Like Fanpage Bang Syaiha

Mapan Dulu Baru Menikah!

By Bang Syaiha | Monday, 25 April 2016 | Kategori:

Mapan dulu baru menikah, belum mapan, Bang Syaiha, http://www.bangsyaiha.com/

Saya sering kali mendangar kalimat ini, dari seorang lelaki, “Belum siap nikah, Mas. Penghasilan masih kecil. Pekerjaan juga masih belum tetap, masih serabutan.”

Dan setiap kali mendengar kalimat itu, maka bak mesin yang sudah di set otomatis, otak saya lalu memunculkan sebuah cerita lucu yang pernah saya dapatkan beberapa tahun lalu, begini:

Hiduplah seorang lelaki yang baik, cerdas, dan tampan. Ia adalah anak dari keluarga pas-pasan. Beruntungnya, Ia bisa kuliah dengan baik di sebuah perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Saat kuliah inilah, ia bergaul dengan orang-orang yang baik, terpaut ke masjid, dan sering mengikuti pengajian-pengajian agama demi nutrisi jiwa dan hatinya. Akibatnya, karena sering mengikuti pengajian agama ini, Ia sadar satu hal, Pacaran nggak boleh. Jika cinta dan siap, maka menikahlah. Sayangnya, ia mengikuti pengajian agama tidak lengkap, hingga ilmu dan pemahamannya pun setengah –tidak genap.

Dengan pemahaman yang dangkal itu, Ia lalu mendatangi ibunya dan berkata, “Ma, saya ingin menikah.” 

Ibunya, yang ketika itu sedang duduk di teras menemaninya, menjawab, “Kuliahmu selesaikan dulu, Nak. Lah wong masih kuliah, kok malah sudah mikirin nikah.”

Anaknya diam. Merenungkan apa yang dikatakan ibunya, lalu bergumam, “Benar juga, ya. aku selesaikan kuliah dulu.”

Setelahnya, giatlah ia kuliah, rajin bukan main, belajar mati-matian agar bisa lulus dengan cepat dan menikah. Setahun berikutnya, ia berhasil menamatkan kuliahnya dengan gilang-gemilang. Ia datangi lagi orang tuanya, bilang, “Ma, saya sudah lulus. Bolehkah saya menikah?”

“Nak, sekarang negara kita sedang tidak baik kondisinya. Semua kebutuhan pokok sedang tinggi-tingginya. Mau kamu beri makan apa istrimu jika menikah sekarang? Cari pekerjaan saja dulu.”

Sang anak membenarkan petuah ibunya.

Sebulan dua bulan, anak lelaki ini mengirimkan puluhan aplikasi kerja ke perusahaan-perusahaan besar yang sedang membuka lowongan. Enam bulan berlalu belum juga mendapat titik terang dari pekerjaannya. Hingga Ia hampir-hampir putus asa. Mencari pekerjaan ternyata tidak segampang yang Ia pikirkan.

Saat itulah, saat Ia sudah hampir menyerah, sebuah perusahaan justru memanggilnya. Melakukan serangkaian tes dan ia lolos. Selama setahun ke depan, ia masih menjadi pegawai percobaan. Dan jika selama setahun pekerjaannya bagus, barulah ia dipertimbangkan untuk diangkat menjadi pegawai tetap atau tidak. Beruntungnya, kali ini, nasib sedang berada di sisinya, setahun berjalan cepat, pekerjaannya mendapatkan apresiasi tinggi. Ia diangkat menjadi pegawai tetap perusahaan.

“Ma, saya sudah bekerja sekarang. Bolehkah saya menikah?”

Setelah menghela napas pelan, ibunya kini berkata, “Anakku, mengapa kau terburu-buru sekali? Kau masih muda dan sudah bekerja. Bukankah lebih baik menabung dulu, sisihkan uangmu tiap bulan untuk membeli rumah. Karena jika tidak kau lakukan sekarang, mau kapan lagi? Kalau menikah duluan, pasti banyak kebutuhan dan entah kapan bisa membeli rumah. Apalagi harga tanah dan rumah selalu saja naik setiap tahun.”

Sambil manggut-manggut, anaknya membenarkan.

“Baiklah, Ma. Saya akan membeli rumah dulu baru memikirkan akan menikah.”

Dan urusan rumah ini, bukanlah urusan sepele. Harganya melangit, mahal sekali. Setahun dua tahun, ia belum juga mampu membeli, bahkan rumah sederhana sekalipun. Ia tak patah arang. Terus bekerja siang dan malam. Berangkat pagi pulang petang, demi berlembar-lembar uang. Hingga puluhan tahun berikutnya, mimpinya baru benar-benar terwujud, rumah besar dan mewah idamannya terbeli. Indah sekali.

“Ma, saya sudah bekerja, dan lihatlah, saya pun sudah berhasil membeli sebuah rumah ini. Bagus sekali, bukan?”

“Iya, anakku. Ini sungguh rumah yang besar. Bahkan, rumah kita dulu, tidak ada apa-apanya dibandingkan ini.”

“Jadi, sudah bolehkah saya menikah, Ma?”

“Nanti dulu anakku,” Ibunya berkata pelan, “Sepertinya, kau harus punya kendaraan. Belilah sebuah mobil untuk keperluan keluarga, antar jemput anakmu sekolah, mengantar istri belanja, atau keperluan lainnya.”

Setelah menimbang-nimbang, sang anak membenarkan. Sepertinya ia memang harus membeli mobil dulu.

Lagi. Ia bekerja keras demi cita-citanya, memeras keringat lebih dalam. Urusan kendaraan tidak sepelik rumah. Tapi tetap saja ia menghabiskan waktu tidak satu dua tahun saja. Lebih. Dan ketika mobil keluaran terbaru berhasil dibeli, ia menghadap Ibunya lagi yang sudah kian renta. Berkata, “Bagaimana, Ma. Semua sudah lengkap, pekerjaan, rumah, dan kendaraan. Bolehkah saya menikah?”

Sambil terbatuk-batuk, sang ibu sekarang bilang, “Aduh, anakku. Kau bahkan sekarang sudah hampir menginjak usia lima puluh tahun. Bagaimana kau akan menikah? Tentu saja tidak ada gadis-gadis yang mau menerimamu. Mereka pasti tidak sudi menikah dengan orang tua sepertimu, bukan?”

Menyadari hal itu, si anak langsung pingsan. Tak sadarkan diri.  

2 komentar

avatar

endingnya bikin ketawa bang hahha
pesannya dapet banget, dengangaya bahasa bang syaiha yang sederhana tapi tetep dapet banget maksudnya hehhe
makasii bang ...

avatar

ceritanya hampir sama dengan temanku bang hehe

kata mamahnya kalo mau lamar seseorang tuh, kerja dulu yang bener. Jangan main asal-asal melamar saja.


EmoticonEmoticon