Like Fanpage Bang Syaiha

Susahnya Menjalani Kehidupan dengan Kaki Polio (2)

By Bang Syaiha | Friday, 8 April 2016 | Kategori:

Susahnya menjalani kehidupan dengan kaki polio, Bang Syaiha, Kisah Inspiratif, One Day One Post, Menulis Setiap Hari, Blogger Aktif, Penderita Polio, Trainer, Guru Blogger, bangsyaiha.com
Susahnya menjalani kehidupan dengan kaki polio
Untuk melengkapi pemahaman teman-teman, saya sarankan membaca catatan sebelumnya DISINI. Setelah itu, baru silakan melanjutkan membaca tulisan ini hingga tuntas. 
__________________

"Lalu, jika demikian," ia masih saja bawel bertanya ini dan itu, "Bagaimana caranya Bang Syaiha menjalani kehidupan yang tidak bersahabat ini?" 

Selesai bertanya demikian, teman saya itu sempurna menatap ke arah saya. Garis wajahnya mirip sekali seperti anak kecil yang mengharapkan mainan baru dari orang tuanya yang habis gajian dan baru saja menerima uang. Ia menunggu jawaban dari saya. Menagih-nagih melalui pandangan matanya. Sedangkan saya masih dalam kebingungan harus berkata apa? 

"Bang Syaiha pasti punya tips-tipsnya dong? Agar kita senantiasa bersyukur dan menerima dalam keadaan yang tidak sesuai harapan?" 

Saya tersenyum, mengangguk, "Kamu tahu toh, kalau Allah memberikan cobaan kepada hamba-Nya, pasti tidak melebihi batas kemampuan orang itu, bukan? Artinya, Allah sudah mengetahui kadar kesanggupan setiap orang sebelum menakdirkan seseorang begini dan begitu." 

Teman saya menggerakkan kepalanya ke bawah, mantap sekali. Ia menyepakati apa yang baru saya katakan. Benar.

"Itu artinya, Allah tahu saya sanggup hidup dengan kaki ini. Makanya DIA menakdirkan saya begini. Allah tahu saya kuat, Allah tahu saya cukup tegar." kata saya sambil memegang kaki kanan yang kecil. Pahanya saja tidak lebih besar daripada lengan tangan sebelah kanan saya. Menyadari hal itu, saya tersenyum getir. 

Kata-kata saya barusan lebih sebagai afirmasi untuk diri sendiri, mengingatkan bahwa semua yang diberikan Allah pasti baik. Dan kebaikan itu, karena begitu menyilaukan, sehingga banyak orang yang mungkin belum bisa menginderanya. 

"Jadi, kuncinya berbaik sangka kepada Allah, Bang?" 

"Iya, tepat sekali," saya berkata cepat, "tidak ada yang lebih menyenangkan kecuali hal itu, husnudzon kepada Allah. Ia akan mengantarkan setiap orang pada rasa syukur yang dalam." 

"Tapi, maaf ya, Bang," ia hendak menyela, "bagaimana caranya berbaik sangka kepada Allah jika, sekali lagi maaf, diberi kaki demikian?" 

Saya menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. "Dalam hidup ini, setiap kejadian, ada dua pilihan tanggapan yang bisa kita ambil. Pertama, berbaik sangka kepada Allah, menerima dan ikhlas. Percaya bahwa ini pasti yang terbaik dari-Nya. Allah maha tahu sedangkan kita tidak," 

Saya diam sejenak, melanjutkan, "Kedua, ini pilihan orang-orang yang tidak bisa berbaik sangka kepada Tuhannya, mereka akan terus-menerus mengeluh, mempertanyakan keputusan Allah akan hidupnya. Mengapa saya dilahirkan begini? Mengapa saya diberi kehidupan yang seperti ini?" 

"Oh well, jika kamu ditempatkan pada posisi yang tidak menguntungkan, semisal mendapatkan musibah atau kehilangan, kira-kira mana yang akan membuatmu tenang? Berbaik sangka atau terus-menerus mengutuki kemalangan?"

Sempat diam sejenak, sebelum teman saya kemudian menjawab, "Tentu saja pilihan pertama, Bang." 

Saya baru akan membenarkan, ketika dia melanjutkan lagi, "Mengeluh terus-menerus itu tidak akan pernah membawa kebahagiaan dan ketenangan. Yang ada malah semakin sengsara dan menderita." 

Saya mengangguk sambil tersenyum puas. Sepuas orang tua yang baru saja mendapati anaknya meraih prestasi yang menyenangkan hati. Sepuas seorang guru yang mendapati siswanya mengerti. 

"Hidup itu cuma satu kali, dan itu juga tidak akan lama," saya berkata demikian, "Rasulullah meninggal  di usia 63 tahun. Itu artinya, rata-rata usia kita juga segitu. Dan percaya deh, 63 tahun itu tidak akan lama. Sebentar saja, bukan?" 

Teman saya diam mendengarkan. 

"Sekarang usia kita sudah nyaris 30 tahun. Padahal, kita masih merasa kayaknya baru kemarin kita anak-anak, eh sekarang malah sudah punya anak. Jadi, karena hidup itu singkat sekali, saya tidak mau menghabiskannya hanya untuk mengeluh dan menyesali diri. Nggak ada gunanya." 

"Dan lagi, di akhirat kelak, orang-orang seperti saya, tidak akan mendapatkan keringanan. Tidak ada keistimewaan. Saya akan dihisab sama seperti kalian. Tidak karena kaki saya pincang, lalu Allah memisahkan saya dari barisan dan langsung mengantarkan saya ke surga toh?" 

"Karena itulah, saya harus berusaha. Keistimewaan yang saya punya adalah anugerah. Karena jika dengannya saya bisa bersyukur dan mengisi kehidupan ini dengan sebaik-baiknya hidup, maka semoga ganjarannya akan lebih berlipat." 

Begitulah.. 

7 komentar

avatar

Aamiiinn...kisahnya sangat memotivasi Bang. Saya jadi semakin semangat. Karena setiap orang tentu memiliki kekurangan. Apapun itu...semangat...semangaaattt!!!

avatar

selalu ada kelebihan dari setiap kekurangan
dan selalu ada kekuatan dari setiap cobaan

inspiratif sekali bang

avatar

bener bang, setiap manusia punya masalah/ujiannya masing-masing, dan itu semua pasti diberikan sesuai kemampuan kita, hanya modal iman yg mampu bertahan dengan hal seperti ini.

avatar

Husnudzan kepada Alloh.... that's the point ya Bang...


EmoticonEmoticon