Like Fanpage Bang Syaiha

Perempuan, Berpenghasilanlah!

By Bang Syaiha | Thursday, 17 March 2016 | Kategori:

Perempuan mandiri, perempuan berpenghasilan, Bang Syaiha, Kisah Inspiratif, One Day One Post, Menulis Setiap Hari, Blogger Aktif, Penderita Polio, Trainer, Guru Blogger, bangsyaiha.com
Perempuan mandiri, perempuan berpenghasilan
“Sudah selayaknya, seorang perempuan juga mempunyai penghasilan sendiri, nduk,” kata lelaki setengah baya yang tubuhnya kini mulai mengecil. Gurat-gurat kegagahannya masih tersisa memang, tapi hanya tinggal menunggu waktu saja, hingga diabetes yang menggerogoti tubuhnya menikam habis semuanya.

Sedangkan perempuan yang sering kupanggil mbakyu, yang barusan dipanggil nduk oleh lelaki itu, duduk diam, menggenggam kedua tangannya, mencerna setiap perkataan yang disampaikan ayahnya –lelaki setengah baya tadi.

“Bukan apa-apa, nduk,” katanya lagi, kali ini dengan suara yang sangat lembut, “setidaknya, kalau kamu berpenghasilan, kamu tidak akan seenaknya diinjak-injak suamimu, tidak akan dipandang sebelah mata lagi. Dengan punya penghasilan sendiri, kamu akan lebih dihargai dan bisa leluasa menggunakan uang.”

Sebenarnya, suaminya adalah lelaki yang baik. Penuh kasih sayang, setia, dan mengagumkan. Hanya saja, satu dua kali, ketika tubuhnya sedang lelah, lalu mendapati rumah masih belum sesuai dengan yang diharapkan –entah itu masih kotor, belum rapi, atau belum ada makanan–, ia suka seenaknya berujar.

Seperti dua hari lalu misalnya, ketika sang suami pulang kerja dan mendapati belum ada apa-apa di meja makan, ia menggerutu, “Kamu ini, Dek, lelaki pulang kerja kelaparan malah belum ada apapun yang bisa dimakan. Kamu itu bisa ngurus rumah nggak sih?”

Kalimat ini membuat mbakyu menangis. Sesenggukan sendiri di dalam kamar, menenggelamkan wajah ke bantal kesayangan. Suaminya tidak pernah tahu, bahwa seharian ia pun sibuk. Anak pertama mereka yang masih kecil sakit, demam dan tidak bisa ditinggalkan barang sebentar saja. jadilah ia tak bisa maksimal mengurusi rumah sendirian.

“Apa yang bisa aku lakukan, Pak?” mbakyu bingung. Bagi perempuan sepertinya, yang tak menyandang gelar apapun di belakang namanya, mencari pekerjaan bak menemukan sebuah jarum jahit kecil yang tenggelam di tengah lautan. Hampir mustahil.

Ayahnya menarik napas pelan, berkata, “Kau tidak harus bekerja di perusahaan, nduk. Berpikirlah, cari kegiatan yang bisa dilakukan di rumah dan menghasilkan uang.”

“Maksud Bapak membuka warung?”

“Boleh juga. Lakukan aktivitas yang bisa dikerjakan di rumah dan menghasilkan uang. Berpikirlah, nduk.”

“Tapi, Pak,” mbakyu hendak membantah, beranggapan bahwa kegiatan itu –membuka warung, tak akan banyak menghasilkan uang, hanya menambah lelah saja, “di kampung ini sudah banyak warung. Sepertinya akan susah jika aku melakukan hal yang sama seperti mereka.”

“Nduk, rejeki sudah ada yang mengatur. Jangan gampang menyerah sebelum mencoba,” Ayahnya tersenyum tulus, lalu melanjutkan, “Kamu anak perempuan terpintar Bapak, kamu pasti bisa berpikir sesuatu yang berbeda, nduk.”

Keduanya kemudian diam lima detik. Berpikir satu sama lain. 

“Dan lagi, selain agar harga dirimu tak terlalu diremehkan suami, berpenghasilan juga akan membuatmu lebih mandiri, nduk.”

“Maksud Bapak?”

Ayahnya menyesap secangkir minuman hangat yang minim gula, menarik napas perlahan, lalu menjelaskan, “Begini, nduk. Kita tak pernah tahu masa depan, bukan? Tak pernah tahu apa yang ada di depan. Tak pernah tahu kapan ajal datang menjelang. Maka dengan berpenghasilan, setidaknya, jika –tapi semoga saja tidak– suamimu menderita sakit atau meninggal, keluarga kalian tetap bisa hidup tanpa harus merepotkan orang lain.”

“Kau dan anak-anak tidak akan terlantar karena kau pun punya penghasilan dan uang.”

Mbakyu mengangguk-anggukkan kepalanya pelan, membenarkan. Ayahnya, dari dulu memang adalah seorang panutan. Disegani oleh banyak orang, cerdas, dan bijaksana sekali.

Dan kalian tahu, sepuluh tahun berikutnya ayahnya sudah lama meninggal. Tepat beberapa bulan nasihat itu terucap, diabetes semakin ganas dan memangsa seluruh hidupnya. Menggilas habis nyawanya tanpa sisa. Nasihat tadi, adalah petuah terakhir yang dititahkan kepada anak perempuannya.

“Semua kehidupan mbakyu-mu sekarang ini, tak lain adalah karena nasihat Bapak, Dik,” katanya beberapa waktu yang lalu. Hidupnya, kini sudah bergelimang uang, mampu membeli beberapa hektar tanah, membangun rumah, dan memiliki kendaraan roda empat yang tak pernah sekalipun ia bayangkan dulu.

“Mbakyu ingat sekali, Dik,” katanya dengan mata menatap lurus ke depan, menerawang, “ketika masih SD dulu, mbakyu-mu ini cuma buruh cuci dan setrika. Upah dari mereka mbakyu kumpulkan untuk membeli keperluan sekolah dan sepatu. Tapi sekarang..”

Ia berhenti sejenak, mengusap air mata yang hampir saja jatuh.

“Mbakyu nggak pernah menyangka bisa hidup seperti ini. mbakyu pikir, hidup mbak-mu ini hanya akan berada di dapur, sumur, dan kasur saja. Menjadi ibu rumah tangga biasa.”

Ia berhenti lagi, mengambil tisu, dan mengusap matanya yang sudah menggenang.

“Untunglah Bapak menyadarkan, mbak. Bahwa seorang istri pun sebaiknya memiliki penghasilan. Agar tak terlalu dianggap rendah oleh lelaki. Dan yang terpenting, agar bisa hidup mandiri ketika cobaan datang menerpa sang suami.”

Aku mengangguk mantap, membenarkan.

“Karena bukankah tidak semua perempuan beruntung? Ada yang mendapatkan suami pelit, berat hati memberikan uang belanja, dan sukar sekali mengeluarkan uang demi keperluan rumah tangga, bukan? Maka dengan memiliki penghasilan sendiri, setidaknya, seorang perempuan akan lebih leluasa jika ingin beli apa-apa.”

“Kamu jangan begitu, ya, Dik!” ujarnya, menasihatiku, “Jadilah suami yang baik dan pengertian.”


“Insya Allah, mbak. Insya Allah.” 

16 komentar

avatar

Aku juga mau jadi perempuan berpenghasilan ^_^

avatar

alhamdulillah..dr belm menikah sy sdh berpikir begitu..harus punya penghasilan..

avatar

alhamdulillah..dr belm menikah sy sdh berpikir begitu..harus punya penghasilan..

avatar

Dan, kalau perempuan punya penghasilan sendiri, bisa sedekah sepuasnya juga ya, Bang? Setuju banget dengan tulisan Bang Syaiha.

avatar

Alhamdulillah,sy sdh berpenghasilan.
Setuju sm tulisan bang syaiha..

avatar

Bisa jadi nasihat bagus ini ....

avatar

Terima kasih nasihatnya Bang.
Bermanfaat sekali. 👍

avatar

Trenyuh sekali membacanya. Setuju dengan ulasan INI. Perempuan harus perpenghasilan Dan lwbih baik lagi jika bisa dilakukan dirumah. Kalaupun harus keluar rumah harus dapat pengasuh yang bail Dan terpercaya.

avatar

tulisaanya bang, pesannya tersampaikan dengan ringan, pengen belajar nulis gitu bang :D

avatar

Alhamdulillah sudah berpenghasilan sndiri, tinggal nyari imam nya yg belum ketemu,.

avatar

Tulisan Bang Syaiha mengisnpirasi :)


avatar

Hmm...setuju bang,nasihat yg sama diberikan bapak kepadaku.

avatar

Insya Allah... semoga saya bisa jadi wanita yg punya penghasilan sendiri tapi tidak melupakan tugas sbg ibu rumah tangga.

Nantinya... hehehe

avatar

Insya Allah... semoga saya bisa jadi wanita yg punya penghasilan sendiri tapi tidak melupakan tugas sbg ibu rumah tangga.

Nantinya... hehehe


EmoticonEmoticon