Like Fanpage Bang Syaiha

Guru tuh Seharusnya..

By Bang Syaiha | Tuesday, 24 May 2016 | Kategori:


Dalam Al Quran dikatakan: “Kalian adalah umat terbaik yang diturunkan kepada manusia, kalian menyeru mereka untuk berbuat amal sholih dengan cara yang ma’ruf, dan mencegah orang-orang berbuat kemungkaran..”

Duh, indah sekali, bukan? Sampaikan ajakan berbuat baik dengan cara yang lembut dan hikmah. Nggak boleh memaksa apalagi sampai melakukan pembunuhan dan terorisme.

Bukannya simpatik, yang ada malah semakin menjauh dan antipati.

Saya bukan ahli agama, bukan lulusan pesantren. Tapi karena tiba-tiba saja yang melintas di kepala saya adalah tentang ayat di atas, maka mari kita bedah pelan-pelan sesuai apa yang saya pahami.

Terbuka kesempatan buat siapa saja untuk memberikan komentar, kritik dan saran, juga masukan. Monggo sampaikan saja di kolom komentar.

Mari kita mulai..

Pertama, ayat Al Quran diturunkan kepada nabi Muhammad untuk keperluan umat melalui malaikat Jibril. Petunjuk itu (Al Quran) diberikan untuk orang-orang semasa Rasulullah hidup dan memang akan selalu relevan untuk dipakai kapanpun.

Tidak terbatas ruang dan waktu.

Maka jika kita mau jujur, tentu saja ayat di atas ditujukan untuk: nabi Muhammad dan para sahabatnya di masa beliau masih hidup. Sebut saja Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

Mereka adalah orang-orang terbaik (umat terbaik) yang sudah di jamin masuk ke dalam surga. Sebuah tempat yang dirindukan banyak orang.

Siapa lagi yang jauh lebih baik dari mereka? Orang-orang yang berislam dengan taruhan harta dan jiwa! Orang-orang yang bahkan rela meninggalkan kampung halaman demi tetap kuatnya iman di dalam dada.

Maka merekalah umat paling baik di dunia. Nggak ada yang lain.

Ayat di atas juga menjadi penyemangat buat kita, bahwa bisa saja kita menjadi seperti mereka, menjadi umat terbaik asalkan memenuhi syarat-syaratnya.

Kedua, yang jadi pertanyaan berikutnya adalah: “Bagaimana caranya mereka menjadi umat terbaik?”

Tentu jawaban paling tepat adalah dengan mengikuti semua ajaran Islam secara sempurna. Tidak setengah-setengah, tidak mengambil yang enak lalu meninggalkan yang berat. Tidak.

Mereka tetap menggenggam ajaran Islam dengan penuh kesadaran dan kemampuan. Mereka saling berlomba dalam kebaikan dan malu jika sampai ketinggalan.

Ajaran Islam itu luas, meliputi segala aspek kehidupan. Ia tidak hanya aktivitas di tempat ibadah saja.

Tapi di lingkungan, di rumah-rumah, dan kehidupan sosial lainnya. Maka tidak heran jika Rasulullah bilang, “Orang yang paling baik diantara kamu adalah mereka yang paling baik akhlaknya (kepada siapapun).”

Ketiga, ini poin pentingnya, lalu bagaimana caranya Rasulullah membina mereka menjadi sedemikian hebat? Bagaimana pendidikan yang disampaikan Rasulullah?

Nah, jawaban dari pertanyaan ini akan menjadi sangat krusial jika kita melihat betapa buruknya pendidikan yang ada di negeri kita. Sebenarnya, jika kita mau mencontoh bagaimana Rasulullah merancang kurikulum pendidikannya, maka permasalahan pendidikan pasti bisa diatasi dengan gemilang.

Dan menurut saya yang bukan ahli agama ini, beginilah pendidikan ala Rasulullah itu:

Pilihlah Guru yang Paling Baik Akhlaknya

Dulu, ada yang bilang bahwa keberhasilan pendidikan adalah kurikulumnya. Anggapan ini dipegang cukup lama. Banyak sekolah yang memasukkan ini dan itu, sesuatu yang hebat untuk dipelajari dan dipahami.

Mereka kekeuh sekali bilang, “Sekolah yang bisa menelurkan orang-orang hebat adalah sekolah yang pelajarannya keren-keren. Kurikulumnya impor dan sebagainya.”

Ternyata mereka salah. Sekolah dengan kurikulum terbaik sekalipun tidak bisa menghasilkan generasi yang diharapkan. Mereka mungkin saja pintar dan mengerti banyak hal. Tapi kehidupan mereka kering, suka merusak lingkungan, dan senang mengambil hak orang banyak.

Sebaik apapun kurikulumnya, kalau guru yang mengajar nggak kompeten, maka hasilnya nol besar.

Maka anggapan pun berubah, bahwa yang paling penting dalam sebuah sistem pendidikan adalah gurunya.

Anggapan ini juga dipegang cukup lama. Jika ingin menghasilkan lulusan yang bisa diandalkan, maka guru yang mengajar harus keren akademiknya. Harus orang-orang yang ber-IQ dewa.

Tapi, setelah sekian lama diyakini, anggapan ini juga kurang tepat.

Anak-anak yang dihasilkan dari sistem pendidikan begini adalah mereka yang luar biasa pintar tapi tidak bersosial. Hampir sama dengan hasil pendidikan yang awal: lulusannya suka berbuat tidak sesuai harapan. Korupsi, maling uang negara, dan menyengsarakan rakyat.

Manusia yang dihasilkan banyak yang tidak bermoral. Kurang adab dan tata kramanya. Jadilah anak-anak cerdas isi kepalanya, tapi cacat hatinya.

Maka anggapan di atas diperbaiki menjadi: “Bahwa yang terpenting dalam sistem pendidikan adalah akhlak gurunya!”

Guru yang berakhlak baik tapi memiliki kecerdasan biasa saja, jauh lebih utama daripada guru yang cerdas bukan main tapi bejat.

Benar, bukan?

Tapi tentu saja, jika memungkinkan pilihlah kombinasi keduanya. Guru yang super cerdas dan akhlaknya mulia. Ini sempurna dan hebat sekali. Siswa yang dihasilkan dari didikan orang-orang ini, sebagian besar (jika tidak ingin bilang semua) pasti terjamin kualitasnya.


Cerdas dan beragama. 

Bersambung disini: Pendidikan ala Rasulullah.


EmoticonEmoticon