Like Fanpage Bang Syaiha

Ya Allah, Aku Mencitainya! Harus Kuungkapkan atau Diam?

By Bang Syaiha | Wednesday, 27 April 2016 | Kategori:

Jika perempuan jatuh hati duluan, Perempuan jatuh cinta, Mengungkapkan perasaan sesuai ajaran Islam, Bang Syaiha, http://www.bangsyaiha.com/
Ungkapkan atau diam?
Sebuah pesan singkat, lagi-lagi masuk ke inbox fanpage saya. Jika tak salah menghitung, maka itu adalah pesan keenam dari orang-orang yang katanya sering sekali membaca tulisan-tulisan saya disana. Dan isinya, masih sama, pertanyaan seputar pernikahan, cinta, dan kawan-kawannya.

Kali ini, pertanyaan yang masuk adalah:

Bang Syaiha, salam kenal. Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih yang mendalam, karena tulisan-tulisan Bang Syaiha di fanpage dan blog ini benar-benar memberikan banyak ilmu, pencerahan, dan wawasan.” katanya membuka pesan itu. “Dan jika diizinkan, maka saya pun sebenarnya ingin menyampaikan beberapa uneg-uneg seputar pernikahan. Siapa tahu, Bang Syaiha bisa memberikan sedikit pandangan tentang apa yang saya alami ini.”

Saya membaca setiap kalimat yang Ia tuliskan tanpa terlewat.

“Begini, Bang,” katanya melanjutkan, “Saya adalah seorang perempuan yang belum menikah dan saat ini sedang ‘kagum’ –baca: jatuh cinta, ke seorang lelaki. Masalahnya, lelaki yang saya sukai ini adalah lelaki dengan berjuta kelebihan. Ia lulusan Mesir yang pemahaman agama dan akhlaknya baik, sholih, dan –maaf, tampan. Sedangkan saya, seperti langit dan bumi dengannya. Jauh sekali berbeda.”

Sampai titik ini, saya mulai bisa membaca inti masalahnya.

“Karena perbedaan yang mencolok inilah, terkadang saya minder, merasa tak pantas dengannya.”

“Nah, pertanyaan saya adalah: (1) Apakah salah jika saya yang tidak ada apa-apanya ini, mencintai seorang lelaki penuh kelebihan seperti dia? (2) Lalu bagaimana saya seharusnya, Bang? Benar, bahwa dalam Islam, tentu saja dibolehkan seorang perempuan mengungkapkan perasaannya duluan, tapi jika ditolak, tentu malunya itu kan bukan alang kepalang, bukan?”

Saya sempat berpikir sejenak, membiarkan otak saya bekerja, mencari-cari jawaban yang paling bijak –menurut saya, dan tepat. Karena hal ini pula lah, maka setiap ada pertanyaan yang masuk ke Inbox fanpage, saya tidak akan langsung menjawabnya. 

Saya butuh merenung, berpikir. Dan saya pun selalu yakin, bahwa dari ribuan orang yang membaca setiap tulisan saya, pasti ada orang-orang yang lebih bijak, cerdas, dan punya pandangan tersendiri yang boleh jadi berbeda. Jika sempat, silakan menambahkan di kolom komentar saja.

Baik, saya akan mencoba membagi masalah ini menjadi dua –sesuai pertanyaannya.

Pertama, tentang bolehkah seorang perempuan –atau juga lelaki, jatuh cinta pada seseorang yang lebih baik darinya?

Amboi, tentu saja boleh. Dan sejatinya begitulah kita, mencintai seseorang karena ada sesuatu yang baik padanya. Entah itu parasnya, perangai dan polahnya, atau pemahaman agama dan amalan yaumiyahnya. Dan cinta, adalah anugerah dari Tuhan yang maha baik. Karenanya pula, Ia akan tumbuh pada pondasi-pondasi yang baik di mata kita.

Perhatikan saja, ada orang-orang yang jatuh cinta pada pasangannya karena kepintaran yang ada. Sebagian yang lain, orang-orang yang lebih melangit, mencintai pasangannya karena iman dan takwa, atau karena kebaikan-kebaikan lainnya.

Jadi, boleh kah kita mencintai seseorang yang lebih baik dari kita? Tentu saja boleh –bahkan sebisa mungkin harus, cari orang-orang terbaik menurut kalian dan cintailah mereka –dengan cara yang benar. Berdoalah agar orang-orang seperti mereka yang kelak menjadi pasangan sepanjang usia.

Dan karena hal ini pula lah, maka saya selalu gagal paham jika ada orang yang memilih tidak melanjutkan proses ke jenjang pernikahan dan bilang, “Maaf, sepertinya saya tidak bisa melanjutkan proses ta’aruf ini, Mbak. Saya merasa tidak pantas. Mbak terlalu baik buat saya.”

Alasan basi yang nggak masuk akal!

Kedua, tentang bagaimana jika seorang perempuan jatuh cinta kepada seorang lelaki duluan? Ungkapkan atau diamkan saja?

Sebenarnya, ada dua pilihannya, “Ambil kesempatan atau mempersilakan.”

Ambil kesempatan dilakukan dengan cara mengungkapkan perasaannya kepada lelaki yang dipuja –seperti yang pernah dilakukan Khadijah kepada Nabi kita. Ambil kesempatan itu, –ungkapkan perasaan, jika ada sinyal-sinyal ketertarikan dari lelaki yang kau kagumi. 

Lalu, dari mana kita bisa menangkap sinyal-sinyal ketertarikan itu?

Tentu saja, kau bisa meminta bantuan teman-temannya, coba tanyakan apa reaksinya jika namamu disebut di hadapannya. Atau mintalah teman-temannya untuk bertanya tentang dirimu. Ah, tentang sinyal-sinyal ini, sepertinya saya tak perlu bercerita panjang lebar. Kau tentu lebih tahu. [Klik tentang masalah ini DISINI]

Nah, jika tidak ada sinyal-sinyal ketertarikan itu, maka berhentilah. Berlapang dada melepaskan, jauh lebih baik. Karena sejatinya, semakin kau mencintai seseorang, maka semakin mudah kau melepaskannya. 

Dan lagi, ingat pepatah sederhana yang pernah sesepuh-sesepuh kita bilang, “Bagi seorang perempuan, jauh lebih menguntungkan menikah dengan lelaki yang mencintaimu –walau kau sebenarnya tak mencintai, dari pada menikah dengan lelaki yang kau cintai –tapi dia tak mencintaimu.

Demikian.  

3 komentar

avatar

Kalimat terakhir kok ya ngenes bangett... kalau urusan cinta memang susah... mendingan ungkapin aja, kalau malu kan resiko ya,drpd penasaran... asal dgn cara2 kata Bang syaiha tadi... sepatuuu lah

avatar

Jadi inget sebuah lagu...'cintai dia yang mencintaimu...' Membalas cinta buat saya lebih sesuatu.

Soal perempuan mengungkapkan perasaannya lebih dulu pada seseorang yang dipandang punya buanyaaak kelebihan itu ibaratnya mau beli tas atau sepatu paling keren yang limited edition. Grab it fast!
Saya sendiri terus terang dulu bilang duluan pada (calon) suami karena menurut saya, dia mampu membawa saya ke arah yang lebih baik. Saya sendiri punya kekurangan dalam hal ilmu agama, saya berharap pernikahan saya bikin saya lebih pinter.Alhamdulillah harapan saya terwujud. Meski masih nggak pinter 2 juga setidaknya lebih baik dari sebelumnya.

Jadi buat si Mbak yang meragu, Ayo bicara aja. Ungkapkan aja. Daripada menyesal karena kehilangan lelaki sholih. Kalau seandainya tidak diterima pasti Allah sudah menyiapkan pengganti yang lebih baik. Amiin.

avatar

sepertinya saya mengalami bagian kedua bang :D


EmoticonEmoticon