Like Fanpage Bang Syaiha

Inilah 7 Hal Penting yang Harus Diperhatikan Ketika Hendak Memilih Sebuah Rumah Kontrakan!

By Bang Syaiha | Saturday, 16 April 2016 | Kategori:

Rumah kontrakan, Hal penting yang harus dipertimbangkan dalam memilih rumah kontrakan, Bang Syaiha, http://www.bangsyaiha.com/
Rumah kontrakan, Hal penting yang harus dipertimbangkan dalam memilih rumah kontrakan
Hari ini, hampir seharian saya mengelilingi sebuah perumahan di bilangan Bogor. Tujuannya? Bukan ingin membeli rumah, uang tabungan saya belum cukup. Saya masih menjadi kontraktor (orang yang mengontrak rumah). Doakan rejeki saya lancar dan semoga bisa membeli sebuah rumah untuk keluarga kecil saya kelak. Amin. 

Saya berangkat pagi-pagi sekali bersama seorang kawan. Sudah ada satu perumahan yang akan kami tuju, beberapa hari sebelumnya, teman yang lain, yang sudah mengontrak di daerah situ bilang, "Di perumahan ini banyak yang kosong dan dikontrakan. Datang saja dan lihat sendiri deh, kali ada yang cocok, kan?" 

Maka kesanalah kami berdua berangkat. 

Kami sampai di perumahan itu sekitar pukul 09.30 pagi, mampir ke kontrakan teman sejenak, duduk dan mengobrol banyak hal. Lalu berkeliling mencari rumah yang kosong dan ada tulisan 'dikontrakan'. Benar, memang banyak sekali rumah kosong yang dikontrakkan, tapi karena rumah yang saya cari harus memenuhi beberapa kriteria, maka agak susah juga menemukan yang cocok. 

Apa kriteria yang saya inginkan untuk rumah kontrakan saya?

Harus dekat dengan masjid! Mengapa? Karena saya harus shalat lima waktu disana. Dan jalan saya kan agak pelan juga gimana gitu (karena kaki kanan saya yang polio), maka mendapatkan rumah kontrakan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari masjid, adalah sebuah keharusan. 

Dan lagi, ke masjid itu kan godaannya banyak. Maka ketika jauh sedikit saja, saya khawatir iman saya tidak begitu kuat untuk melawan godaan setan. Yang ada malah nanti saya jarang (atau malah tidak pernah) mendatangi masjid untuk shalat disana. Kan bahaya. 

Harus ada dapur yang nyaman untuk istri saya. Benar, sejak menikah, poin ini menjadi poin penting dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Bagaimanapun, dapur adalah tempat istri saya menyiapkan makanan dan segala hal yang berhubungan dengan perut. Maka kenyamanan harus diperhatikan agar santapan yang dihasilkan juga enak dilidah dan nendang-nendang. 

Air yang bersih dan lancar. Nah, kalau yang ini juga penting dan tidak mungkin ditawar-tawar, bukan? Dalam kehidupan kita, air adalah hal penting, kebutuhan pokok kedua setelah beras. Air banyak digunakan untuk mandi, mencuci, dan sebagainya. Dan ia harus tersedia dengan baik dan banyak di rumah. 

Untuk air, saya memang lebih senang PDAM saja. Karena air PDAM biasanya tidak terganggu dengan kemarau panjang dan listrik padam. Kontrakan saya yang pertama dulu demikian. Mau kemarau berbulan-bulan atau mati lampu berkepanjangan, ia tetap saja mengalir deras dan bersih. 

Teras agak luas dan ada pagarnya. Poin ini menjadi penting sejak Alif, anak saya, bisa berjalan dan senang sekali bermain-main. Maka keberadaan teras dan pagar adalah sebuah kepentingan. Agar anak saya leluasa bermain disana dan tidak keluar hingga jalan yang ramai kendaraan. 

Keamanan terjaga dengan baik. Nah, untuk memastikan hal ini, sebelum saya berkeliling, saya sudah menanyakan ke teman yang juga mengontrak rumah disana. Ia mengatakan bahwa perumahan ini ada penjaganya setiap dua blok sehingga selama hampir setahun disana, ia tidak pernah mendengar ada kasus kemalingan. Sebuah indikator bahwa keamanan disana luar biasa. 

Harga yang sesuai. Untuk memastikan ini, saya melakukan survey dan bertanya ke beberapa orang yang tinggal disana. Saya juga memastikan bahwa orang yang saya ajak tawar-menawar mengenai harga rumah yang akan dikontrakan adalah asli pemiliknya. Karena jika tidak, maka bisa saja harga dinaikkan. 

Seperti kasus beberapa bulan lalu, ketika saya bertanya sebuah kontrakan di dekat rumah. Saya tanya, berapa harga setahunnya. Eh, orang yang saya ajak berunding ini bilang 10 juta. Ia pemegang kunci kontrakan memang. Tapi saya belum tahu kalau ternyata dia bukan pemiliknya. 

Sepuluh juta adalah harga yang sangat-sangat mahal. Padahal pasaran disini sekitar 5 - 6 jutaan. Alhasil, saya tidak jadi memberikan rumah kontrakan itu ke teman. 

Eh, beberapa minggu kemudian, rumah itu diisi orang dan saya tanya, "Dikasih berapa setahun disini, Mas?" 

Dia jawab, "Alhamdulillah 5 juta!" 

Alamak! Kok bisa? 

Lalu ia mulai menjelaskan bahwa ia langsung tawar-menawar kepada pemilik rumahnya. Bukan ke orang yang memegang kunci. 

Poin yang paling penting dari kesemuanya, ketika hendak memilih rumah kontrakan, adalah apakah istri saya nyaman atau tidak? Mengapa? Karena nanti, dia adalah orang yang akan menempati rumah itu selama 24 jam. Maka agar ia betah, ia harus nyaman dan senang disana. Harga agak mahal sedikit tidak mengapa asal istri saya riang. 

Amboi, bagi suami, tidak ada yang lebih penting dibandingkan bisa membuat istrinya tersenyum, bukan? 

Semua poin ini, tadi sudah saya temukan pada sebuah rumah yang saya kunjungi. Jaraknya hanya beberapa meter saja dari masjid, halaman luas dan sudah ada pagarnya, dapurnya nyaman, dan harga juga tidak begitu mahal. Masih terjangkau oleh kantong saya.

Sekarang, saya hanya tinggal memastikan beberapa hal dan akan segera mengambil keputusan dalam beberapa hari ke depan. 

Demikian. 

6 komentar

avatar

Wah, moga cpt ketemu rumah kontrakkan yang pas ya, Bang.

avatar

Alhamdulillah sudah dapat. ada pengajian buat syukuran dari temen2 ODOP ni :)

avatar

cucok bang... tapi kalau sy ada tambahan satu syarat lagi, bang... harus ada tanah yg bisa dipakai bertanam, hehe... meski di rumah saja, kan gak mungkin sy seharian hanya nguplek di dalam rumah.... ^__^

avatar

Alhamdulillah kami dulu hanya dua tahun kontrak rumah. Sebenarnya empat bulan setelah menikah kami sudah bisa bayar uang muka rumah tapi belum kami tempati karena masih tanpa dapur. Baru setahun kemudian kami ada rejeki untuk bikin dapur dan kamar mandi tambahan di belakang.

Kadang untuk memiliki rumah harus berani nekat sedikit, seperti kami dulu. Kalau tidak.bisa jadi rumah itu tidak akan terbeli. Saya yakin njenengan suatu saat pasti bisa punya rumah sendiri. Soalnya daripada uang dibayarkan untuk kontrakan, lebih baik jika dibayarkan untuk cicilan rumah. Sama2 bayar, tapi beda rasanya...

avatar

Setuju sekali mulai cari rumah aaah, eh cari istrinya dulu deh hehe


EmoticonEmoticon