Like Fanpage Bang Syaiha

Ragu Menikah Karena Calon Istri Tidak Bisa Memasak!

By Bang Syaiha | Thursday, 28 April 2016 | Kategori:

Ragu menikah karena calon istri belum bisa memasak, ragu menjelang akad nikah, Bang Syaiha, http://www.bangsyaiha.com/

"Bang Syaiha," kata seorang lelaki beberapa waktu lalu, "ada yang ingin saya tanyakan. Semoga Bang Syaiha ada waktu dan bisa menjelaskan masalah ini dalam bentuk tulisan." 

"Begini, Bang," katanya kemudian, "saya sedang kenal dengan seorang perempuan dan ingin segera menggenapkan agama dengannya. Cuma, akhir-akhir ini, ketika hari akad nikah kami kian dekat, saya malah ragu. Ada beberapa hal yang membuat saya bimbang." 

"Contohnya?" saya bertanya. 

"Misalnya begini, semakin kesini, saya semakin mengetahui bahwa calon istri saya ini banyak kekurangannya, Bang. Selain itu, saya juga baru tahu bahwa calon istri saya ini belum bisa masak. Padahal, kata ibu saya, memasak adalah salah satu keterampilan penting yang seharusnya dimiliki oleh seorang istri." 

"Nah, menghadapi hal demikian, apa yang harus saya lakukan, Bang?" 

Baiklah, berbekal pertanyaan itulah tulisan ini hadir. Saya berharap, semoga tulisan singkat dan amburadul ini bisa memberi sedikit masukan dan saran buat siapa saja yang mengalami nasib yang sama.

Pertama, setiap orang punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Nggak ada orang yang sempurna. 

Bagi saya, mengharapkan seorang perempuan yang sempurna (berparas cantik bak bidadari, bertubuh aduhai, beriman dan bertakwa luar biasa, juga kaya raya) adalah seperti mencari sebuah jarum pentul yang kecil di tengah Samudera Hindia yang luas. Ada memang, tapi jumlahnya sedikit dan susah ditemukan. 

Toh, kalaupun ketemu, belum tentu juga dia mau sama kita, bukan? Maka berhentilah mengharapkan pasangan yang sempurna. Cukup buat standar minimal saja. Misalnya: berakhlak baik dan enak dipandang, atau, shalat lima waktunya penuh dan berpendidikan. Cukup. 

Yang paling penting juga adalah, carilah pasangan yang punya semangat tinggi untuk memperbaiki diri, gemar menuntut ilmu, dan suka membaca. Karena seseorang dengan jiwa seperti ini akan mudah diajak pada hal-hal baik lainnya. 

Mereka, barangkali memang tidak sempurna, tapi dengan semangat yang ada di dadanya, lambat tapi pasti, mereka juga akan berlari ke arah kesempurnaan yang kita harapkan. Semuanya akan sama-sama belajar.

Kedua, bagaimana jika calon istri kalian belum bisa memasak? 

Yang perlu diingat adalah, bahwa setiap kita pasti punya standar minimal dalam menentukan pasangan. Saya misalnya, ketika memutuskan mengajak ta'aruf ke istri, memang nggak pernah meminta bisa memasak.

Saya menyerahkan biodata ke guru ngaji saya dan disana tertulis jelas sekali, “Kriteria pasangan yang diharapkan: terbina dengan baik dan enak dipandang.”

Itu saja. Maka ketika istri saya dulu berkata, "Maaf, mas, saya belum bisa memasak macam-macam. Paling hanya bisa yang standar-standar saja." 

Apa jawaban saya ketika itu? Mencontoh dari bacaan yang pernah saya lahap, saya berkata, "Nggak apa-apa, mbak. Saya ingin menikah untuk mencari istri, bukan mencari pembantu dan tukang masak." 

Sebuah jawaban yang berhasil membuat dia tersipu, tentu saja.

Di awal pernikahan, istri saya memang hanya bisa menghasilkan hidangan sederhana. Tumis-tumisan dan sambal-sambalan. Beruntungnya saya memang tidak rewel soal makanan. Bahkan hanya dengan telor dadar dan sambal goang saja saya lahap!

Walau demikian, hebatnya adalah, istri saya selalu menyanggupi apapun yang saya minta. Suatu hari, saya pernah bilang, "Ummi, masak gulai kepala kakap kayaknya enak, nih!" 

Eh, besoknya ia membeli semua keperluan dan mulai menciptakan gulai yang luar biasa enaknya. Saya tanya deh, "Katanya waktu itu nggak bisa masak, ini kok bisa buat gulai?" 

Sambil nyengir, istri saya menjawab, "Belajar dari sini, Abi," ujarnya sambil mengangkat gadget. "Tinggal googling aja resepnya dan coba deh." 

Jadi, nggak bisa masak bukan masalah besar. Dunia nggak akan berakhir hanya karena calon istri (atau istri kita nggak bisa masak). Tidak perlu ragu hanya karena hal itu.

Ketiga, penting sekali bagi seorang perempuan untuk bisa membuat hidangan yang nikmat. Teruslah belajar dan mencoba. 

Buat perempuan, nggak bisa masak memang bukan masalah. Toh, kita bisa membeli makanan di warteg atau di tempat-tempat lain. Bisa juga cathering kepada tetangga, mempekerjakan seorang pembantu, atau apa sajalah.

Tapi, yang jadi pertanyaan berikutnya adalah, apakah kita akan melakukan hal demikian sepanjang rumah tangga kita berjalan? Apakah hal itu tidak memberatkan dan boros? Lalu, bagaimana juga tentang kesehatan dan kehigienisan masakan yang kita makan? 

Karena hal inilah, ketika di awal pernikahan suamimu biasa saja dan tidak mempermasalahkan kamu bisa masak atau tidak, jangan dijadikan alasan untuk diam dan tidak mau belajar. 

Berusalah terus untuk mencoba memasak di dapur, menciptakan hidangan sendiri untuk suami dan anak-anak. Saya yakin sekali, jika ini dilakukan, pasti ada kepuasan yang dalam. Ada rasa bahagia yang tidak terkatakan. 

Apalagi ketika suami atau anak-anak kalian lahap menikmatinya. Amboi, pasti kalian akan luar biasa senang. 

Jadi, nggak bisa masak bukan masalah. Asal selanjutnya ada niat belajar dan terus berusaha bisa.


Demikian. 

6 komentar

avatar

*gleg... saya juga belum bisa masak ...

avatar

Yahhhh saya termasuk belum pintar masak

avatar

Calon istri tidak bisa masak langsung ragu, seakan dia calon suami yang paling sempurna saja. Tapi kasihan calon istrinya sih, kalaupun si lelaki menerima kekurangannya itu, belum tentu ibu mertua bisa ikhlas..
tapi semoga calon-calon ibu mertua yang keukeuh sama kriteria mantu idaman baca artikelnya bang Syaiha ini, biar enggak ada salah paham antara mantu-mertua (kayak di sinetron).

avatar

tidak sehebat chef terkenal

asal engga gosong dan engga keasinan juga udah lumayan

yg penting mau belajar :D

avatar

Saya juga blm bisa masak aneka menu masakan.. Bismillah, belajar..


EmoticonEmoticon