Like Fanpage Bang Syaiha

Jangan Gantungkan Hati Perempuan

By Bang Syaiha | Saturday, 14 May 2016 | Kategori:

Jangan gantungkan hati perempuan, Jatuh cinta, kapan nikah, bang syaiha, http://www.bangsyaiha.com/

“Sekuat-kuatnya seorang perempuan bersabar, kelamaan digantung juga pasti gusar. Apalagi digantung nggak wajar.”

Sebut saja namanya Bunga –bukan nama sebenarnya. Ia adalah sahabat baik saya sejak dulu. Dari ketika kuliah hingga sekarang. Perempuan dengan rambut bergelombang –sekarang sudah memakai jilbab, berhidung mancung, dan untuk ukuran rata-rata, maka saya sepertinya tidak berlebihan jika menyebutnnya sebagai perempuan yang jelita.

Bahkan, sejak saya mengenalnya hingga sekarang, tidak hanya satu dua kali saja ada seorang lelaki yang bertanya tentang Bunga ke saya.

“Sudah ada yang punya belum ya ya, Bang Syaiha?”

“Sudah siap menikah belum ya?”

“Dia mau nggak ya pacaran?”

..dan sebagainya.

Banyak yang mencoba mendekatinya, atau paling tidak tertarik hingga melontarkan pertanyaan demikian.

Sayangnya, kebanyakan lelaki memang terkadang begitu, takut mendekati, hanya berani mengagumi. Takut menggenapi, hanya berani bilang jatuh hati.

Sebagai sahabat karibnya, saya tentu tahu bahwa Bunga sudah memiliki calon pendamping hidup. Entahlah apa nama hubungan mereka. Dibilang pacaran, tapi mereka tidak pernah berdua-duaan, karena jarak mereka terpisah berkilo-kilo meter jauhnya.

Satu-satunya interaksi mereka sekarang adalah berbalas pesan singkat, saling menelpon, dan bertegur sapa via jejaring sosial yang banyak beredar.

Saya pernah menanyakan, “Kenapa kalian tidak menikah saja, Bunga?”

Pertanyaan yang seharusnya tidak saya lontarkan. Sungguh. Saya lupa, bahwa pertanyaan itu adalah pertanyaan yang tidak selayaknya diutarakan. Bukankah pertanyaan itu teramat menyakitkan buatnya –seorang perempuan yang sudah matang dan selayaknya sudah menikah?

Tapi, karena ia pun sudah sangat dekat dengan saya, maka sambil tersenyum getir, ia menjawab, “Pengennya sih gitu, Syaiha.”

“Kok?” saya menggaruk kepala yang tidak gatal. Penasaran.

Setelahnya, biasanya Bunga akan menarik napas perlahan, membenarkan posisi duduknya, dan mulai bercerita, “Gue sama Riko –bukan namanya sebenarnya juga, itu kan udah lama saling kenal. Kami sudah sama-sama dewasa dan tentu saja tidak bodoh untuk mengerti bahwa kami saling suka.”

“Lalu?” begitu mungkin wajah saya berkata, menyimak cerita Bunga yang menurut saya sudah mirip sekali dengan film-film FTV yang sering kali tayang ketika pagi-pagi di televisi, ternyata mengasikkan.

“Sayangnya, Riko nggak pernah sama sekali bilang suka ke gue, Syaiha.” Ujar Bunga sambil menatap lurus ke depan, kosong. Sorot matanya seperti pandangan seorang ibu yang baru saja kehilangan anak tercintanya. Nanar.

“Tapi, bukannya tadi Lu bilang kalau kalian berdua sebenarnya sudah saling suka?”

Bunga mengangguk-anggukkan kepalanya, “Tapi Gue butuh ungkapan verbal Riko, Syaiha. Dan tidak nggak pernah sekalipun bilang.”

“Lu pancing-pancing aja biar dia ngerti.”

“Sudah.” Bunga menyambar kalimatku barusan seperti Elang yang kelaparan, “Bahkan sudah sering. Tapi memang Riko sepertinya tidak ingin mengutarakan isi hatinya. Apalagi, beberapa waktu lalu ia bilang belum siap menikah dalam waktu dekat. Ada banyak target yang ingin ia capai. Ada banyak mimpi yang ingin ia raih.”

“Kalau begitu, berat nih urusan.”

“Memang.”

Kami sama-sama diam beberapa jenak, lalu Bunga melanjutkan, “Biarlah. Tak perlu juga dipikirkan terus-menerus, bukan? Banyak hal baik yang harus kita kerjakan. Dan itu butuh energi serta pikiran yang ekstra. Jadi, lupakan saja masalah pernikahan, jika sudah waktunya, ia pasti datang.”

“Meski bukan dengan Riko?”


“Iya, Syaiha. Sekalipun bukan dengan Riko!” 


EmoticonEmoticon