Like Fanpage Bang Syaiha

Menerbitkan Buku itu Berat, Maka Jangan Minta Gratisan!

By Bang Syaiha | Tuesday, 12 April 2016 | Kategori:

Minta buku gratisan, Menerbitkan buku itu susah, Bang Syaiha, http://www.bangsyaiha.com/
Minta buku gratisan
Tetiba saja, malam ini –ketika saya menulis postingan ini, di tempat saya hari sudah mulai larut–, saya teringat akan percakapan dengan seorang kawan. Sebuah obrolan ringan ketika saya baru saja berhasil menerbitkan novel perdana. Begini:

“Wah, selamat ya Bang Syaiha, atas terbitnya novel Sepotong Diam.” kata salah seorang kawan, dulu. “Boleh dong bagi satu, buat dibaca-baca.”

“Ada.” jawab saya singkat.

“Gratis yaa..” katanya lagi dengan mata mengerling.

Saya diam dan kemudian tak melayaninya. Jika tega, sebenarnya Saya ingin bilang, “Enak saja gratis, beli dong.”

Teman-teman –yang sudah menerbitkan buku, pernah mengalami hal serupa? Baru menerbitkan satu, lalu ada beberapa teman yang dengan seenaknya bilang, “Bagi satu dong, gratis yaa..”

Jika pernah, ada baiknya kita blak-blakan saja bilang, “Maaf, yang gratisan sudah habis. Beli saja yaa. Lagian harganya nggak mahal-mahal amat, kok. Dan lagi, dengan membelinya, kau akan memiliki karyaku, bukti bahwa kau menghargainya. Bukankah kita teman?”

Teman kita mungkin akan berkata seperti ini:

“Pasti kan ada bukti terbitnya beberapa eksemplar, masa nggak ada buat aku sih? Apalagi kita adalah teman.”

Benar, setiap kali kita menerbitkan buku di penerbit mayor, maka penulis akan diberi bukti terbit 4 – 10 eksemplar. Buku segitu memang bebas digunakan oleh penulis. Bisa dijual, diberikan gratis ke orang-orang yang sudah membubuhkan endorsement, dihadiahkan ke orang-orang spesial. Atau hanya sekedar disimpan di lemari buku saja, dijaga dengan baik agar ada karya yang tersimpan di lemari baca.

Maka bukti terbit ini, akan sangat jarang sekali diberikan secara gratis ke teman-teman si penulis. Kalaupun ada, paling hanya satu dua teman saja yang diberi. Tidak mungkin toh, setiap teman yang minta gratisan akan diberikan, bukan?

Satu orang datang minta gratisan, langsung diberi. Datang satu lagi yang lain, langsung dikasih. Jika terus-menerus begini, maka yang ada adalah kerugian, bangkrut.

Maka belilah! Jangan minta gratisan terus. Sisihkan uang sedikit untuk menghargai karya teman kita. Toh nggak akan setiap hari Ia menerbitkan buku (setahun juga nggak mungkin tiga sampai empat kali), maka sebenarnya, uang yang kita gunakan untuk membeli buku teman kita itu tidak seberapa. Paling banter 100ribu sudah sama ongkos kirim.

Lalu, apakah mengeluarkan 100ribu setahun sekali untuk teman dekat kita itu berat? Oh well, untuk teman sendiri cuy!

Kalaupun tidak suka membaca, tak masalah juga toh memilikinya. Beli saja, simpan atau hadiahkan ke sanak kerabat yang doyan membaca, bilang, “Ini karya temen gue! Keren loh!”

Nah, dapat kebaikan dua kali tuh! Membeli dan ngebantu promosiin. Apalagi kalau pakai selfi bareng buku itu juga di dunia maya. Didoakan bakal masuk surga dah! Buat temen sendiri, cuy!

 “Apa susahnya sih memberi satu eksemplar saja? Bukankah jika sudah menerbitkan buku, maka uang akan dengan sendirinya mengalir ke rekening dair royalti penjualan?”

Jika ada yang berkata demikian, maka aminkan saja. Karena sejatinya, proses menghasilkan rupiah dari sebuah buku itu bukanlah hal mudah. Ia butuh kerja keras dan perlu usaha.

Apakah ketika buku kita sudah terbit lantas secara otomatis aliran uang ke rekening akan deras begitu saja? Tentu saja tidak. Masih banyak hal lain yang harus dilakukan.

Dan lagi, royalti dari sebuah buku yang laku terjual pun tak seberapa, berkisar lima sampai sepuluh ribuan saja. Nah, jika buku yang sudah diterbitkan tak laku di pasaran, tentu tidak ada rupiah berlimpah seperti yang diimpikan, bukan? Makanya, agar hal itu tak terjadi, belilah, satu saja.

“Tapi, kita kan teman, masa nggak bisa sih memberi satu saja?”

Nah, justru karena teman lah, maka seharusnya anda membeli buku sahabat  anda itu, buku yang baru saja diterbitkan.

Membeli sebuah buku dan membacanya adalah bentuk apresiasi tertinggi dari seorang pembaca kepada penulis. Maka jika anda menghargai teman anda, sebaiknya belilah bukunya, simpan dan baca baik-baik, bukan memintanya gratis.

“Ah, aku nggak mau beli! Lagian belum tentu isinya bagus. Baru menerbitkan satu buku saja songong!”

Jika begini, siapa sebenarnya yang songong? Menerbitkan buku adalah sebuah proses melelahkan. Banyak cobaan yang datang. Juga berdarah-darah. Sesepele apapun isi buku itu, percayalah bahwa proses kreatifnya berjalan panjang, butuh perjuangan dan kerja keras. Maka jangan sekali-kali meremehkannya.

Lagian, jika memang anda bisa, coba saja hasilkan sebuah buku dan terbitkan.

Saya yakin sekali, bahkan isinya pun boleh jadi tidak lebih bagus dibandingkan buku karya teman anda yang barusan anda remehkan tadi.


Demikian. 

9 komentar

avatar
This comment has been removed by the author.
avatar

Yah memang Bang. Hargailah seorang penulis dengan membeli bukunya. Itulah kenapa Bang.. bulan ini dan bulan berikutnya aku jdi agak boros karena kebetulan teman2 dekat pada menerbitkan buku jdi aku sudah ikut PO nya. Hemm insya Allah bermanfaat. Semoga.

avatar

Insya Allah kalau nanti mbak nerbitin buku, gantian mereka akan jd orang pertama yg beli.. Aammiin..

avatar

Perpustakaan desa sajalah, yang dikasih gratis.

avatar

bener bang, sepatu, nerbitin buku itu butuh perjuangan, jangan maunya gratis melulu

avatar

bener bang, sepatu, nerbitin buku itu butuh perjuangan, jangan maunya gratis melulu

avatar

Betul tulisan Bang Syaiha bahwa menerbitkan buku adalah suatu proses panjang yang melelahkan. Maka hargailah seorang penulis dengan membeli bukunya. Setuju banget Bang :)

avatar

Betul bang uda ngalamin sndri. Ktika kluar buku antologi saya terus sya promo malah pd mnta gratisan

avatar

Hmm... aku hanya bisa berdo'a saja semoga Alloh melembutkan hati pada mereka2 yg spt itu... semangat terus ya Bang... don't give up...


EmoticonEmoticon