Like Fanpage Bang Syaiha

Tantangan Mengajar Matematika di Jam Terakhir

By Bang Syaiha | Wednesday, 2 March 2016 | Kategori:

Tantangan Mengajar Matematika di Jam Terakhir, Bang Syaiha, Kisah Inspiratif, One Day One Post, Menulis Setiap Hari, Blogger Aktif, Penderita Polio, Trainer, Guru Blogger, bangsyaiha.com
Tantangan Mengajar Matematika di Jam Terakhir
Kemarin siang, saya mengajar Matematika di jam terakhir. Jadi kebayang dong, bagaimana usaha saya memompa semangat siswa-siswa agar tetap on di siang hari? Di jam-jam bego', mereka harus belajar Matematika, sebuah materi yang boleh jadi adalah momok bagi sebagian besar siswa di negeri ini. 

Kosa kata itu, jam-jam bego', saya dapatkan dari mereka. Di siang hari, ketika tubuh sudah lelah belajar dari pagi, pikiran juga sudah penat dan ingin segera kembali ke asrama untuk merajut mimpi (baca: tidur), mereka malah harus belajar. Tentu otak sudah susah digunakan. Nggak fokus dan bawaannya ngantuk. Ketika ditanya, beberapa kali jawaban mereka juga ngelantur

Karena semua fakta itulah, maka mereka kemudian menyepakati sebuah istilah baru, jam-jam bego'. Satu keputusan yang kemudian diamini oleh semua siswa yang hadir di kelas. Saya yang waktu itu ada juga ikut tersenyum, berkata dalam hati, "Kalian ini kreatif sekali sih!"

Nah, kemarin siang, di jam-jam bego' itu, ketika hendak belajar Matematika, saya mendapati wajah mereka lemah, letih, dan lesu. Mata mereka sayu, otot wajah melorot, dan tubuh terlihat lunglai. Seperti tidak ada tenaga sama sekali. Mereka duduk dengan bahu yang jatuh dalam sekali. 

Usut punya usut, ternyata hal ini terjadi karena mereka tidur sejenak setelah shalat Zuhur di masjid dan harus kembali jam satu siang ke kelas. Jadilah mereka datang dengan wajah mengantuk (untung nggak ada bekas ilernya). 

Mendapati kondisi mereka demikian, maka saya harus memutar otak dong? Saya nggak mau berbusa-busa menjelaskan di depan tapi tidak diperhatikan. Jadinya sia-sia ntar. Sebisa mungkin, di sisa tenaga dan pikiran, mereka harus tetap belajar. 

Akhirnya, saya mengambil keputusan dalam waktu singkat, mengubah rencana pembelajaran saya seketika. Tidak jadi saya jelaskan di depan kelas dan meminta mereka saja yang menerangkan. Ada dua sub bab yang akan saya jelaskan dan siswa saya bagi menjadi dua kelompok. Masing-masing mendapatkan jatah satu sub bab. Tugas mereka adalah: 

Satu, menonton video pembelajaran yang sudah saya berikan (Alhamdulillah saya punya video pembelajaran MIPA untuk SMA. Ada yang mau? Silakan japri saya langsung saja.) Setiap kelompok harus memahami apa saja poin penting dan teorema yang dipakai. Selain itu, mereka juga harus mencari satu dua contoh soal untuk dikerjakan di depan. 

Dua, setelah selesai menyaksikan video pembelajaran dan memahaminya, mereka ditugaskan untuk menjelaskannya di depan kelas. Menjadi guru dadakan. Ketika mereka menerangkan, yang lain diam dan memperhatikan. Boleh bertanya saat dipersilakan. Selain menjabarkan materi, setiap kelompok juga harus memberikan satu dua contoh untuk dikerjakan. 

Dengan dua langkah ini, tentu saja siswa tidak ada yang bisa mengantuk. Mereka menjadi on dan harus memenuhi apa yang saya amanahkan. Mereka ingin tampil maksimal dan bisa menjelaskan ke teman-teman yang lain. Karenanya, mereka harus mempelajari sub bab masing-masing. Mereka yang belajar dan mengajarkan. Sedangkan saya santai di pojokan, memperhatikan dan sesekali membenarkan jika ada yang keliru. 

Selain itu, kita tentu paham, bahwa dengan cara ini, siswa seharusnya akan lebih memahami dan mampu mengingat dalam jangka waktu yang panjang. Semakin banyak indera yang terlibat pada sebuah pembelajaran, maka semakin bagus hasil yang didapatkan. Dan metode tutor teman sebaya ini, tentu menggunakan indera yang jauh lebih banyak dibandingkan hanya duduk mendengarkan, bukan? 

Dan lagi, dengan saling belajar dan mengajarkan, mereka tidak hanya menjadi pintar. Tapi juga berlatih bagaimana bicara di depan orang banyak. Sebuah keterampilan yang belum tentu bisa dilakukan oleh banyak orang. 

Demikian. 

31 komentar

avatar

Wahh... Berat bang...

Saya yg udah hampir 5 tahun ga ketemu matematika aja masih males denger nya, wkwkw

avatar

Betul Bang, kita kudu pinter buat yang jadi momok jadi hal yang menyenangkan.

avatar

Pembelajaran siswa aktif.. keren bang.. (y)

avatar

Jam terkahir memang kudu ekstra

avatar

Jadi ingat diri sendiri, jam pelajaran matematika bawaan nya pengen tidur mulu,. Hehehe

avatar

Hiks, dulu pas SMA belajar Matematika di jam trakhir juga, gurunya sudah lumayan sepuh. Suaranya pelan. Waaah udah deh kelar hidup semua siswa!

avatar

Hingga sekarang aku kurang tertarik dengan matematika. Hehe

avatar

student learning metode yang bagus... tapi kalo matematikanya ampuuunn hahha ...

avatar

Aku juga gak bisa bersahabat dengan baik ama si matematika..😂😂😂😂

avatar

Pelajaran menyenangkan bagi saya bang

avatar

Hahaha...
Jangan begitu..

avatar

Disitulah kreativitas guru dituntut..

avatar

Sekarang harus belajar lagi, buat nemenin bang Alif belajar..

avatar

Padahal mengasikkan loh mas..

avatar

Cobalah dekati dan senangi..

avatar

Sama..
Bagi saya juga menyenangkan..

avatar

Alhamdulillah dapat ilmu baru lagi, terimakasih Bang

avatar

Cara mengajar yg superr!!

avatar

Terimakasih kembali..

avatar

Siswanya juga super-super, mbak..

avatar

Menginspirasi loh bg.. semoga nular semangatnya ke aku.. biar jadi guru kreatif juga.. Aamiin

avatar

Menginspirasi loh bg.. semoga nular semangatnya ke aku.. biar jadi guru kreatif juga.. Aamiin

avatar

Bang Syaiha, matematika???
Sama dengan saya, bang.. Tapi saya cuma setahun ngajar anak sma, hihi..

avatar

Saya mau kuliah pagi atau siang sama aja, ngantuk -_-

avatar

Wah, aku dulu suka matematika, tetapi sekarang denger "matematika" saja sudah ngantuk bg syaiha :D

avatar

hihihi...
Kebayang remedial matematika

avatar

Matematika menjadi sosok yang menakutkan bagi para remaja, tapi jadi asik kalau yg ngajar bang Syaiha :D


EmoticonEmoticon