Like Fanpage Bang Syaiha

Allah yang Mencukupkan!

By Bang Syaiha | Thursday, 14 April 2016 | Kategori:

Allah yang mencukupkan, Kisah inspiratif, Bang Syaiha, www.bangsyaiha.com
Allah yang mencukupkan!
Dulu, saya sempat mengeluh ke Allah tentang kondisi ini, kaki kanan saya yang istimewa. Saya iri dengan mereka-mereka yang bisa berjalan normal, ingin seperti mereka yang bisa berlari kencang. 

Sayangnya, itu mustahil. Semustahil saya bisa terbang melintasi awan-awan putih yang lembut dan indah itu. Sejak usia satu tahun hingga sekarang, saya harus tumbuh dengan kaki yang “istimewa” dan tidak bisa melakukan itu semua.

Bohong, jika saya bilang bahwa saya tidak pernah putus asa! Bohong, jika saya katakan saya selalu bersemangat dan bertenaga! Karena ada kalanya saya tidak bersemangat suatu ketika.

Dan salah satu hal yang sering saya keluhkan dulu adalah, “Ya Tuhan, dengan kondisi ini, mungkinkah saya bisa mencari nafkah sendiri? Mungkinkah saya bisa mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan?”

Sedangkan di luar sana, jangankan orang-orang seperti saya –yang cacat, bahkan yang normal sekalipun, yang bergelar sarjana di belakang namanya, kesusahan mencari kerja. “Engkau sarjana muda, sibuk mencari kerja. Sia-sia..” sindir Iwan Fals pada salah satu lagunya.

Apa tah lagi diriku yang berjalan saja tak biasa, tertatih, dan jelek sekali.

Bukan hanya saya sebenarnya, bahkan orang tua pun dulu pernah bilang, “Sebaiknya kamu ambil jurusan keguruan saja. Dengan kondisimu itu, tentu hanya itu pekerjaan yang mungkin bisa kau maksimalkan.”

Dan lagi, seorang dosen di IPB juga pernah berkata tidak sengaja di kelasnya, dia tidak tahu ada saya disana. Ia bilang, “Orang-orang cacat di Indonesia ini diperlakukan tidak adil. Mereka, pasti bakal kesulitan mendapatkan pekerjaan karena keterbatasannya itu.”

Semua keluhan dan ucapan orang tua dan dosen itu, lalu dibuktikan dengan kenyataan yang saya hadapi. Beberapa kali saya melamar pekerjaan, sebanyak itupula penolakan saya terima. Dan penolakan itu selalu terjadi pada tahap interview. Pada tahap-tahap sebelumnya, tes tertulis dan psikotest, saya selalu lolos, bahkan hampir selalu menjadi yang teratas.

Wajar, sejak sekolah hingga kuliah, saya memang selalu berada di urutan teratas –atau minimal masuk tiga besar. Tuhan memberikan kecerdasan yang luar biasa untuk saya.

Hingga pada suatu ketika, di sebuah interview pekerjaan, sang interviewer berkata, “Maaf, Mas. Kami tidak tahu kondisi fisik Mas sebelumnya. Dan sayangnya, untuk saat ini kami membutuhkan orang yang cekatan dan bisa melakukan mobilitas tinggi.”

Saya tersenyum getir. Dan tanpa terasa bola mata saya menghangat, campur aduk rasanya.

“Insya Allah..” kata interviewer itu lagi, “Jika kami jadi membuka sekolah nanti, Mas akan kami panggil. Saya sudah melihat-lihat beberapa berkas yang Mas kirimkan. Semuanya bagus-bagus dan hebat.”

Tapi itu hanya sebuah janji yang tidak pernah terjadi. Seperti embun yang hilang ketika sinar matahari membelai hangat. Panggilan itu tidak pernah ada.

Namun, sejak saat itu, pikiran saya sedikit terbuka. Mungkin benar yang dikatakan ayah saya dulu, “Sebaiknya kamu menjadi guru, Syaiha. Toh, nama kamu Syaiful Hadi, itu artinya adalah Pedang Petunjuk. Bapak memang mengharapkanmu menjadi orang yang bisa memberi ilmu, memberi inspirasi, dan berbagi kebaikan kepada orang lain. Ingatlah, bahwa orang yang paling baik di mata Allah itu adalah orang yang paling bermanfaat untuk orang lain.”

Oke, dengan tekad yang kuat, akhirnya saya memutuskan menjadi guru. Tentu saja bukan guru yang asal-asalan. Saya ingin menjadi guru yang hebat dan dirindukan oleh semua siswa saya nanti. Aamiin.

“Jadi guru itu nggak bisa kaya loh, Syaiha!” beberapa teman membisikkan kalimat itu dulu, atau “Apa enaknya sih jadi guru, nggak dihargai di negeri ini!”, dan masih banyak lagi kalimat negatif yang masuk.

Biarlah. Saya tetap menjalani semua ini dengan senang hati –juga karena bingung mau berbuat apa lagi.

Hebatnya, sejak menjadi guru inilah saya merasakan kebahagiaan yang berlipat. Menyaksikan senyum anak-anak, melihat keriangan mereka, atau mendengarkan cerita-cerita tentang mimpi-mimpi yang besar itu, adalah beberapa kenikmatan yang tak ternilai.

Menjadi guru (mungkin) tidak berlimpah kekayaan, tapi penuh keberkahan (insya Allah).

Dulu, ketika jalan ini menjadi pilihan terakhir karena tidak ada pilihan lain, sekarang saya justru bersyukur. Saya bahagia. Saya senang. Dan yang paling penting, ternyata saya bisa menghidupi keluarga kecil saya walau kondisi saya begini. Allah maha kaya dan mencukupkan semua kebutuhan. 

4 komentar

avatar

Tentu perjuangan untuk membesarkan hati sendiri nggak mudah ya bang. Tapi Allah selalu memberi yang terbaik

avatar

Nangis di pojokan :(

avatar

Menjadi guru.. Insyaalllah menjadi pewarisnya para nabi.. Mari sama2 melanjutkan estafet itu :)

avatar

Sangat mengispirasi bang, luar biasa semakin salut saya dengan sosok Bang Syaiha.


EmoticonEmoticon