ini, maka mau tidak mau, keluarga menjadi tonggak pertahanan. Sebagai orang tua, kita harus mampu menanamkan nilai-nilai kebaikan sejak usia dini, sehingga nilai ketuhanan dan karakter Islam tertanam kokoh di dasar hati mereka. Kurangi interaksi anak-anak kita dengan televisi. Jauh lebih baik dongengi mereka dengan kisah-kisah inspiratif dan menggugah. Agar kelak, mereka menjadi pemuda yang bisa diandalkan dan tidak lemah.


Demikian. 

12 komentar

avatar

Miris...saya sedih...campur, Bang rasanya..padahl saat sy mengajar kels 6 ttg alat reproduksi, selalu sy selipkan pergaulan bebas dan akibatnya...

avatar

Pendekatan secara pribadi perlu dilakukan agar mereka benar-benar paham. Kebetulan saya mengajar privat, selama itu saya masukan nilai-nilai moral kepada anak-anak. Terutama anak kelas 6 yang baru mengalami pubertas. Iya Mba Lisa...saat pelajaran tentang alat reproduksi itu bisa dimasukkan nilai-nilai moralnya. Jaman sekarang memang pergaulan remajanya parah sekali.

avatar

Miris.. tapi kog saya kayaknya pernah baca cerita di atas... yaaa...

avatar

Pernah saya ikutkan lomba soalnya.. Hehe

avatar

Tugas kita sebagai orang tua

Lebih berat

avatar

Na'udzubillaah min dzalik. Semoga Allah turunkan pertolongan-Nya untuk kita semua aamiin.

avatar

harus benar-benar menjaga diri, membekali diri ini mah..

mempelajari betul-betul hidup itu untuk apa..

avatar

semoga Indonesia bisa berubah menjadi lebih baik. aamiin

avatar

Miris memang, jangankan para remaja yg ada di kota besar—kota kecil dan desa-desa pun remaja semakin rusak. SD saja sudah pacaran bagaimana yg sudah SMA.

avatar

Miris memang, jangankan para remaja yg ada di kota besar—kota kecil dan desa-desa pun remaja semakin rusak. SD saja sudah pacaran bagaimana yg sudah SMA.

avatar

sangat memprihatinkan kondisi saat ini. Harus bisa menjaga diri dan keluarga dari hal2 tersebut


EmoticonEmoticon