Like Fanpage Bang Syaiha

Sudah berusia 30 tahun, Tapi Belum Menikah Juga!

By Bang Syaiha | Tuesday, 29 March 2016 | Kategori:

Usia sudah 30 tahun tapi belum menikah, Bang Syaiha, Kisah Inspiratif, One Day One Post, Menulis Setiap Hari, Blogger Aktif, Penderita Polio, Trainer, Guru Blogger, bangsyaiha.com
Add captionSudah berusia 30 tahun, Tapi Belum Menikah Juga!
Bang Syaiha,” sapa seorang perempuan melalui kotak masuk fan page saya, “Perkenalkan, nama saya Indah –bukan nama sebenarnya. Saya seorang gadis yang belum juga menikah. Padahal usia saya sekarang sudah 30 tahun.”

“Sebenarnya, bukan tak ada lelaki yang mendekati. Karena setidaknya, sejak usia saya 25 tahun hingga sekarang, ada tiga orang yang menjajaki. Malang, semua tidak memenuhi kriteria minimal yang saya harapkan.”

“Lelaki pertama, dekat dengan saya ketika usia saya masih 25 tahun. Anggap saja kedekatan kami waktu itu adalah usaha perjodohan yang dilakukan orang tua. Kami berdua dekat. Bahkan tanggal akad pun sudah dibuat. Sayang, karena ketidak konsistenan pihak keluarga mereka, rencana yang sudah ditetapkan buyar. Berantakan dan tak jadi diselenggarakan.”

“Memangnya, keluarga pihak lelaki tidak konsisten bagaimana, Mbak?” saya penasaran.

“Mereka, seenaknya saja bilang tanggal akan dimajukan. Kami, selaku keluarga perempuan kan kelabakan. Dan anehnya, ketika saya tanyakan ke lelaki yang berniat menikahi saya, mengapa tanggal akad nikah akan dimajukan? Eh malah dia bilang, “Loh, bukannya itu permintaan keluargamu?”

“Saya lalu mencium sesuatu yang tak benar. Ada sesuatu yang salah.”

“Benar saja, Bang. Sebulan setelah itu, entah karena apa mereka berkata, tak jadi meneruskan proses yang sudah sekian lama berjalan.”

“Keluarga saya merasa dipermalukan. Harga diri kami berantakan.”

Sampai titik ini, saya masih tak ingin menyela. Karena saya lihat, Indah masih ingin melanjutkan kisahnya.

“Lelaki kedua, adalah sahabat teman saya. Kami dikenalkan, tapi kemudian gagal juga. Pasalnya, belum menikah saja dia sudah menuntut banyak hal. Ini dan itu. Saya tidak boleh bekerja dan harus rela dibawa kemana saja.” 

“Batin saya menolak.” Ujarnya –melalui pesan singkat di kotak masuk, “Keluarga saya tidak mampu. Ayah dan Ibu sudah tua dan renta. Susah bekerja dan tak bisa apa-apa. Selama ini, saya adalah tulang punggung keluarga. Sehingga rasanya, saya tak mungkin meninggalkan mereka.”

“Jika dia mau menikahi saya, maka dia harus merelakan saya bekerja, juga tidak membawa saya kemana-mana. Semua ini saya lakukan demi orang tua. Dan saya pun berjanji, semua itu tak akan mengurangi bakti saya kepada suami nanti.”

“Malang, si lelaki tadi tak menerima. Lebih memilih mundur dan tak jadi menikahi.”

Kembali, saya mendesah. Pernikahan itu memang begini, misteri. Tidak ada yang bisa menebak-nebak akan bagaimana nanti.

Bang Syaiha, lelaki ketiga adalah teman SD saya. Kami bertemu pada sebuah kegiatan. Ia menyapa, bertanya kabar. Kami pun lalu terlibat obrolan selayaknya teman lama yang lama tak bersua. Ngalor-ngidul. Nggak jelas kemana ujung pangkalnya.”

“Dan entah karena angin apa, keesokan malamnya, Ia datang ke rumah. Menemui orang tua saya dan menyampaikan niat baiknya ingin menikahi saya. Ia berjanji, jika direstui, maka berikutnya akan datang lagi dengan keluarga besarnya.”

“Orang tua saya sempat senang.” Indah melanjutkan, “Hingga hari-hari berikutnya, ketika si lelaki itu datang ke rumah, meminta ijin hendak mengajak saya jalan-jalan, orang tua saya mempersilakan.”

“Dia mengajak saya berkeliling kota. Tidak jelas tujuannya. Berputar-putar saja. Hingga kemudian, tanpa saya sangka, Ia mengajak saya ke rumah kosong. Rumah saudaranya. Jelas saja saya menolak. “Ngapain kita kesana?” kata saya penasaran.”

“Dia enteng sekali bilang. “Ya, ngapain aja. Nonton televisi, tiduran-tiduran dan bermesra-mesraan.”

“Saya menolak, dan bilang, “Saya tidak mau. Kita belum menikah. Belum halal.” Dan dia jawab seenaknya, “Memangnya kenapa? Saya pun nanti akan bertanggung jawab. Sekarang atau nanti, sama saja, bukan? Ayolah, kita kesana dan bermesra-mesraan.” Ajaknya lagi dengan wajah penuh birahi.”

“Beruntung Allah masih melindungi saya. Hari itu, dia tidak berhasil membawa saya ke rumah kosong yang Ia ceritakan. Tapi dia tak menyerah. Hampir setiap malam dia mengajak saya sms-an, bermesum di dalamnya. beberapa kali malah mengajak saya phone sex, sebuah hal yang tak pernah saya mengerti sebelumnya.”

“Karena semua kelakuannya yang tak bermoral itulah, akhirnya saya memutuskan untuk tidak melanjutkan rencana pernikahan dengannya.”

“Jujur saya, Bang Syaiha,” kata Indah lagi, “Saya trauma. Apakah semua lelaki demikian? Lalu bagaimana bisa, saya yang berkerudung lebar dan panjang ini diperlakukan demikian? Apakah dia tidak menghargai busana yang saya kenakan?”

“Saya sadar, hingga sekarang saya belum menikah, boleh jadi karena sikap saya yang terlalu memilih. Tapi tak mengapa. Biarlah. Mencari suami tentu harus yang terbaik, nggak boleh asal-asalan. Bukankah begitu, Bang Syaiha?”

Ya, saya sepakat dengan Indah. Semua yang dilakukannya, saya rasa sudah benar. Tidak ada yang salah.

Suami adalah title terhormat. Ia pemimpin keluarga, juga teladan anak-anak. Maka bodoh sekali jika dalam mendapatkannya, kalian tak memilih-milih. Tidak melakukan seleksi dengan baik. Asal terima saja karena umur yang kian menua.

Jangan begitu, nanti malah menyesal dan berantakan.

“Tapi, Bang Syaiha, bagaimana kalau kita menjadi perawan tua?”

Amboi, bagi saya, tentu itu lebih baik dibandingkan salah memilih lelaki sebagai pendamping sepanjang usia. Bisa menderita. Dan ujung-ujungnya, perceraian yang tak diharapkan terlaksana. Ini kan malah rugi dua kali.

Lebih baik, tetap bersabar. Berdoa dan tawakkal.

Sabar, dalam kasus ini, bukanlah kesabaran pasif, berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa. Justru, yang saya maksud adalah sabar dalam mencari, aktif. Terus berbenah menjadi lebih baik lagi. juga berusaha mendapatkan lelaki dengan cara yang Islami.

Dekati seorang kiyai, minta bantuannya untuk mencarikan suami. Tentu, Ia memiliki banyak kenalan orang-orang baik. Orang-orang shalih yang boleh jadi juga sedang menanti. Iringi juga usaha ini dengan banyak memberi. Santuni anak yatim yang ada di kanan dan kiri, tebar senyum kepada siapa saja yang ditemui, juga membuka diri kepada lebih banyak orang lagi.

“Tapi saya trauma, Bang Syaiha. Saya takut semua lelaki demikian. Berotak mesum dan tak karuan.”

Alamak, tentu saja itu pemikiran yang konyol sekali. Sapi adalah hewan berkaki empat, tapi semua yang berkaki empat belum tentu sapi, bukan? Lelaki juga demikian. Jangan disama ratakan. Dia –yang mendekatimu dan mengajak bermesum ria, adalah lelaki. Tapi tidak semua lelaki memiliki prilaku yang sama sepertinya.

Jangan memukul rata semua. Itu pemikiran yang tak adil.

Carilah lelaki-lelaki yang baik di masjid-masjid, di tempat-tempat pengajian, dan di majelis-majelis ilmu. Benar, bahwa itu semua tak menjamin kemuliaan mereka. Tapi setidaknya, mereka punya niat mendekatkan diri pada ilahi, punya kemauan mendalami ilmu demi bekal hidup denganmu nanti. Peluang salah pilih suami, jadi bisa terhindari.

Demikian. 

10 komentar

avatar

minta cariin ama bang Syaiha aja... keknya anak odop banyak yg available hehehe..

avatar

Saya lebih setuju kalimat-alimat ini"

“Tapi, Bang Syaiha, bagaimana kalau kita menjadi perawan tua?”

Amboi, bagi saya, tentu itu lebih baik dibandingkan salah memilih lelaki sebagai pendamping sepanjang usia. Bisa menderita. Dan ujung-ujungnya, perceraian yang tak diharapkan terlaksana. Ini kan malah rugi dua kali.

karena suami kita dampingi setiap hari peimpin bagi keluarga dan teladan bagi anak-anak.

avatar

Lebih baik telat menikah tapi sakinah mawaddah wa rahmah karena ketemu jodoh yang pintar cari ridho Allah, daripada buru2 tapi hancur lebur jadi debu karena ketemu pasangan yang hanya senang memperturutkan hawa nafsu

avatar

High Quality Jomblo.. menerima dan menolak karena Allah, Insya Allah tetap berkah umurnya :-)

avatar

nice share bang.hight quality it's must!

avatar

analoginya gokil bang.
Sapi berkaki empat. ^_^
ada ada aja. hahaha

avatar

Mencerahkan untuk wanita yg dlm penantian

avatar

Mencerahkan untuk wanita yg dlm penantian

avatar

Saya suka ini. Sapi adalah hewan berkaki empat, tapi semua yang berkaki empat belum tentu sapi, bukan? . hehehe. Mantap bang.

avatar

bang syaiha maaf bs tolong baca chat di fan page,,makasih


EmoticonEmoticon