Like Fanpage Bang Syaiha

Obrolan yang Ngalor-Ngidul!

By Bang Syaiha | Monday, 28 March 2016 | Kategori: |

Obrolan yang Ngalor Ngidul! Bang Syaiha, Kisah Inspiratif, One Day One Post, Menulis Setiap Hari, Blogger Aktif, Penderita Polio, Trainer, Guru Blogger, bangsyaiha.com
Jadilah tangguh!
Wajahnya sudah mulai menua. Wajar sih, soalnya, beliau sempat bilang bahwa usianya kini sudah menginjak 52 tahun. Ia duduk di hadapan saya, terpisah meja berbentuk persegi panjang yang di atasnya ada jamuan sederhana, teh hangat dan donat berukuran besar berbagai rasa. 

"Kita bekerja saja ada SOP-nya, Standard Operating Procedure," katanya menjelaskan, "Apalagi kehidupan! Iya nggak, Bang Syaiha?" 

Saya mengangguk. Benar. Hidup itu ada aturannya. Saya tidak banyak bicara disini, lebih memilih diam saja. Jikapun harus menjawab, saya hanya bilang iya, bisa jadi, atau manggut-manggut. 

"Di agama kita, Islam, semua ada aturannya, toh?" 

Saya menggerakkan kepala naik turun lagi. Setuju sekali dengan ucapan beliau barusan, dalam Islam semua ada caranya. Mulai dari kita bangun tidur hingga akan tidur lagi, Islam sudah mengatur semuanya. Kita nggak boleh asal-asalan. Kegiatan kita sehari semalam, mau tidak mau terikat oleh aturan yang sudah ditetapkan oleh nabi Muhammad saw. 

"Lah, wong mau cebok saja kita ada adabnya! Di basuh dengan air yang bersih dan mensucikan sebanyak tiga kali, jangan sampai memercik ke celana atau sarung yang akan dipakai shalat." ia melanjutkan, berapi-api sekali, "Jika tidak ada air boleh pakai batu yang kering. Bersihkan di tiga permukaan batu yang berbeda. Jangan di sisi yang sama terus." 

Saya menanggapi singkat, berkata, "Benar, pak. Indah sekali Islam jika pemeluknya sadar betapa lengkap dan sempurna ajarannya." 

Sekarang giliran si bapak yang menganggukkan kepalanya pelan. Berujar, "Nah, disitulah masalahnya, banyak sekali orang Islam yang justru tidak bangga dengan agamanya. Merasa malu dan tidak berani menunjukkan jati dirinya. Takut dibilang ini dan itu." 

Kami diam beberapa jenak, ketika ia berseru kemudian, "Salah media juga sih! Seakan-akan sengaja mengarahkan bahwa orang-orang yang berjenggot, rajin ke masjid, dan menggelar banyak pengajian sebagai teroris! Gobloknya lagi, banyak masyarakat yang mengamini!" 

Saya tidak berani berkata apapun. Pada posisi ini, ketika lawan bicara saya adalah orang yang jauh lebih tua, maka menjadi pendengar yang bijak adalah pilihan terbaik. Diam, tidak membentah, dan setia mendengarkan saja. 

"Padahal, indah sekali jika hidup kita itu standar baik dan buruknya adalah Al Quran dan sunnah. Bukan media dan omongan orang-orang. Kita harus kembali kepada Islam, harus bangga dengan semua aturan yang sudah disempurnakan. Soalnya, kalau ukurannya adalah logika manusia, yang salah bisa jadi (dianggap) benar!" 

"Hubungan bebas misalnya, logika Barat kan bilang kalau itu tidak mengganggu orang lain dan tidak menimbulkan kekacauan, ya nggak apa-apa. Silakan saja dilakukan. Sama dengan kasus elgebete, Barat juga kan berkata demikian, itu hak mereka, pilihan hidup masing-masing dan kita tidak bisa mengganggu gugat." 

"Padahal, dalam Islam, benar dan salah sudah ada aturannya. Berlaku dari dulu hingga sekarang, baku dan tidak bisa diperdebatkan. Yang ada iman di dadanya pasti percaya dan mengikuti. Islam dasar hukumnya jelas. Dan jika kita kembali kepada-Nya, insya Allah indah sekali hidup ini, Bang." 

Ia diam sejenak, menerawang. Memandang ke depan tapi entah apa yang ada di benaknya. Seperti tidak ada apa-apa. Kosong. Dan ketika itulah, saat ia berhenti mengungkapkan keluh kesahnya, saya bertanya, "Bapak sepertinya sudah paham sekali tentang agama Islam. Jika boleh tahu, bapak belajar ngajinya dimana?" 

Ia menarik napas pelan dan berkata, "Saya baru kenal Islam lebih dekat, justru belum lama, Bang. Baru 10 tahun belakangan. Sadar bahwa hidup saya hampa (padahal harta dan semuanya ada) ketika usia saya sudah lewat 40 tahun. Ketika itulah, saya mulai berpikir bahwa ada yang salah di diri saya." 

Mendengar penuturannya, saya menelan ludah, menggigit bibir bagian bawah. 

"Saya merasa sedih karena baru mengerti tentang agama di usia setua itu." 

Saya tersenyum, menimpali, "Nggak apa-apa, Pak. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, toh?" 

Ia mengangguk, "Karena itulah saya kesini (ke rumah kontrakan saya), ingin bertemu Bang Syaiha dan belajar. Saya kenal Bang Syaiha dari fanpage Abang. Dan selama lebih kurang setahun, saya dalami apa-apa yang Bang Syaiha tulis dan sepertinya bagus. Lurus-lurus semua." 

Saya mengucapkan terimakasih. 

"Saya akan sangat bersyukur sekali jika Bang Syaiha berkenan menjadi mentor untuk anak saya." 

Saya mengernyitkan dahi. Penasaran. Maksudnya apa?

"Yah, intinya, saya ingin anak saya lebih tangguh, seperti Bang Syaiha. Saya ingin anak saya bisa berdiri di atas kaki sendiri dan yang paling utama, tentu saja, saya ingin anak-anak saya lebih dekat kepada Islam. Bisakah Bang Syaiha membantu saya?" 

Saya mengangkat kedua bahu, berkata dengan gerakan itu, entahlah! Semoga saja saya bisa membantu. 

4 komentar

avatar

Saya juga ingin di mentori Bang Syaiha

avatar

Jalan yang indah, tiada ada kata telat

avatar

Meski judulnya obrolan ngalor ngidul, tapi isi dan arahnya jelas. Gamblang...

avatar

Jadi intinya ...seperti itu? Saya kira masalah anaknya apa gitu. Semoga bang Syaiha bisa terus memberi manfaat.


EmoticonEmoticon