Like Fanpage Bang Syaiha

Tentang Biaya Resepsi yang Mahal!

By Bang Syaiha | Tuesday, 26 April 2016 | Kategori:

biaya resepsi mahal, pernikahan, walimahan mewah, Bang Syaiha, http://www.bangsyaiha.com/

Pesan ini sudah lama mampir ke kotak masuk Fan Page saya. Hanya saja, karena begitu banyak pertanyaan yang datang setiap harinya, maka saya tak sempat langsung membalas. Maka maafkanlah. Bukan karena sombong atau tak ingin berbagi ilmu. Tidak. Saya hanya belum sempat saja kemarin-kemarin.

Pesan ini datang dari seorang perempuan, katanya, “Bang Syaiha, gimana kalau dalam pernikahan, pihak lelaki tak mau mengeluarkan uang untuk pesta besar-besaran?”

“Alasannya, itu tidak wajib. Bagi mereka pernikahan itu tak perlu mewah-mewah. Yang penting halal dan berkah saja. Cukup! Karena hal inilah, pernikahan saudara saya sempat tertunda beberapa lama. Kedua belah pihak, tidak ada yang mau mengalah.”

“Pihak perempuan ingin dimeriahkan pernikahannya. Sedangkan pihak lelaki tak ingin mengeluarkan uang terlalu banyak.”

Karena penasaran, saya bertanya, “Lalu bagaimana nasib pernikahan mereka, mbak? Jadi atau tidak?”

“Alhamdulillah jadi sih, Bang.” Jawabnya menjelaskan, “Pernikahan mereka akhirnya berlangsung juga. Tidak begitu meriah, tapi juga tak begitu sederhana. Sewajarnya saja. Semua dana berasal dari pihak keluarga perempuan.”

“Syukurlah.” Jawab saya singkat.

“Hanya saja, setelah menikah, pihak lelaki diharuskan membayar cicilan ke pihak keluarga perempuan. Ini telah disepakati di awal pernikahan mereka kemarin, Bang.” Katanya lagi.

“Oh..” Saya, lagi-lagi menyela.

“Nah, bagaimana menurut Bang Syaiha tentang kisah ini?”

Pertanyaan itulah yang menjadi sebab hadirnya tulisan amburadul ini. Saya akan mencoba menjelaskan tentang pernikahan yang unik barusan. Jujur saja, sebagai orang yang awam, saya sempat bingung hendak menjawab apa. Karena itulah, pertanyaan ini saya diamkan beberapa pekan. Tapi sekarang, dengan keterbatasan dan kedangkalan pengetahuan, saya mencoba menjabarkan beberapa hal.

Pertama, adalah benar, bahwa dalam menikah, hanya ada lima saja syarat dan rukunnya. Ada dua mempelai, ada wali, mahar, ijab kabul, dan dua orang saksi. Selesai. Dengan lima hal itu saja, pernikahan bisa dilakukan. Dua sejoli yang dulunya haram bersentuhan, setelahnya bisa melakukan banyak hal yang berkah dan halal.

Selanjutnya, beberapa riwayat mengabarkan bahwa perlu dilakukan resepsi, walimahan. Sederhana saja, undang beberapa orang, kabarkan kepada mereka bahwa si A dan si B sudah menikah. Sehingga, ketika si A dan si B berdua-duaan, orang-orang sudah faham, mereka sudah halal.

Undanglah orang-orang, kabarkan kepada mereka bahwa kalian sudah menikah. Tak perlu mewah dan berlebihan. Setidaknya, ada satu paha kambing saja yang dihidangkan.

Maka tentang resepsi yang megah-megah itu, yang menghabiskan uang hingga berbilang ratusan juta –atau malah miliaran, hukumnya mubah saja, mungkin. Boleh –dengan syarat dan ketentuan.

Kata guru saya, mubah adalah hukum yang fleksibel. Sifatnya bisa berubah-ubah sesuai keadaan. Ia bisa menjadi makruh, haram, dan sunnah.

Simpelnya begini: makan hukumnya mubah. Tapi jika makannya terlalu banyak dan kekenyangan –lalu menjadi susah bergerak dan beribadah, bisa saja hukumnya berubah menjadi makruh. Tidak baik. Lalu, makan bisa menjadi haram jika ternyata yang dimakan adalah racun –atau hal-hal lain yang membahayakan keselamatan. Itu dosa besar, sama saja bunuh diri, bukan?

Sama halnya dengan resepsi pernikahan, hukumnya mubah. Boleh-boleh saja dilakukan asal ada uangnya, tidak memberatkan, dan setelahnya, tidak banyak hutang yang ditinggalkan –lalu kesulitan membayar. Jangan hanya karena ingin mengadakan resepsi besar-besaran, lalu kita meminjam uang kesana kemari. Asal-asalan saja. Eh, setelahnya, banyak hutang yang harus dibayar dan kita kelabakan. Ini tidak baik.

Kedua, adalah penting sekali melakukan komunikasi antar keluarga besar kedua mempelai sebelum menikah. Terutama tentang dana yang dibutuhkan untuk resepsi pernikahan. Pihak perempuan, tentu tak akan terang-terangan meminta sekian. Pihak keluarga lelaki pun seharusnya jangan pelit-pelit nian.

Cobalah bertanya pada orang-orang, tentang berapa pantasnya yang akan kau berikan. Lalu pihak perempuan, adalah sebuah kebijaksanaan menerima berapapun pemberian.

Seperti saya dulu, ketika akan menikah, hal pertama yang saya lakukan adalah survey lingkungan sekitar. Bertanya kepada banyak orang, “Ibu, biasanya, kalau orang daerah sini, pantasnya ngasih berapa?”

Begitu. Saya tak ingin terlalu sedikit memberi, juga tak hendak berlebihan. Mencari jalan pertengahan, yang pantas dan wajar.

Beruntungnya, keluarga istri saya, menerima berapapun yang saya berikan. Mereka bilang, “Berapapun yang dikasih, kami menerimanya. Resepsi walimah nanti akan disesuaikan dengan jumlah uang itu.”

Indah sekali bukan?

Terlebih ketika pihak keluarga istri saya berujar, “Dalam pernikahan, bukan resepsinya yang penting, tapi hidup setelahnya. Buat apa bermegah-megahan, tapi setelah selesai kegiatan, lalu kita kelabakan. Sibuk membayar hutang.”

Hal-hal seperti inilah yang harus dikomunikasikan intens antar dua keluarga yang akan dipersatukan. Cari jalan tengah yang menentramkan keduanya. Jangan saling memaksakan kehendak.

“Lalu, Bang Syaiha, tentang saudara saya tadi gimana? Haruskah Ia mencicil uang resepsi kepada keluarga perempuan setelah pernikahannya?”

Iya. Pasalnya, begitulah yang disepakati kedua keluarga, bukan? Tepatilah janji yang sudah diucapkan dan disanggupi. Hanya saja, jika pihak perempuan mengikhlaskan, itu tentu lebih baik.

Selanjutnya, untuk sesiapa saja yang membaca tulisan tak karuan ini, janganlah sekali-kali menyusahkan diri sendiri. Jika ingin menikah, buatlah Ia menjadi mudah. Jalani sesuai kemampuan dan tak perlu berhutang.


Demikian. 


EmoticonEmoticon