Like Fanpage Bang Syaiha

Inilah Cara Mudah Menghasilkan Tulisan yang Baik (1)

By Bang Syaiha | Tuesday, 19 April 2016 | Kategori:

Cara mudah menghasilkan tulisan yang baik, Tips dan trik menulis, Sepotong Diam, Bang Syaiha, http://www.bangsyaiha.com/
Cara mudah menghasilkan tulisan yang baik
Beberapa kali, ada yang bertanya ke saya, "Bang Syaiha, ajarin saya menulis dong! Saya pengen banget nih bisa menulis seperti Bang Syaiha. Tulisannya enak dibaca, bahasanya ringan dan mengalir, juga produktif. Bisa menulis setiap hari dan mempostingnya di blog. Jujur, Bang, hampir setiap hari loh saya mampir di blog Bang Syaiha." 

Duh, mbak. Nggak usah memuji terus deh. Novel Sepotong Diam saya sudah habis, jadi mau memuji sebanyak apapun, nggak akan ada novel gratis lagi, kok. 

Memang benar, beberapa bulan lalu ada seorang pembaca blog saya yang menghubungi saya secara pribadi, bilang, "Bang, kalau novel Sepotong Diamnya mau dicetak lagi, saya ada uang yang mungkin bisa digunakan. Silakan saja pakai dan bisa dikembalikan kapan saja." 

Amboi, mendapatkan tawaran begitu, sebenarnya saya senang bukan main. Pertama karena berarti orang percaya ke saya hanya melalui tulisan yang ada di blog ini. Kedua, ternyata masih banyak orang baik di negeri ini. Orang-orang yang kelak saya harapkan bisa menjadi pemimpin atau setidaknya menjadi manfaat buat banyak orang. 

Oke, balik lagi ke pertanyaan awal, "Bagaimana sih caranya menghasilkan tulisan yang baik dan enak dibaca itu?" 

Saya akan jawab seperti yang biasa saya lakukan ya. Yuk kita bahas pelan-pelan. 

Pertama, sebelum jauh, kita harus definisikan dulu dong, tulisan yang bagus itu seperti apa?

Bagi saya, tulisan yang bagus adalah tulisan yang menggerakkan. Misalnya, kalau kalian sedang membaca tulisan kuliner dan jadi lapar dan ingin segera mencicipinya, maka selamat. Kalian baru saja membaca sebuah tulisan yang bagus. 

Atau ketika kalian membaca tulisan tentang banyaknya pejabat yang korupsi, lalu kalian jadi geram bukan main dan ingin marah-marah di depan para pembesar di atas sana, maka tulisan yang baru kalian baca itu juga tulisan yang baik. 

Intinya, tulisan yang bagus itu adalah yang membuat pembacanya ikut dalam suasana yang diharapkan penulis. Tulisannya memprovokasi! Entah itu kepada kebaikan atau sebaliknya. 

Kedua, bagi saya, menulis adalah sarana berkomunikasi kepada orang lain. Dan kita tentu tahu, bukan? Bahwa tujuan komunikasi itu adalah tersampainya pesan yang ingin kita utarakan kepada lawan bicara. Maka untuk mencapai ini semua, kita nggak perlu menggunakan kata-kata langit yang njelimet. 

Cukup kata-kata sederhana yang mudah dipahami saja. Asal ia dikemas dengan ciamik, toh hasilnya juga akan memikat. 

Masalahnya, banyak orang yang katanya ingin menjadi penulis justru bingung disini. Sibuk memilih kalimat awal yang menggoda sehingga menghabiskan banyak waktu disana. Padahal mah, menulis ya menulis saja. Biasakan setiap hari. Awalnya memang tulisan kita akan biasa saja. Tapi jika dilakukan terus-menerus, sesederhana apapun kata yang kita gunakan, Insya Allah mampu menyihir pembacanya. 

Oke, saya tekankan sekali lagi, perhatikan bahwa tujuan kita menulis adalah untuk berkomunikasi dengan orang lain, menyampaikan pesan. Maka di titik inilah perhatian kita harus diutamakan. 

Karena hal inilah, maka semua tulisan saya, baik yang ada di blog ini atau yang ada di novel Sepotong Diam, menggunakan bahasa yang ringan. Saya menghindari penggunaan bahasa yang melangit. 

Ketiga, yang saya lakukan selama ini untuk menghasilkan tulisan adalah dengan menggunakan teknik menulis bebas. Artinya, saya menulis sebebas-bebasnya yang ada di kepala saya hingga tuntas. Tidak mengeditnya hingga ide yang ada di benak saya habis. Nanti, ketika saya telah selesai menulis, barulah saya baca lagi tulisan saya dan membenahinya. 

Jika ada yang kurang menarik, akan saya tambah-tambah. Tapi jika ada yang terlalu alay dan malah menjadi nggak karuan, ia akan saya hapus. 

Dalam menulis, saya memang benar-benar menerapkan apa yang pernah guru saya bilang, "Jangan memikirkan akan menulis apa, tapi menulislah apa yang sedang dipikirkan!" 

Kalimat itu terkesan simpel, tapi jika dihayati dalam-dalam, maknanya luar biasa hebat. Buktikan saja kalau tidak percaya. 

Selama ini, banyak orang yang sering kali beralasan begini, "Duh, Bang, bagaimana mau menulis setiap hari? Lah wong ketika mau menulis saja kadang saya bingung hendak memulainya darimana! Saya bingung apa yang harus saya tulis!" 

Lihat, dia sering bingung hendak menulis apa, toh? Maka seharusnya, yang dia tulis adalah: 

Kata Bang Syaiha, untuk menjadi penulis, maka kita harus menulis setiap hari dan membiasakannya sesering mungkin. Maka itulah yang ingin saya lakukan hari ini. Saya harus menulis. Pagi-pagi sekali, selepas shalat Shubuh, saya duduk di depan laptop dan berniat menulis. 
Tapi apa yang terjadi? Yah, seperti biasanya, saya bingung hendak menulis apa? Kata apa yang harus saya pakai di awal? Kalau saya menggunakan kalimat yang menggambarkan pemandangan dan alam, itu sudah mainstream banget dan saya tentu tidak ingin mengikutinya. Sebagai penulis, saya harus punya sesuatu yang berbeda. Dan seterusnya.. dan seterusnya.. 

Sebagian orang, mungkin akan berdalih, "Kalau seperti itu yang saya lakukan, lalu peningkatan apa yang akan saya dapatkan, Bang?" 

Bersambung KESINI.

11 komentar

avatar

Tips yang keren. Aaya coba bang

avatar

Hahahaha sebelum membaca ini saya tiba-tiba sudah menerapkan ini Bang. Ya seperti yg Bang Syaiha selalu katakan. Menulis apa aja yg dipikirkan. Ini tips menghindari hutang di ODOP. hihihi

avatar

sepatu bang, hehehe, siap untuk mencobanya

avatar

Hem, tulisan Bang Syaiha memang ringan. Ya, lalu ....

Bersambung (komentarnya juga ikut bersambung di tulisan selanjutnya).

avatar

Menulis apa aja yg difikirkan. Hmn... Sangat perlu dipraktekka...

avatar

Bbaiklah akan saya praaktekkan.. terutama untuk menghindari hutang..😅

avatar

Tulis apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan dan apa yg dilakukan.
Asyik Banget Bang..

avatar

Saya suka gaya tulisan bebas... tulisan yang ketika orang membacanya tidak perlu mengeryitkan dahi... tapi senyam senyum sendiri...

avatar

Betul itu. Setuju saya.


EmoticonEmoticon