Like Fanpage Bang Syaiha

Cinta dan Pernikahan

By Bang Syaiha | Tuesday, 31 May 2016 | Kategori: |

Apa definisi cinta dan pernikahan, pelajaran penting tentang cinta dan pernikahan, Bang Syaiha, http://bangsyaiha.com/
Cinta dan Pernikahan
Seorang pemuda, dengan langkah besar-besar, berjalan tergopoh ke arah sebuah rumah mungil di ujung kampungnya. Itu adalah rumah sesepuh, tempat bertanya warga jika sedang menghadapi masalah.

Tempat meminta nasihat yang baik, tempat memulung petuah bijak yang berguna dan manfaat. Kesanalah pemuda ini melangkah. Jiwanya sedang kering, ruhaninya terasa gersang, dan butuh pencerahan.

Pengalaman hidup yang panjang serta berbagai pil pahit kehidupan yang sudah berkali-kali ditelan, membuat sesepuh itu menjadi bijaksana. Hatinya seluas langit yang indah dan sedalam samudera yang dingin.

Maka bisa dipastikan, walau sekontainer masalah dituangkan disana, tidak akan berpengaruh apa-apa. Hilang tanpa bekas. Lenyap begitu saja.

Pemuda ini, memang tidak membawa sekontainer masalah, ia hanya ingin bertanya tentang dua hal saja yang selama ini sudah mengganjal hatinya. Dua hal yang terus-menerus memenuhi otaknya. Membuat pikirannya sering ngehang. Seperti komputer kelas teri yang dipaksa bekerja keras, ngadat berkali-kali.

“Silakan duduk”

Si pemuda ngos-ngosan. Napasnya memburu. Detak jantungnya menderu. Ia memperhatikan sekeliling ruang tamu. Dinding ruangan tempat ia duduk sekarang, seperti hati seorang bayi yang suci, bersih tidak bernoda sama sekali. Ia menarik napas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya perlahan hingga kondisinya menjadi lebih tenang.

Ia memperhatikan wajah teduh si tokoh adat. Ini pertama kalinya ia datang kemari. Benarlah kata sebagian besar warga bahwa wajah si bapak tua ini menyejukkan.

Memandang ke arahnya seperti melihat sebuah telaga luas dengan air yang bersih dan menyegarkan. Seperti danau yang sekitarnya hijau karena pepohonan dan riuh kicau burung yang menakjubkan. Membayangkan berada di danau seperti ini saja sudah menenangkan, bukan?

“Pak tua, aku ingin kau menjelaskan kepadaku, Apa itu cinta?”

Pak tua terkekeh. Respon yang selalu sama saat orang-orang datang kepadanya untuk menanyakan banyak hal. Bukan kekeh meremehkan.

Toh, baginya tidak ada pertanyaan yang temeh. Ia hanya memberikan kesempatan kepada otaknya untuk berpikir. Memilah-milah bermacam jawaban yang tersedia. Memilih yang terbaik dan bijak, sesuai kondisi psikologis si penanya.

“Cinta, ya?” katanya kemudian, sambil manggut-manggut ia mengajak si pemuda ke teras belakang rumahnya, “Sekarang mari ikut saya ke belakang.”

Halaman belakang rumah Pak Tua itu berwarna-warni. Kebun bunga yang luas terbentang. Bahkan aromanya mampu terbang ke rongga hidung, menusuk-nusuk, menerobos masuk.

“Sekarang, cobalah berjalan maju ke kebun bunga disana. Ambilkan untukku setangkai bunga yang kamu anggap paling indah. Tapi ingat, ada syarat yang tidak boleh kamu langgar, jangan mundur lagi ke belakang. Jika sudah melangkah, teruslah ke depan.”

Si pemuda bingung. Ia bertanya tentang cinta, tapi kenapa malah disuruh memetik bunga?

Namun, karena setiap warga yang sudah pernah bertanya ke kakek tua ini selalu pulang dengan wajah puas dan sumringah, maka ia melaksanakan titah kakek tua, melangkah gontai ke kebun bunga. Melakukan apapun yang diminta.

Setelah nyaris satu jam, si pemuda kembali. Tidak ada satupun bunga yang dibawa. Wajahnya murung. Merasa bersalah karena tidak mendapatkan apa yang diminta pak tua.

“Setelah sekian lama kau disana” kata Pak Tua sambil menunjuk kebun bunga, “Mengapa tak satu tangkai pun bunga yang berhasil kau bawa? Tidak adakah bunga yang indah disana?”

Si pemuda menghela napas sejenak.

“Sebenarnya, tadi saya sudah menemukan setangkai bunga yang menurut saya paling indah. Letaknya masih di awal-awal kebun. Saya hendak mengambilnya, tapi ketika melihat bahwa kebun bunga masih luas, ketika mengetahui bahwa masih banyak bunga di depan, saya pun tidak jadi mengambilnya. Siapa tahu di depan sana ada tangkai bunga yang jauh lebih indah, pikirku. Tapi malangnya, hingga ujung kebun bunga, saya tidak pernah menemukan yang lebih indah seperti sebelumnya. Karena kau tidak mengizinkanku berjalan ke belakang, maka tidak ada satupun bunga yang bisa aku ambil”

Pak Tua tersenyum. Semua sesuai yang ia harapkan.

“Ya, itulah cinta anak muda. Kau sudah belajar dengan sempurna tentang cinta.” kata Pak Tua sambil menepuk-nepuk pundak si anak muda.

Si pemuda manggut-manggut, mengerti. Sebuah senyum tergambar di bibirnya. “Terimakasih, Pak Tua.”

Pak tua yang berada tepat di depan si anak muda berdiri tenang. Persis seperti tongkat yang ditancapkan di tanah, kokoh. Tidak bergerak sedikitpun. Tangan kanannya sibuk membelai-belai jenggotnya yang panjang dan mulai memutih. Persis seperti guru-guru silat di film-film kungfu China.

Ia memandang ke arah pemuda yang baru saja dari kebun bunga di belakang rumahnya tanpa membawa setangkaipun. Nihil.

“Sepertinya ada masalah lain yang ingin kau tanyakan, anak muda?”

Tentu saja ia bukan paranormal, bukan dukun, atau orang pintar, ia hanya bisa menebak melalui garis-garis wajah yang muncul di muka si anak muda. Jika si pemuda sudah selesai dengan pertanyaan tentang cintanya, harusnya garis wajahnya puas dengan sorot mata berkilat-kilat.

Tapi sekarang tidak demikian. Maka pasti ada sesuatu, ada hal lain yang ingin ditanyakannya.

“Iya, Pak Tua.” katanya sambil menundukkan wajah. Sungguh bukan hal yang bijak memandang ke arah mata si Pak Tua yang terkenal bijak.

“Kali ini saya ingin tahu, apa itu pernikahan?”

Lagi.

Pak tua kembali terkekeh sambil beberapa kali membelai-belai jenggot putihnya. Kekehan yang nyaris sama seperti sebelumnya saat ia menanyakan tentang cinta beberapa jenak yang lalu.

“Kau sepertinya ingin menikah ya, anak muda?”

Tentu saja. Bagaimana mungkin tidak. Semua orang pasti ingin menikah. Tapi ternyata menikah itu tidak pernah semudah yang ia bayangkan. Buktinya sampai sekarang ia belum juga. Tiga kali gagal karena beberapa alasan.

Pertama, dulu ia pernah gagal karena ia merasa pujaan hatinya terlalu matere. Masih pacaran saja uang upah kerjanya setiap bulan ludes tanpa sisa hanya untuk menyenangkan hati si pujaan hati. Ia tidak bisa berbagi kehidupan dengan perempuan seperti itu.

Kedua, ia gagal karena merasa kekasih berikutnya ini terlalu cerewet. Apa saja dibicarakan. Bahkan hal-hal temeh sekalipun. Tidak boleh ini dan itu. Sedangkan kegagalan yang terakhirnya, ia merasa kekasihnya tidak bisa mengurus keluarga nanti. Apalah yang bisa dilakukan anak bungsu yang manja, tidak bisa masak dan tidak pernah bersih-bersih rumah sama sekali.

“Tentu saja aku ingin menikah, Pak Tua.”

Anak muda ini masih menundukkan kepalanya. Tidak sekalipun berani beradu mata dengan Pak Tua. Kedua jemari tangannya saling menggenggam di bawah pinggang bagian depan. Kondisinya sudah seperti kerbau yang dicolok hidungnya dengan tali, pasti menurut kemana saja ia akan dibawa. Pasrah.

“Baik. Aku akan menjelaskan kepadamu tentang pernikahan. Tapi sebelumnya, kau lihat hutan disana?” pak tua menunjuk sebuah hutan di sebelah kanan rumahnya. Tidak begitu jauh.

Anak muda mengarahkan pandangannya ke arah hutan itu.

“Ini” kata Pak Tua menyodorkan kapak besar yang tajam. Mata kapak itu berkilauan terkena sinar matahari, “Sekarang kau ambilkan sebuah pohon untukku, pohon yang menarik hatimu, yang ukurannya besar dan tinggi menjulang. Syaratnya tetap sama seperti sebelumnya, kau tidak boleh berjalan kembali ke belakang.”

Pemuda bingung. Belum paham maksud perintah Pak Tua. Apa hubungannya pernikahan dengan menebang pohon? Tapi karena si anak muda percaya sepenuhnya kepada Pak Tua, maka tidak ia akan melawan dan terlalu banyak bertanya. Ia mengikuti semua titah orang tua itu. Ia menggenggam kapak dengan yakin dan berjalan ke arah hutan.

Kali ini ia tidak butuh waktu lama untuk kembali kepada Pak Tua dengan sebuah pohon yang ditarik mendekat. Jika dilihat dari ukurannya, itu bukanlah pohon dengan ukuran yang super besar dan super tinggi. Itu hanya pohon biasa saja. Yah, walau tidak bisa juga dibilang pohon kecil.

“Kenapa hanya pohon seperti ini saja yang berhasil engkau bawa anak muda? Tidak adakah pohon yang lebih baik lagi?”

Si anak muda meletakkan batang pohon dan kapak di tanah. Ia menghela napas panjang. Mengatur kembali degup jantungnya yang kencang.

“Aku baru saja memasuki hutan ketika aku melihat pohon ini. Tidak terlalu tinggi dan besar, tapi aku tertarik. Aku sempat ragu untuk menebangnya. Aku berpikir untuk berjalan lebih masuk lagi ke dalam hutan, mencari pohon yang lebih besar dan lebih tinggi, tapi aku takut tidak ada lagi pohon yang lebih menarik dari pohon ini. Maka aku memutuskan mengambil kesempatan dan menebang pohon ini serta membawanya kemari.”

Pak Tua puas dengan yang dilakukan si anak muda. Ia menepuk pundak anak muda itu dengan lembut dan berkata, “Begitulah pernikahan, anak muda. Kau sudah belajar dengan baik tentang cinta dan pernikahan.”

“Anak muda,” katanya lagi, “Cinta itu semakin dicari maka semakin tidak akan ditemukan. Cinta ada di lubuk hati ketika kau mampu menahan keinginan dan pengharapan yang lebih.”

 “Jika kau tidak mampu menahan keinginan dan pengharapan yang lebih itu, maka yang didapat adalah kehampaan. Tidak ada yang lain dan kau tidak akan mampu mundur kembali. Waktu sudah lewat. Jadi terimalah cinta itu apa adanya.”

“Sedangkan perkawinan adalah kelanjutan dari cinta yang merupakan proses untuk mengambil kesempatan yang ada. Ketika kau memilih mencari yang lebih baik dari kesempatan yang di depan mata, maka bisa jadi kau akan mendapatkan kesia-siaan belaka. Karena kesempurnaan itu tidak pernah ada, anak muda.”


Demikianlah.. 


EmoticonEmoticon