Like Fanpage Bang Syaiha

Ketika Seorang Suami Menceraikan Istrinya via Whatsapp

By Bang Syaiha | Wednesday, 13 April 2016 | Kategori:

Ketika Seorang Suami Menceraikan Istrinya via Whatsapp, Suami selingkuh dengan teman kerja, Bang Syaiha, http://www.bangsyaiha.com/
Ketika Seorang Suami Menceraikan Istrinya via Whatsapp
Saya sedang sendiri ketika sebuah undangan BBM masuk ke ponsel saya. Tanpa pikir panjang, saya konfirm saja. Toh, selama ini, saya memang menyebarkan pin BBM saya di facebook dan website, maka pasti ada saja yang mengajak berteman, mengirimkan undangan setiap hari.

Tujuh menit kemudian, ketika saya sedang menikmati kata demi kata di sebuah buku, sebuah pesan singkat masuk ke BBM saya, dari orang yang baru saja saya konfirm itu, katanya, “Sebelumnya terimakasih, Bang, atas konfirmnya. Salam kenal.”

“Oiya, selamatnya juga karena Alif sekarang sudah genap satu tahun. Semoga Ia bisa menjadi anak sholih yang cerdas dan membanggakan kedua orang tuanya. Aamiin.”

Saya membalas pesan itu singkat, “Aamiin. Terimakasih atas doanya, mbak. Salam kenal.”

Saya lalu meletakkan ponsel di samping saya duduk, melanjutkan membaca buku yang sedang saya lahap seminggu ini. Tinggal beberapa lembar lagi selesai. Sedang seru-serunya. Ketika itulah, ketika saya sedang larut dalam setiap paragrap yang ada, sebuah pesan singkat masuk (lagi), ponsel saya bergetar.

“Maaf, Bang.” Katanya. Masih dari orang yang sama, yang barusan saya konfirm undangan BBMnya. “Apakah Bang Syaiha sibuk? Ada waktu luangkah malam ini? Setidaknya untuk mendengarkan keluh kesah saya. Ada masalah pelik yang sedang saya hadapi sekarang. Saya butuh masukan dari Abang.”

Setelah meliriknya sekilas, saya biarkan dulu pesan itu, bacaan saya sedang nanggung sekali. Jadi, saya tak langsung membalasnya. Hingga beberapa menit kemudian, ketika buku yang saya baca selesai, saya mengetikkan beberapa kalimat, “Silakan saja, Bu. Berceritalah. Jika saya bisa memberi saran, insya Allah akan saya berikan.”

Lalu mengalirlah keluh kesah itu, seperti aliran sungai yang deras. Mengalir kencang tak terbendung.

“Begini, Bang. Suami saya selingkuh,” katanya langsung ke pokok permasalahan. “Pertama, ketahuan setahun yang lalu. Selingkuh dengan perempuan teman kerjanya. Saya marah sekali waktu itu. Susah payah saya menjaga rumah tangga ini dengan baik, suami malah selingkuh di luar, di kantornya.”

“Tapi tak lama, suami saya meminta maaf. Berjanji tak akan mengulanginya. Karena masih cinta padanya, saya memaafkan. Kami memulai semuanya dari awal. Hingga beberapa bulan kemudian, suami ternyata tidak kapok. Ia mengulangi dosanya dengan perempuan yang sama, selingkuh. Saya marah besar. Bukannya ditenangkan, ia malah berkata jujur bahwa sangat mencintai selingkuhannya.”

“Saya diantarkan ke keluarga saya, ditalak satu. Diceraikan secara lisan.”

“Empat bulanan berikutnya, suami datang dan menyesal. Meminta maaf dan mengajak balikan.”

“Saya, karena masih cinta, menerima permintaan maaf suami. Harapan saya, semoga ia bisa berubah menjadi lebih baik. Dan lagi, anak-anak saya masih kecil, masih butuh kasih sayang ayahnya.”

“Kami hidup bersama lagi, mencoba memulai lembaran yang baru. Membangun rumah tangga dari awal dan hendak melupakan masa lalu yang kelam. Waktu itu, saya beranggapan, rumah tangga tentu tak melulu bahagia, ada duka dan air mata. Justru karena keberadaannya lah, rumah tangga bisa kian bermakna.”

“Setahun berikutnya, saya pun mengandung anak kedua kami. sungguh, ini adalah kerunia tak terkira dari Allah. Tapi malangnya, luka lama yang hampir sirna, malah menganga lagi. Suami kembali selingkuh. Parahnya ia melakukan dengan perempuan yang sama. Ia bukannya makin sayang ke saya dan keluarga, malah bermesra dengan perempuan teman sekerja.”

“Sambil menangis, saya diantar pulang ke rumah orang tua oleh suami saya. Ia menjatuhkan talak dua via whatsapp ketika saya sudah di rumah orang tua. Katanya tak ada cinta lagi untuk saya. Ia lebih memilih perempuan selingkuhannya.”

“Waktu itu, saya mungkin menjadi perempuan paling sengsara di dunia. Sudahlah sedang mengandung, sedang butuh-butuhnya kasih sayang, malah diceraikan. Sakitnya luar biasa.”

“Ternyata, di luar dugaan, perempuan selingkuhan suami saya tidak mau di ajak serius. Suami saya ditolak mentah-mentah. Selama ini, perempuan itu hanya ingin menjadikannya teman jalan, teman makan, dan teman ngobrol saja. Tidak ingin sampai ke pernikahan. Saat itulah, suami saya datang lagi, mengemis-ngemis kasih sayang, meminta maaf, dan mengajak rujuk.”

“Sekarang saya bingung, Bang.” Katanya, “Sudah tiga kali suami saya ketahuan selingkuh dengan perempuan yang sama, sudah dua kali saya memaafkannya, sekarang minta balikan lagi. Jujur saja, saya tak tahu apa yang harus saya lakukan?”

“Menerimanya lagi atau tidak? Bagaimana jika setelah saya maafkan, dia mengulangi kesalahan yang sama?”

Saya mengernyitkan dahi. Ini sungguh masalah yang pelik. Tak kalah pelik seperti beberapa catatan yang pernah saya buat di celotehan saya tentang keluarga dan pernikahan.

“Bagaimana pendapat Bang Syaiha tentang masalah saya? Mohon Bang Syaiha bisa memberi masukan.”

Baiklah. Sebenarnya ini masalah yang berat, tak elok jika saya memberi masukan. Apalagi keluarga saya masih seumur jagung, baru dua tahun. Tapi, karena si penanya percaya, maka melalui tulisan ini, saya mencoba memberi jawaban. Tapi sungguh, ini jawaban yang tak bijak, amburadul, dan dangkal. Maka silakan cari lagi jawaban di luar sana, yang lebih baik.

Pertama, rumah tangga itu tak melulu bahagia, ada duka, ada air mata. Ada suka, ada derita, berkumpul menjadi satu, saling melengkapi. Berkeluarga itu, boleh jadi juga seperti mawar, indah memang, tapi ada duri tajam yang siap menikam. Jika tak hati-hati, alih-alih bisa memetik mawar yang merona, yang ada malah tertusuk duri kecil nan tajam. Perih.

Karena kesadaran inilah, maka persiapkan diri, ilmu, dan mental untuk menempuh bahtera rumah tangga. Perbanyak bekal kesabaran, sehingga ketika masalah datang, kita tak latah bilang cerai –atau meminta cerai. Ini bukan pacaran –bukan hubungan paling rapuh, yang gampang gonta-ganti pasangan.

Maka perbanyak bekal sabar!

Kedua, bagaimana sikap kita seharusnya jika terjadi masalah demikian berat –seperti yang ditanyakan di atas? Saran saya –dan yakinlah, ini bukan saran terbaik, adalah lebih baik rujuk lagi.

Bukan apa-apa, pertimbangannya adalah anak-anak. Mereka masih kecil –apalagi si penanya bilang bahwa ia sedang hamil, masih butuh kasih sayang dari ayah mereka.

“Tapi, Bang,” begitu si penanya ketika saya beri masukan ini, “Saya trauma. Sudah tiga kali ia selingkuh dan tidak jera.”

Tenang. Rujuk kali ini, lakukan dengan cara yang berbeda. Talak dan rujuk adalah perkara penting yang harus diketahui sepasang suami istri, maka keduanya, talak dan rujuk, seharusnya dilakukan dengan berbagai pertimbangan. Sekali lagi, pernikahan bukan hubungan main-main yang dengan gampangnya kau bisa bilang, “Aku ceraikan kamu!” tapi kemudian datang menghiba, berkata, “Maafin aku, ya.. Aku ingin rujuk lagi sama kamu..”

Rujuk kali ini –dan ini yang terakhir, soalnya sudah dua kali talak. Jika talak lagi maka mereka tak bisa rujuk, lakukan di depan keluarga besar. minta suami mengakui kesalahannya, suruh ia meminta maaf di depan semua keluarga. Bukan hendak membuatnya malu, tapi hanya ingin mengajarkan bahwa talak dan rujuk tak bisa dibuat main-main.

Jika itu sudah dilakukan, mintalah syarat berikutnya: pindah kerja. Boleh jadi, selama ini ia ketahuan selingkuh tiga kali dengan perempuan yang sama, teman sekerjanya, karena sering bertemu, sering berinteraksi. Maka sebagai syarat rujukmu, mintalah suami pindah kerja ke tempat lain.

Allah maha kaya. Yakinlah bahwa banyak karunia yang bisa diambil dimana saja. Asal kita mau berusaha, berdoa, dan tawakkal, maka Allah yang akan mencukupkan.

Itulah dua saran dari saya yang fakir ilmu ini, tidak ada yang bijak memang. Hanya datang dari pengalaman orang lain dan beberapa pertimbangan.

Semoga, jawaban dangkal ini bisa membantu dan memberikan sedikit masukan. Saya doakan, bagi siapapun yang membaca tulisan ini, diberkahi keluarga yang bahagia sepanjang usia.


Demikian. 

3 komentar


EmoticonEmoticon