Like Fanpage Bang Syaiha

Tiga Hal yang Seharusnya Dilakukan Penulis Jaman Sekarang!

By Bang Syaiha | Friday, 1 April 2016 | Kategori: | | |

3 Hal yang Seharusnya Dilakukan Penulis Jaman Sekarang, Bang Syaiha, Kisah Inspiratif, One Day One Post, Menulis Setiap Hari, Blogger Aktif, Penderita Polio, Trainer, Guru Blogger, bangsyaiha.com
Sepotong Diam
Hari ini, ada dua orang yang memesan novel Sepotong Diam. Satu ke Makassar, satu ke Pekalongan. Sempat tidak ingin memberikan karena stok yang nyaris habis, tapi ketika dia meminta dengan sangat, akhirnya saya merelakan saja. Nggak apa-apa, nanti saya bisa mencentaknya lagi jika memungkinkan.

Atau, jika ada yang punya modal dan nggak sengaja membaca postingan ini, boleh juga jika mau membantu saya. Diterima dengan tangan terbuka dan tentu senang saya.

Di rumah, novel Sepotong Diam tinggal beberapa saja. Awalnya, saya ingin menyisakan minimal 5 buah untuk disimpan sendiri dan tidak dijual lagi. Untuk kenang-kenangan. Bagaimanapun, tentu senang sekali bukan jika anak dan cucu kita nanti membaca hasil karya kita?

“Ibu, katanya kakek itu seorang penulis ya? Ada bukunya nggak? Mau dong baca..”

Nah, jika kita punya koleksinya, maka mudah saja mereka (anak cucu kita), menikmati. Menjadi tahu bahwa kakeknya adalah orang yang luar biasa, semoga.

Tulisan adalah jejak kehidupan yang akan menjaga kita tetap dalam keabadian.

Balik lagi ke dua orang yang memesan novel Sepotong Diam tadi.

Saya sempat berpikir beberapa kali ketika dua pembeli hari ini mengutarakan maksudnya. Ingin bilang, “Maaf, novelnya sudah habis,” tapi tidak jadi. Biarlah. Semoga saja ada kebaikan yang bisa mereka ambil dan saya mendapatkan balasan yang berlipat. Pahala di sisi Allah. Aammiin.

Sejak dicetak untuk kedua kalinya, novel Sepotong Diam memang mendapatkan respon yang baik. Saya bersyukur, senang.

Satu eksemplar pernah terbang ke Hongkong, menyapa pembaca setia blog saya disana.

“Mas Syaiha, saya adalah salah satu pembaca blog sampean. Senang sekali. Tulisannya bagus dan mengalir. Enak. Nah, kebetulan novel Sepotong Diam sudah terbit, bolehkah saya beli satu dan dikirim ke Hongkong?”

Alamak, tentu saja boleh. Saya jawab pesan singkat itu, dulu, “Kalau ke Hongkong pasti mahal, mbak. Atau mau tunggu saja ketika kembali ke Indonesia?”

Dia jawab, “Saya kembali ke Indonesia masih lama. Tidak apa-apa mahal. Saya kirimkan uang 1,5 juta. Jika ada lebihnya, silakan ambil saja. Untuk Bang Syaiha.”

Buset! Itu kan banyak sekali. Dan singkatnya, saya memang hanya menghabiskan tidak sampai 500ribu. Sisanya satu juta lebih. Hendak saya kembalikan, tapi pembaca blog saya itu tidak mau. Mengikhlaskan begitu saja. Semoga menjadi kebaikan dia juga.

Kemudian, beberapa minggu lalu, ada satu lagi pembeli dari Malaysia yang juga demikian. Saking tidak sabarnya (mungkin), beliau meminta saya mengirimkan novel Sepotong Diam ke kediamannya.

“Kayaknya ongkirnya mahal, Bu. Nggak apa-apa?”

“Tidak apa-apa, Bang Syaiha.”

Ya sudah, terbanglah Sepotong Diam kesana, sampai dengan selamat dan sudah mulai dibacanya. Padahal, kedua orang ini, yang selalu membaca tulisan-tulisan saya, adalah mereka yang belum pernah saya kenal, tidak pernah bertemu, dan jarang berinteraksi kecuali beberapa kali saja.

Bagaimana kami terhubung?

Pertama, melalui tulisan-tulisan saya
Karena hal inilah, maka saya sangat menganjurkan kepada siapa saja yang ingin menjadi penulis untuk ngeblog, mengelola sosial media dengan baik, dan show off. Di jaman sekarang, ketika dunia maya sudah berkembang sangat cepat dan pesat, maka kecerdasan ini diperlukan. Pintar menampilkan diri dan menyebarkan kebaikan.

Kedua, melalui sosial media
Ada facebook, twitter, instagram, dan blog. Kelola salah satu atau salah duanya dengan serius dan kalian pasti akan mendapatkan imbas kebaikannya pula. Isi media sosial itu dengan sesuatu yang berguna dan dibutuhkan. Penuhi dengan hal-hal yang banyak dicari orang.

Hingga pada titik tertentu nanti, percayalah, kalian pasti akan (pelan tapi pasti), dikenal orang-orang, lelaki dan perempuan. Satu dua malah ada yang menghubungi secara pribadi, berterimakasih atau apa saja.

Ketiga, cantumkan kontak yang bisa dihubungi
Kalau yang ini, sesuai kebutuhan saja. Kalian bisa mencantumkan nomor ponsel, pin BBM, atau whatsapp di beberapa tempat: sosial media dan blog. Karena boleh jadi, akan ada orang-orang yang menelpon, mengajak berkenalan dan bekerja sama.

Begitulah, tiga hal ini saya lakukan dengan baik dan saya mendapati banyak keuntungan: diundang ke beberapa pelatihan dan seminar, banyak yang membeli novel Sepotong Diam, atau apalah.

Yah, walau benar saja, satu dua kali ada yang iseng, menelpon tapi nggak jelas mau ngapain. Tidak masalah. Tidak begitu mengganggu sekali juga, kok. Maka saya tenang-tenang saja.


Demikian. 

16 komentar

avatar

Yess , Saya Akan Ikuti Tips dari bang syaiha ini
terimakasih Bang wejangan siang harinya hehe

Bermanfaat

avatar

Mantap, bang.

Jadi pngen baca novelnya.

avatar

Mantap, bang.

Jadi pngen baca novelnya.

avatar

Hehehe... colek "pemodal" yang baca tulisan ini... keren bang... saya punya impian pengen buat novel juga. Do'akan ya Bang... dan mohon bimbingannya

avatar

Tambah mantap. Tulisan saya di Blog hari ini juga bercerita tentang Bang Syaiha.

avatar

Oke sip bang
moga aku juga bisa nerbitin novel, Aamiin...
hehe

avatar

Subhanalloh, inspiratif sekali tulisannya Bang. Terima kasih sudah bersedia berbagi. Semoga aku juga bisa meninggalkan jejak melalui tulisan-tulisanku :-)

avatar

saya pernah mengalami hal yg mirip-mirip seperti ini.. insyaallah akan saya tuliskan di antologi nanti.. :)

avatar

Keren..jadi tambah semangat..

avatar

Terima kasih Bang, setelah membaca-baca blog Bang Syaiha dan istri, saya jadi semangat mengaktifkan lagi blog saya yang sudah mati suri. do'akan saya istiqomah menulis :)

avatar

Terima kasih bang Syaiha untuk tipsnya. Insya Allah akan saya coba lakukan deh.. :D

avatar

Wah ... "The power of tulisan"

avatar

Terima kasih bang Syaiha untuk tipsnya. Insya Allah akan saya coba lakukan deh.. :D


EmoticonEmoticon