Like Fanpage Bang Syaiha

Perhatikan Orang-Orang Sekitar, Karena Jodohmu Mungkin Saja ada Disana!

By Bang Syaiha | Tuesday, 15 March 2016 | Kategori: |

Jodohmu mungkin saja dia, jodoh, pernikahan, kisah ta'aruf, Bang Syaiha, Kisah Inspiratif, One Day One Post, Menulis Setiap Hari, Blogger Aktif, Penderita Polio, Trainer, Guru Blogger, bangsyaiha.com
Jodohmu mungkin saja dia
Seorang teman bertanya kepada saya, “Yang membuat saya penasaran adalah: apakah ketika Mas Syaiha memutuskan menikah dengan Ella, rasa itu sudah ada? Rasa yang sebagian besar orang menyebutnya sebagai cinta.”

Untuk diketahui, saat menikah pada 3 April 2014 lalu, saya memang memilih seorang gadis yang baru saya kenal. Praktisnya, kami berinteraksi hanya baru seminggu saja ketika saya memberanikan diri bilang, “Mau nggak ta’aruf sama saya?” dan jawaban akan permintaan itu terlisankan pada seminggu setelahnya. Apakah dengan waktu yang sesingkat itu, rasa cinta sudah ada di hati saya?

Baiklah, saya akan menceritakan tentang potongan puzzle yang mungkin terlewatkan. Dan setelah membaca potongan ini, semoga saja kau mengerti, bahwa rasa cinta itu bahkan sudah ada sejak beberapa tahun silam. Rasa cinta yang sempat menyembul sedikit ketika melihatnya. Ingatlah satu hal, bahwa setiap kita selalu memiliki momen spesial. Dan itu, boleh jadi saat kita bertemu pasangan kita pertama kalinya.

Waktu itu tahun 2011, ketika ajakan ta’aruf saya, untuk kedua kalinya ditolak. Belum berjalan sama sekali memang. Saya hanya baru menyerahkan berlembar-lembar biodata kepada seorang ‘alim dan memintanya untuk mencarikan perempuan yang mau menerima saya. Tak lama setelahnya, ‘alim itu berkata bahwa ada seorang gadis yang siap menikah –juga sudah menyerahkan biodata kepada ‘alim yang lain, dan dengan gadis inilah saya diperkenalkan.

Malangnya, seperti yang sering saya katakan pada kalian, bahwa urusan menikah bagi seorang lelaki pincang seperti saya ini, bak mencari jarum kecil di atas jerami yang menggunung. Saya ditolak hanya pada tahapan pertama. Ia belum sanggup menerima.

Bohong jika saya berkata bahwa saya baik-baik saja. Bagaimanapun, penolakan itu menyakitkan. Dan saya punya dua kebiasaan untuk mengatasinya. Pertama, biasanya, saya akan pergi ke stasiun Bogor, membeli tiket ke Jakarta dan berangkat. Sepanjang perjalanan, saya memilih duduk sendiri dengan headset tersumbal di telinga, memutar musik keras-keras dan merenung. Sesampainya di stasiun kota Jakarta, saya akan langsung ke loket, membeli tiket kembali, dan melakukan hal yang sama.

Mungkin kalian akan menganggapnya gila. Biarlah.

Pilihan kedua, saat hati saya sedang tidak bersahabat, biasanya saya pergi ke toko buku, membuka berlembar-lembar judul apa saja, atau sekedar memperhatikan orang-orang yang sedang membaca. Dan waktu itu, ketika penolakan itu menyisakan sesak yang tak kunjung reda, saya memutuskan pergi ke Bogor Islamic Book Fair 2011 –memperhatikan orang-orang.

Saya sedang membuka berlembar-lembar buku kala itu, membaca beberapa potong kalimat, dan menutupnya lagi. Entahlah, saya tidak pernah menghitung itu judul buku yang keberapa. Yang saya sadari, di depan saya berdiri, sudah ada setumpuk buku yang berserakan. Saya sempat melirik ke penjaga stan yang memelototi, “Jadi beli nggak sih?” begitu kira-kira wajahnya bilang.

Demi pandangan mata yang mengancam itulah, saya langsung merapikan barang dagangannya. Nggak lucu kan kalau sampai saya diusir dan diomeli? Nah, ketika saya sedang menunduk-nunduk malu seperti pesakitan itulah, ujung mata saya kemudian menangkap sekelebat bayangan –sepertinya seorang perempuan. Saya mendongkkan kepala lagi, mencari sosok yang sempat membuat saya penasaran.

Saya menyaksikan keindahan penciptaan. Seorang perempuan mungil nan menggemaskan itu berdiri diam mengedarkan pandangan. Ia berbusana gelap. Membuat wajahnya semakin bersinar. Di lehernya, ada kamera besar merk kenamaan. Mendapati bahwa yang dicarinya tidak ada, ia mengambil ponsel dan mengetikkan beberapa kalimat disana. Tak beberapa jenak, Ia kembali ke dalam.

Ya Tuhan. Cantik sekali Ia. Darah saya sempat berdesir.

Kawan, inilah fitrahnya seorang lelaki. Benar bahwa beberapa waktu sebelumnya, saya baru saja ditolak dan merasakan sakit yang tak terperi. Tapi saya tetap bisa mengagumi seseorang setelah lewat beberapa hari. Lalu apakah saya kemudian mendekati? Ini urusan lain. Karena ada otak kiri yang mempertimbangkan banyak tragedi.

Ya, saya tidak mendekati gadis mungil nan anggun tadi. Dalam hati hanya bilang, “Sudahlah, Syaiha. Baru juga gagal ta’aruf kemarin. Mungkin kau harus banyak berkaca, menekuri diri sendiri. Apalagi, perempuan tadi cantik sekali. Apa mungkin dia mau menerimamu?”

Bak seorang tentara yang bahkan belum pergi ke medan perang, saya lalu mundur teratur. Balik kanan dan pulang.

Kawan, kau tahu, Tuhan ternyata memang luar biasa hebat. Setelah sekian tahun saya tak pernah mengingat potongan kejadian itu, juga setelah tiga kali gagal pada ta’aruf yang lain, DIA malah mempertemukan saya dengan gadis berkalung kamera tadi di tahun 2013. Tepatnya pada 24 November di Kota Tua.

Kali ini pada kesempatan yang lebih baik. Singkat cerita, saya memberanikan diri berkenalan. Seminggu setelahnya saya ajak menikah. Seminggu setelahnya lagi, saya diterima. Lalu menikahlah kami di 3 April 2014 –awalnya ingin menikah Januari, tapi tertunda karena sesuatu hal– tepat di hari jadi saya yang ke-28.

Luar biasa.

Nah, apakah saya sudah mencintai istri saya ketika memutuskan menikah dengannya? Tentu saja. saya sudah memiliki kecenderungan itu bahkan sejak 2011. Hanya sempat terlupakan. Dan kecenderungan itu tak besar. Tapi ada. Ia baru saja lahir seperti seorang bayi yang menggemaskan, memiliki banyak potensi, dan siap berkembang. Atau seperti tunas yang sehat. Siap untuk tumbuh subur dan rindang.

Akhirnya, saya ingin bilang, mulai sekarang, ada baiknya kalian memperhatikan setiap potongan-potongan kejadian yang pernah ada. Karena boleh jadi, jodoh kalian ada disana. Kita saja yang kurang peka atau tak menyadarinya.


Demikian. 

4 komentar

avatar

Kapan ya ?

Jempol dehh tulisan bg Syaiha. Kerenn

avatar

Tulisan ini juga menginspirasi tulisan saya hari ini (hehe).

Bener-bener tulisan yang kerennn .....

avatar

Setiap kisah cinta memang memiliki keindahan tersendiri. Sabar ya joms *pukpuk diri sendiri

avatar

Duh,, kalau gitu mulai sekarang sy akan memperhatikan potongan2 orang yg sy kenali.... hihihihi


EmoticonEmoticon