Like Fanpage Bang Syaiha

Hormati Gurumu, Nak!

By Bang Syaiha | Friday, 8 April 2016 | Kategori:

Hormati Gurumu Nak, Pendidikan dan kesantunan, Bang Syaiha, Kisah Inspiratif, One Day One Post, Menulis Setiap Hari, Blogger Aktif, Penderita Polio, Trainer, Guru Blogger, bangsyaiha.com
Hormati Gurumu, Nak!
Tadi malam, saya nggak sengaja ngeliat gambar ini di internet dan takjub. Ini keren sekali. Benar-benar mengagumkan. Lihatlah, betapa anak-anak tempo dulu begitu menghormati guru mereka. Bahkan ketika berjalan di depan gurunya, mereka harus menundukkan badan, membungkuk.

Ini bentuk penghargaan, bahwa orang-orang yang lebih berat isi kepalanya (baca: ilmunya), mendapatkan tempat yang lebih tinggi beberapa derajat di antara orang lain. Bagi saya, ini bukan bentuk penindasan atau kolonialisme. Tapi memang beginilah seharusnya, yang lebih mulia adalah mereka yang berilmu. Bukan yang banyak harta dan popularitasnya. 

Dan lagi, guru adalah orang yang telah berjasa mengantarkan banyak manusia kepada mimpi-mimpi mereka. Orang bisa jadi apapun: presiden, pengusaha, atau apasaja, pasti karena jasa para guru mereka. Maka selayaknya, guru mendapatkan penghormatan yang lebih. 

Sesederhana apapun guru mengajar di kelas (bahkan membosankan sekalipun), seorang siswa harus menghormati, menghargai dengan sebaik-baik penghargaan. Begitulah yang pernah diajarkan almarhum bapak saya dulu dalam kitab ta'lim muta'allim. 

Waktu itu, ketika dengan bangganya saya bilang, "Pak, hari ini saya berhasil mengajak semua teman-teman untuk protes ke kepala sekolah. Jadi, pas bel masuk kelas, saya larang semua siswa ke ruangan. Kami demo. Kami nggak suka kepada kepala sekolah! Kami menuntut agar kepala sekolah turun dan diganti!" 

"Memangnya kepala sekolah kamu kenapa?" 

"Kepala sekolah saya tuh suka memukul dan main tangan, Pak. Pokoknya galak banget." 

Malangnya, bukannya mendapat pujian karena berhasil menjadi provokator handal di usia yang masih belia, saya malah mendapatkan ceramah gratis. Dinasihati dengan mata yang melotot lebar. 

"Itu bukan sebuah kebanggaan, Syaiha!" kata bapak saya pelan, "Apanya yang bagus dari perbuatan kamu itu?" 

"Tapi kepala sekolah memang layak mendapatkan perlakuan demikian, Pak?" sergah saya hendak menjelaskan. 

Bapak saya menggeleng, "Bukan begitu caranya!" 

Saya diam, menundukkan kepala lebih dalam. 

"Guru itu, seperti apapun perlakuannya kepadamu, mereka harus kamu hormati. Mengapa demikian? Karena yang penting dari sebuah ilmu itu adalah berkahnya. Kamu boleh jadi pintar dan boleh saja selalu juara di kelas, tapi kalau nggak berkah, itu bahaya." 

Saya khidmat, diam mendengarkan. 

"Ilmu itu, bukan banyaknya yang utama, tapi keberkahannya. Dan untuk mendapatkan itu semua (keberkahan itu), kamu harus menghargai mereka, jangan menyakiti hatinya. Apalagi sampai melakukan protes dan mengajak semua siswa. Mau jadi apa kamu nanti?" 

Duh, saya salah bercerita nih! Begitu gumam saya dulu. 

"Di ta'lim muta'allim kan diajarkan, bahkan berkata lebih keras dibandingkan suara guru saja tidak boleh. Itu bisa memutuskan berkahnya ilmu. Eh, kamu malah protes dan berteriak-teriak!" 

Benar, saya memang sudah mempelajari kitab itu. Banyak hal yang dilarang. Misalnya, tidak boleh mendahului guru ketika berjalan. Jadi, kalau sedang jalan kaki dan ada guru di depan, kita tidak boleh mendahuluinya. Harus lebih pelan dan tetap di belakangnya. Kita juga nggak boleh menatap mata guru ketika sedang di kelas, nggak boleh duduk lebih tinggi, nggak boleh bertanya yang menyulitkan (apalagi jika bertanya dengan niat menguji kemampuan guru kita), dan masih banyak lagi.  

Bagi orang-orang modern seperti sekarang, boleh jadi hal itu tidak masuk akal. Nggak rasional. Apalagi, budaya asing masuk bebas sekali. Maka hal seperti gambar di atas, sekarang sudah hilang. Kita jarang sekali melihat siswa yang membungkukkan badan ketika berjalan melewati gurunya. Mereka pongah dan malah, kadang menganggap gurunya tidak ada. 

Kasus penganiayaan guru oleh siswanya juga tidak sedikit. Belum lagi orang tua yang ikut-ikutan. Datang ke sekolah dan marah-marah hanya karena anaknya ditegur. Padahal, di jaman saya, ketika saya mengadu habis dimarahi guru, almarhum bapak malah bilang, "Itu salah kamu. Kalau kamu nggak salah, pasti guru nggak akan marah!" 

Duh! 

Ke depan, saya sangat berharap semoga pendidikan kita bisa kembali ke jati dirinya, budaya timur yang santun dan sopan. Sungguh, saya pribadi sangat merindukan hal-hal seperti pada gambar ini. 

Amboi, bukankah itu indah sekali?

6 komentar

avatar

Benar, Bang, inginnya seperti dulu, Guru begitu dihormati. Ingat saya SD, ketika guru saya datang bersepeda, kami berebutan membawakan sepeda untuk diparkirjan, atau berebut membawakan tas beliau ke dalam kantor. Rindunya masa itu

avatar

Benar, Bang, inginnya seperti dulu, Guru begitu dihormati. Ingat saya SD, ketika guru saya datang bersepeda, kami berebutan membawakan sepeda untuk diparkirjan, atau berebut membawakan tas beliau ke dalam kantor. Rindunya masa itu

avatar

"Hormati gurumu sayangi teman, itulah tandanya kau murid pak budiman." hehe.. yang saya cermati pendidikan sekarang (untuk murid) dari sudut pandang guru, memang lebih condong ke penilaian tertulis ketimbang laku (budi). dan murid pun tidak menyadari itu. seharusnya memang harus berbanding lurus. tapi entahlah itu hanya sedikit yg saya cermati saja dari teman-teman sekolah adik saya. salam.. :)

avatar

Hem, kadang suka dilema. Mau tanya ke guru takut pertanyaannya susah-tidak bisa dijawab dan dibilang lagi menguji guru.

Kalau tidak tanya, entah kenapa rasa ada yang menjanggal.

Hem, gimana ya?

avatar

Itu bisa dimulai dari kita Bang, sebagai wali murid nantinya, insya Allah... (kalau sy sudah, Bang)
Sebagai orangtua, sy masih "memperlakukan" anak sy seperti alm. Bapak memperlakukan Bang Syaiha.
Simple saja yang ada dalam pikiran saya, kalau sy membenarkan protes anak saya tentang gurunya (yang menurut dia "salah"), bagaimana anak saya bisa menghargai gurunya? Sudah "salah" di mata dia, bisa makin bertambah "salah"-nya kalau saya justru membela anak saya, dan bisa dipastikan akan hilang rasa hormat anak saya terhadap gurunya, padahal dari gurunya itulah dia akan menggali banyak ilmu. Meski si guru terbukti "salah" pun, tetap anak sayalah yang saya koreksi, tentu dengan bahasa yang bisa dipahami mereka... ^__^
Semoga berkah ilmunya, Bang.

avatar

Semenjak berteman dengan penulis-penulis berlatar sebagai guru, saya pun ingin sekali menjadi guru.^^

Terima kasih Guruku!^^


EmoticonEmoticon